
Double up.
...
Luiz menautkan alisnya bingung. "Dasha, kau ... apa maksudmu ..."
Tergeragap, namun saat kesadaran Luiz menyapa, pria itu telah menggelengkan kepalanya, tanda sebuah penolakan.
"Tidak. Pergilah ke kamarmu sekarang." titah Luiz, mencoba tegas.
Dasha telah mengalungkan kedua tangannya semakin erat, menolak menjauhi tubuh Luiz dengan aroma oceanic-nya yang khas. "Tuan, aku tidak mau ..."
Lagi-lagi Luiz menggeleng menerima rengekan manja itu. "Tidak. Tidak boleh."
"Tuan Luiz, aku berjanji hanya akan tidur dengan tenang diatas tempat tidurmu, dan tidak akan pernah mengganggumu. Aku bersungguh-sungguh, Tuan, aku berjanji akan menahan diriku ...!"
Luiz tercengang mendengar permintaan gila itu, terlebih saat mendapati sinar mata malu-malu yang mengintip kecil dari balik jari-jemari lentik yang berada diatas dadanya.
Dalam sejenak, Luiz telah dibuat bimbang dengan apa yang harus ia putuskan.
Mengabulkan permintaan Dasha yang sejujurnya merupakan keinginannya juga, atau malah bertahan dengan keyakinan, dan memilih menepati janji yang terikrar dihati untuk menjaga Dasha, yang bahkan belum sampai semenit yang lalu.
"Tuaaaann ... boleh yaa ..."
Glek.
Dari beberapa kancing atas kemejanya yang tadi sempat Luiz lepaskan, disanalah ujung jemari Dasha berada saat ini, terasa menekan-nekan permukaan dada Luiz yang keras, berusaha merayu agar diperbolehkan keinginannya.
"Dasha, jangan seperti ini ..." larang Luiz sambil membuang wajahnya yang merasa risih, namun Dasha malah semakin berani melancarkan rayuannya.
"Tuaaann ... boleh yaaa ..." tidak hanya menekan, tapi juga mulai mengelus ...
'Oh, damn ...'
Hancur sudah pertahanan diri Luiz, manakala dalam hitungan detik ia telah mengingkari semua ikrar dan janji yang baru saja ia ucapkan sendiri!
Tubuh Luiz kini telah berbalik arah, melangkah pasti masih dengan membopong tubuh Dasha yang berada dalam pelukan.
Bukan. Bukan lagi menuju kamar, dimana seharusnya Luiz membawa Dasha, namun mendekati tangga ornamen kayu yang ada disudut ruangan, dan mulai menaikinya satu persatu dengan langkah yang pantang untuk kembali.
Dalam hati Luiz masih sempat berbisik kalut, manakala ia mendapati senyum kemenangan milik Dasha yang terkembang sempurna, saat menyadari jika keyakinan Luiz telah berhasil di luluhkan dengan mudah.
'berjanji menahan dirimu?'
__ADS_1
'Oh, my ... Dasha ... lalu bagaimana denganku ...?'
'Bagaimana kalau justru aku yang tidak bisa menahan diriku ...?'
πΈπΈπΈπΈπΈ
Kamar itu telah lama temaram, manakala, Victoria berjalan mengendap perlahan saat keluar dari kamar mandi.
Victoria memang tidak bisa menahan diri, jika dia tetap memaksa tidur dengan tubuh yang lengket dan dipenuhi bekas-bekas percintaan, maka sudah pasti tidurnya tidak mungkin lelap.
Tadi saat berada didalam kamar mandi, Victoria bisa melihatnya dengan sangat jelas, bagaimana jejak-jejak kepemilikan Leo terhampar nyaris disetiap inchi tubuhnya.
'Jejak kepemilikan?'
Victoria tersenyum miris.
Seharusnya bukan jejak kepemilikan, mungkin lebih tepatnya ... jejak kebencian!
Leo memang seperti itu. Selalu saja kasar, bahkan bisa dibilang sedikit brutal.
'Tunggu, tunggu sebentar ...'
Lagi-lagi bathin Victoria berteriak menyangkalnya.
'Selalu?'
'Mungkin saja tidak bisa dikatakan selalu.'
'Entahlah ...'
'Memangnya siapa yang tahu jika Leo bisa berlaku lembut kepada wanita lainnya, dan hanya berlaku kasar seperti itu kepada diriku saja?'
Bathin Victoria seolah kembali mengejeknya tanpa ampun.
Saat ini, Victoria bahkan sanggup membayangkan hal yang paling gila dalam imajinasinya, tentang bagaimana rasanya menjadi seorang Lisa ...
Atau wanita lainnya ...
Siapapun itu ...
Manakala dirinya diperlakukan dengan begitu hangat oleh seorang pria sejati yang seperti Leo!
Langkah Victoria telah berada ditepian ranjang, dimana ia telah mengambil tempat disisi yang berlawanan dengan sosok Leo, yang saat ini sedang tidur dengan posisi menelungkup.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang sangat indah, menakjubkan, juga menentramkan jiwa Victoria.
Hanya dengan menatap punggung terbuka Leo yang telanjang, sudah bisa membuat Victoria bahagia. Bahagia karena merasa masih diinginkan pria itu, meskipun hanya sepersekian persen jumlah takarannya.
Victoria telah menghempaskan tubuhnya dengan sangat-sangat perlahan keatas ranjang, berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengusik tidur Leo, tapi yang ada malah sebaliknya.
Begitu keseluruhan tubuhnya telah berada diatas peraduan, Victoria kemudian nyaris memekik saat mendapati bahwa Leo telah bergerak cepat memindahkan tubuh kekarnya, guna bisa meraup tubuh Victoria kedalam kekuasaannya.
"Hhmmm ... wangi ..." Leo seperti sedang mengigau, saat menyesap kuat-kuat seluruh permukaan kulit leher Victoria yang segar setelah habis dibasuh, terus mengendusnya hingga pada lipatan-lipatan terkecil, seolah candu.
Awalnya Victoria membiarkan saja pria itu menyesap disetiap inchi permukaan kulit Victoria sesuka hati, berharap jika Leo seolah hanya butuh sedikit ketenangan dan kesenangan, agar bisa dengan mudah menjemput mimpi.
Namun manakala Victoria mulai merasakan keanehan dalam setiap pergerakan jemari Leo, yang mulai meremas aktif dua bukit kem bar miliknya yang terbalut piyama berbahan satin, Victoria mulai tidak tinggal diam.
Dengan tegas ia telah menyingkirkan jemari nakal pria yang mulai bergerilya di atas tubuhnya, menggerayangi dirinya secara terang-terangan.
"Leo, tolong jangan menggangguku lagi, pliiss ..." desis Victoria dengan intonasi suara yang bersungguh-sungguh, sambil menatap Leo penuh permohonan.
Oh, tidak ... bagaimana mungkin Leo benar-benar tidak memikirkan keadaannya saat ini yang begitu kepayahan?
Gilanya lagi, Leo bahkan masih bisa berpikir dan berkeinginan untuk kembali melakukannya, disaat Victoria merasakan tubuhnya nyaris terkoyak, seperti baru saja digilas oleh truck tronton.
Dasar pria tidak berperasaan ...! Sekujur tubuh Victoria saja masih terasa teramat sangat sakit, dan inti tubuhnya seolah mati rasa karena telah digesek sekian lama, dengan irama yang kasar dan bertenaga.
Rasanya sungguh sangat ngilu dan kebas!
Sepasang mata Victoria masih menatap Leo dengan kesungguhan.
Victoria sengaja bermohon untuk mendapatkan belas kasihan, karena ia tau persis bahwa pria di hadapannya ini, sangat terobsesi setiap kali menerima permohonan Victoria.
"Beraninya kau menolakku."
Tak disangka, jemari yang awalnya berada diseputaran dada itu kini telah berpindah di batang leher Victoria, seolah ingin mencekik.
"Leo, kau ..." suara Victoria telah tercekat di tenggorokan. Dalam sekejap wajahnya telah berubah panik dan ketakutan, pucat seperti sehelai kain kafan.
Detik berikutnya manakala Victoria merasa kecemasannya telah berada di titik kulminasi tertinggi, yang ia dengar kemudian adalah tawa renyah Leo yang membahana, diiringi dengan gerakan tangannya yang telah membebaskan cekalan di area leher Victoria.
"Kenapa wajahmu bisa menjadi pucat seperti itu? Apakah kau sangat takut dan menyangka, bahwa aku akan benar-benar mencekikmu?" cibir Leo kemudian, dengan wajahnya yang di penuhi senyum mengejek.
Victoria membisu, memilih tidak menanggapi candaan yang rasanya terdengar sangat creepy ditelinganya.
Victoria yang merasa kesal, lebih memilih membalikkan tubuhnya agar bisa memunggungi Leo yang berada tepat disebelahnya.
__ADS_1
Namun kali ini, lagi-lagi usaha Victoria pun kembali digagalkan, manakala kedua lengan kekar milik Leo kembali menarik tubuh ramping Victoria, menolak keras keinginan wanita itu ... untuk menjauh ...
... NEXT