
"Kenapa sejak tadi kau diam saja..?" Arshlan mencium ubun-ubun Lana yang bersandar tanpa jarak diatas dadanya.
"Memangnya aku harus bicara apa lagi, Tuan..?"
"Biasanya kan kau selalu punya stok cerita yang tidak penting.." ujar Arshlan berseloroh.
Lana mendengus kecil mendengarnya. "Iya, memang semua ucapanku adalah omong kosong dimata Tuan, jadi ada baiknya aku belajar untuk diam saja.."
"Siapa yang menyuruhmu begitu..? aku bahkan tidak memerintahkanmu untuk diam."
"Kan kata Tuan semua pembicaraanku tidak penting. Maafkan aku Tuan kalau selama ini aku terlalu banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak perlu. Aku akui, aku memang tidak tahu-menahu tentang persoalan bisnis, politik, ekonomi, semuanya.. aku hanya gadis bodoh yang putus kuliah, yang tidak tau apa-apa.." lirih Lana.
Saat Lana bicara, ia mengucapkan semua kalimat itu tanpa amarah. Gadis itu justru sibuk memainkan jari telunjuknya dipermukaan kulit dada Arshlan, tapi entah kenapa Arshlan merasa hatinya justru terasa ngilu mendengarnya ucapannya.
"Kau sedang menyindirku ya..?"
"Tidak Tuan.." Lana serta merta mendongak kecil, menatap Arshlan dengan air muka tak beriak. Hanya sejenak sebelum ia kembali menunduk, memainkan jari telunjuknya lagi.
Arshlan pasti tidak tau, bahwa semakin hari Lana selalu merasa kepercayaan dirinya semakin luntur.
Perasaan rendah diri..
Menjadi benalu..
Selalu diabaikan..
Tidak dianggap..
Dan tidak dibutuhkan..
Semua perasaan itu teramat sering singgah dilubuk hatinya, membuatnya selalu bertanya mengapa ia selalu saja berada ditempat yang tidak tepat. Ditempat dimana dirinya selalu saja tidak diinginkan, tidak dibutuhkan.. dan selalu dikhianati.
'Apa sih yang salah dengan diriku..?'
'Mengapa dimana pun aku berada, aku selalu menjadi sosok yang menyedihkan..?'
'Kenapa nasibku sangat si al..?'
Lucu dan naif. Bagaimana mungkin berbekal rasa cinta dan segenap perasaan dihatinya yang menggebu, ia pernah berangan-angan bisa menjadi wanita yang pantas untuk seorang Tuan Arshlan..?
Kini Lana baru menyadarinya setelah melewati beberapa saat kebersamaan. Ternyata seorang Tuan Arshlan bukanlah hanya sekedar pria mapan biasa seperti para pengusaha lainnya.
__ADS_1
Pria itu terlalu hebat.. terlalu tinggi.. tidak terjangkau..
Tuan Arshlan bukanlah pria yang bisa ia rayu dengan kata cinta. Dia adalah pria yang sangat istimewa. Dia punya segalanya, sementara Lana adalah kebalikannya.. tidak punya apa-apa.
Meskipun Lana menangis darah, tetap saja hal itu mustahil untuknya. Mereka berdua.. tidak akan pernah bisa selevel dan sepadan.
"Tuan, sejujurnya aku mulai berusaha belajar menerima kenyataan tentang siapa aku.."
"Apa maksudmu..?" Arshlan harus menekan suaranya sedemikian rupa, jika tidak ingin terlihat terhenyak.
"Maksudku adalah.. mulai sekarang aku memang harus tau diri.."
Arshlan terdiam mendengarnya. Sepasang matanya hanya menatap Lana tanpa kata, namun didalam sana jantungnya seperti disayat, tanpa ia tau penyebabnya.
"Tuan, aku tidak mau lagi berdebat dengan wanita manapun. Setiap kali aku berlaku diluar kendali, aku sangat menyesalinya. Aku seperti orang gila yang sedang menunjukkan betapa rendahnya harga diri terlebih besarnya kebodohanku. Aku pasti telah membuat Tuan malu dengan semua kelakuanku selama ini. Wanita terhormat tidak akan memukuli sesamanya meskipun ia marah.. wanita terhormat akan dihargai sesuai dengan tutur katanya yang baik, begitupun sikapnya. Sikapku sama sekali tidak mencerminkan wanita terhormat.. aku tidak berasal dari keluarga yang baik apalagi berada.. aku juga putus kuliah.. rasanya tidak ada satu pun dari diriku yang bisa membuat Tuan bangga. Tuan benar, aku memang tidak pantas untuk Tuan.."
"Kapan aku bilang begitu..?" pungkas Arshlan pelan. "Selama ini aku merasa tidak pernah mengatakan hal seperti itu.." kilahnya lagi.
"Pada hari yang sama sebelum aku melakukan hal buruk kepada Nona Maura di villa Black Swan, Tuan pernah bertanya.. perihal bagaimana kalau semisal besok Tuan menemukan wanita baik-baik, apakah aku bisa menerimanya, dan berhenti mengejar Tuan..?"
Lana terdiam cukup lama, begitupun dengan Arshlan.
Entahlah.
Selama ini Arshlan begitu kukuh untuk mendorong Lana menjauh, sementara tanpa disadari, justru dirinya sendiri yang semakin terikat dengan gadis itu sedemikian erat.
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau mulai berniat pergi dari hidupku..?"
Tak ada jawaban. Lagi-lagi hanya ujung jemari Lana yang terasa masih berada diatas dadanya, berputar pelan ditempat yang sama.
Arshlan menyeringai. Tak bisa dipungkiri bahwa pembicaraan mereka telah membuatnya semakin kesal, sehingga egonya mulai tersulut.
"Akhirnya kau mulai menyerah rupanya.." desis Arshlan. "Baguslah, tapi sayang.. syaratmu untukku terlalu berat. Bagaimana mungkin aku harus menemukan wanita yang pantas dulu baru aku bisa menyuruhmu pergi, padahal kau tau sendiri.. didunia ini, stok wanita seperti itu nyaris punah."
Lana terdiam.
'Benarkah..? apakah memang syaratku terlalu berat..?'
'Kenapa semuanya terkesan seperti aku sengaja melakukannya agar bisa menahan Tuan Arshlan selama mungkin sehingga tidak bisa menyuruhku pergi..?'
'Pada intinya.. pria ini bahkan tidak berniat menahanku sedikitpun.'
__ADS_1
'Aku benar-benar sebuah benalu. Aku menempel dikehidupan Tuan Arshlan seperti kutu, dan membuat diriku nyaman dengan caraku..'
'Padahal selain menyalurkan naf su, tidak ada setitikpun rasa yang bisa membuat Tuan Arshlan berpaling melihatku.. menyayangiku dengan tulus.. apalagi mencintaiku..'
Lana membathin dengan hati yang gamang. Lana bahkan tidak bisa membayangkan apakah hidupnya kelak akan kembali seperti awal, dimana dia hanyalah seorang Lana yang ceria tanpa peduli pada setiap persoalan kehidupan, sebelum dirinya mengenal cinta dan tergila-gila pada seorang pria, yang hanya akan memeluknya saat kebutuhan bathinnya mendesak untuk dipenuhi.
"Suruh ibumu menemuiku besok dijam makan siang." ujar Arshlan memupus semua lamunan Lana.
"Apa..?"
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan ibumu."
Hening.
"Lana.. kau mendengarku tidak..?"
"Baik, Tuan.. akan aku sampaikan kepada ibu.."
Usai mendengarkan jawaban Lana, Arshlan telah beringsut menjauhi tubuh gadis itu sebelum kemudian ia benar-benar bangkit dari ranjang.
"Tuan mau kemana..?" tanya Lana terhenyak mendapati Arshlan yang telah bangkit dari atas peraduan.
"Aku harus pergi.."
"Tapi ini sudah larut malam.."
"Malam ini kau mau menginap disini atau pulang kerumah..?" tanya Arshlan tanpa menggubris ucapan Lana.
Lana terdiam, hanya menatap dengan tatapan bingung kearah Arshlan yang sibuk memungut pakaiannya satu persatu dan memakainya kembali.
"Lana.."
"Aku akan pulang saja.." berucap demikian sambil ikut beringsut ketepi ranjang.
Kini gantian Arshlan yang terpaku menatap gadis itu berjenak-jenak lamanya.. yang sedang memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan diatas lantai, dan memakainya dengan gerak yang perlahan..
...
Bersambung..
Support jangan lupa ya..🥰 Loophyuu all.. 😘
__ADS_1