
Malam ini Arshlan berada disalah satu apartemen miliknya. Letaknya tak begitu jauh dari kantor.
Sebenarnya Arshlan baru saja tiba disana, usai menuntaskan semua jadwal pekerjaannya yang padat seharian ini, setelah selama tiga hari tertumpuk di meja kerjanya karena ia lebih memilih menghabiskan waktu tersebut untuk berlibur dengan Lana, istri kecilnya di sebuah pulau pribadi miliknya, sibuk merajut cinta yang dashyat dan menggelora.
Pekerjaan yang begitu banyak..
Masalah yang beragam..
Belum juga persoalan hati yang belum juga bisa ia putuskan apa yang harus ia lakukan..
Wajar saja jika semua itu bisa membuat Arshlan menjadi gila dalam sekejap, hanya karena masalah sepele.
Usai memarahi Asisten Jo yang hanya bisa pasrah menerima semua kemarahannya, setelah ia menerima laporan pria itu dan menyaksikan sendiri bagaimana Lana dengan begitu nekad memilih tidur disofa ruang tamu, hanya untuk menunggunya, Arshlan telah bergerak cepat kearah lift.
Dengan menggunakan kaos polos berwarna putih dan celana boardshort milik sebuah brand fashion sport terkenal, Arshlan tidak lagi berpikir untuk mengganti bajunya terlebih dahulu.
Ia langsung turun menuju basement, dimana mobil mahal limited edition miliknya terparkir di tempat parkiran khusus.
Detik berikutnya mobil mewah milik Arshlan telah melesat seperti peluru, menembus pekatnya malam, diantara lalu lintas jalan yang mulai terurai nyaris lenggang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Arshlan untuk melaju tanpa halangan, menuju ke istana megahnya.
XXXXX
Sepasang mata Marina melotot hingga nyaris keluar dari cangkangnya. Tidak hanya itu, Marina juga telah menelan ludahnya sendiri berkali-kali dari celah pintu kamar tamu, tempat dimana dirinya mengintip.
Pada beberapa tahun terakhir ini, Marina merasa dirinya layaknya kembali menjadi seorang gadis remaja, yang gemar mengagumi pria yang jauh lebih muda dari umurnya.
Oleh karena itu pula ia telah tergila-gila dengan Beno, pemuda berondong pengangguran, yang jauh lebih perkasa dari Robi sang mantan suami, yang seolah tidak lagi bisa memuaskan hasratnya diatas ranjang.
Namun sejak beberapa hari yang lalu disebuah private party yang diadakan Tuan Marco, untuk yang pertama kalinya Marina melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa pesona sang Tuan besar yang sering disapa semua orang dengan takjim dengan sebutan Tuan Arshlan.
Dalam sekejap Marina pun tidak mau ketinggalan, ikut menaruh minat.
Sama seperti semua kaum hawa pada umumnya yang berada di pesta, ia pun ikut berlomba-lomba, berusaha menarik perhatian pria menawan yang terbalut jas mahal tersebut.
Saat itu, Tuan Arshlan sama sekali tidak melihatnya begitupun melihat wanita lain dengan spesifik.
Pria itu bahkan hanya sekedar berlaku sopan, manakala membalas sapaan semua orang-orang hebat yang mencoba membangun komunikasi, meskipun tidak juga terlihat menaruh minat pada objek pembicaraan apapun. Hingga pada akhirnya Tuan Arshlan malah mematahkan seluruh hati wanita termasuk dirinya, yang seolah sengaja memamerkan istri mudanya yang datang terlambat kepada dunia, kemudian setelahnya langsung meninggalkan pesta begitu saja.
Tapi lebih dari semua hal mengejutkan itu, yang lebih membuat Marina nyaris pingsan adalah saat Marina mengenali siapa gerangan istri kecil Tuan Arshlan yang tak lain adalah Lana, putrinya..!
Apakah semua itu mimpi..?
__ADS_1
Tidak. Tentu saja tidak. Karena buktinya saat ini Marina bahkan sedang berada disalah satu kamar tamu dirumah yang megah bak istana, dan Lana benar-benar telah menjadi Nyonya rumahnya..!
Pemandangan yang ada didepan mata marina sekarang ini adalah bukti nyata.
Marina benar-benar telah melihat sosok Tuan Arshlan, yang sedang berpenampilan dengan berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari penampilan pria yang ia lihat di pesta atau di media masa, namun damage-nya bahkan berpuluh-puluh kali lipat lebih menggetarkan.
Bagaimana tidak..?
Saat ini tubuh sexy milik Tuan Arshlan tercetak jelas dibalik kaos putih yang melekat ketat, menggambarkan betapa kerasnya otot dada dan perut yang tersamar dibaliknya.
Kedua otot lengan Tuan Arshlan terlihat menonjol sempurna, dan paha pria itu pun terlihat begitu kokoh dengan warna kulit yang coklat eksotis saat melangkah perlahan, terkesan sangat berhati-hati meniti anak tangga satu persatu menuju kelantai dua, dengan membopong tubuh mungil Lana yang terlelap.
"Bocah itu.. apa yang telah dia lakukan sehingga Tuan Arshlan terlihat begitu perhatian dan tunduk padanya..?"
"Huhh..! Lana pasti telah memakai tubuh kecilnya itu untuk mengiming-imingi pria dewasa..!"
Marina mendesis kesal, sambil mengatupkan celah pintu kamar dengan teramat sangat perlahan.
XXXXX
"Jangan pergi.."
Sepasang mata itu masih terpejam, tapi tangannya telah merengkuh lengan Arshlan yang hendak menjauh.
'Apa dia sedang mengerjaiku lagi seperti kemarin..?'
Bathin Arshlan saat mengingat Lana juga pernah mengerjai dirinya yang waktu itu telah begitu panik dan bersusah payah membopong tubuh Lana dari lantai empat hingga kekamarnya dilantai dua, hanya demi sebuah pelukan.
"Lana.." panggil Arshlan sambil menyentuh pipi Lana perlahan.
"Hhhhmm.." Lana menggeliat kecil, namun semakin mempererat pelukannya di lengan Arshlan.
"Lana, kau.."
"Tuan, aku sangat mengantuk, bisa tidak bicaranya besok saja.." suara Lana terdengar sedikit merengek, layaknya bocah yang sedang bermanja demi mendapatakan sesuatu.
Arshlan menarik nafasnya sejenak dan mengembuskannya dengan berat. Pada akhirnya ia ikut menaruh tubuhnya yang lelah disana, diatas ranjang yang sama, karena belitan di lengannya yang terasa semakin erat dan menuntut.
"Hhmm.. baiklah, tidurlah kalau begitu.." lirih suara Arshlan, tanpa menyadari sedikitpun bahwa untuk kesekian kalinya ia lagi-lagi takluk dibawah keinginan Lana.
"Tuaann.. peluukk.." Lana kembali merengek dilengan Arshlan, matanya terus terpejam seolah menandakan jika gadis itu benar-benar mengantuk.
"Hhmm.. iya.. iya.. baiklah.." ucap Arshlan lagi dengan suara perlahan seraya mengubah posisinya sedemikian rupa hingga membuat tubuh Lana masuk sepenuhnya kedalam pelukan.
__ADS_1
Arshlan bahkan telah menyingkirkan helai rambut yang menutupi sebagian wajah kecil Lana, serta mencium kening gadis itu yang nyaris menempel didagunya dengan lembut.
Usai melakukan semua itu jemari besar Arshlan pun kini tengah mengusap punggung mungil Lana, kali ini tanpa nafsu yang terbersit sedikitpun selain luapan perasaan kasih dan sayang yang seutuhnya, serta hasrat untuk melindungi dan menjaga.
Arshlan tidak tau bahwa didalam pelukannya diam-diam bibir Lana sedang mengulas senyum tanpa suara.
'Bukan dermaga, Tuan.. tapi rumah..'
'Sehingga betapapun kerasnya kau menolakku.. aku akan tetap membuatmu mengingatnya..'
'Aku akan selalu menuntunmu untuk menemukan jalannya, Tuan.. agar kau bisa terus kembali pulang..'
XXXXX
"Pria itu.. aku bersumpah, Robi, dia benar-benar sedang tergila-gila dengan putri kita.." Marina nyaris bersorak saat mengatakan hal itu, namun pria bernama Robi diujung panggilannya itu malah melengos kasar.
"Aku tetap tidak percaya.."
"Robi, kau ini sangat keras kepala. Aku bahkan sudah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri.."
"Itu hanya nafsu sesaat. Jangan membuang waktu Marina, dapatkan uang itu secepatnya, sebelum dia bosan dan menendang Lana, sementara kita bahkan belum mendapatkan apa-apa..!"
Marina tertegun mendengar kalimat ketus mantan suaminya itu dari seberang sana. "Robi, lima milyar rupiah bukanlah uang yang sedikit. Apakah kau yakin Tuan Arshlan mau memberikannya..?" tanya Marina dengan nada suaranya yang meragu.
"Tergantung dari caramu. Kalau kau bertindak bodoh, maka kita hanya bisa menggigit sepuluh jari sekaligus!!"
"Enak sekali kau bicara. Memang apa yang kau lakukan? aku yang sedang berusaha disini.. tapi kau bertindak seperti mandor yang taunya hanya memerintah seenaknya dan marah-marah..!" Marina sedang berusaha menekan suaranya akibat kekesalannya kepada Robi yang bertindak bossy. Namun bukannya mengkerut, Robi malah tergelak diujung sana.
"Marina.. Marina.. aku bahkan sudah hafal diluar kepala dengan seluruh tabiatmu sekecil apapun. Bertindak bodoh demi menuruti hawa nafsumu adalah kelemahanmu sejak dulu..!" kecam Robi.
"Robi, kalau sikapmu tidak lebih baik dariku.. sebaiknya kau diam..!" Marina mengecam balik, sambil merutuk dalam hati saat menyadari peringatan Robi bahkan tidak meleset.
Dalam sekejap, Marina memang telah berangan-angan setinggi bintang.
Marina menyukai Tuan Arshlan yang gagah.. tampan.. dan kaya raya..
...
Bersambung..
Sedang berusaha untuk bisa daouble up, tapi ada aja halangannya. Sabar yah, sedang diusahakan. Oke..? oke..? tinggg..! 😀
Lophyuu all kesayangaaaaaaannn.. 😘
__ADS_1