TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 106. Pria Romantis


__ADS_3

Follow my Ig. @khalidiakayum


...


"Ck ... ck ... ck ... aku tidak percaya semua ini ..."


Saat Dasha mengangkat wajahnya, ia melihat Leo berdecak sambil menarik dua kursi yang ada dihadapannya sekaligus, untuk dirinya dan Victoria.


Usai sarapan Dasha telah memilih duduk sendirian di gazebo yang berada di halaman belakang Villa, yang nantinya merupakan tempat berlangsungnya kompetisi showjumping atau lompat rintang, sesuai kesepakatan tiga pria tampan yang hendak unjuk ketangkasan tersebut.


Mengingat banyak yang bilang bahwa cokelat bisa menenangkan pikiran yang gundah, maka Dasha pun memutuskan untuk menikmati sebatang cokelat, guna mengusir seluruh perasaan sedih, gelisah, marah, dan segala macam perasaan yang sedang menyesakkan dadanya.


Dasha bahkan sengaja membawa serta beberapa batang cokelat pemberian El didalam saku depan overall denim-nya yang lebar, sebagai obat galau sekaligus cemilan saat ia harus menyemangati El nantinya, sebelum Leo dan Victoria muncul dihadapannya.


"Aku bisa memaklumi kalau kau akan memilih Luiz, tapi bagaimana mungkin kau juga tidak memilih Luiz, dan justru memilih orang itu? Kau juga tidak mau memihak diriku ..."


Dasha dan Victoria nampak memutar bola matanya masing-masing, saat menyadari bahwa Leo belum juga selesai dengan persoalan Dasha yang memutuskan untuk mendukung El daripada Luiz dan dirinya.


"Leo, memangnya kenapa kalau Dasha ingin mendukungnya?" ujar Victoria tak habis pikir.


Hanya sebuah kompetisi main-main, tapi terlihat sekali Leo tidak sudi jika kelak El yang akan memenangkannya.


Ibaratnya Leo masih lebih rela ia dikalahkan oleh Luiz seribu kali, daripada dikalahkan oleh El sekali saja.


"Kenapa? Kau malah bertanya kenapa? Dasha bahkan tidak mengenal El sebelum ini, lalu kenapa dia mau jadi pendukung pria itu begitu saja?" Leo terlihat ngotot.


"Kau harusnya menyadari, bahwa pria seperti El adalah sosok yang mudah disukai siapa saja. Dia baik, sopan, ramah ..."


"Nah ... nah ... sekarang kau malah sibuk memujinya ..."


"Tuan Leo, Nona Vic bukan hanya sekadar memuji, tapi Nona Vic berkata benar. Pada kenyataannya, Tuan El itu sangat baik." pungkas Dasha sambil mengambil dua batang cokelat dari saku depan overall denim yang ia kenakan dan mengacungkannya kearah Victoria. "Nona Vic mau?" tawarnya ramah dengan senyum terkembang.


"Cokelat? Waow, tentu saja mau. Jadi semua ini untukku ...?" Victoria menyambut baik dua batang cokelat Silverking pemberian Dasha dengan raut suka cita, ia seolah melupakan wajah Leo yang terlipat begitu saja, hanya karena pemandangan dua batang cokelat yang menggoda selera.


"Kalau Nona Vic mau, dikamarku aku masih punya stock cokelat yang banyak." ucap Dasha dengan ekspresi pamer.


"Benarkah? Kenapa tiba-tiba kau bisa punya banyak cokelat, Dasha ...? Bukankah Valentine masih lama? Lagipula ... kau juga sedang tidak berulang tahun ..." imbuh Victoria lagi keheranan.


"Ehmm ... sebenarnya ... aku baru saja mendapatkan dua puluh empat batang cokelat Silverking dari Tuan El ..."


Mendengar itu bukan hanya Victoria yang nampak terkejut, karena Leo apalagi.


"Jadi maksudmu ... cokelat sebanyak itu adalah pemberian dari El?"


"Begitulah ..."


"Dasha, kau sangat beruntung, karena El memang pria yang baik ..." desis Victoria takjub.


"Apanya yang baik? Itu bukan baik, tapi menyogok ...!" dumel Leo semakin kesal, saat menyadari bahwa ternyata El telah bertindak licik dibelakang layar, demi menarik simpati dan dukungan Dasha.


"Haihh, Leo, kau ini kenapa sih ...?"


"Tidak usah bertanya kenapa, dan sebaiknya cepat kau kembalikan cokelat itu. Kalau kau mau cokelat, aku akan membelikan dirimu cokelat yang banyak, kalau perlu seratus batang cokelat sekalian, agar kau tidak perlu memakan cokelat pemberian El ..."


"Tidak mau." Victoria terlihat mulai kesal saat menanggapi ucapan Leo yang semakin ngaco.


"Egh, apa kau bilang ...?"

__ADS_1


"Aku tidak mau cokelat darimu. Aku mau cokelat ini." ucap Victoria lagi semakin keras kepala.


"Victoria ... k-kau ..."


"Aaahh, sudah ... sudah ... Tuan Leo, tidak boleh memaksakan kehendak seperti itu. Karena dalam situasi seperti ini, bukan hanya Nona Vic yang menginginkan cokelat pemberian Tuan El yang baik hati, tapi baby lucu yang ada didalam sana juga ..."


"Benar. Dasha memang benar. Aku hanya mau cokelat ini, dan ini pastilah merupakan keinginan calon anakmu juga ..." ucap Victoria beralasan.


Leo merenggut kesal. Kali ini mulutnya telah terkatup rapat begitu Dasha dan Victoria begitu kompak, saat mengatasnamakan keinginan Victoria sebagai keinginan sang baby yang ada didalam perut Victoria.


'Awas saja kau, El, kau bahkan berhasil membuat anakku yang ada didalam perut Victoria, tergila-gila dengan cokelat pemberianmu ...!'


Leo merutuk kesal dalam hati, namun sayangnya saat ini ia harus pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa.


"Nona Vic, kau bisa datang kekamarku nanti, disana kita bisa makan cokelat sepuasnya ..." bisik Dasha yang disambut anggukan Victoria dengan penuh semangat.


Dasha bahkan tidak peduli sama sekali, jika Leo tak henti-hentinya mempelototi dirinya dengan tatapan galak.


Karena yang ada ... diam-diam ia malah nekad memeletkan lidahnya, sambil tersenyum mengejek kearah pria tampan yang telah menjadi idolanya selama ini.


🌸🌸🌸🌸🌸


Lintasan dengan panjang kurang lebih seratus lima puluh meter diatas rumput yang menghijau tersebut, telah dilengkapi oleh beberapa rintangan lompat tinggi dengan ukuran bervariasi, tak ketinggalan pula water jump atau genangan air, sebagai rintangan lompat jauh.


Rintangan-rintangan tersebut telah digabungkan dalam kombinasi yang terdiri dari dua sampai tiga rintangan berjarak dan diletakkan secara horizontal di kedua sisi rintangan, sehingga akan jatuh bila tersentuh kaki kuda.


Semua rintangan telah diberikan nomor, dan arah melompat ditandai dengan dua bendera yang dipasang di masing-masing sisi rintangan, sebelah kanan merah dan sebelah kiri putih, semuanya telah sama persis dengan arena kompetisi showjumping yang sesungguhnya.


Luiz, Leo dan El terlihat melakukan walk the course, yakni berjalan mengamati lintasan yang telah dibuat oleh beberapa pengawal, berusaha menghafal urutan rintangan dan mengukur jarak diantara rintangan demi rintangan, guna menentukan strategi yang akan digunakan sehingga mereka dapat menyelesaikan dan memenangkan kompetisi tersebut.


Ketiga pria itu nampak gagah dengan balutan kemeja polo, celana berkuda jodhspurs, tak ketinggalan helm, sarung tangan, dan horse riding boots sebagai pelengkap oufit ketiganya.


"Nona Flo, sepertinya hubunganmu dengan Luiz berjalan dengan lancar ..." ucap Victoria berbasa-basi, sambil tersenyum ramah, begitu melihat sosok Luiz yang terlihat berkali-kali mengusap punggung kuda yang akan ditungganginya.


Victoria sengaja mengajak Florensia bicara karena sejak tadi hanya dirinya dan Dasha yang sibuk berceloteh tentang banyak hal, sedangkan wanita cantik itu hanya menanggapi pembicaraan ngalor-ngidul mereka berdua hanya dengan sesekali tersenyum namun tanpa kata.


Sejak berada di ranch, Florensia memang hanya terlihat menempel dengan Luiz sepanjang waktu, bak pasangan baru yang saling bucin satu sama lain dan tak terpisahkan walau sedetik. Florensia juga terkesan jarang bicara dengan siapapun, termasuk dengan Dasha dan Victoria.


"Begitulah, Nona Vic, kami berdua memang telah sepakat untuk menjalin hubungan yang serius, seperti yang diinginkan orang tua kami ..."


Victoria menganggukkan kepalanya mendengar jawaban sederhana dari Florensia.


"Sejujurnya, sejauh ini aku tidak pernah melihat Luiz begitu serius dengan seorang wanita. Aku rasa dalam hal ini saja, kau sudah memenangkan point pentingnya ..."


"Benarkah ...? Apakah itu berarti aku satu-satunya wanita yang berhasil diajak melangkah ke jenjang yang satu tingkat lebih serius ...?" tanya Florensia seolah ingin menegaskan.


"Sepertinya begitu ..."


Florensia tersenyum. Sudut matanya melirik Dasha dengan samar, namun ekspresi wajah gadis belia itu terlihat tanpa ekspresi berarti.


"Dasha, lalu bagaimana denganmu ...?" tanya Florensia tiba-tiba, membuat kepala Dasha menoleh penuh kearahnya.


Sesungguhnya Florensia begitu penasaran.


Florensia mengakui Dasha cukup cantik, apalagi dengan umurnya yang masih belia.


Tapi untuk mendapatkan alasan yang kuat sehingga Luiz bisa sangat terikat dengan bocah ceriwis yang belum juga terlihat kedewasaannya itu, membuat Florensia merasa takjub.

__ADS_1


"Aku? Ada denganku, Nona Flo?" ucap Dasha balik bertanya.


"Maksudku ... apakah kau tidak punya kekasih ...?"


Dasha menggeleng. "Tidak. Tapi rasanya aku juga ingin punya kekasih. Sepertinya menyenangkan bisa mempunyai pria yang memberikan perhatiannya kepada kita ..."


"Kalau memberi dua puluh empat batang cokelat sekaligus, apakah tidak bisa disebut dengan memberikan perhatian?" tak disangka Victoria malah melontarkan godaan kearah Dasha, tepat disaat gadis itu melontarkan kalimat tentang perhatian seorang pria.


"Dua puluh empat batang coklat?" sepasang mata Florensia menatap Dasha takjub. "Astaga Dasha ... pria romantis seperti apa yang bisa memberikan dua puluh empat batang coklat ...?"


Wajah Dasha terlihat bersemu malu mendapati godaan Victoria sekaligus rasa takjub dari Florensia, sementara Victoria malah tertawa terang-terangan menanggapi keterkejutan Florensia.


"Nona Flo, jangan tanyakan pria romantis yang seperti apa ... karena pria romantis itu adalah pria yang ada disana itu ..." tatapan dan telunjuk Victoria mengarah tanpa canggung kearah El yang terlihat sedang menarik tali kekang seekor kuda jantan berwarna kecoklatan.


Menyaksikan semua itu sepasang bola mata milik Florensia seolah ingin melompat keluar.


Florensia tidak ingin mempercayai apa yang ia dengar dan ia lihat saat ini, namun sayangnya semua itu begitu nyata.


'El ...?'


'Memberikan dua puluh empat batang cokelat ...?'


'Kepada Dasha ...?'


Mendadak Florensia merasa kepalanya terasa pening, matanya berkunang-kunang, jalan nafasnya bahkan terasa sesak ...


"Nona Victoria, kenapa kau mengatakan semua itu ...? Aku merasa malu kepada Nona Florensia ...!"


Dasha terlihat merenggut protes dengan gaya manjanya yang khas dan menggemaskan, bak seorang gadis belia seusianya.


Sementara Victoria tak bisa lagi menahan dirinya untuk terpingkal-pingkal.


"Tidak perlu malu, kau bahkan telah membuatku sedikit iri karena Leo bahkan tidak pernah memberondongku dengan lusinan coklat, seperti yang dilakukan El kepadamu ..." ujar Victoria lagi semakin usil.


Kalimat demi kalimat Victoria sukses menambah rona semu di wajah Dasha, sebaliknya raut pias diwajah Florensia.


"Nona Flo, katakan sesuatu, apakah menurutmu yang dilakukan El itu bukankah tindakan yang sangat manis ...?"


Florensia sedikit gelagapan mendapati todongan pertanyaan Victoria yang terucap disela-sela tawa renyah wanita yang sedang hamil muda itu.


"I-iya benar ... itu ... semua itu sangatlah manis ..." berucap gelagapan, namun sebuah bening meluncur turun tak tercegah dari sudut matanya, saat ia mengerjap.


"Nona Flo ...?"


Victoria dan Dasha sama-sama tercengang mendapati pemandangan tersebut.


"Maaf, maaf, ada debu yang tiba-tiba masuk ... mataku jadi berair ..." Florensia berucap gugup, sambil buru-buru mengusap sudut matanya yang tergenang, dengan punggung tangannya.


Tak bisa terkatakan, betapa sakitnya hati Florensia, manakala ia menyadari kenyataan tentang El dan Dasha.


Sementara Victoria dan Dasha tersenyum kikuk, dan menjadi sedikit bingung saat harus menanggapi situasi aneh tersebut seperti apa.


Namun manakala Florensia membuang pandangannya jauh kearah lintasan arena, tempat berlangsungnya kompetisi yang sepertinya akan segera dimulai itu ... Victoria dan Dasha pun terlihat saling pandang satu sama lain, sebelum akhirnya keduanya mengangkat bahu masing-masing ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Support jangan lupa yah ... πŸ™


__ADS_2