
Double up ...!
Follow my Ig. @khalidiakayum
....
Gadis kecil ini ...
Dasha ...
Luiz memahami, mengapa mommy dan daddy sangat menyukai, menyayangi dan melindunginya dengan begitu rupa.
Gadis cilik ini seolah menjadi wadah terindah kedua orang tuanya, dalam menaruh rasa terima kasih dan penghormatan yang tinggi, kepada seseorang yang sangat berjasa, serta telah dianggap sebagai bagian dari keluarga.
Asisten Jo telah mengabdikan seumur hidupnya untuk melayani keluarga Arshlan hingga akhir hayatnya, mommy Lana bahkan telah menganggap pria itu layaknya seorang ayah.
Semua hal yang melatar belakangi itu, seolah telah menjadi suatu kesatuan yang sempurna dari mereka semua dalam memaknai Dasha.
Kehadiran Dasha pun ibarat sebuah jawaban kerinduan mommy dan daddy, akan sosok anak perempuan lucu yang tidak pernah bisa terwujud dalam kehidupan nyata.
Yah, Dasha.
Gadis itu, seolah memiliki sebuah medan magnet yang unik, yang bisa menarik hati siapapun untuk menyukainya dengan mudah.
Mommy, Daddy, Leo bahkan Luiz sendiri tidak bisa memungkiri, bahwa hatinya begitu cepat luluh oleh hadirnya Dasha, meskipun ia tak ingin.
"Hhhh ..."
Luiz menarik nafasnya yang berat dengan begitu perlahan, seolah tidak ingin helaan nafasnya mengurai lelapnya tidur Dasha.
Dasha masih berada dalam pelukan Luiz, yang melangkah perlahan menuju kamar gadis cilik itu.
Kepala Dasha terkulai didada Luiz, yang entah kenapa merasa tak nyaman, dengan bunyi degup jantungnya sendiri yang begitu kencang.
Rasanya begitu aneh.
Ini bukan kali pertama Luiz membopong tubuh ringan Dasha yang sering tertidur di sofa, namun baru kali ini Luiz merasa risih karena telah berada begitu dekat.
'Perasaanku ini terlalu berbahaya. Mungkin sekarang, jiwaku sudah menjadi sakit sepenuhnya ...'
Bathin Luiz berkilah lesu, saat semakin kesulitan meredam gejolak yang ada didalam tubuhnya sendiri.
Luiz menaruh tubuh Dasha diatas empuknya ranjang dengan sangat berhati-hati.
Tangan Luiz terangkat saat melihat beberapa helai rambut Dasha yang meriap, sebagian menutupi wajahnya yang begitu indah, polos, dan alami, namun tanpa sengaja ujung jemarinya telah menyentuh kulit wajah Dasha.
Lembut ...
Kulit itu terasa sangat lembut dan halus, saat bersentuhan dengan permukaan jemari milik Luiz ...
Tidak ada taburan bedak, goresan alis, sapuan lipstick, apalagi mahakarya produk skin care disana.
Keseluruhan wajah Dasha begitu alami khas bocah seusianya, saat Luiz mendekatkan wajahnya, karena merasa candu memperhatikan seraut wajah yang bak malaikat.
"Tuan Luiz ..."
Tiba-tiba bibir Dasha telah menyebutkan nama Luiz dengan lirih, seraya mengerjap beberapa kali.
Luiz ingin menarik wajahnya buru-buru, namun kedua lengan mungil Dasha telah terkalung dilehernya begitu saja.
"Tuan Luiz, jangan membenciku ... jangan menjauh ..."
"Dasha, lepaskan."
"Tidak mau."
"Kau ..."
__ADS_1
Mengambang.
Luiz mengatur nafasnya yang memburu sebelum memutuskan untuk menentang sepasang mata Dasha yang telah terbuka sempurna, berada tepat dibawah wajahnya.
"Aku tidak membencimu. Sekarang lepaskan."
Luiz harus menambah kesabarannya manakala melihat kepala Dsaha yang menggeleng, pertanda ia telah menolak titah Luiz yang ingin meloloskan diri dari belitan kedua lengan yang tetap terkalung erat.
"Dasha, apa yang kau inginkan?" tanya Luiz lagi dengan suara berbisik, takut jika dalam posisi seperti ini akan ada yang memergoki.
Gadis itu malah tersenyum aneh.
"Dasha, berhenti tersenyum padaku seperti itu!" sungut Luiz putus asa, kali ini benar-benar mulai kesal dengan sikap nekad dan keras kepala yang sedang dipertontonkan Dasha.
"Tuan Luiz kau lucu sekali ... masa tersenyum saja tidak boleh?" Dasha malah terkikik.
"Lepaskan aku."
"Tidak mau."
"Dasha ..."
"Cium aku dulu, baru aku akan melepaskan Tuan ..." ujar gadis itu lagi, seolah mengajak Luiz bernegosiasi.
Alis Luiz terangkat mendengar tawaran itu. "Kau sudah gila yah?!"
Hardikan Luiz sepertinya tidak membuat Dasha gentar. Gadis itu malah memutar bola matanya dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Kalau Tuan Luiz tidak mau menciumku seperti kemarin, maka aku akan berteriak ..."
"Apa?!" Luiz terjingkat, tapi tetap tidak leluasa karena lehernya masih terjerat dua lengan yang menggantung erat.
"Aku akan berteriak dan mengadu kepada Nyonya Lana, bahwa Tuan tidak mau lagi menciumku ..."
Cup.
Hanya sedetik.
Bathin Luiz berteriak kalut.
Demi membungkam permintaan sekaligus ancaman aneh yang terlontar dari bibir mungil itu, Luiz memang harus melakukannya!
Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan bocah ini berteriak dan mengadukan hal aneh seperti itu kepada Mommy?
'Oh, Astaga Luiz ... Luiz ...'
'Luiz, kau benar-benar sedang berada dalam masalah besar!'
Bathin Luiz melolong panik, seolah ingin menjadi gila dalam sekejap, takut perbuatannya yang tak senonoh ketahuan.
Pikiran Luiz semakin kalut.
Bagaimana ini?
Dasha pasti tidak tau apa makna sebenarnya dari sebuah pertautan bibir, antara dua orang yang berlawanan jenis, untuk itulah dia tidak merasa risih sedikitpun, saat harus merengek, karena meminta dicium oleh Luiz seperti kejadian kemarin.
Tindakan Dasha yang meminta dicium seperti ini, seolah tak ada bedanya seperti saat gadis itu merengek meminta dibelikan coklat atau boneka.
Rasanya dicium pasti menyenangkan, bukan?
Yah tentu saja.
Untuk gadis sepolos Dasha ia bahkan menyandingkan rasa nikmatnya seolah ia sedang ketagihan, saat mengemut permen coklat!
Menyadari hal itu Luiz merasa kalut bukan kepalang. Ia merasa telah menjadi satu-satunya pria brengsek yang telah mengajarkan Dasha akan sesuatu yang belum sepantasnya dialami oleh gadis seumuran Dasha.
"Dasha, tolong lihat aku, dan dengarkan aku baik-baik ..." ujar Luiz, membujuk perlahan dengan suara yang dalam.
__ADS_1
Sepasang mata Dasha menatap Luiz penuh perhatian, bibirnya terus tersungging senyuman setelah menerima kecupan Luiz meski hanya sesaat lalu.
Sentuhan bibir Luiz seolah candu, yang rasanya ingin ia rasakan terus-menerus.
"Dasha, berjanjilah padaku tentang dua hal ..."
"Tuan ingin aku berjanji tentang apa?"
Luiz menarik nafasnya sejenak, sebelum berbisik ...
"Yang pertama, jangan katakan kepada siapapun tentang ciuman diantara kita. Ingat baik-baik, jangan pernah mengatakannya kepada siapapun, meskipun itu kepada Mommy, kepada Daddy, juga kepada Tuan Leo ..."
"Tuan Luiz, apakah artinya itu hanya akan menjadi rahasia kita berdua ...?" Dasha balik berbisik, sepasang matanya bergerak-gerak ceria dan bersemangat seolah sedang memegang kartu joker.
Luiz mengangguk cepat, berusaha keras menggiring pola pikir Dasha yang polos, agar berkesesuaian dengan keinginannya.
"Iya, kau benar, Dasha. Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua, kau mengerti, kan?"
Dasha mengangguk bersamaan. "Baik, Tuan. Aku berjanji, aku tidak akan mengatakannya rahasia kita kepada siapapun. Hanya kita berdua ..."
Luiz memijat pelipisnya yang menegang, begitu menyaksikan Dasha yang terkikik kecil seolah sedang menikmati keseruan bermain detektif dengan harta karun tersembunyi, yang hanya diketahui oleh dirinya dan Luiz.
"Dan yang kedua ..." sambung Luiz lagi.
"Apa itu, Tuan? Katakan ... katakan ..." Dasha terlihat sangat penasaran menanti kejutan kedua, kedua lengan mungilnya yang masih setia terkalung dileher Luiz bahkan telah menguyel-nguyel tak sabar.
"Jangan pernah meminta, dan jangan pernah melakukannya dengan orang lain."
Sepasang mata jernih milik Dasha bertaut erat dengan sepasang mata elang milik Luiz.
Luiz termanggu, menatap bola mata berwarna cokelat muda yang bergerak-gerak indah.
"Tuan, aku mengerti ..."
Luiz menelan ludahnya yang terasa pahit, namun tatapan mereka terus bertaut.
"Apakah itu berarti ... bahwa mulai sekarang, yang ada didiriku semuanya hanya milik Tuan Luiz?"
"Mmmm ... maksudku ..."
"Baiklah kalau begitu, aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain menyentuhku ..."
"Dasha ... aku ... maksudku ..."
"Tuan, kau jangan ingkar janji yah. Karena mulai sekarang, aku akan menanamkannya diotakku, dihatiku, dijiwaku, bahwa aku ... hanya milik Tuan Luiz seorang ..."
Wajah Luiz memucat, bingung harus membuat Dasha mengerti dengan cara bagaimana, agar dia bisa terus menjaga gadis itu yang telah terlanjur ia kotori kepolosannya.
Luiz membuang nafasnya yang semakin kalut. Dengan kedua tangannya ia telah memaksa dua lengan Dasha yang terkalung dilehernya agar terurai.
Cup.
Luiz terhenyak, saat menyadari bahwa sesuatu yang lembut telah mendarat diatas bibirnya tanpa permisi.
"Dasha kau ..."
"Ini adalah milikku ..." gadis itu mengusapkan jemarinya yang mungil keatas bibir Luiz yang tercekat.
Lama Luiz terhenyak, dengan degup jantung yang memburu seperti sedang dikejar an jing gila.
"Dan ini adalah milik Tuan ..."
Tepat disaat Dasha menuntun jemari Luiz untuk menyentuh lembut bibirnya, seluruh has rat dan gai rah yang memenuhi jiwa dan raga Luiz telah berlomba-lomba melesak keluar, mendobrak dinding pertahanannya, seolah ingin terbebaskan.
Hilang semua segenap pengendalian diri Luiz, karena Luiz tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Dengan kesadaran dirinya yang utuh Luiz telah menundukkan kepalanya, guna menjemput manisnya bibir Dasha, yang telah mengikrarkan diri sebagai milik Luiz seorang ...
__ADS_1
...
Bersambung ...