TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 81. Menu yang Aneh


__ADS_3

"TIDAK BISA ...!!"


El yang sejak sejam yang lalu sedang berusaha sekuat tenaga memejamkan matanya, kembali terhenyak bangun dan terduduk diatas ranjang empuk miliknya, begitu suara bariton milik Jody Frederick yang bergema di seantero ruangan kamar persidential suite tersebut lagi-lagi mengusik benak El.


El mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Huhhf, semua ini salahku juga. Aku sungguh begitu nekad meminta Florensia, setelah lima tahun menyianyiakan keberadaan putri kesayangannya itu ..."


El bergumam lirih, masih dengan posisi tubuh yang terduduk lesu, lengkap dengan wajahnya yang kusut masai.


Seandainya waktu bisa berulang, ingin rasanya El memperbaiki semua sikapnya yang buruk kepada Florensia.


Tapi sebaliknya El bahkan tidak pernah menyangka, jika setelah lima tahun ia terbiasa menolak kehadiran Florensia, hanya dalam kurun waktu beberapa hari, tepat setelah bertemu Florensia di negara ini secara tak sengaja, dalam sekejap penilaian El berubah seratus delapan puluh derajat!


Florensia yang ia temui saat ini bukanlah Florensia yang ada dihadapannya selama kurang lebih lima tahun, yang selalu menghalalkan segala cara hanya demi mendekati dirinya.


Tepat setelah wanita itu berhasil menggandeng Luiz, Florensia benar-benar berhenti mengejarnya, berhenti menatapnya, berhenti juga mencari perhatiannya.


Tatapan Florensia seolah hanya tertuju pada Luiz seorang, dan semua itu telah membuat hati El meradang dalam sekejap.


El merasa tidak rela!


Pada akhirnya sisi keegoisan El yang menang, karena itulah El tidak bersedia jika Florensia berpaling pada Luiz, pria yang notabene lebih hebat dari dirinya!


Oh tidak, Florensia adalah miliknya, dan wanita itu hanya boleh memandang dirinya saja.


"Aku sudah memutuskan untuk menjodohkan putri kesayanganku Florensia, kepada pria yang istimewa."


El tahu persis bahwa pria istimewa yang dimaksud ayah Florensia, tak lain adalah Luiz!


Tapi El tidak mengatakan apapun, memilih terus tersenyum tenang meskipun ada ribuan jarum, yang seolah menusuk ulu hatinya.


"Aku ucapkan terima kasih karena kau telah berinisiatif untuk menjemputku di bandara. Tapi saat ini hari sudah sangat larut, sebaiknya kau pulang saja."


Mengusir secara halus, namun lagi-lagi El menerimanya dengan lapang dada.


Menilik dari perlakuannya yang buruk kepada Florensia selama ini, rasanya sesakit apapun Jody Frederick akan memberinya pelajaran, El bahkan bisa bersumpah jika dirinya tidak akan pernah melangkah mundur walau sejengkal.


"Baiklah, ayah, kalau begitu aku pamit. Selalu jaga kesehatan ayah,"


Saat itu Jody Frederick terlihat melengos, berusaha menghindar untuk bertatapan langsung dengan manik mata El.


Sedangakan raut wajah El tetap terlihat begitu tenang, seolah kalimat menyakitkan apapun yang telah Jody Frederick lontarkan, tidak pernah bisa membuat pria muda itu terluka hatinya.


El tak pernah tahu, bahwa keberaniannya telah membuat Jody Frederick menyukai kepribadiannya dalam waktu singkat, meskipun pria paruh baya itu justru menunjukkan sikap penolakan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Saat Victoria membuka matanya, sinar matahari pagi yang mulai meninggi telah menerobos dari jendela yang tirainya telah tersibak.


Disana, Victoria melihat sosok Leo yang bertelanjang dada, berdiri tepat di depan bingkai jendela dengan secangkir kopi di tangan.


Tatapan pria itu terlihat fokus kebawah, seolah sedang mengawasi sesuatu.


"Leo ..."


Sontak Leo menoleh mendapati panggilan dengan suara yang serak.


"Kau sudah bangun?"

__ADS_1


"Hhhmm ..." Victoria mengangguk, masih setia terduduk diatas ranjang dengan ekspresi wajah yang malas.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasa ..."


"Tidak lagi." pungkas Victoria sambil menggeleng.


Pusing, mual, serta rasa pegal diseluruh tubuhnya seolah tak bersisa di pagi ini.


Sungguh aneh, dan semua keanehan itu semakin membuat Victoria meyakini kecurigaannya dalam hati.


"Syukurlah kalau kau telah merasa baikan. Aku sudah memesan sarapan untukmu, makanlah lebih dulu sebelum mandi."


Victoria menatap rolling table yang ditunjuk Leo, terletak tak begitu jauh dari ranjang.


"Kau sedang melihat apa?" tanya Victoria kearah Leo, yang lagi-lagi terlihat mencuri pandang kebawah.


"Teman-temanmu." jawab Leo singkat.


Leo tidak berbohong, ia memang sedang memperhatikan pemandangan yang ia dapatkan dari balik jendela kamarnya secara tak sengaja, yang ternyata mengarah penuh ke arah lobby depan hotel, tempat mereka menginap.


Dibawah sana, rombongan karyawan Mega Florist yang mengikuti kegiatan Family Gathering terlihat menaiki dua buah bus besar dengan tertib. Namun sesungguhnya pemandangan tersebut bukan menjadi fokus Leo, melainkan pemandangan mobil El yang justru dikendarai seorang pria, yang kelihatannya merupakan salah seorang karyawan Mega Florist.


'El pergi kemana?'


'Pria itu tidak terlihat bersama Luna dan Dimitri, juga tidak terlihat diantara para karyawan.'


'Lalu mobilnya ... kenapa mobilnya dikendarai orang lain?'


'Apa yang terjadi?"


'Apakah ada hal yang telah aku lewatkan semalam?'


"Itu mobil El ..."


Leo melengos kecil mendengar ucapan Victoria, atas bayangan mobil SUV berwarna hitam, yang mulai bergerak perlahan meninggalkan lobby hotel, beriringan dengan mobil yang dikendarai Dimitri dan Luna.


"Sebegitu hafalnya kamu dengan mobilnya ..." desis Leo tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Aku beberapa kali menaiki mobil itu. Tentu saja aku mengenalinya." jawab Victoria dengan begitu polos, sama sekali tidak sadar bahwa jawabannya telah menyulut api.


"Beberapa kali?"


"Iya, beberapa kali."


"Bukan main ..."


Victoria mengerinyit mendapati wajah keruh Leo yang ada disampingnya. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa!" berucap ketus sambil beranjak begitu saja meninggalkan bingkai jendela, menuju rolling table guna menaruh gelas kopi yang sejak tadi berada ditangannya.


"Leo, kau kenapa?" Victoria memburu langkah pria itu yang menuju rolling table, namun Leo malah membisu, memilih tidak menanggapi pertanyaan polos Victoria.


'Bisa-bisanya dia bertanya kenapa?'


'Dia bahkan telah mengakuinya tanpa canggung, bahwa dia telah beberapa kali menaiki mobil El, dan sekarang dia masih bertanya kenapa aku marah ...?!'


Leo bisa merasakan, bagaimana giginya bergemeretak menahan amarah, namun semua itu tak kunjung membuat Victoria mengerti, apa duduk persoalannya.


"Aku mau kekamar mandi dulu untuk membersihkan diri ..."

__ADS_1


Leo tebelalak saat menyaksikan Victoria yang malah melenggang acuh ke kamar mandi, tanpa mempedulikan kemarahannya.


"Si al, sikap menyebalkannya ini ... kalau aku tidak mengingat bahwa dia sedang sakit, maka aku pasti sudah menyeret tubuhnya ke atas tempat tidur, dan menghukumnya sampai dia bertekuk lutut memohon ampun ...!"


Ujar Leo gemas, saat menyadari Victoria yang telah hilang dibalik pintu kamar mandi.


Wajah polos tanpa dosa milik Victoria, benar-benar mencerminkan rasa ketidak pekaan atas kekesalan hati Leo, saat mendengar langsung seberapa sering istrinya bersama pria bernama El itu.


Sementara itu ...


Victoria sedang menyikat giginya sambil menatap penuh kearah cermin.


Tanpa sadar pikirannya kembali mengulik perihal emosi Leo yang naik-turun tanpa sebab musabab.


"Dasar pria labil ...!" kecam Victoria begitu ia selesai berkumur.


Wajah tampan Leo yang dingin kembali memenuhi relung hati Victoria.


Leo memang selalu membuat Victoria kesal, tapi begitu mengingat perlakuan hangat Leo semalam yang begitu mengkhawatirkan dirinya, mau tak mau hati Victoria kembali menghangat.


Disaat seperti itu Leo seolah menjelma sebagai suami siaga, yang sangat mengkhawatirkan istri yang sangat ia cintai.


"Huhhfh ... kalau saja sifat menyebalkannya tidak akan pernah kembali lagi, pasti dia bisa menjadi pria yang sangat menyenangkan ...!"


Victoria tak berhenti bersungut didepan kaca. Namun pada akhirnya ia memilih menghembuskan nafasnya guna membuang segala kepenatan sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak keluar.


"Kenapa kau lama sekali?"


Victoria melirik wajah kesal El dengan mimik yang sama kesalnya.


"Aku hanya mencuci muka dan menyikat gigi. Begitu saja kau bilang aku lama?"


"Karena aku sudah sangat lapar. Semalaman aku menjaga wanita cerewet yang selalu mengeluh ini dan itu, kau pikir aku tidak butuh sarapan untuk mengganti tenaga ekstraku yang habis terkuras?!"


Victoria mencibir mendengar dumelan khas tersebut, namun memilih tak membalasnya seperti biasa.


"Kau ingin sarapan apa? Roti tawar dengan selai, bubur ayam, atau ..."


"Duduklah."


Victoria menatap Leo dengan mimik ragu.


"Tidak dengar? Aku bilang kau duduk saja, dan biarkan aku yang akan menyiapkan semuanya. Kau mau sarapan apa?"


Lagi-lagi Victoria terkesima mendapati perkataan Leo yang kini sedang menatapnya dengan tatapan hangat.


Wajah menyebalkan pria itu pada sesaat yang lalu seolah sirna tak berbekas, menguap entah kemana.


"Aku ... roti tawar saja ... tanpa selai ..."


Leo sedikit mengerinyit mendengar menu aneh itu, namun kali ini ia tidak lagi berdebat, melainkan menuruti semua keinginan Victoria yang tak biasa.


Teh tawar ... Roti tawar ...


Benar-benar menu yang aneh ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2