TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 100. Pemilik hatimu


__ADS_3

Triple up.


...


"Jadi maksud utama sehingga kau datang ke negara ini, dalam rangka meninjau langsung perusahaan yang kau beli itu?" Arshlan bertanya sambil menghisap cerutu yang ada ditangannya.


Saat ini, Arshlan dan Jody Frederick telah duduk santai, sambil menikmati pemandangan langit malam yang tenang, usai menikmati makan malam.


Sesekali mereka memperhatikan aktifitas yang terjadi di sekeliling dimana Lana yang bersama Leo, Victoria, El, dan Dasha masih betah berada disekitar alat pemanggang, menyisakan Luiz dan Florensia yang duduk berdua dikursi yang juga tak seberapa jauh dari aktifitas yang ada di teras samping itu.


"Begitulah, Arsh. Perusahaan yang nyaris collaps itu sebelumnya adalah kepunyaan seseorang yang merupakan saudara jauh dari mendiang istriku. Aku membelinya juga atas dasar kasihan, karena kalau bicara profit aku rasa dalam waktu dekat masih sulit mencapai target, justru yang ada malah dibutuhkan banyak sentuhan modal awal untuk membuatnya stabil kembali ..."


"Kau tidak berubah, Jody. Selalu melakukan apapun termasuk menjalankan bisnis dengan mengedepankan hati. Aku selalu salut kepadamu untuk satu hal ini ..."


Mendengar kalimat bernada pujian itu Jody Frederick tersenyum.


"Lalu bagaimana kau akan mengontrol perusahaan tersebut jika kau akan segera kembali ke negaramu?" tanya Arshlan lagi.


Jody Frederick pun menoleh kearah Florensia yang duduk bersama Luiz, tak jauh darinya.


"Aku telah mempercayakan semua itu kepada Florensia, karena sudah saatnya dia mulai belajar serius dan mengelola sebuah perusahaan. Lagipula aku ingin dia berada disini dulu untuk sementara waktu, mungkin dengan begitu bisa semakin mendekatkan hubungan dengan putramu Luiz ..."


Arshlan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau benar. Aku juga berharap bahwa setelah ini Luiz dan Florensia akan semakin dekat satu sama lain. Lagi pula kau tidak perlu khawatir, karena aku akan mengingatkan Luiz agar bisa membantu Florensia dalam pekerjaannya."


"Terima kasih, Arsh. Aku tahu putramu Luiz sangat handal dalam dunia bisnis, karena Luiz adalah cerminan dirimu ..."


Arshlan tersenyum mendengar pujian sahabatnya itu.


"Jody, kalau kau tidak keberatan aku ingin Florensia menghabiskan weekend ditempat ini sampai besok hari. Mengenai kepulanganmu malam ini, aku akan mengutus seorang sopir dan seorang pengawal, agar bisa mengantarmu langsung menuju bandara ..."


Jody terdiam sejenak, mendengar keinginan yang diutarakan Arshlan yang ingin menahan putrinya lebih lama.


Namun setelah memikirkannya, Jody Frederick merasa bahwa sepertinya usul Arshlan bagus juga.


Kasihan juga jika memaksa Florensia menyetir di malam hari, dan dirinya pun tidak perlu merasa khawatir jika harus meninggalkan Florensia, dibawah pengawasan keluarga Arshlan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Malam semakin beranjak larut, sehingga Jody Frederick pun telah memutuskan untuk berpamitan.


Ia memang sudah harus kembali ke negaranya, mengingat semua urusan pekerjaannya yang telah menanti, sehingga Jody Frederick sengaja telah mengambil penerbangan pertama untuk besok, yang akan take off pada dini hari.


"Biarkan saja travel bag itu, Jody, aku akan panggilkan seorang pengawal untuk membawanya ..."


"Tidak perlu, Uncle, biar aku saja ..." El yang muncul tiba-tiba disana, dengan sigap meraih travel bag berukuran sedang milik Jody Frederick.


"Baiklah El, bawakan travel bag Tuan Jody ke mobil yang ada didepan. Sopirnya sudah menunggu disana ..." titah Arshlan kearah El yang mengangguk patuh.


"Siap, Uncle ..."


Kemudian El terlihat berjalan santai sambil menentang travel bag tersebut tanpa kesulitan berarti, sementara Jody Frederick hanya melirik kecil lewat ekor matanya.


'Dasar bocah licik ...!'


Umpat Jody Frederick dalam hati, karena mau tak mau, kegesitan El diam-diam kembali mencuri hatinya.


"Kau lihat itu, Jody?"


"Hhhmm ...?" alis Jody Frederick bertaut mendengar pertanyaan Arshlan yang berdiri tepat disampingnya, sambil memandang punggung El yang menjauh.


"Anak muda itu ... El. Hanya dalam waktu singkat, aku bisa sangat menyukainya." ucap Arshlan jujur, saat mengakui kekagumannya akan sikap El yang begitu care dan sigap dalam segala hal.


'Aku bahkan sudah lebih dahulu jatuh hati dengan sifat dan sikap bocah licik itu ...!'


Jody Frederick bergumam dalam hati, namun tentu saja tak sudi mengucapkan kekagumannya dengan mulutnya sandiri.


"Ayah ...!"


Florensia yang muncul bersama Luiz dan Lana, sontak langsung menghambur ke pelukan Jody Frederick.

__ADS_1


"Ayah harus pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik." nasihat Jody Frederick kepada putrinya yang mengangguk manja dalam pelukannya.


Kemudian Jody Frederick telah menatap Arshlan, Lana dan Luiz satu persatu. "Sebaiknya aku pergi sekarang. Aku titip putriku Florensia ..."


"Tuan Jody jangan khawatir, ada aku yang akan menjaga Florensia disini ..." ucap Lana sambil tersenyum.


"Terima kasih, Nyonya Lana," jawab Jody Frederick lega.


"Luiz, mulai sekarang kau juga harus berjanji untuk membimbing Florensia menstabilkan perusahaannya." ucap Arshlan kearah Luiz yang mengangguk tanda kesediaannya.


"Baik, Dadd." jawab Luiz singkat kemudian tatapannya beralih kepada Jody Frederick. "Uncle, jangan khawatir. Aku dan Florensia telah membahas semua itu sejak tadi, dan aku bersedia membantu Florensia di kemudian hari, kapan pun Florensia membutuhkan aku ..." janji Luiz lagi bersungguh-sungguh, membuat Jody Frederick semakin merasa lega mendengarnya.


"Mendengar semua ini, sebagian besar beban serta kekhawatiranku berkurang. Terima kasih atas semua perhatian kalian ..."


Arshlan menepuk bahu sahabatnya itu sambil menganggukkan kepalanya.


Dan akhirnya Jody Frederick pun berpamitan, setelah terlebih dahulu menolak untuk diantar langsung oleh Arshlan, Lana dan Luiz.


"Tidak perlu mengantar ke depan, Arsh, biar aku sendiri saja, karena mobilnya juga sudah menunggu." tolak Jody Frederick dengan sopan.


"Walaupun ayah menolak, aku akan tetap mengantarkan ayah sampai ke mobil." ucap Florensia keras kepala, yang pada akhirnya Jody Frederick pun harus mengalah kepada putrinya itu.


Sambil terus memeluk ketat lengan ayahnya, Forensia pun berjalan beriringan kedepan bersama Jody Frederick, dan ia sedikit terkejut saat mendapati sosok El yang baru saja menutup bagasi mobil, usai menaruh travel bag milik ayahnya.


"Ayah, aku pasti akan merindukan ayah ..." ucap lirih Florensia dengan nada manjanya yang khas, mengabaikan kehadiran El yang berdiri disana dengan seulas senyum.


Untuk yang kesekian kalinya, Florensia kembali memeluk Jody Frederick dengar erat.


"Ayah juga pasti akan merindukanmu, sayang. Jaga dirimu baik-baik ..." ucap pria itu seraya mengusap kepala Florensia dengan kasih sayang.


Florensia pun mengangguk.


Langkah Jody Frederick yang hendak menaiki mobil mendadak terhenti begitu tatapannya terbentur pada seraut wajah El, yang di bibirnya tak henti menyumbangkan senyum.


"Travel bag-nya sudah aku taruh di bagasi, Ayah ..."


Lagi-lagi Luiz hanya tersenyum mendapati omelan yang entah untuk yang kesekian kalinya .


"Luiz saja memanggilku Uncle, tapi kau terus saja memanggilku seperti itu ..."


"Maaf, Yah, tapi lidahku sepertinya sudah terbiasa ..." imbuh El lagi dengan wajahnya yang kalem, sukses mengundang dua pelototan mata sekaligus dari Jody Frederick dan Florensia.


"Ayah, pergilah. Jangan hiraukan dia ..." bisik Florensia memilih menyudahi pembicaraan absurd tersebut.


"Huhhff,"


Jody Frederick menghembuskan nafasnya. Pada akhirnya ia memilih mendengarkan Florensia.


"Baiklah, ayah pergi dulu."


Pria itu terlihat mengecup dahi Florensia sejenak, kali ini ia benar-benar menaiki mobil yang sudah siap sejak tadi.


"Dagh, Ayah ..." Florensia melambaikan tangannya lewat kaca jendela yang terbuka.


"Hati-hati dijalan, Ayah," ucap El tak mau ketinggalan, kini ia telah berdiri tepat di sisi Florensia, juga sambil melambaikan tangannya, tak peduli jika pria tua itu tidak menggubrisnya.


...


"Apa yang kau lakukan?" semprot Florensia tak sabar, begitu mobil yang membawa ayahnya menghilang di gerbang depan ranch milik keluarga Arshlan.


"Maksudmu?"


"Kenapa kau berada disini?"


"Kau tidak lihat aku mengantarkan travel bag ayah dan menaruhnya didalam bagasi?" jawab El kalem.


"Bukan itu maksudku!" semprot Florensia lagi.


"Lalu maksudmu apa ...?" tanya El polos dengan dahi sedikit berkerut.

__ADS_1


"Kau ... kau sengaja ingin menggangguku?"


"Mengganggumu ...? Memangnya aku melakukan apa ...?" tanya El lagi-lagi dengan tampang blo'on.


Florensia menghentakkan sebelah kakinya keatas lantai saking gemasnya.


"El, kenapa kau harus berada disini juga? Kenapa kau datang?"


El tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh Florensia. "Flo, kau ini bicara apa? Aku ada disini karena sama seperti dirimu, aku juga diundang oleh keluarga Arshlan untuk barbeque party malam ini. Mengapa kau malah berpikir bahwa aku sengaja datang untuk mengacaukan harimu ...?"


Mendengar jawaban lugas El membuat wajah Florensia merah padam menahan malu.


'Florensia, El berkata benar, bahwa pria itu juga diundang. Lalu kenapa kau memarahinya?'


Florensia merutuk dirinya sendiri dalam hati.


"Sudahlah, mulutku capek bicara denganmu."


"Aku bisa melihatnya. Tentu saja mulutmu capek. Sepanjang malam kau bicara, tersenyum dan tertawa dengan Luiz ... wajar saja jika mulutmu terasa kaku saking capeknya." berucap dengan nada sedikit dongkol, sambil berlalu dari hadapan Florensia yang terbelalak mendengar kalimat sarkas tersebut.


"Berhenti. Apa maksudmu?" Florensia menahan lengan El yang hendak menjauh "Kau ... kau sengaja menyindirku yah ...?!"


"Iya, aku memang sengaja menyindirmu. Syukurlah jika kau menyadarinya .." ujar El dengan suara yang datar.


Tak disangka tawa Florensia pecah mendapati kalimat El tersebut.


"Ada yang lucu?" tanya El lagi, wajahnya tetap datar meskipun didepan hidungnya Florensia sedang tergelak, seolah sengaja menertawakan dirinya.


"Kau ... jangan bilang kalau kau sedang cemburu ..."


"Aku memang cemburu."


"Apa?!"


Tawa Florensia menghilang dalam sekejap, mendapati kalimat yang terucap tanpa ragu.


"Aku sedang cemburu, dan aku mengatakannya dengan berani. Tidak seperti dirimu, yang cemburu, namun gengsi untuk menunjukkannya ..."


Florensia terhenyak.


Mendadak ingatan Florensia kembali tertuju pada moment dimana El meminta Dasha untuk menyuapinya dengan sepotong daging, dan Dasha malah menuruti keinginan El itu seperti seorang yang terkena hipnotis.


"Kau gila ..." umpat Florensia lirih, tak bisa lagi menyembunyikan kekesalan dihatinya.


"Kau yang membuatku gila, Flo ..." bisik El membalas umpatan itu.


"Seharusnya kau sadar bahwa sekarang hubunganku dengan Luiz sudah naik level. Orang tua kami sudah setuju untuk ..."


"Untuk membuat kalian berdua menjalani hubungan yang lebih serius, kan?"


"Kau bahkan sudah tahu, lalu apalagi yang kau tunggu? El, sudah waktunya kau mundur ..." ujar Florensia berusaha mengembalikan kewarasan sekaligus kepercayaan dirinya yang nyaris goyah.


El tersenyum menanggapi keangkuhan yang dimatanya terlihat begitu manis itu.


"Kau belum ditembak, belum dilamar, apalagi dinikahi. Lalu apa alasannya aku harus mundur ...?"


"Apa?!" kembali Florensia terpekik. Seluruh wajahnya dipenuhi rona merah karena rasa malu dan geram.


"Dengarkan ini baik-baik, Florensia Frederick. Aku ... Lionel Winata. Pemilik hatimu yang sesungguhnya. So ... berusahalah lebih keras lagi kalau kau benar-benar ingin menyingkirkan namaku dari dalam hatimu. Karena pria sekeren Luiz pun tidak akan semudah itu menyingkirkan aku begitu saja. Kau mengerti ...?"


Florensia mematung mendapati El yang bicara sambil tersenyum jumawa.


"Malah melamun. Ayo kembali ..." ucap pria itu sambil mengayunkan langkah memasuki bangunan villa milik keluarga Arshlan yang megah, setelah terlebih dahulu dengan lancangnya ia kembali menggoda Florensia, dengan cara menowel pucuk hidung Florensia yang bangir alami ... dengan jari telunjuknya ...


...


Bersambung ...


Kencangkan supportnya lagi yah, Bebb. Like, Comment, Hadiah dan Vote-nya ditungguuuu ...! πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2