TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
PERMINTAAN MAAF DI PAGI HARI


__ADS_3

Entah kenapa Lana merasa tidurnya semalam terasa sangat nyaman.


Mungkin karena dirinya memang sangat lelah ditambah dengan kurang tidur karena Lana bahkan baru meninggalkan kamar Nyonya Alexandra diatas jam sepuluh malam, disaat wanita tua itu telah mendengkur halus.


Mungkin sama halnya dengan dirinya, Nyonya Alexandra juga tertidur karena kelelahan, setelah mengurai sedikit banyak dari beberapa hal yang menyangkut sikap harfiah seorang Tuan Arshlan yang tidak diketahui oleh banyak orang.


Begitu banyak kisah yang memang ingin didengar Lana, yang akhirnya mengalir begitu saja tanpa sengaja dari bibir Nyonya Alexandra, kendatipun awalnya Lana begitu bersusah payah untuk mendapatkan celah.


Pada akhirnya Nyonya Alexandra sendiri yang bercerita tanpa diminta, dan terus bercerita tanpa sadar.. karena terbuai dengan pijatan Lana yang begitu pas.


Dan atas semua yang telah didengar Lana malam itu, sebuah kesimpulan pun telah Lana dapatkan dengan mudah, sesaat setelah dirinya beranjak ke peraduan sambil memeluk gulingnya erat.


Bahwa dibalik sikapnya yang kejam, sesungguhnya Tuan Arshlan adalah sosok pribadi yang berhati hangat.


That's all.


"Aku tidak salah mencintai pria itu, dan aku harus mendapatkannya apapun yang terjadi. Pria sebaik Tuan Arshlan.. hanya aku yang boleh mencintainya, karena cintaku padanya sudah pasti adalah cinta tanpa batas.."


Usai memantapkan hati, Lana pun jatuh tertidur dengan begitu lelap.. berhiaskan senyum.


Tidurnya pun dibuai oleh mimpi indah, dimana ia mendapati Tuan Arshlan sedang menggenggam jemarinya dengan erat, membawanya pada sebuah altar megah, melamarnya untuk menjadi teman setia pria itu dimasa depan.


Mimpi yang begitu indah, yang membuat Lana enggan bangun dan tersadar.


Lana menggeliatkan tubuhnya..


Sedikit memicingkan mata guna menghindari sinar matahari yang mulai menerobos masuk melewati celah-celah tirai jendela besar, yang membuat Lana tersadar bahwa sepertinya ia telah kesiangan, padahal Madam Lori sudah mewanti-wanti dengan jelas sejak awal untuk senantiasa bangun pada jam empat shubuh setiap harinya.


"Astagaaa..! aku kesiangan..! mati aku..!! mati aku..!!"


Lana tersentak bangun dari tidurnya, dan kemudian..


"Aaaaaa..!!"


Usai tersentak bangun secepat kilat, kini Lana kembali terduduk diatas ranjang begitu saja.


Lana mengucek matanya tak percaya.


'Tidak.. tidak.. aku pasti salah melihat..'


Lana kembali mengucek matanya.


'Astaga.. mataku benar-benar bermasalah..'


Bergumam ketika menyadari pemandangan didepan hidungnya masih belum berubah.


Mengucek matanya lagi.. dan..


"Selamat pagi.."


Tubuh Lana langsung membeku seperti bongkahan es. Dadanya berdesir mendengar suara berat yang khas itu.


Lana membuka matanya perlahan, mencoba mengintip dari sela-sela jemarinya, dan ia nyaris memekik lagi begitu menyadari bahwa sosok didepan matanya bukannya menghilang malah seolah menjadi semakin terlihat nyata.

__ADS_1


Yah.. disana.. disebuah sofa single yang ada didalam kamar yang ditempati Lana.


Sosok yang begitu Lana kagumi selama ini, sosok yang menghiasi bunga tidurnya nyaris disetiap malam, sosok itu kini terlihat duduk menopang kaki dengan senyum yang menawan.


'Pangeranku..'


Rasanya Lana ingin berlari kesana dan memeluk, namun keadaan dirinya yang berantakan membuatnya malu.


XXXXX


Arshlan telah duduk disofa itu nyaris satu jam lamanya, sejak awal hanya diam menatapi wajah polos yang terlelap.


Anehnya, Arshlan bahkan menunggu disana dengan sabar. Tidak merasa bosan sama sekali karena ia menunggu sambil menikmati pemandangan super jelek, dimana Lana tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka.


Gadis dihadapannya sekarang ini benar-benar susah ditemukan letak nilai plusnya.


Wajahnya biasa saja, hanya terlihat agak polos.. cenderung bodoh.


Tubuhnya pun biasa saja, tidak terlalu tinggi dan belum terdapat perkembangan berarti dibagian-bagian yang disukai Arshlan dari tubuh seorang gadis.


Apalagi sifatnya..


Sikapnya..


Kebiasaannya..


Semuanya tidak ada yang menarik, yang ada malah minus..!


Absurd, pemaksa, bar-bar..


Arshlan bahkan nyaris terlonjak begitu mendapati Lana sontak berdiri seraya bergumam-gumam panik tidak jelas.. namun begitu melihat kehadirannya yang duduk manis disalah satu sofa, mendadak tubuh gadis itu kembali melorot lagi keatas ranjang.


Terkejut..?


Sudah pasti.


Lama Arshlan tersenyum menatap tingkah Lana yang mengucek matanya berkali-kali.. kali ini senyumnya terasa alami, tidak dibuat-buat apalagi dipaksakan.


Tingkah polos dan lucu Lana sukses membuat Arshlan nyaris tertawa.


"Selamat pagi.." Arshlan berucap, saat melihat sepasang bola mata, yang mengintip dari sela-sela jemari..


XXXXX


"Kaget..?"


Lana mengangguk cepat, masih terpana menatap sosok Arshlan yang tetap berada ditempat semula, tubuh pria itu belum bergeming, senyumnya juga.


"T-Tuan.. untuk apa datang menemuiku sepagi ini..?"


"Kemarin aku terlalu dikuasai emosi, sehingga tega meninggalkanmu begitu saja." ujar Arshlan to the point sambil tertunduk sejenak, sebelum kembali menatap wajah Lana lekat. "Aku minta maaf.. aku sungguh menyesal.."


Lana terhenyak mendengarnya, tapi belum bicara sepatah kata, hanya menatap kearah Arshlan dengan raut wajah yang sulit terbaca.

__ADS_1


"Apakah aku masih bisa dimaafkan..?"


"Tuan bicara apa..?" sahut Lana. "Awalnya aku memang kesal, tapi sekarang aku bahkan tidak memikirkannya lagi.." imbuhnya.


"Aku ingin menebus kesalahanku, tapi aku tidak tau, apakah aku layak.."


Kemudian Arshlan berdiri dari duduknya, mendekati Lana dengan langkah perlahan, sambil tangannya merogoh kotak mungil yang ada didalam saku celananya.


Tepat didepan ranjang Lana, langkah Arshlan terhenti.


Detik berikutnya Arshlan telah membungkuk, membuat Lana terkesiap melihat pemandangan manis yang tak pernah ia bayangkan sedikitpun, dimana kini Arshlan telah berlutut dihadapannya.. sambil memegang sebuah kotak mungil yang terbuka, memperlihatkan isinya yang membuat mata Lana melotot, dan mulutnya pun ikut terbuka.


Sebuah cincin bermata ruby terlihat berkilau sempurna. Cantik, elegan dan memukau.


"Will you be my lover..?"


Hening.


Diam-diam Lana mencubit punggung tangannya, dan dia nyaris mengaduh karena rasa sakit yang ia terima.


'Oh my.. jadi ini benar-benar bukanlah sebuah mimpi. Semua kenyataan manis ini sungguh nyata.. Tuan Arshlan baru saja meminta dirinya menjadi kekasih..?'


"Lana, katakan, apakah aku cukup pantas menerima kebanggaan itu atau.."


"Tuan bicara apa..?" tubuh Lana terasa lemas dan bergetar ketika ia memaksakan diri untuk turun dari ranjangnya. Berdiri sekitar dua langkah dari hadapan Arshlan yang masih berlutut.


"Sepertinya aku sedang mengharapkan sebuah hal yang mustahil.."


"Itu tidak benar.." Lana menggeleng.


Arshlan sontak mengangkat wajahnya yang tadinya sempat tertunduk. Berpura-pura lemah seolah pendosa yang meminta pengampunan.


"Tuan.. sebelum aku menjawabnya aku harus memastikannya terlebih dahulu, bahwa Tuan tidak akan menyesal melakukan semua ini.."


"Mana mungkin aku menyesal? aku sungguh-sungguh menginginkan dirimu. Aku tidak bisa tidur semalaman karena rasa bersalah yang membuncah.. aku tidak yakin bisa dimaafkan.. semua perasaan itu benar-benar menyiksaku begitu rupa.. dan.." Arshlan kembali menampakkan dirinya yang tertunduk lesu.


"I will.."


Hening.


Perlahan Arshlan mengangkat wajahnya demi bisa mendapatkan seraut wajah Lana yang berdiri tepat dihadapannya.


Detik berikutnya, bibir Arshlan yang tadinya mengucap kalimat yang penuh jebakan kebohongan itu terasa begitu kelu, saat menyaksikan Lana yang berdiri dengan sepasang kelopak matanya yang dihiasi embun.. menatapnya penuh haru.. membuat dada Arshlan berdesir lembut.. namun dibarengi dengan rasa ngilu.


'Tidak.. tidak.. Aku harus fokus dengan tujuan utamaku. Susah payah aku merangkai kalimat memuakkan untuk menjebaknya, mana mungkin fokusku hilang begitu saja hanya karena sepasang matanya yang menatapku dengan segenap perasaan..?'


'Fokus Arshlan.. fokus..! kau adalah pemegang kendalinya, sementara wanita ini hanya mengincar uangmu saja..!'


'Oh.. baiklah Lana.. ambil uangku, dan biarkan aku mencambuk hatimu hingga terluka dan berdarah-darah.. Dengan begitu.. rasanya semuanya cukup seimbang..!'


...


Bersambung..

__ADS_1


Support please.. Loopyuu all.. 😘


__ADS_2