
DOUBLE UP π€
...
"Sampaikan kepada Uncle Her, bahwa hari ini aku memilih beristirahat terlebih dahulu. Besok aku akan datang kekantor seperti biasa."
Kalimat Luiz menerbangkan berjuta-juta ingatan Victoria tentang masa lalu. Victoria pun menjawab lirih.
"Akan aku sampaikan."
"Pergilah ..."
Victoria menatap sosok Luiz yang membeku, duduk tenang berbatas meja dengan dirinya seolah tanpa terpengaruh. "Luiz, aku ingin bicara ..."
"Penerbangan yang panjang membuatku sedikit jet lag. Aku harus beristirahat dan memulihkan kondisi tubuhku yang lelah ..."
Victoria bukannya tidak tau jika Luiz baru saja pulang dari luar negeri dalam rangka perjalanan bisnis. Pria itu pasti lelah, tentu saja. Namun Victoria tidak sanggup menahan diri untuk mencari celah demi menggugah perasaan Luiz yang paling dalam.
"Luiz, aku mohon. Aku hanya ingin bicara sebentar tentang ... awwww ...!!"
Kalimat Victoria terputus saat ia merasakan ngilu dilutut kirinya, seperti habis dipukuli oleh sebuah benda tumpul.
"Ada apa?!"
Luiz terkejut mendapati wajah Victoria yang meringis kesakitan, namun detik berikutnya otaknya berputar cepat begitu sudut matanya sempat menangkap potongan kain bermotif kembang kecil, dari bawah meja yang sedang diduduki oleh dirinya dan Victoria saat ini.
"Luiz, aku merasa seperti ada seseorang telah memukul lututku dengan keras dan ..."
"Tidak. Tidak ada siapa-siapa disana."
Luiz menarik pergelangan tangan Victoria yang bergerak seolah ingin bangkit dari duduknya dan melongokkan kepala kebawah meja, yang tertutup taplak panjang nyaris menyentuh lantai.
"Tapi aku merasa ada seseorang yang ..."
"Tidak ada seseorang disana." tepis Luiz lagi dengan wajah datar, tanpa berniat melepaskan cekalan tangannya yang masih setia berada ditempat semula, seolah sengaja ingin mengunci segenap pergerakan Victoria.
"Tapi, Luiz, lututku ..."
"Maafkan aku. Tadinya aku hendak meluruskan kakiku, tapi tanpa sengaja malah menendang lututmu."
Victoria menatap wajah dingin Luiz yang terlihat nyaris tanpa riak. Saking datarnya ekspresi pria itu, Victoria seolah tidak bisa membedakan kapan Luiz berbohong, dan kapan Luiz berkata benar.
Tapi mengingat Luiz telah melarangnya untuk melongokkan kepalanya kebawah meja, terlebih menyadari pria itu masih setia menahan pergelangan tangannya hingga kini, membuat Victoria memilih untuk berdiam diri, sembari menikmati sepenuh hati denyut jantungnya yang berdebar ... begitupun dengan aliran darahnya yang menghangat ...
"Kembalilah kekantor."
Victoria masih membisu menerima titah tersebut.
"Victoria, kembalilah kekantor karena Uncle Her pasti membutuhkanmu. Jangan lupa bawa kembali dokumennya." ujar Luiz lagi, kali ini sambil mengendurkan genggamannya dipergelangan tangan Victoria.
"Baiklah, Luiz, kau benar, sebaiknya aku memang kembali sekarang." lirih Victoria sambil bangkit dari duduknya, meskipun dengan wajah yang separuh tidak rela.
Sejujurnya Victoria masih ingin berdua dengan Luiz seperti ini, karena merupakan kesempatan yang sangat langka bisa kembali berdekatan dengan Luiz.
Namun disisi lain ia tidak bisa menolak perintah pria itu, yang menginginkan dirinya segera pergi menjauh.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Keluar."
Satu kata itu terdengar dingin dan datar, begitu Luiz menyaksikan punggung Victoria yang telah menghilang dibalik tembok pembatas ruangan.
Tak ada sahutan, tak ada gerakan apapun. Semuanya terasa hening.
"Aku bilang keluar." Luiz mengulang lagi perkataannya.
Masih hening.
Namun tiba-tiba ...
"Meoongg ..."
Suara kucing terdengar dari bawah kolong meja, membuat Luiz menjadi semakin tidak sabar karena belum berhasil membuat penjahat kecil itu keluar dari tempat persembunyian, dan menyerahkan dirinya.
"Meooong ..."
Si Oyen, kucing gemuk berwarna oranges terlihat keluar dari balik taplak meja panjang. Langsung mendekati kaki Luiz, dan bermanja disana, namun demikian Luiz telah membuang nafasnya berat, begitu menyadari si penjahat kecil yang merupakan penjahat sebenarnya masih belum juga berniat menyerahkan dirinya dengan sukarela.
"Aku akan menghitungnya sampai tiga. Kalau kau tidak keluar juga maka aku akan mengirim kucing gemuk ini ke rumah penampungan kucing ..."
"Ampun, ampun Tuan Luiz, aku menyerah ... menyerah ..."
Luiz menggelengkan kepalanya berkali-kali, menyaksikan sosok mungil yang merangkak keluar dari bawah kolong meja, dengan baju terusan bermotif kembang kecil.
"Lagipula Oyen adalah hadiah Tuan Leo untukku, jangan kirim Oyen kerumah penampungan, Tuan, kasihanilah Oyen ..." gadis cilik itu menatap Luiz dengan raut wajah memelas sempurna.
"Dasha ..."
Luiz telah menyebut namanya.
Yah, dia Dasha. Gadis berumur sebelas tahun yang merupakan keponakan Asisten Jo, orang yang pernah menjadi kepercayaan Tuan Arshlan dan Lana, selain Uncle Her.
Pada beberapa tahun yang lalu, Asisten Jo telah mengambil masa pensiunnya karena faktor usia yang semakin menua.
Saat itu sepasang suami istri beserta seorang gadis cilik bernama Dasha yang merupakan satu-satunya keluarga Asisten Jo, telah menjemput Asisten Jo. Sepertinya mereka tidak rela jika Asisten Jo hidup sendirian dimasa tuanya, sehingga tak berapa lama berselang setelah itu, Asisten Jo pun benar-benar berpulang dengan bahagia, ditengah keluarga yang mencintainya.
Namun, malang tak dapat ditolak, manakala beberapa bulan berselang, sebuah kecelakaan lalu lintas malah merenggut nyawa kedua orang tua Dasha sekaligus, membuat gadis itu menjadi anak yatim piatu dalam sekejap mata.
Melihat kenyataan tragis itu, sisi hati seorang ibu dari Lana pun tergerak.
Tanpa berpikir panjang Lana telah menjemput Dasha, membawa gadis cilik itu tinggal bersama mereka. Lana bertekad membiayai sekolah serta kebutuhan Dasha, mengingat Asisten Jo adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam kehidupan Lana dan Arlshlan hingga bertahun-tahun lamanya.
Mengingat semua jasa Asisten Jo, sudah sepantasnya jika mereka membalas segala kebaikan dan pengabdian Asisten Jo dengan cara bertanggung jawab penuh pada masa depan Dasha kelak.
Dan begitulah awal kisah, mengapa Dasha bisa berada didalam lingkup keluarga Tuan Arshlan, karena sejatinya gadis itu telah dianggap sebagai bagian dari keluarga juga.
Meskipun pada awalnya Dasha terlihat begitu terpukul dengan tragedi yang menimpa kedua orangtuanya, namun seiring waktu berlalu mendung duka pun mulai tersibak sedikit demi sedikit.
Lambat laun Dasha mulai kembali ceria, seiring dengan terbongkarnya sifat asli gadis itu yang ternyata begitu lincah, super usil, bahkan tak jarang terkesan absurd.
Diumurnya yang masih sangat muda, diam-diam Dasha sangat menyukai Luiz, bahkan mengidolakannya. Itulah sebabnya gadis cilik itu selalu saja merasa kepo dengan apapun yang menyangkut Luiz.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan sejak tadi dibawah sana? kau sengaja menguping ya?" Luiz menatap Dasha dengan tatapan galak.
"Tidak Tuan, demi Tuhan tidak seperti itu ..."
Luiz melengos mendengar pembelaan diri yang begitu sering ia dengar dari mulut manis bocah yang ada dihadapannya ini.
"Oyen telah bersembunyi dibawah kolong meja sebelum Tuan datang, dan aku terperangkap disana karena tidak enak menyela pembicaraan Tuan dengan Nona Victoria ..."
"Lalu kenapa kau berani memukul lutut Victoria?"
"Aku tidak memukulnya." kilah Dasha.
"Masih berani berbohong?!"
"Iya ... iya ... baiklah aku memang sengaja memukul lututnya ..."
Mendengar pengakuan itu Luiz langsung memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Dasha, kau ..."
"Aku memukulnya karena Nona Victoria selalu berusaha mendekati Tuan dan ..."
"Lalu apa urusannya semua itu denganmu, Dasha?" ujar Luiz, menekan rasa gemasnya atas semua sikap Dasha yang selalu saja terkesan aneh dimatanya.
"Egh ... aku ... aku hanya ..."
"Berhenti mencampuri urusanku. Karena setiap kali kau ikut campur, maka semuanya menjadi semakin kacau. Semuanya. Apakah sampai disini kau paham?"
Dan rasanya Luiz ingin memukul kepalanya ke dinding, manakala dengan mata kepalanya sendiri ia telah menyaksikan Dasha, bocah kecil yang bar-bar itu, telah menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang polos tanpa dosa ...
"Tuan Luiz, padahal aku hanya ingin membantumu. Lalu dimana letak kesalahanku ...?"
'Oh ... astaga Dasha ... Dasha ...'
...
Pengenalan tokoh:
Luiz, 21 tahun
Leo, 21 tahun
Victoria, 24 tahun
Dasha, 11 tahun
Sudah adakah bayangan tentang alur Season 2 ...? π€
Luiz, Leo, Victoria, dan ... Dasha π€
__ADS_1
Bersambung ...