
Lana masih duduk tegak, nyaris tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Namun meskipun demikian, ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun. Tetap tenang tanpa riak.
Dihadapannya, Maura pun melakukan hal yang sama.
Duduk terdiam, namun dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Air muka Maura terlihat bingung dan sedikit was-was, meskipun sesuai dengan janji Arshlan, kehadiran Asisten Jo yang berada tak jauh darinya cukup melegakan Maura.
Usai mengucapkan permintaan maaf yang tak tulus, Maura bahkan belum menerima tanggapan apapun dari Lana.
Entah apa yang bercokol didalam otak gadis ingusan itu, Maura bahkan tidak berani bertanya.
Maura juga mengambil tempat duduk disudut terjauh karena masih dibayangi rasa trauma yang mendalam menghadapi keberingasan Lana tempo hari.
"Mengapa..?" satu kata yang terucap dari bibir Lana sanggup menghentak lamunan Maura.
"A-apa..?"
"Mengapa kau datang kesini hanya untuk mengucapkan sepenggal kata maaf..?"
Maura mencoba tersenyum. "Apa aku tidak boleh meminta maaf atas kesalahanku padamu..?"
"Kau berlebihan." pungkas Lana langsung, tanpa embel-embel.
"A-apa..?!"
"Terus terang saja, aku masih tidak tau apa yang sedang bercokol dipikiranmu saat ini, tapi aku mencurigaimu niatmu."
"Astaga Lana, aku tak menyangka, kau ternyata memiliki sifat curiga yang besar.."
"Aku perlu waspada untuk menghadapi wanita sepertimu. Kau tidak mungkin datang begitu saja kehadapanku hanya untuk meminta maaf, jika tidak ada hal besar yang telah melatarbelakangi sikapmu saat ini."
Maura tersenyum, ia harus mengakui bahwa nyali bocah dihadapannya ini cukup tangguh.
"Lana, yang kau katakan memang benar. Karena dalam waktu dekat ini aku akan pergi ke Milan. Dua bulan yang lalu Arshlan telah membeli sebuah butiq ternama disana, dan kemarin.. Arshlan telah menghadiahkan butiq itu untukku."
"Sebuah butiq..?" Lana nyaris tidak bisa mempercayai pendengarannya.
Maura mengangguk.
"Di Milan..?!"
"Hhmm.." Maura kembali mengangguk, senyum kemenangan menghiasi wajahnya saat menyadari air muka Lana yang tadinya tenang kini mulai beriak.
'Benarkah..?'
'Benarkah Tuan Arshlan menghadiahi sebuah butik untuk Nona Maura di Milan yang merupakan salah satu kota mode terbesar dunia..?'
'Sebuah butiq..?'
__ADS_1
'Apakah itu pantas untuk seorang mantan kekasih yang pernah mengkhianati cinta..?'
'Tidak. Itu sama sekali tidak pantas, melainkan berlebihan..!'
"Oh astaga.. maaf Lana.. aku tidak tau bahwa Arshlan tidak menceritakannya kepadamu.." Maura terlihat menutup mulutnya dengan tangan, raut wajah Maura diliputi rasa terkejut sekaligus penyesalan yang palsu.
Kata siapa Maura ber-empati..?
Heh, Maura bahkan sengaja merancang pembicaraan ini sejak kemarin, hanya untuk menggiring Lana menemui kenyataan yang pahit.
Awalnya Maura hanya berniat memanas-manasi, mana tau kalau ternyata Lana bahkan tidak tau sama sekali bahwa Arshlan telah memberikannya hadiah atas kepemilikan sebuah butiq elite di Milan.
Ibarat sebuah peribahasa, sekali tepuk dua lalat.
Lana terlihat menggelengkan kepalanya perlahan.
"Mungkin bukan tidak menceritakan, tapi belum.." pungkas Lana mencoba berpikir positif, meskipun seluruh permukaan hatinya terasa sakit mendapati kenyataan tersebut.
"Oh.. sepertinya begitu.."
Lana hanya tersenyum segaris.
"Lana, kau.. pastinya sangat beruntung. Kau bahkan telah menjadi istri sah dari pria yang semanis Arshlan. Arshlan memanglah sosok yang dingin dan arogan.. tapi sebenarnya ia adalah pria yang sangat perhatian, ia bahkan masih mengingat dengan jelas apa impian terbesarku meskipun hal itu telah berlalu sekian tahun.."
Lagi-lagi Lana hanya menanggapinya dengan senyum getir. "Yah.. suamiku memang sangat manis. Ia selalu memberikan hadiah istimewa untuk setiap wanita yang pernah ia kencani.." tukas Lana.
"Lana, aku jadi penasaran, apa yang telah ia berikan untukmu. Kalau Arshlan bisa seloyal itu kepada wanita lain lalu bagaimana denganmu yang notabene istri sahnya..?" pungkas Maura seolah sedang memancing di air keruh.
'Kau bahkan tidak diberi satu sen pun uang.. harta.. kebebasan.. apalagi cinta..? cihh.. becanda..!'
'Aku.. Maura. Aku adalah cinta sejatinya Arshlan. Aku rela menunggu sampai Arshlan bosan padamu, sebelum kembali lagi kepangkuanku. Seperti yang sudah-sudah..'
Maura membathin, sambil tersenyum dalam hati.
"Nona Maura, mengenai hal itu kenapa Nona Maura masih bertanya. Apakah Nona benar-benar tidak tau apa yang telah Tuan Arshlan berikan padaku..?"
"Kau pasti sudah punya tabungan yang melimpah ruah.." pancing Maura, membuat Lana tersenyum mendengar tebakannya.
"Dan Arshlan pasti telah memberikanmu sebuah Mansion.." tambah Maura lagi.
Kali ini suara tawa kecil Lana terdengar menyeruak. "Itu tidak seberapa.."
Mata Maura melotot mendengarnya. Otaknya masih sibuk menerka sudah sebanyak apa bocah ingusan ini merampok harta Arshlan sedemikan rupa, manakala kalimat Lana telah membuatnya terhenyak ditempat.
"Bukan materi, karena aku pun sama sekali tidak tertarik. Melainkan seluruh cintanya.. sepanjang sisa hidupnya tanpa ada yang tersisa.."
"Kau.."
"Untuk apa meminta uang, tabungan, mansion, apapun, kalau pada akhirnya aku tidak bisa memeluk tubuhnya.. juga hatinya.."
__ADS_1
Maura terpaku ditempat duduknya, lidahnya sedemikian kelu, dan hatinya merasa geram.
Bocah ini.. pasti dia sengaja mengatakan semua itu untuk menyudutkannya..!
Untuk apa mendapatkan hadiah mahal, sebuah butiq mewah dari Arshlan, jika pada kenyataannya bocah bar-bar ini yang bisa memiliki tubuh pria itu.. dan memeluknya sepanjang malam..
Entah dengan hatinya..
XXXXX
"Nona Maura.. aku tau kau pasti wanita istimewa untuk Tuan Arshlan. Karena kalau tidak, mana mungkin ia bisa sebaik itu kepadamu."
"Aku dan Arshlan sudah bersama sejak lama.."
Lana tersenyum. "Terima kasih. Terima kasih karena sudah menemani Tuan Arshlan sekian lama. Aku harap kau bisa hidup dengan baik di Milan.. dan bisa menemukan pria yang tepat.."
Maura menahan diri untuk melengos.
'Pria yang tepat..?'
'Tidak..!'
'Karena aku hanya menginginkan suamimu, bukan pria lain..!'
Maura tersenyum tipis. "Aku juga selalu berharap semoga keputusannya memilihmu tidak membuat salah satu dari kalian tersakiti. Lana, aku tau hatimu tulus, tapi yang sangat disayangkan.. sejauh ini Arshlan yang aku kenal bukanlah pria yang bisa kau ajak merajut masa depan sederhana seperti yang ada dalam bayanganmu.."
"Nona Maura tidak perlu khawatir, karena aku adalah wanita yang telah dipilih Tuan Arshlan untuk berjalan bersamanya sampai akhir.."
Maura tersenyum kecut mendapati kalimat yang dipenuhi kepercayaan diri yang begitu utuh. "Alangkah leganya kalau kenyataannya memang demikian. Tapi percayalah.. aku tau kalau sekarang kau hanya sedang menghibur dirimu."
Lana terdiam, tapi sepasang matanya terus mengawasi Maura nyaris tak berkedip, seolah ia sudah bisa menebaknya jika Maura sedang berencana membuat ledakan.
"Aku dengar, hari ini Arshlan telah berpamitan untuk melakukan pertemuan bisnis di luar kota.." Maura mulai merakit pemicunya.
Lana mengangguk sambil mengawasi wajah Maura yang auranya tak tertebak.
"Lana, entahlah jika kau mencurigai niatku, tapi sepertinya kau harus melihatnya sendiri sejauh mana kejujuran Arshlan padamu.."
"Apa maksudmu Nona Maura..?"
Maura terdiam sejenak, namun mata mereka telah beradu satu sama lain.
"Malam ini di kamar presidential suite hotel Marion. Pergilah kesana dan buktikan, apakah benar cinta Arshlan padamu.. sebesar cintamu padanya.."
...
Bersambung..
Double up loh ini.. 😍
__ADS_1
Mau di Like, di coment, dikasih bunga, dikasih kopi, di vote, di favoritekan.. 🙏
Maap.. authornya butuh banget buat tembus pop EM-EMAN.. 😎