
"Dasha, Dasha, bangunlah ..."
"Mmmmhh ..." Dasha yang awalnya sedang tertidur nyenyak sambil dibuai mimpi bertemu Luiz sang kekasih hati, mendadak merasa sedikit terusik dengan goyangan lembut di tubuhnya.
"Astaga ... dasar kerbau, dia malah tidur lagi ..."
Mona melotot kesal melihat Dasha yang hanya terusik sedikit, dan dengan mata terpejam sejenak telah bergerak-gerak gelisah kesana kemari terlebih dahulu sebelum akhirnya memeluk guling yang tanpa sengaja ia raih saat ia menggeliat.
"Minggir, biar aku saja yang akan membangunkan pemalas kecil ini," ucap Devon yang mulai tak sabar, sambil menepis perlahan bahu Mona, yang masih setia dengan sepasang mata yang membulat penuh.
"Egh, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Mona keheranan saat menatap gerak-gerik Devon yang telah mendekati Dasha yang kembali terlelap.
"Diam dan perhatikan saja." pungkas Devon acuh, sedikit berbisik.
Detik berikutnya Devon telah menunduk sedikit kearah wajah Dasha yang sedang mendengkur halus, dan tanpa ragu ia telah menepuk kedua pipi Dasha kiri dan kanan sekaligus, dengan sedikit bertenaga.
Merasa dirinya seolah sedang ditabok dengan keras membuat Dasha terkesiap kaget, terduduk begitu saja sambil meraba kedua pipinya yang berhias semburat merah.
Wajah Dasha yang awalnya dipenuhi kantuk semakin terkejut setengah mati, saat menyadari sosok Devon dan Mona yang berdiri tegak bersisian sambil menatap lurus kearahnya.
"Devon? K-kenapa kau berada di ... hemphh ..."
"Sssssttt ...!!"
Dengan sigap Devon membekap mulut Dasha, sementara sepasang mata Dasha yang sedang melotot tak kalah bingung saat menyadari kehadiran Devon dikamar asrama putri yang ditempati oleh dirinya dan Mona.
"Aku akan melepaskan bekapan tanganku di mulutmu, tapi sebelum itu kau harus berjanji tidak akan berteriak." bisik Devon sungguh-sungguh.
Dasha tidak menjawab oleh karena mulutnya sedang di bekap, namun kepalanya telah mengangguk tanpa daya berkali-kali, tanda bahwa ia setuju.
Setelah berhasil meyakinkan dirinya sendiri lewat anggukan kepala Dasha kepadanya, pada akhirnya Devon pun membebaskan bekapannya dimulut Dasha.
Bugh ...!
"Aduh!" Devon mengaduh kecil saat kepalan tinju milik Dasha singgah kelengan miliknya.
"Rasakan. Itu adalah balasan setimpal karena kau telah memukul kedua pipiku dengan keras dan kemudian membekap mulutku tanpa perasaan!"
"Ssstt ..." Mona telah melerai Devon yang hendak membalas perkataan tajam Dasha kepadanya. "Berhenti beradu mulut, dan fokuslah kepada tujuan awalmu." bisik Mona lagi menyadarkan Devon akan tujuan awalnya masuk dan mengendap-ngendap kedalam asrama putri, khususnya kedalam kamar milik Dasha dan Mona.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian saling berbisik satu sama lain?" ujar Dasha sambil menatap keduanya dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Dasha, ikutlah denganku sebentar."
Alis Dasha bertaut mendapati kalimat Devon.
"Devon, kau ini sedang bicara apa?"
"Jangan banyak bertanya, cepatlah, aku tidak punya banyak waktu."
"Tapi kita akan kemana? Bukankah diluar sedang hujan deras dan ..."
"Tuan Luiz." kali ini Mona yang telah menyela pembicaraan dua arah yang terus saja berdebat tak kenal lelah.
Sepasang mata Dasha kembali melotot mendengar nama 'Tuan Luiz' yang baru saja disebut Mona tanpa canggung.
__ADS_1
"Mona, kenapa kau malah mengatakannya? Kau sudah merusak kejutan Luiz ...!" protes Devon, kesal saat menyadari betapa mudahnya Mona merusak semua rencana Tuan Luiz yang ingin mengejutkan Dasha lewat kehadirannya di malam ini.
"Maafkan aku, Dev, kalian terlalu asik berdebat dan semua itu membuat kepalaku pusing juga tidak sabar!"
"Huhhfh ... kau ini benar-benar ..." ucap Devon gusar, namun yang ada Mona telah mengibaskan tangannya dengan acuh.
"Dan kau Dasha ... kau sudah tahu semuanya kan?"
Dasha yang masih terkejut pun, pada akhirnya hanya bisa mengangguk bodoh.
"Tutup mulutmu dan segera turuti semua perkataan Devon, karena dia yang akan membawamu sekarang Juga kehadapan Tuan Luiz. Kau mengerti?"
Bibir Dasha seolah telah terkunci dengan rapat, sehingga dirinya sama sekali tidak lagi berniat berdebat lebih lama.
'Tuan Luiz ...?'
'Apa itu artinya Tuan Luiz sedang berada di area asrama sekolah mereka ...?'
'Dengan situasi hujan deras yang menggila seperti saat ini ...?'
Dasha belum juga berhenti membathin, namun kali ia tidak lagi berniat untuk membantah, melainkan hanya ingin mengikuti Devon secepat kilat, agar bisa menemui sang kekasih hati.
Siapa lagi kalau bukan Tuan Luiz, kekasih Dasha seorang ...!
πΈπΈπΈπΈπΈ
Leo menarik tangannya dari dalam lebatnya helai rambut Victoria, setelah ia benar-benar yakin bahwa wanita itu kini benar-benar telah terlelap.
Sejak tadi Victoria terus saja gelisah, dan bolak-balik kamar mandi hanya untuk memuntahkan sesuatu yang seolah tidak bisa keluar dari tenggorokannya.
"Asam lambungmu kenapa bisa separah ini? Selama ini, kau pasti tidak menjaga pola makanmu dengan baik ..." itu adalah kalimat terakhir Leo yang menyambut kedatangan Victoria dari kamar mandi dengan wajah yang sepucat mayat.
Leo telah memeriksa suhu tubuh Victoria, namun ia malah merasa jika suhu tubuh wanita itu masih dalam kondisi normal, hanya saja Victoria terus-menerus mual tanpa jeda.
Victoria memilih untuk tidak membalas kalimat Leo, yang sejak tadi terus mengikuti langkahnya kemanapun, termasuk saat pria itu dengan telaten mengusap punggungnya didepan wastafel.
Leo bahkan tanpa canggung telah mengolesi sekujur tubuh Victoria dengan sebotol minyak kayu putih, yang ia dapatkan dari jastip.
Sesaat yang lalu, melalui sebuah aplikasi online, Leo memang telah membuat sebuah pesanan jastip untuk membeli dan mengantar minyak kayu putih tersebut sampai kedepan pintu kamar hotel, tempat mereka menginap.
Leo mengusap wajah Victoria yang terlelap damai. "Vic ... kenapa kau menjadi seperti ini? Selama ini aku bahkan tidak pernah sekalipun melihat kau tidak berdaya seperti ini ..."
Pungkas Leo lagi sambil mengusap pipi Victoria yang tertidur lelap dengan penuh kelembutan.
"Sungguh konyol. Kau pasti tidak tahu kan ... bahwa diam-diam, kau sudah berhasil membuatku khawatir dan takut setengah mati ..."
Leo masih setia bermonolog, sementara tangannya terus mengelus lembut, seolah sengaja memberi kenyamanan untuk Victoria, agar semakin mudah menjemput mimpi ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Tuan Luiz ...?" Dasha memekik tertahan.
Dasha tahu bahwa dirinya tidak mungkin salah melihat dan mengenali sosok yang sangat ia rindukan itu.
Disana ...
__ADS_1
Tepat diujung selasar ...
Luiz berdiri tegak sambil tersenyum kepadanya!
Dasha pun menghambur kearah pria itu dengan penuh kerinduan.
Saat Dasha berhasil meraih sosok tinggi tegap itu, Dasha baru menyadari jika tampias air hujan yang mengucur deras telah membasahi sebagian besar pakaian yang dikenakan Luiz.
"Tuan, aku rindu ..." bisik Dasha lirih.
Dasha telah mendongak, guna mendapati wajah Luiz yang dipenuhi senyum itu dengan begitu utuh.
"Tuan, kenapa diam? Apakah Tuan tidak merasakan hal yang sama? Apakah Tuan tidak rindu? Apakah Tuan ... hmmph ..."
Kalimat selanjutnya telah tertelan begitu saja, manakala Luiz menunduk guna menghukum mulut gadis yang terlalu sering menyimpulkan segala sesuatu dengan pesimis.
Luiz mengu lum lembut bibir yang terasa segar dan manis milik Dasha dengan penuh selera, saking begitu menikmatinya rasanya Luiz ingin memakan dua bongkahan daging lembut yang merekah ranum tersebut.
"Aku sudah melakukan hal yang nekad dan gila seperti ini, tapi dengan mudahnya kau malah menyimpulkan warna perasaanku dengan sangat keliru." bisik Luiz sambil menggigit kecil ujung bibir Dasha yang tereng ah akibat gempurannya yang sensasional.
"Jadi Tuan nekad datang kesini selarut ini, menerobos derasnya hujan, serta ketatnya pengawasan para penjaga hanya karena ..."
"Hanya karena dirimu, hanya karena ingin sekali melihatmu, hanya karena begitu merindukanmu. Apakah semua kejujuranku itu belum cukup?"
Dasha mengeratkan kedua lengannya yang terkalung manja di leher Luiz.
Dalam sekejap Dasha telah menggelengkan kepalanya, dengan wajah yang sedikit centil, namun dipenuhi senyum kebahagiaan.
"Untuk pacarku yang tampan ini, aku cukup serakah. Aku tidak mudah dipuaskan hanya dengan perkataan saja ..."
Ucapan nakal Dasha terlontar tanpa canggung, seiring dengan tubuhnya yang semakin menekan tubuh Luiz, yang mau tak mau juga ikut menegang hingga sekujur tubuh.
"Dasha, jangan mulai lagi ..." bisik Luiz frustasi, saat menyadari dadanya yang berdegup gelisah karena tekanan dua benda bulat milik Dasha yang padat menantang.
Dasha terkikik kecil mendapati kecanggungan Luiz yang selalu, membuat pria itu mengeram gusar karena merasa ditertawakan.
"Jangan pernah mencoba meremehkanku, atau kau akan kubuat menyesal suatu saat nanti ..."
Bisik Luiz dengan raut wajah kesal bercampur panik, terlebih saat menyadari sang junior yang mulai ikut-ikutan terusik.
"Aku sungguh tidak sabar, bagaimana mungkin aku akan menyesal, saat harus memberikan semuanya ...?"
"Dasha, kau ...?" Luiz melotot mendapati kalimat Dasha yang semakin nakal.
'Astaga bocah ini ... benar-benar sedang menguji kesabaranku begitu rupa!'
Luiz mengusap wajahnya, menyadari pikiran gila yang mulai menyabotase akal sehatnya sehingga mulai merencanakan hal yang juga gila.
Rasnya Luiz ingin sekali menculik gadis belia ini dan memberinya sedikit pelajaran.
Namun pada akhirnya ... lagi-lagi Luiz harus bersabar dan membiarkan Dasha menertawakan kepengecutannya terlebih dahulu ...
...
Bersambung ...
__ADS_1