TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
KNOCK OUT


__ADS_3

Arshlan ingin menolaknya. Tapi mengingat ia harus bisa mengendalikan emosinya dengan baik dihadapan Maura maka ia pun menahannya.


Sungguh Arshlan merasa muak terus berpura-pura bodoh karena selama ini Maura memang menganggap dirinya bisa dibodohi dengan mudah.


Untung saja Arshlan lekas menyadarinya dan juga mengontrolnya sikapnya dengan baik.


That's all.


Kalau dirinya dengan mudah membuang wanita penipu seperti Maura, maka kesenangannya akan berakhir dengan segera, padahal Arshlan belum juga merasa puas membalas dendam.


Arshlan pun memilih menyambutnya. Menyambut segala kehangatan dan kelembutan yang ia dapatkan begitu kakinya melangkah masuk kekamar Maura yang wangi kelopak mawar, sambil membayangkan sedang melu mat bibir Lana.


Kenapa malah membayangkan Lana..?


Entahlah..


Arshlan hanya merasa lebih baik membayangkan sedang bermesraan dengan istri kecilnya itu, karena kalau tidak, rasanya Arshlan ingin melempar tubuh Maura dari atas balkon saat ini juga.


Mereka terus berpa gutan dengan ganas, dan Maura seolah tidak sabar ingin menuntun Arshlan ketempat tidur.


Berharap bisa secepatnya menuntaskan kerinduan dengan bercinta sepuasnya, namun Arshlan telah lebih dahulu membawa wanita cantik itu ke sofa.


"Oh god.. rasanya sudah lama sekali, Arsh.. sungguh aku sangat merindukan semua ini sayangku.." Maura tak henti mende sah, seraya mengecap bibir pria yang sangat diinginkannya.


Naf su bira hinya naik dua kali lipat lebih cepat terlebih saat menyadari Arshlan pun membalas serangannya dengan gai rah yang juga meluap-luap.


Maura sedang berada diatas pangkuan Arshlan, terengah-engah dalam permainan lidah yang menggelora.


Jari-jemari lentik yang awalnya hanya meremas dada Arshlan kini dengan lincah hendak mempreteli kancing kemeja Arshlan dengan tak sabar.


"Maura, sebentar.." Arshlan menahan tangan Maura yang begitu terlatih.


"Arsh, aku rindu.."


"Iya.. aku juga.."


"Aku tidak mau menunggu.."


"Tunggu.. tunggu sebentar.."


"Arsh.."


"Kita harus bicara dulu.."


"Bicaranya nanti saja, setelah kita puas bercinta. Aku tidak tahan lagi Arsh.. aku sangat menginginkanmu.." rintih Maura dengan wajahnya yang memelas dan memerah.


"Maura.. aku.."


"Ssstt.."


'Oh sh it..'


Arshlan memaki dalam hati, ketika telapak tangan Maura bergerak dibawah tubuhnya, meraba sesuatu yang sejak tadi berdenyut liar.


"Aku tau kau menginginkan aku juga, sayangku. So please, jangan berusaha menolakku lagi oke? Just enjoy it, honey.." telapak tangan Maura semakin terasa memprovokasi, seiring dengan bunyi resleting celananya yang diturunkan.


"Maura kau.. ohh my.."


Sepasang mata Arshlan terpejam, begitu Maura menurunkan tubuhnya, langsung memegang kendali atas jamur raksasa miliknya yang seolah bisa bernafas lega saat terbebas dari himpitan celana yang menyesakkan, mengacung tegak dan siap tempur.


Arshlan berusaha keras menggapai kewarasannya, namun apa boleh buat dirinya adalah seorang pria brengsek seperti pada umumnya pria, yang tidak bisa berkata tidak saat disuguhi kenikmatan dunia yang meruntuhkan pertahanan dirinya.


Pandangan Arshlan menggelap, ia nekad menjambak rambut Maura yang terlihat naik-turun dibawah sana.


Niat hati ingin menghentikan pergerakan kepala yang sedang turun naik.. namun apa daya Arshlan telah menyerah lebih dahulu, lagi-lagi takluk pada titik tertinggi dari pusat gai rahnya yang sedang diperlakukan begitu istimewa, diservice luar biasa, sehingga alih-alih ingin menjauhkan kepala Maura, yang ada Arshlan malah menekannya semakin dalam, tangan kekarnya ikut membantu, membuatnya maju mundur dengan gerakan yang semakin kasar.


"Oh.. Sh it.. Maura.." sebuah desa han penuh kenikmatan kembali lolos dari bibir Arshlan.


'Ini gila.'


'Brengsek kau Arshlan..!'

__ADS_1


Sisi hatinya memaki saat bayangan wajah polos milik Lana kembali melintas, namun semuanya seolah terlambat.


"Oh.. my.. Maura.. sh it.. lebih cepat.."


Mulut Arshlan berceracau lapar, membuat Maura berusaha keras menuntaskannya dengan cepat.


Arshlan memejamkan matanya, seolah ingin menutup mata akan kenyataan, bahwa ia telah menyerah sepenuhnya, manakala telinganya menangkap sebuah suara manja.. yang seperti berasal dari sebuah lorong yang panjang.. seolah ingin memanggilnya pulang..


'Tuaann...'


'Lana..?'


Kedua mata Arshlan terbuka lebar.


'Tuaaaannnn..'


"Lana..?!"


Arshlan tersentak bangkit. Begitu tiba-tiba sehingga membuat genggaman serta kulu man Maura ikut terlepas. Tubuh sin tal wanita itu terjengkang kebelakang, terduduk dilantai kamarnya yang dingin.


"Arsh.. ada apa..??" Maura menatap Arshlan dengan tatapan protes dari bawah sana.


"Lana.." bergumam seperti orang linglung.


"Untuk apa kau mengingat pelayan dekil itu..?!" ujar Maura geram, terlebih saat menyadari Arshlan telah menghempaskan tubuhnya begitu saja dengan sedikit bertenaga.


Arshlan tidak menjawab, ia malah sibuk menyimpan kembali jamur raksasa miliknya yang masih berdiri tegak kedalam celananya, meskipun terasa sangat sesak.


"Maaf Maura, aku tidak bermaksud berbuat kasar padamu. Tapi aku ingin kita bisa bicara lebih dahulu.. dengan tenang.." bujuk Arshlan usai menarik keatas resleting celananya.


Arshlan mencoba tersenyum saat ia membungkukkan tubuhnya yang kekar, berusaha meraih kedua lengan maura untuk membantu wanita itu berdiri.


"Apalagi yang harus dibicarakan, Arsh? bukankah dokter David telah menceritakan semuanya..?"


Arshlan mengangguk pelan, sambil berusaha menuntun Maura agar mau duduk disofa yang tadi hampir menjadi lokasi tumpahnya lahar putih miliknya.


"Keajaiban terbaik yang terjadi padaku, Arsh, saking aku tidak bisa menerima kenyataan tentang kau yang telah menikah, tekadku yang bulat telah membuat kakiku bisa digerakkan begitu saja.."


"Aku sungguh terpukul.."


"Maafkan aku, Maura." ujar Arshlan berusaha mengimbangi kebohongan Maura.


"Lima tahun yang lalu kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan mencari kekasih apalagi menikah tapi ternyata.. kau.."


"Maaf kan aku jika semua itu menyakiti hatimu. Apakah kau tau? sebenarnya aku pun tidak menikah seperti yang kau pikirkan. Aku.. hanya ingin bermain-main, Maura.."


"Kalau memang demikian, lalu kenapa menikahi pelayan rendahan itu..?"


"Aku hanya ingin bisa menyaksikan penderitaannya setiap saat.."


Bola mata Maura terlihat membesar. "Tapi kenapa, Arsh.."


"Percayalah, aku memiliki dendam pribadi dengan gadis itu, dan saat ini aku hanya sedang bersandiwara.."


Genggaman tangan Arshlan yang meremas jemari Maura dengan lembut mampu melegakan separuh hati Maura, namun Maura tau semua itu belumlah cukup.


"Arsh, bisakah kita kembali bersama..?" tanya Maura hati-hati, penuh harap.


Mendengar itu Arshlan terdiam sejenak, membuat Maura menunggu jawaban dengan harap-harap cemas.


"Maura, sejujurnya.. hatiku masih belum bisa menerimanya.."


"Tapi lima tahun telah berlalu, Arsh. apa penderitaanku selama ini masih belum cukup..? aku sudah menebus kesalahanku, tolong beri aku kesempatan. Aku tau kau masih sangat mencintaiku.."


'Apa katanya? aku..? masih sangat mencintainya..?'


'Cih, benar-benar wanita yang sangat percaya diri..!'


Rutuk Arshlan dalam hati, yang kembali dipenuhi kebencian.


"Kau sangat mendambakan diriku.. kau juga sangat merindukan aku kan.."

__ADS_1


Maura merapatkan kembali tubuhnya, tangannya mengelus dada Arshlan yang kancing atasnya luput dari perhatian Arshlan yang tadi sempat membenahi pakaiannya, namun lupa membenahi kancing kemejanya.


Jari lentik Maura mengelus dada bidang yang berbulu halus, mengecup pelipis yang juga ditumbuhi bulu yang menambah kesan jan tan seorang Arshlan, berusaha menggoda dengan jalan melumpuhkan otak kanan dan kiri Arshlan sekaligus.


"Maura.. tolong jangan seperti ini dulu.."


Arshlan menangkap dengan sigap jemari yang kembali bergerak nakal, hendak menggerayangi tubuhnya lebih dalam.


Maura tidak berontak saat Arshlan berusaha menepisnya. Wanita itu malah melempar senyum penuh arti, sebelum akhirnya ia bangkit dari duduknya, berdiri tegak dihadapan Arshlan yang terduduk dengan tatapan yang lekat.


"Maura.. jangan.."


Terlambat.


Gaun yang dipakai Maura telah meluncur kelantai, membuat Arshlan mau tak mau harus menelan ludah mendapati pemandangan tubuh putih mulus yang tepat dihadapanya.


"Aku milikmu, Arsh.." de sah Maura, sambil meliuk-liuk dengan gerakan erotis, mulai menurunkan dua buah tali halus dari b r a berwarna hitam yang dipakainya.


Glek.


Arshlan menelan liurnya lagi, yang dibawah sana pun kembali berdenyut lagi.


Mungkin hanya tinggal sedetik berselang dan dua buah bukit kembar milik Maura yang berukuran super itu akan menggantung indah tanpa penghalang manakala..


Braakk..!!


Pintu kamar Maura terpentang lebar dengan suara yang keras.


Arshlan dan Maura sama-sama terkejut dan menatap kearah yang sama. Detik berikutnya keduanya terhenyak bersamaan begitu mendapati wajah berang milik Lana yang juga melotot lebar, sama terkejutnya dengan Arshlan dan Maura.


"Tuaaann..!!"


"Lana..!!"


"Tuan, apa ini..?!"


Arshlan berdiri bergegas, hendak mendekati Lana. Arshlan malah menepis tubuh Maura begitu saja yang mencoba menghalanginya mendekati istri kecilnya itu.


"Lana aku.. aku hanya.."


"Tuan, aku benci padamu!!" ucap Lana sambil memukul dada Arshlan berkali-kali, dengan tinju kecilnya.


"Lana.. sayang.. tolong kendalikan dirimu.." Arshlan membujuk sambil menangkap dua buah tinju kecil yang melayang kalap ketubuhnya.


Lana menghentakkan tangannya dari genggaman Arshlan hingga terlepas. Matanya menatap Arshlan penuh kemarahan lalu berpindah kearah Maura yang terlihat sibuk mengenakan gaun yang tadinya teronggok dilantai.


Melihat pemandangan itu pandangan Lana kembali berubah nanar, emosinya kembali naik keubun-ubun.


Arshlan gagal menangkap tubuh Lana yang telah melesat cepat menuju kearah Maura dan..


Bugg..!


"Aaaaaahhh.."


Maura menjerit.


"Astaga.." Arshlan memijat pelipisnya, saat menyadari tubuh Maura yang kembali terjengkang dilantai.


"Dasar ular betina penggoda..!! aku memang harus meninjumu agar kau tidak lagi berulah..!" ujar Lana sambil meniup kepalan tangannya, usai bersarang manis di pelipis kiri Maura.


Knock out..!!


.


.


.


Bersambung..


Supportnya pliiiiisss.. jangan sungkan-sungkan ihh.. 🤗

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2