TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 39. Membalas


__ADS_3

Follow my Ig. @khalidiakayum


...


'Hanya memelukkan?'


'Baiklah, hanya memeluk ...!'


Luiz menghembuskan nafasnya pelan-pelan.


Selalu seperti ini, dan terus saja seperti ini.


Dalam diam Luiz membathin, saat menyadari keadaan yang sudah sangat terlambat, karena untuk yang kesekian kalinya, bocah yang berada dalam pelukannya ini kembali berhasil mengintimidasi Luiz kembali.


Luiz harus mengakui kemahiran Dasha bersilat lidah. Dasha seolah tahu persis, bahwa Luiz tidak mampu menolak dirinya lebih lama.


"Tuan ..." suara bisikan Dasha tiba-tiba menyeruak keheningan.


"Hhhmm ..."


"Tuan, aku ingin bertanya sesuatu tapi aku malu ..."


"Kalau begitu jangan tanyakan."


"Ish ... Tuaaann ..."


"Uffh, Dasha!" mata Luiz yang awalnya terpejam sontak terbuka lebar saat merasakan jalur nafasnya tercekat, manakala jemari Dasha telah menjepit hidungnya kuat-kuat. "Kau sengaja ingin membunuhku, yah?!" pungkas Luiz, tak bisa menahan kedongkolannya, sambil menepis jemari gadis itu dari atas hidungnya.


"Tuan Luiz, menyebalkan ..." bibir itu merenggut, membuat Luiz ingin menggigitnya.


Haihh ...!


"Baiklah, kalau begitu katakan saja. Kau ingin menanyakan tentang apa?"


"Tuaannn ..."


"Hhmm ..." Luiz memilih memejamkan matanya kembali, namun tetap menunggu, apa yang sebenarnya hendak diungkapkan gadis yang sedang memeluk erat tubuhnya saat ini.


Hening sejenak, karena Dasha seolah masih menimbang-nimbang sesuatu, sebelum kemudian Luiz telah mendengar suara lirih gadis itu menyapa gendang telinganya.


"Tuan, sebenarnya sampai detik ini, aku selalu merasa penasaran oleh hubungan Tuan dengan Nona Victoria ..." ucap Dasha, berusaha mulai mengurai kekhawatiran, yang terus menggerogoti sanubarinya selama ini.


'Itu adalah kisah yang telah lama berlalu!'


Luiz membathin, namun tetap memilih tenang dalam diam, sambil terus mendengarkan apa-apa saja yang ingin diungkapkan Dasha kepadanya.


"Aku selalu merasa penasaran, tentang sebesar apa perasaan Tuan kepada Nona Victoria. Lalu setelah lima tahun berlalu, apakah Tuan masih tetap menyukainya ...?"

__ADS_1


'Tidak lagi, sejak aku mulai tergila-gila dengan seorang bocah, yang selalu membuatku ingin berbuat mesum!'


Lagi-lagi membathin, bercampur sedikit gemas.


"Selama ini aku begitu ingin Tuan kembali, aku juga sangat merindukan kehadiran Tuan. Tapi ... disisi lain ... aku juga takut dan merasa was-was, apabila nanti Tuan benar-benar kembali ... lalu bertemu Nona Victoria lagi ..."


'Aku juga takut. Tapi bukan ketakutan seperti yang sedang bersemayam didalam otak kecilmu itu! Aku justru takut tidak bisa menguasai diriku, yang tidak pernah bisa berhenti berkhayal, kapan aku bisa membuatmu menjerit diatas ranjangku!'


Hanya terus membathin, tapi Luiz merasakan hal itu mulai melelahkan jiwanya.


"Tuan bahkan telah membuka hati kepada semua wanita, pasti karena Tuan bertekad menghilangkan bayang-bayang Nona Victoria. Iya, kan, Tuan? Padahal Tuan pernah berjanji bahwa cuma aku pemilik Tuan seorang, tapi kenyataannya ..." mengambang, suara Dasha terdengar sendu.


Sepasang mata Luiz membuka perlahan, mulai tidak tahan dengan semua kesimpulan-kesimpulan aneh yang tersusun secara sistematis diotak Dasha.


Fix. Gadis ini bahkan tidak pernah berpikir kalau justru karena dirinyalah Luiz menjadi sakit, dan gila!


Yah, sakit dan gila!


Memangnya kata apa lagi yang lebih tepat untuk Luiz?


Pada kenyataannya, entah Dasha berusia sebelas tahun pada lima tahun yang lalu, maupun Dasha yang sekarang berusia enam belas tahun ...


Luiz tetaplah menjadi sosok yang sama!


Sosok yang terus jatuh kedalam pesona yang sama ...


Luiz sedikit terusik ketika ia mendapati Dasha telah beringsut bangkit dari dalam pelukannya.


"Dasha, kau ... mau kemana ...?"


Luiz yang terlentang dalam diam telah menautkan alisnya, sementara Dasha yang berada dihadapan Luiz, balik menentang sepasang mata Luiz, dengan bibir dipenuhi senyuman.


Detik berikutnya Luiz telah membeliak kaget, ketika menyadari kedua jemari Dasha yang terangkat, berusaha meloloskan kancing piyama miliknya satu persatu dengan wajahnya yang dipenuhi keyakinan.


"Hentikan." ucap Luiz dengan panik.


Secepat kilat Luiz ikut bangkit dari tempat tidurnya, sambil membuat gerakan menjauhkan kedua tangan Dasha, dari area kancing piyama miliknya yang telah terbuka sebagian.


"Apa yang kau lakukan, Dasha? Kau sudah gila yah?!" suara Luiz sedikit keras, namun tenggorokannya tetap saja menelan ludah dengan kelu.


Siluet kedua bukit kembar dengan ukuran yang masih terlalu kecil jika berada dalam genggamannya itu membayang sempurna, diantara belahan kancing yang telanjur terbuka dibagian atasnya.


"Aku hanya ingin membalas semua yang telah Tuan lakukan padaku dengan hal yang sama ..."


"Membalas?" ulang Luiz dengan alis bertaut, namun kedua tangannya tetap memenjarakan kedua pergelangan tangan mungil milik Dasha.


Dasha mengangguk, dengan senyumnya yang lembut, kearah Luiz yang masih mengira-ngira.

__ADS_1


"Tuan, Tuan masih ingat tidak, peristiwa lima tahun yang lalu ...?"


Luiz membuang wajahnya sedikit.


'Peristiwa lima tahun yang lalu?'


'Peristiwa apa ...?'


"Apakah yang dimaksud oleh Dasha adalah peristiwa dimana aku telah melakukan tindakan diluar kendali kepada dirinya ...?'


Luiz membathin kalut, bercampur rasa malu.


Selama ini Luiz tidak pernah mau membahas hal tersebut dihadapan Dasha, begitupun sebaliknya.


Entah kenapa saat ini, Dasha malah sengaja mengingatkan dirinya lagi atas peristiwa yang sama.


Kedua tangan Dasha berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Luiz, dan begitu terlepas gadis itu balik memegang masing-masing pergelangan tangan Luiz yang lagi-lagi hanya tercengang menerima semua perlakuan lembut itu.


"Tuan telah membuat aku melupakan kejadian yang teramat sangat buruk, sehingga yang tersisa dibenakku hanyalah hal indah dan sangat manis, yang telah Tuan lakukan ..."


"Dasha, jangan membahas hal itu lagi ..."


"Kenapa? Aku bahkan ingin melakukan hal yang sama untuk Tuan."


"Astaga, kau ..."


"Seperti aku yang bisa melupakan hal yang buruk berkat Tuan Luiz, maka ijinkan aku membuat Tuan melupakan semua hal tentang Nona Victoria ..." bisik Dasha perlahan, dengan manik mata yang telah bertaut satu sama lain dengan manik mata Luiz.


Luiz menggeleng perlahan. "Tapi Dasha, aku tidak ..."


Mengambang.


Jantung Luiz berdebar kencang ketika dua jemari Dasha telah terangkat dan berpindah kewajahnya, membingkai rahang Luiz yang ditumbuhi deretan bulu halus.


Wajah Luiz menegang sempurna, dan jantungnya pun ikut berdegup kencang.


Tapi saat kedua tatapan matanya dan Dasha terus bertatapan satu sama lain sekian lama, mendadak Luiz mengerutkan kedua alisnya saat melihat raut wajah Dasha yang lambat laun seolah berubah.


Wajah yang awalnya terlihat sangat serius saat berucap dengan sungguh-sungguh itu mendadak mulai memerah ... semakin memerah ... dan Luiz bisa melihat bahwa kini gadis itu bahkan seolah sedang menahan tawa.


"Pppffff ..."


Luiz terbelalak. "Dasha, kau ini apa-apaan, kenapa kau malah tertawa setelah ..."


"Maaf Tuan, maaf ..." Dasha telah tergelak sempurna.


Melihat pemandangan itu Luiz pun semakin melotot, merasa geram karena di PHP oleh seorang bocah, seperti Dasha ...!

__ADS_1


... NEXT


__ADS_2