TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
MEMINTA BAGIAN


__ADS_3

Mampir yuk kedua novel Author yang sudah tamat, gak perlu nunggu up.. 😍




Bertempat disebuah restoran bernuansa asia, makan malam yang sedikit canggung itu baru saja usai.


"Ayah, kedepannya jika ingin menemuiku Ayah tidak perlu sungkan.." Lana menatap Robi yang berusaha menatap wajah Lana yang ada dihadapannya. Sikap liciknya telah ia atur sedemikian rupa sehingga menampilkan kesan canggung dan sedikit salah tingkah.


"Iya, Nak. Sekali lagi maafkan Ayah atas kesalahan yang pernah Ayah lakukan.."


Lana menggeleng sambil mencoba tersenyum. "Tidak, jangan bilang begitu. Mari lupakan semua hal buruk dimasa lalu karena aku bahkan tidak ingin mengingatnya. Aku juga bertekad untuk memulai semuanya dari awal.."


Marina dan Robi yang duduk bersisian tepat dihadapan Lana terlihat kompak mengangguk.


"Lana, apa kau yakin kau akan memulai hidup barumu dengan Tuan Arshlan..?"


Untuk sesaat Lana termanggu mendapati ucapan lirih Robi.


'Ayah.. aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa bertahan..?'


'Mungkin, selagi Tuan Arshlan ingin bertahan. Karena kalau tidak.. aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, semisal Tuan Arshlan tidak menginginkan aku lagi..'


Lana mengangkat dagunya, menentang sepasang mata Robi yang masih terarah padanya.


"Ayah.. Ibu.." panggil Lana dengan suara lirih. "Kalau seandainya sesuatu yang buruk terjadi pada rumah tanggaku dengan Tuan Arshlan.. apa kalian masih mau menerimaku..?"


Untuk sesaat, Robi dan Marina bahkan merasa cukup kaget mendengar pertanyaan polos Lana namun tak urung kepala keduanya berlomba saat mengangguk, meskipun dalam hati sama-sama melakukan sanggahan.


'Hanya jika kau membawa sesuatu untuk kami, Lana..! karena jika tidak, maka kau boleh bermimpi untuk kembali menjadi benalu..!'


XXXXX


"Lana, kau kenapa..? Ibu perhatikan sejak tadi kau diam saja. Wajahmu juga terlihat sedih.."


Sepasang mata Lana yang awalnya mengarah keluar jendela mobil dengan tatapan kosong kini teralih ke wajah Marina yang duduk dibelakang kemudi.


Usai makan malam dengan Robi dan juga Marina, Lana memang telah memutuskan untuk bergegas pulang. Lana bahkan menolak saat Marina mengajaknya hang out sejenak disebuah pusat perbelanjaan.


"Tidak apa-apa Ibu,"


Marina melirik Lana sekilas, sebelum kembali mengalihkan fokusnya kejalanan yang ada dihadapannya, yang terlihat lumayan padat di malam itu.

__ADS_1


"Kau.. bertengkar dengan Tuan Arshlan ya..?" tebak Marina, namun Lana telah menggeleng pelan.


"Tidak, Bu, kami sama sekali tidak bertengkar."


"Lalu kenapa kau terlihat murung?"


Lana terdiam sejenak namun bibir mungilnya senantiasa terkunci.


"Lana.." Marina memberanikan diri menyentuh jemari lana sekilas, yang saling bertaut diatas pangkuannya. "Ibu minta maaf, seharusnya selama ini Ibu menjadi sosok yang dekat denganmu serta tempat yang tepat buatmu berbagi keluh kesah. Hubungan yang kaku ini, semuanya salah Ibu. Selama ini Ibu tidak pernah memberikan perhatian kepadamu.. Ibu terlalu sibuk dengan diri Ibu sendiri.."


"Ibu jangan bilang begitu, sikapku saat ini tidak ada hubungannya dengan Ibu.."


"Tidak, Lana.. biarkan saja. Itu adalah satu-satunya cara Ibu untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Ibu tidak pantas menerima semua ini. Kau begitu jauh dari Ibu.. itu adalah kesalahan Ibu. Kau tidak mau berbagi cerita tentang gejolak yang ada dihatimu.. itu juga salah Ibu.."


"Ibu, sudahlah. Sungguh aku bahkan tidak pernah menganggapnya sedramatisir itu." tepis Lana lagi jengah.


"Kalau begitu ceritakan kepada Ibu, apa yang sedang mengganjal dihatimu?"


Lana terdiam sejenak, dalam hatinya ia menimbang dengan bimbang, apakah pantas ia mengungkapkan seluruh persoalan yang ada dihatinya kepada Marina. Karena meskipun dalam beberapa hari terakhir Marina terlihat jauh lebih baik dan perhatian kepada dirinya.. namun selama ini hubungan mereka memang sangat renggang. Lana tidak bisa serta merta merasa nyaman bisa mendekatkan hatinya atas kehadiran Marina.


"Ibu, tolong ceritakan padaku seperti apa seorang Tuan Arshlan diluar sana.." ujar Lana kemudian, setelah memutuskan untuk membagi sedikit warna hatinya, sambil menatap Marina yang terlihat sedikit tersentak.


Marina memang telah menduganya sejak awal, semua kegundahan hati Lana pastilah bermuara pada seorang Tuan Arshlan.


Mungkin hal itu pula yang kini menyebabkan Lana telah menjadi gadis yang jauh lebih dewasa dari usianya, dalam sekejap mata.


"Baiklah.. memangnya hal seperti apa yang ingin kau ketahui tentang Tuan Arshlan." ucap Marina akhirnya sambil tetap mengawasi jalanan.


"Semuanya. Ceritakan semua yang Ibu ketahui tentang sepak terjang suamiku diluar sana.."


Mendengar itu, Marina nampak menerawang sejenak. "Seperti yang kau ketahui.. suamimu adalah pria yang sangat sukses. Dia adalah gambaran sempurna dari mimpi setiap wanita yang ada diluar sana.."


Lagi-lagi Marina melirik Lana sejenak, namun yang ada Lana tetap tak bergeming, seolah gadis itu telah siap mendengar apapun yang akan diucapkan Marina perihal suaminya.


"Namun, suamimu bukanlah pria yang akan tunduk oleh sebuah komitmen. Sejauh ini Tuan Arshlan selalu berganti wanita tanpa henti.."


"Sejauh ini..? apakah itu berarti hingga detik ini.. Tuan Arshlan tidak pernah berubah..?"


Marina terdiam lama, namun pada akhirnya ia memilih membuang nafasnya berat. "Lana.. dengan sangat menyesal, meskipun berat, tapi Ibu harus mengatakannya."


"Katakan semuanya, Ibu.. aku ingin tau tanpa tersisa.."


"Usai membuat kehebohan dengan memperkenalkanmu, dan terlihat yakin saat menggandeng tanganmu di pesta Tuan Marco, spekulasi tentang hubungan Tuan Arshlan denganmu terus berhembus. Banyak yang meyakini jika Tuan Arshlan akan berubah setelah menikah.. tapi tak sedikit juga yang menyangsikan. Pada awalnya.. Ibu melihatnya sebagai pria yang telah jatuh cinta sepenuhnya kepadamu. Tapi setelah Ibu melihatmu akhir-akhir ini.. melihat secara langsung seperti apa hubungan kalian.. Ibu telah menyimpulkan bahwa rumah tanggamu sedang tidak baik-baik saja. Nak.. sepertinya Tuan Arshlan tidak mencintaimu.."

__ADS_1


"Ibu.."


"Maaf Lana.. tapi Ibu tidak bisa menahannya untuk mengatakannya apa yang ada dibenak Ibu."


Lana terlihat mencoba tersenyum tipis, meskipun hatinya hancur lebur.


"Ibu memang benar.. aku cukup bahagia, meski semuanya tidak sempurna, tapi semakin hari aku semakin sadar, bahwa saat ini.. ternyata justru Tuan Arshlan yang tidak bahagia.."


Lana telah menatap Marina dengan tatapan sendu.


"Tadi pagi, Tuan Arshlan mengatakan akan pergi keluar kota dan tidak akan pulang. Tapi seseorang telah mengatakan padaku, bahwa malam ini Tuan Arshlan justru akan menghabiskan malam bersama seorang wanita disebuah kamar presidential suite Hotel Marion yang ada di pusat kota.."


Marina terhenyak mendengar kejujuran Lana.


"Ibu.. apa yang harus aku lakukan..? aku pernah menampar dan memukul seorang wanita, saat aku melihatnya menggoda suamiku di villa black swan. Apakah aku harus melakukannya lagi pada wanita ini..? lalu sampai kapan aku harus menampar dan memukul wanita, setiap kali suamiku berkhianat..?"


"Tinggalkan."


"T-tapi.."


"Mintalah 'bagian' yang banyak terlebih dahulu dan tinggalkan Tuan Arshlan sebelum dia benar-benar bosan dan membuangmu.."


"Ibu, aku tidak bisa meninggalkan Tuan Arshlan. Aku sangat mencintainya.. rasanya aku bisa mati kalau harus berpisah.."


"Kau tidak mencintainya, kau hanya terobsesi."


"Ibu tidak mengerti."


"Jangan bodoh, Lana. Tuan Arshlan hanya memanfaatkanmu untuk memuaskan hasratnya saja, dia tidak mencintaimu seperti dirimu. Kalau dia mencintaimu.. dia tidak mungkin tergoda oleh wanita manapun."


Lana tersudut mendengar kalimat Marina yang menohok telak.


"Aku harus memikirkannya dulu Ibu. Aku tidak bisa memutuskannya sekarang.." lirihnya pelan sambil mengalihkan kembali wajahnya keluar jendela kaca mobil yang dikendarai Marina. Hati Lana sungguh terasa nyeri.


"Lana.." panggil Marina seolah tidak rela kehilangan moment berharga untuk mengatakan segala sesuatu guna semakin memperkeruh suasana. "Apakah kau tidak tertarik untuk memergoki suamimu malam ini..?"


"Tapi, Bu.."


"Kalau Ibu jadi dirimu, Ibu akan membuktikannya. Karena dengan mendapatkan kelemahan Tuan Arshlan, kau akan lebih mudah menyetirnya, dan membuatnya menuruti apapun kemauanmu kelak.."


...


Bersambung..

__ADS_1


Support yah Akaaaakkkk.. 😍


__ADS_2