TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 116. Menyanggupi Meskipun Marah


__ADS_3

"Kenapa kita tidak pulang ke- ranch saja?"


Victoria menatap Leo heran saat menyadari mobil Leo telah berbelok kearah apartemen, yang telah sekian lama mereka tempati.


"Hari ini sangat melelahkan, dan kembali pulang ke-ranch rasanya terlalu jauh dan menguras tenaga."


"Tapi ..."


"Lagipula besok sore kau juga harus memeriksakan kandunganmu ke dokter obygyn. Terlalu sering bolak-balik dengan jarak yang lumayan jauh juga tidak baik untuk kondisimu saat ini, Vic ..." tutur Leo, kali ini ia telah memarkirkan mobilnya ditempat parkiran khusus yang ada di basement.


Victoria diam tak menanggapi. Selain ia merasa Leo berkata benar, Victoria juga menjadi tak tega melihat wajah tampan Leo, yang kini terlihat sedikit berantakan serta kelelahan.


Leo bergegas turun kemudian beranjak secepatnya guna membuka pintu mobil yang ada disisi Victoria, langsung meraih tangan itu dan membimbingnya turun dari mobil dengan berhati-hati.


Mendapati tindakan super manis Leo yang begitu peka dan perhatian, mampu membuat sanubari Victoria menghangat dan terenyuh.


"Terima kasih ..." ucap lirih Victoria.


Leo tersenyum lembut. "Sudah semestinya." ujarnya.


Leo menggenggam erat jemari Victoria menuju lift yang terletak didekat pos keamanan.


Mereka langsung menggunakan lift tersebut yang kebetulan kosong.


"Leo, lalu apa rencanamu selanjutnya ...?" tanya Victoria dengan kepala yang sedikit mendongak.


Victoria merasa tidak bisa lagi menahan lebih lama rasa penasaran yang bergelayut dibenaknya.


Sungguh Victoria tak habis pikir, bagaimana bisa seorang Leo yang seumur hidup karir keartisannya selalu berhati-hati dalam segala hal, malam ini justru begitu ceroboh sehingga bisa terpancing dengan sebuah pertanyaan sederhana.


"Tidur."


Victoria merenggut mendengar ucapan singkat Leo, sementara Leo tertawa kecil melihat wajah cemberut Victoria.


"Aku bertanya serius, kenapa tidak menjawabnya juga dengan serius?"


"Baiklah aku akan menjawabnya dengan serius." Leo berucap sambil masih menyisakan sedikit senyum. "Jawaban lengkapnya adalah tidur dengan memelukmu ..."


"Issh ..." Victoria memukul lengan Leo yang kembali tergelak, namun Leo dengan santai malah memeluk tubuh wanita itu tanpa sungkan.


"Sayang, malam ini kau cantik sekali. Saking terpesonanya aku olehmu, aku sampai menjawab pertanyaan wartawan itu dengan jujur ... tanpa berpikir dua kali ..." bisik Leo diantara pelukannya yang semakin mengerat.


"Jadi secara tidak langsung, kau ingin mengatakan bahwa semua kekacauan di malam ini adalah karena diriku ...?"


Leo menggeleng sambil mengusap rambut Victoria, yang telah membenamkan seluruh wajah di dadanya.


"Tidak. Kau hanya mengacaukan hatiku ... tapi aku malah mengacaukan semuanya ..."


Diam-diam Victoria tersenyum mendengar kalimat Leo. Kemudian ia tak menolak saat pria itu mengangkat dagunya, dan melabuhkan ciuman singkat diatas permukaan bibirnya.


"You make me crazy ..."


Tatapan tajam Leo menembus hingga ke jantung, membuat Victoria terpukau, terpenjara, dan tak bisa kemana-mana.


Wajah Leo kembali mendekat, bibir pria itu nyaris berlabuh ditempat yang seharusnya namun ...


Ting.


Bunyi pintu lift yang terbuka telah menyadarkan mereka berdua dari luapan rasa cinta yang menggebu-gebu.


Meskipun nampak terburu-buru namun Leo tetap menarik pergelangan tangan Victoria dengan penuh kelembutan, mengajak wanita itu keluar dari dalam bilik sempit lift secepatnya.


Kerinduan dan rasa mendamba tak bisa lagi dikendalikan pria itu lebih lama, oleh karena pesona Victoria yang telah memenjarakan hatinya begitu rupa.

__ADS_1


"Leo ..." Victoria hanya bisa menahan nafasnya saat merasakan tubuhnya telah melayang begitu mereka sampai didalam apartemen.


Leo yang dengan tidak sabar langsung membopong tubuh Victoria menuju kamar hanya mengulas senyum khasnya, sambil menghujani seluruh wajah cantik itu dengan ciuman.


Leo telah meletakkan tubuh indah Victoria keatas peraduan ...


Mengajaknya memadu cinta ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Luiz, tolong kau yakinkan mommymu ini sekali lagi, bahwa Leo dan Victoria baik-baik saja ..."


Suara Arshlan dari ujung sana terdengar tetap sabar. Justru Lana-lah yang terlihat tidak sabar, meskipun sudah jelas-jelas saat ini dirinya sedang ikut menguping pembicaraan Arshlan dan Luiz di telepon.


Mendengar itu Luiz terlihat menarik nafasnya lagi. Tatapannya yang tajam tetap mengawasi jalanan yang tidak terlalu ramai.


"Sampaikan saja kepada Mommy untuk tenang, Dadd. Leo sudah meninggalkan tempat itu sejak awal, bahkan sekarang bisa jadi dia sudah berada di apartemennya bersama Victoria ..."


"Daddy sudah mengatakannya berkali-kali, tapi tetap saja mommymu tidak bisa tenang karena masih tidak bisa menghubungi Leo maupun Victoria."


Luiz terlihat menggaruk tengkuknya.


Luiz paham betul, bahwa memang diperlukan tenaga ekstra jika berurusan dengan mommy Lana, apalagi harus menenangkan dan menghadapi kekhawatiran mommynya. Karena seperti biasa, meskipun sudah dijelaskan dengan berbagai macam cara, mommy Lana tetap saja mempunyai seribu satu alasan untuk menjadikan dirinya tidak tenang jika menghadapi segala sesuatu yang pelik, terlebih jika hal itu menyangkut dirinya dan Leo.


"Tentu saja tidak bisa terhubung, Dadd, dalam situasi seperti ini ... Leo pasti memilih untuk menonaktifkan semua komunikasi yang mereka punya ..."


Suara nafas Arshlan yang berhembus berat terdengar menyapu telinga Luiz.


"Hal itu juga sudah daddy katakan, Luiz, tapi tetap saja tidak mempan untuk mommymu ini ..."


Lana yang berada tepat disisi Arshlan sontak melotot galak, saat menyadari Arshlan yang malah terang-terangan membicarakan dirinya dengan Luiz.


"Oh, iya Luiz, lalu bagaimana dengan rencana nobar kalian?" tanya Arshlan mengalihkan pembicaraan.


"Sayang sekali. Lalu ... El dan Florensia ...?"


"Mereka memutuskan untuk kembali. El pulang ke rumahnya, sementara Florensia ke apartemennya."


"Lalu Dasha?"


Luiz melirik Dasha yang sedari tadi terus-menerus cemberut, sambil membuang pandangannya jauh keluar jendela mobilnya yang pekat, seolah enggan menatap wajah Luiz meski sejenak.


"Jangan khawatir, Dadd, Dasha ada bersamaku, dan kami akan kembali ke-ranch malam ini juga ..." ujar Luiz akhirnya.


"Syukurlah kalau begitu ..."


"Mengenai Leo dan Victoria, katakan saja kepada mommy untuk bersabar. Besok sore Leo telah membuat janji temu khusus untuk memeriksakan kehamilan Victoria ke dokter obygyn. Aku yakin setelah itu, mommy pastilah akan menjadi orang pertama yang akan dihubungi oleh mereka, guna mengabarkan hasil pemeriksaan ..."


Pada akhirnya, sebelum pembicaraan itu benar-benar usai, Luiz bisa juga menemukan kalimat pamungkas yang berhasil meyakinkan serta menenangkan Lana, sehingga membuat Arshlan bisa menarik nafas lega karenanya.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Apa kau tidak lapar?"


Luiz bertanya sambil menoleh sejenak, ke arah wanita yang sejak tadi hanya duduk diam tanpa kata, begitu ia selesai bicara dengan daddy Arshlan.


Dasha, yang menjadi sosok wanita yang ditanya malah diam saja tak menggubris, membuat rasa kesal Luiz tersulut begitu saja.


"Dasha, kau mendengarku tidak sih ...?"


"Heemmm ..."


"Kau ..."

__ADS_1


"Heemmm ..."


'Da mn ...'


Luiz memaki dalam hati saat menyadari bagaimana dirinya tak dianggap sama sekali oleh bocah disampingnya itu.


"Dari tadi ham-hem ... ham-hem ... terus ... kau pikir aku ini dukun yang bisa tau apa jawabanmu sebenarnya hanya dengan ham-hem seperti itu?"


Dasha terlihat manyun mendapati omelan Luiz.


"Tidak. Aku tidak lapar. Aku hanya ingin pulang dan tidur." pungkas Dasha kemudian, masih tanpa menoleh sedikitpun.


Luiz menggeram kesal mendapati sikap Dasha yang mengacuhkan dirinya hingga sejauh ini.


"Rupanya kau benar-benar ingin menguji, sejauh mana kesabaranku yah ...?"


"Aku tidak mengatakan apa-apa, dan tidak melakukan apa-apa. Lalu kenapa Tuan selalu marah ...?" jawab Dasha dengan gayanya yang pongah.


"Kau ..."


Mengambang.


Luiz memilih meremas kemudi yang ada dalam genggaman tangannya itu kuat-kuat, demi melampiaskan amarah saat mendengar keberanian Dasha yang kini sedang benar-benar menunjukkan sikap keras kepalanya.


"Baiklah. Lalu katakan padaku apa yang membuatmu kesal? Apakah kau marah karena kau ingin El yang mengantarmu pulang ...? Begitukah ...?"


Mendengar ucapan Luiz yang berapi-api, Dasha malah tertawa sumbang.


"Aku bahkan tidak bisa marah saat pacarku memacari wanita lain dan bermesraan didepan mataku, sementara Tuan El bukanlah siapa-siapaku. Lalu untuk apa aku marah ...?"


'Bocah ini ... benar-benar sangat pintar bersilat lidah ...!'


Bathin Luiz keki. Giginya ikut bergemeretak mendengar sindiran telak Dasha, yang terucap terang-terangan.


"Aku mau ke bukit yang katanya milikku." pungkas Dasha tiba-tiba, sambil melipat tangannya di dada dengan acuh.


"Egh, a-apa ...?"


Belum juga bisa berpikir tentang apa yang harus ia ucapkan guna menanggapi sindiran Dasha, Luiz sudah kembali dibuat terhenyak mendapati permintaan aneh yang tiba-tiba itu.


"Untuk apa kau ingin pergi kesana selarut ini?" tanya Luiz dengan alis bertaut.


"Kalau tidak bisa ya sudah ..."


"Baiklah ... Baiklah ..."


Pungkas Luiz pada akhirnya, menyanggupi meskipun marah.


Pada kenyataannya, meskipun Luiz terlihat kesal dan selalu marah-marah tak jelas, sejujurnya semua itu hanyalah sebuah kamuflase demi menutupi perasaan Luiz yang sebenarnya.


Bahwa betapa Luiz sangat senang bisa berdua dengan Dasha, meskipun yang ada, setiap saat mereka tak kunjung berhenti bertengkar.


Sementara itu ...


Diam-diam kesanggupan Luiz telah membuat bibir Dasha tersenyum mendengarnya.


Dasha tak menyangka Luiz masih mau mengikuti keinginan anehnya, padahal sudah jelas-jelas pria itu sedang meradang penuh amarah ...


...


Bersambung ...


LIKE and SUPPORT jangan lupa yah ... πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2