
Lana memekik tertahan, begitu Arshlan telah membantu mengangkat tubuh mungilnya keatas punggung kuda.
"Tenanglah, jangan berisik. Kalau kau berisik, kau akan membuat kudanya panik." usai berucap demikian Arshlan pun ikut naik keatas punggung kuda yang gagah itu, menempatkan dirinya begitu rapat dibelakang punggung Lana.
Sesuai keinginan Lana yang begitu mudah diluluskan Arshlan hanya karena mendapati perlakuan kecil yang begitu manis dari Lana yang beberapa saat yang lalu bergelung nikmat seperti seekor kucing dalam dekapannya, dibawah sinar mentari.
'Sungguh terlalu..!'
Arshlan merasa terlambat mengutuk dirinya sendiri, yang bak seorang remaja labil, selalu terbuai dengan tindakan kecil yang terlalu manis untuk pria seumuran dirinya.
Tapi mau bagaimana lagi? mungkin ini karmanya yang dulu sering mengejek Romi, yang memilih gadis ingusan sebagai kekasihnya, sehingga kini dirinya bahkan dengan mudah bisa diintimidasi oleh Lana, yang bahkan bukan kekasihnya.
Entahlah.. Arshlan hanya merasa, bahwa berada jauh dari Lana bisa membuat Arshlan melupakannya, namun jika dekat dirinya sudah tidak ada bedanya dengan seorang hamba, yang rasanya ingin terus meminta untuk dipuaskan.
Sangat memalukan, tapi mau bagaimana lagi.. Arshlan terlalu menikmatinya..!
Arshlan telah menarik tali kekang kuda tersebut perlahan, membuat sang kuda mulai melangkah kearah yang dimaksud.
"Tuan kita mau kemana..?"
"Kesuatu tempat yang pasti akan kau sukai.."
"Benarkah..?"
"Hhmm.." Arshlan mengangguk. "Kau lihat bukit kecil itu?" ujar Arshlan lagi.
Lana menatap bukit kecil dihadapan mereka yang dimaksud oleh Arshlan.
"Kita akan menuju kesana.. tepat dikaki bukit kecil itu.."
"Sepertinya tempatnya tidak jauh.."
"Tidak sampai lima menit kita akan tiba disana.."
"Aku sudah tidak sabar lagi, Tuan.." Lana menyentuh sepanjang pergelangan tangan Arshlan yang kekar.
"Peganglah tali kekangnya.." tiba-tiba suara Arshlan yang berat telah berada tepat diatas bahu Lana.
"Tapi aku takut, Tuan.."
"Tidak apa-apa, pegang saja.." suara pria itu semakin memberat.
Nafas hangat Arshlan telah membuat Lana meremang, dan instingnya secara alami mengatakan bahwa pria dibelakangnya ini telah kembali berhasrat.
Tapi sekarang bukankah mereka sedang berada diatas pelana kuda..? memangnya Tuan Arshlan bisa melakukan apa..?
Bathin Lana penasaran, namun tak bisa mengelak jika hanya dengan membayangkan apa yang akan dilakukan Tuan Arshlan telah membuat miliknya yang dibawah sana berkedut nik mat.
Lana mengikuti titah Arshlan, mengambil alih kedua tali kekang di masing-masing tangan pria itu, dalam sekejap melupakan ketakutannya sendiri yang telah dikalahkan rasa ingin tau sekaligus mendamba.
Begitu tali kekang berpindah tangan jemari lebar milik Arshlan langsung bergerak lincah, memasuki celah baju milik Lana, mencari keberadaan dua benda kenyal yang berukuran mini milik Lana.
__ADS_1
"Akh.. Tuan.."
Lana mengerang, sedikit risih saat menyadari mereka sedang berada diatas kuda yang sedang melintasi padang terbuka.
"Jangan lepaskan talinya.." bisik Arshlan mengingatkan Lana yang seolah ingin terkulai begitu saja mendapati sentuhan luar biasa, ditempat yang tidak biasa.
Sementara Arshlan terlihat tidak begitu peduli dengan sekitar, terus menyesap seluruh permukaan leher Lana yang jenjang, sedangkan dua jemarinya memilin dan memerah dua buah pucuk mungil yang seolah semakin membesar, memerah dan menegang.
Arshlan baru menyadarinya, manakala mendengar suara ringisan, dimana Lana terlihat sedikit kesakitan, akibat ketidaksabarannya.
"Damn.. Lana.."
Umpat Arshlan tiba-tiba seraya mengangkat wajahnya dari ceruk leher yang telah dipenuhi stempel ungu kepemilikan, sekaligus menarik keluar kedua tangannya yang tanpa sadar tidak hanya sekedar memberi kenikmatan dunia namun juga kesakitan.
Arshlan kembali mengambil alih tali kekang dari dalam genggaman Lana yang mulai melemah, menariknya sedikit kencang, membuat langkah kuda itu semakin bergerak cepat.. menuju bukit kecil yang telah berada tepat didepan pandangan..
XXXXX
Adakah hari yang lebih indah dari hari ini..?
Sepertinya tidak pernah. Tapi Lana berharap, besok dia bisa mengecap hari yang jauh lebih indah dari hari ini.
Setiap hari.. setiap saat.. bersama pria yang sama.. yang dicintainya dengan segenap jiwa dan raga..
"Ayo turun.." Arshlan telah melompat dari punggung kuda terlebih dahulu, kemudian menyodorkan kedua tangannya, menyempilkan ke masing-masing ketiak Lana untuk membantunya turun dari punggung kuda yang tadi mereka naiki berdua.
Hupp..!
Dalam sekejap Kedua kaki Lana menginjak tanah.
Semua gestur tubuh Arshlan telah luput dari pantauan Lana begitu saja, karena gadis polos itu justru sedang terkesima dengan hal yang lain.. yakni hamparan pemandangan indah yang berada didepan matanya.
Tepat dibawah kaki bukit, sebuah sungai kecil mengalirkan air yang jernih diantara sela-sela batu.. memperdengarkan bunyi gemericik yang menenangkan.. lengkap dengan kicau burung yang berkicau riang silih berganti.
Begitu indah.. sangat tepat sebagai tempat untuk merelaksasikan diri.
Lana baru saja ingin mengayunkan langkah kakinya kearah sungai yang mengalir jernih, tapi lengannya telah dicekal dengan kuat.
"Tuan..?" Lana sedikit terkesima, begitu menyadari tatapan sepasang mata Arshlan yang tak seperti biasanya, dipenuhi kabut gairah, gelap, kelam.. Lana bahkan merasa sekujur tubuhnya seolah sedang dipeluk aura kematian.
Detik berikutnya Arshlan telah menarik tubuh mungil Lana, kearah sebuah batu besar dengan permukaan yang datar.. sedikit lembab..
"Tuan.. ada apa.."
Arshlan tidak menjawabnya, tapi memilih melu mat bibir Lana dengan rakus.
Lana masih tidak bisa berpikir jernih manakala dengan lidahnya Arshlan telah memaksa dan menerobos masuk kedalam rongga mulutnya, membelitkan kedua indera perasa mereka dengan lincah, seolah tak peduli dengan keterkejutan Lana yang membuat kesadaran dirinya belum kembali sepenuhnya, kedua tangan pria itu juga tak kalah lincah, meremas kembali dua gundukan kecil yang tadi sempat membuatnya mengejang diatas kuda.
Tubuh Lana mengge lin jang hebat, dadanya berdesir mendapati stimulasi intens di kedua titik sensitif miliknya, sementara kedua tangan Lana telah terkalung sempurna dileher Arshlan, seiring dengan ia membalas pagu tan pria tersebut dengan sepenuh hati dan dengan gairah yang sama besarannya.
Permainan itu terasa semakin menyenangkan manakala Arshlan telah menundukkan kepalanya, mengganti target bibirnya yang kini melu mat kuat dua pucuk tempat berkumpulnya syaraf kenikmatan secara bergantian dari kiri kekanan, kanan kekiri, terus seperti itu untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Tuan.. hhh.."
Lana mendesah keras, merasakan kenikmatan permainan Arshlan. Kali ini bukan hanya dua lengannya yang membelit tubuh pria itu, tapi kedua kakinya juga telah melingkar dipinggul, bergerak diluar kendali seolah mendamba sesuatu.
"Katakan.. kau ingin aku menyentuhnya, kan?" Arshlan menyeringai.
Otak Lana terasa kacau, bathinnya berteriak ingin mengucapkannya..
"Iya Tuan.. aku menginginginkannya.. tolong sentuh aku terus.. dan terus.. aku benar-benar sedang menginginkanmu berada didalam tubuhku.."
Bathin Lana memohon, tapi pada kenyataannya kepalanya telah menggeleng, membuat Arshlan yang melihatnya terkesima, sebelum akhirnya menggeram marah.
Arshlan menggerakkan tubuhnya dengan gerakan menyodok keras. "Katakan kau menginginkannya!"
"Ah.. ah.. Tuan.. t-tidakkh.." Lana mendesah, tubuhnya berguncang keras, diatas batu besar.
"Kau ingin membuatku marah ya?" terus menyodok kasar dengan amarah membuncah.
"Tidak Tuan.. ah.. hh.."
"Si al..!! setelah semua ini, beraninya kau menolakku lagi..!!" desis Arshlan penuh kemarahan, sambil menghempaskan tubuh Lana dengan kasar.
Ia berjalan cepat kearah kudanya yang terikat, membuat Lana langsung bangkit dari sana dan mengejar langkah yang dipenuhi amarah tersebut.
"Tuan.. maafkan aku.."
Arshlan tidak menjawabnya, terus membuka simpul ikatan kuda dengan wajah yang dingin.
"Tuan.."
Arshlan melompat untuk menaiki kudanya, dan tanpa membuang waktu menggebuk tali kekang, membuat kuda tersebut meringkik sejenak sebelum akhirnya berlari kesetanan.
"Tuuuaaannnn..!!" Lana berteriak panik, tidak menyangka akan ditinggalkan begitu saja oleh Arshlan.
Lana berusaha berlari mengejar, namun yang ada kuda tersebut telah membawa tubuh Arshlan semakin menjauh.
Lana berdiri kebingungan, sambil merapikan bajunya yang berantakan. Ia sungguh tidak menyangka Tuan Arshlan begitu tega meninggalkannya begitu saja.
"Tuaannn Arshlaaann..!! dasar pria tua gilaaa..!! mesuuummm..!!"
Lana berteriak kencang ditengah hamparan padang rumput yang luas.
Sungguh kekesalan Lana sudah sampai diubun-ubun, terlebih saat melihat Tuan Arshlan dan kuda yang ditungganginya yang terus menjauh, dan pria itu bahkan tidak menoleh sedikitpun..!
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Support dong.. pliss.. 🙏
Thx and Lophyuu all.. 😘