TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
JAMUR RAKSASA


__ADS_3

Helikopter itu telah kembali mengudara, meninggalkan Arshlan dan Lana yang berdiri tepat didepan villa.


"Akhirnya.." Arshlan bergumam lega, sembari mengerling kearah Lana yang berdiri tak jauh darinya.


"Ada apa Tuan..?"


Arshlan mengawasi Lana sambil menaruh dua buah tangannya kedalam saku celana. "Sekarang kita hanya berdua dipulau ini.." ujarnya seraya tersenyum kearah Lana yang juga menatapnya dengan pipi yang merona.


Gadis itu mendekat, dan mengalungkan kedua lengannya dileher Arshlan. "Tuan, katakan padaku, seberapa sering Tuan hanya berdua dengan seorang wanita ditempat ini..?" usut Lana penuh rasa ingin tau.


"Kau tidak takut, kalau pertanyaanmu ini bisa merusak moodku..? hhmm..?"


"Aku kan hanya bertanya.." kilah Lana.


"Aku tidak suka membicarakannya."


"Tapi aku ingin tau dan mendengarnya, Tuan.."


"Tidak pernah." pungkas Arshlan singkat, sedikit kesal karena Lana terus mendesak, membicarakan hal yang menurutnya tidak penting sama sekali untuk dibahas.


"Bohong."


Arshlan melotot menyaksikan Lana yang terlihat meragukan jawabannya.


"Itu tidak mungkin. Karena pada perjalanan dengan yacht tempo hari saja, Tuan bahkan berencana membawa Nona Ashley.."


"Memang benar, waktu itu aku memang mengajak Ashley. Tapi pertanyaanmu tadi tidak seperti itu. Tadi kau bertanya tentang seberapa sering aku hanya berdua dengan seorang wanita ditempat ini.. dan jawabannya tidak pernah. Selama ini aku ketempat ini hanya untuk berpesta dengan semua orang, dan bercinta adalah rutinitas pelengkapnya saja. Tapi hari ini.. kau.. adalah wanita pertama yang membuatku hanya ingin berdua denganmu tanpa orang lain. Tujuanku hanya satu, ingin bercinta denganmu sepuasnya.."


Lana menatap Arshlan dengan tatapan takjub, terlebih saat menyaksikan Arshlan yang bisa bicara panjang lebar dengan begitu berterus terang disertai intonasi tegas.


Arshlan mengungkapkan sesuatu yang lebih mirip sebuah pembelaan diri, padahal biasanya pria itu termasuk orang yang irit bicara dan lebih suka bertindak.


"Ada apa lagi? masih tidak percaya..?"


Lana menggeleng dengan wajahnya yang polos.


"Kau ini.." desis Arshlan, namun yang ada Lana malah terkikik mendengar kalimat yang ada unsur kesal didalamnya itu.


"Tuan.. apa kita benar-benar sendirian disini..?" tanya Lana lagi tanpa mengindahkan wajah Arshlan yang sedikit keruh.


"Hhhmm.."


"Apa Tuan tidak merasa takut..?"

__ADS_1


Arshlan memiringkan kepalanya guna menatap wajah dengan sepasang mata yang kini membulat. "Takut? takut apa..?"


"Binatang buas.. makhluk halus.."


"Sudah diam. Hentikan omong kosongmu karena dibandingkan dengan binatang buas dan makhluk halus.. aku justru lebih takut kau akan kembali menggagalkan rencanaku untuk kesekian kalinya..!"


"Aaaaa...!"


Lana langsung terpekik karena usai berucap demikian Arshlan langsung membopong tubuh mungilnya, kedalam villa mewah yang seluruh material, ornamen serta furniture-nya sebagian besar berbahan dasar kayu agarwood, sehingga menambah eksotis dan elegan suasana setiap ruangan demi ruangan yang mereka lewati.


Lana tertawa dalam pelukan Arshlan. "Tuan, kau mau membawaku kemana..?"


"Aku sudah menyuruhmu mandi sejak tadi tapi kau keras kepala, jadi aku akan memandikanmu karena sejak tadi kau terus merengek tentang hal itu.." ujar Arshlan datar, benar benar membawa Lana kedalam kamar mandi yang luas, dan menurunkan tubuh mungil Lana disana.


Tanpa kata Arshlan membalikan tubuh Lana menghadap cermin dan membelakangi dirinya, tangan kekarnya terangkat, bergerak cepat menurunkan resleting dari gaun putih dengan potongan corset dress yang sejak tadi melekat dengan indah ditubuh Lana.


Lana tersenyum melihat pantulan tubuhnya didepan cermin besar, yang kini hanya terbalut sepasang pakaian dalam dengan potongan super minimalis.


Tubuhnya yang pada beberapa bulan yang lalu sedatar papan cucian kini nampak mulai berkembang indah, membuat Lana teringat pada perkataan Siska tentang rahasia tubuh indah seorang wanita yang berada ditangan seorang pria.


Perkataan Siska itu memang terbukti benar, karena sekarang Lana bisa membuktikannya sendiri betapa tubuh remajanya semakin berkembang pesat, karena didukung penuh oleh keterampilan Tuan Arshlan yang diatas rata-rata.


Saking pro-nya, sampai-sampai ukuran b r a milik Lana bisa naik dua nomor sekaligus.


"Aku sedang memperhatikan kedua tangan yang bergerak disana. Tuan, kau sangat nakal.."


Arshlan tersenyum mendapati kalimat Lana yang terucap lirih. Nafas gadis itu mulai turun naik saat kedua jemari Arshlan mengusap beberapa titik bekas stempel kepemilikan hasil mahakarya bibir Arshlan yang terlihat sangat jelas, menghiasi sekujur permukaan kulit Lana yang lembut.


"Tuan.." Lana menggigit bibirnya begitu menyadari Arshlan telah fokus meremas dua bukit kembar yang masih terbalut b r a dengan potongan mini.


Kemudian hanya dengan sedikit gerakan, tangan besar itu telah meraup isi didalamnya, mengeluarkannya dari dua buah cup sekaligus tanpa membuka pengaitnya terlebih dahulu.


Dua bukit mungil namun kenyal itu kini menggelantung tanpa penghalang.


"So beautifull.." bisik Arshlan dengan suara berat, menatap penuh kekaguman permukaan cermin yang memantulkan semuanya dengan jujur.


"Bukankah Tuan sering melihat yang lebih indah dari ini..?"


Bukannya menjawab, Arshlan malah memilih menarik tali pengikat yang menjadi penahan segi tiga milik Lana dikiri dan kanannya sekaligus, membuat benda kecil itu teronggok begitu saja dilantai kamar mandi.


Sepasang mata Arshlan terlihat menatap penuh kepuasan pada permukaan cermin, dimana tubuh Lana yang nyaris polos terpantul sempurna, terlihat berdiri malu-malu.


"Kau yang paling cantik, sayangku.." Arshlan berbisik intim tepat ditelinga Lana.

__ADS_1


Tak sanggup lagi bertahan sekian lama hanya dengan memandang, kini Arshlan telah merapatkan tubuhnya kepunggung gadis itu dengan tangan kiri yang bergantian menggoda dua pucuk berwarna koral muda, memilin dan mencubit kecil, sementara tangan kanannya mengembara kearea bawah, menembus semak kecil yang telah lembab dan basah, mengusap lembut sebagai permulaan.


"Tuaaannn.. akkh.."


Lana menggelin jang menahan rasa geli bercampur kenikmatan, hasratnya semakin menderu saat menyadari bahwa dengan menghadap cermin dan melihat langsung aktifitas kemesraan yang sedang mereka lakukan membuat sensasinya menjadi berlipat ganda.


Wajah Lana menengadah, mengecup pelipis kiri wajah Arshlan yang ditumbuhi bulu yang kasar, yang disambut Arshlan dengan melu mat bibir yang menyusuri sepanjang garis rahangnya yang mengeras.


Lana berbalik, dua tangannya mencengkeram leher kemeja Arshlan dengan kasar, kemudian dengan tergesa mulai mempreteli kancingnya satu persatu, masih sambil melu mat satu sama lain.


Lidah Arshlan terasa menyusuri seluruh rongga mulut Lana yang mulai tere ngah, namun kedua tangan mereka tidak ada yang berdiam, masing-masing terus menyusuri setiap inchi titik kenik matan tanpa terlewat.


Arshlan membantu Lana melepaskan gesper yang membelit celananya, memudahkan Lana untuk membebaskan bagian tubuhnya yang menegang dari kungkungan boxer yang terasa semakin ketat.


Lana terlihat menggigit bibirnya saat melihat sebuah jamur raksasa milik Tuan Arshlan telah mengacung tegak.


Lana telah melihatnya berkali-kali, namun tetap saja kaget dan berdebar setiap kali melihatnya kembali.


Arshlan menarik lembut pergelangan tangan Lana, mengajaknya berdiri dibawah shower yang telah ia putar kerannya terlebih dahulu sehingga kedua tubuh telan jang mereka telah berada dibawah kucuran air yang hangat.


Jemari Lana telah dituntun untuk menyentuh miliknya yang tengah berdiri dengan gagah perkasa, agar Lana bisa memainkannya.


Belum apa-apa namun Arshlan sudah merasa seisi dunia benar-benar telah menjadi miliknya.


Sungguh sangat menyenangkan.


Tentu saja, karena Lana adalah gadis belia yang sangat mudah diajarkan. Otak Lana cukup mesum untuk bisa mengimbangi Arshlan, dan nyalinya cukup berani untuk mengambil inisiatif melakukan hal yang lebih memabukkan.


"Oh Lana.. sayangku.." de sah Arshlan dengan kepala yang menengadah ke langit-langit, manakala Lana yang merasa tidak cukup puas menyenangkan Arshlan dengan jemari lembutnya, kini menurunkan tubuhnya, bersimpuh sepenuhnya dihadapan pria bertubuh kekar itu.


Jemari lentik Lana mengelus perlahan jamur raksasa yang berada tepat didepan hidungnya, sambil mulai memasukkannya kedalam mulutnya yang mungil, sedikit demi sedikit.


Didalam sana Lana memainkan lidahnya pada permukaan yang mengeras..


Namun diluar, Lana mengu lumnya dengan bibir yang lembut..


...


Bersambung..


Butuh bunga, butuh kopi.. timpuk pake vote biar otak author makin licin ðŸĪŠ


*Btw, yok m**ampir di PASUTRI. End dengan bab super pendek (75 bab). Ceritanya cakep 😀 ada anu-nya juga..😅*

__ADS_1


Dahlah.. mampirrrr.. yang mau sensasi lain.. ðŸ”Ĩ


__ADS_2