TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
DAN AKU AKAN PERGI


__ADS_3

"Nona Maura..?!"


Saking terkejutnya dalam sekejap mata tubuh Lucy telah merosot kelantai kamar Maura yang dingin dengan mata terbelalak.


Lucy sungguh terkejut mendapati sosok Maura yang berlenggak-lenggok didepan cermin sedang memperhatikan sebuah gaun mahal yang telah membalut indah tubuhnya yang berlekuk menawan.


"Lucy, bagaimana pendapatmu..? apa gaun ini cukup pantas..?" tanya Maura tanpa mempedulikan rasa terkejut Lucy.


"Nona.. kakimu.. kakimu.."


"Lucy, aku sedang meminta pendapatmu tentang gaun ini, apa kau sudah tuli..?" ujar Maura Lagi, masih sibuk berputar kekiri dan kekanan.


"Cantik Nona.. sangat cantik.. apalagi kau memakainya dengan tubuh yang ditopang kedua kaki yang indah.." Lucy buru-buru bangkit dengan wajah yang sumringah, menatap penuh takjub kearah Maura dengan segala kecantikannya.


Melihat Lucy yang terpesona begitu rupa sanggup membuat Maura tertawa.


"Bagaimana Lucy? kau pasti kaget kan..?" Maura berputar beberapa kali, seolah sengaja ingin pamer dan membuat Lucy semakin terpukau.


"Nona, aku sungguh kaget. Jadi selama ini ternyata Nona sudah sembuh..? ah, Nona.. aku sungguh senang melihatmu seperti ini. Kau sungguh cantik seperti bidadari.."


Wajah Maura berseri-seri karena pujian Lucy sanggup melayangkan dirinya hingga setinggi langit.


"Nona, apa kau sengaja ingin mengejutkan Tuan Arshlan sebentar sore..?"


"Meskipun Arshlan sudah mengetahuinya, tapi aku yakin aku akan tetap mengejutkannya.." ujar Maura sambil menatap kembali kearah cermin, dimana seluruh tubuhnya telah terpantul sempurna.


Tentu saja Arshlan pasti terkejut. Karena barusan David telah mengatakannya dengan jelas, bahwa pria itu langsung memutuskan untuk menemuinya, begitu mendengar kakinya yang mendadak sembuh seketika, seolah mendapatkan sebuah mukjizat.


XXXXX


Sore ini wajah Lana tengah berseri-seri.


Tentu saja, karena untuk yang pertama kalinya Tuan Arshlan mengajak Lana keluar dari rumah yang ibarat sebuah penjara mewah itu.


Arshlan yang sedang bersandar disandaran kursi mobilnya yang empuk sejak tadi tak bisa berhenti tersenyum melihat semua keceriaan Lana.


'Kenapa mudah sekali sih menyenangkan hati bocah ini..?"


Sejak tadi bathin Arshlan tak berhenti membathin kalimat yang sama.


Arshlan merasa selama ini dirinya adalah pria yang sangat loyal. Karena itulah selama ini Arshlan bisa dengan mudah menggelontorkan sejumlah uang hanya untuk memanjakan setiap wanita yang menjadi teman one night stand nya dengan hadiah-hadiah mewah.


Tapi dengan Lana, Arshlan merasa belum pernah melakukan apa-apa, belum pernah menghadiahi sesuatu yang fantastik, malah sebaiknya, Arshlan telah mengambil keuntungan sembilan puluh sembilan persen dari tubuh gadis itu, plus memberikan kesengsaraan terus-menerus tanpa Lana sadari.

__ADS_1


Anehnya, membuat Lana tersenyum tulus dan tertawa lepas sepertinya juga bukan hal yang sulit buat Arshlan, contohnya seperti saat ini.


Dalam beberapa saat Arshlan telah membiarkan gadis itu larut dalam kesenangannya.


Lana yang terlihat sangat senang melihat keramaian lalu lintas seolah sudah lama sekali ia tidak pernah lagi berbaur disana, kini telah kembali meringsek mendekati tubuh Arshlan, merapatkan tubuhnya serta memeluk lengan kekar milik Arshlan.


Disaat seperti ini, Arshlan melihat Lana ibarat seekor burung pipit kecil yang pada akhirnya memilih pulang kesarangnya, setelah lelah terbang kesana kemari dan mengepakkan sayap.


"Ada apa, sudah lelah sejak tadi menengok kesana kemari..?" goda Arshlan melihat Lana yang hanya bersandar dilengannya tanpa kata, seperti robot yang kehabisan asupan batere.


"Hhhmm.."


Arshlan mengacak pucuk kepala Lana sejenak sambil tertawa kecil melihat kemanjaan Lana.


Lana mendongak mendengar tawa Arshlan yang terdengar renyah. "Tuan, kita mau kemana sih?" bertanya dengan wajah penasaran.


"Ketempat yang ingin kau datangi.." jawab Arshlan ringan.


"Ketempat yang ingin aku datangi? memangnya kemana Tuan..?" Lana yang terlihat penasaran semakin mengeratkan pelukannya dilengan Arshlan.


"Coba tebak.."


Lana terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap Arshlan dengan tatapan ragu. "Black Swan..?"


"Kenapa wajahmu seperti itu? jangan bilang saat ini kamu sudah tidak ingin lagi kesana setelah kemarin kamu mengatakan ingin bertemu dengan temanmu yang maid itu, ingin berpamitan dengan Madam Lori dan juga dengan si tua pemarah Nyonya Alexandra.."


"Tidak Tuan.. aku memang sangat ingin bertemu mereka. Kemarin aku pergi begitu saja seperti seorang pencuri.. aku belum sempat berpamitan.." ujar Lana lirih.


"Bukan kau, tapi aku yang telah menculikmu dan menyeretmu ke balai pernikahan."


Mendengar itu Lana tersenyum. "Tuan, apa kau ingin menemui Nona Maura..?"


Arshlan terdiam lama, namun Lana pun tak mengusik.


"Lana, aku ingin bertanya sesuatu, dan kau harus mengatakannya dengan jujur.." pungkas Arshlan setelah diantara mereka telah dikuasai hening sekian lama.


"Tanyakan saja, Tuan. Aku berjanji akan menjawabnya.."


"Sejauh mana kau mengetahui hubunganku dengan Maura?"


"Tidak banyak, Tuan.. tapi aku mengetahui semua garis besarnya." berucap lirih.


"Lalu kenapa selama ini kau tidak pernah bertanya?" tanya Arshlan lagi, dalam hati ia sendiri cukup penasaran karena biasanya seorang wanita akan selalu ingin mengetahui rahasia masa lalu seorang pria begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Karena aku merasa aku tidak tertarik untuk mengetahui apapun.."


"Apakah kau juga tidak takut dan khawatir jika hubunganku dengan Maura belum selesai..?"


"Aku takut. Tapi aku merasa tidak harus peduli."


Diam-diam Arshlan sedikit terkesima mendapati setiap kalimat Lana yang bahkan tidak menampakkan rasa empatinya sedikitpun pada kondisi Maura.


"Aku tidak percaya hatimu seegois itu.." ucap Arshlan datar.


Entahlah, tapi Arshlan merasa ia sedikit kecewa mendapati sikap Lana yang cukup bersikeras tanpa merasa iba sedikitpun.


Lana mengangkat wajahnya dari dada Arshlan, tempat dimana ia sejak tadi bersandar nyaman, "Aku egois demi dirimu, Tuan.."


Arshlan terdiam, sepasang mata mereka bertaut begitu dekat, membuat Arshlan bisa melihat irish mata Lana yang bersinar aneh. Seperti sebuah kesedihan yang panjang dan tak berujung.


"Tuan, terlepas dari kondisinya yang menyedihkan, aku tetap tidak rela Tuan besama dengan wanita seperti Nona Maura.."


Arshlan terdiam, namun tatapan mereka masih terkunci satu sama lain.


"Kalau memang aku tidak cukup pantas, Tuan bisa mencari wanita yang lebih pantas. Tapi aku tidak akan mengalah demi Nona Maura, atau demi wanita-wanita cantik yang selama ini telah menyenangkan hati Tuan. Nona Ashley.. Nona Rosalin.. atau siapapun.. mereka tidak bisa membuatku mengalah begitu saja.."


"Lalu bagaimana kalau semisal aku menemukan wanita baik-baik, apakah kau bisa menerimanya, dan berhenti mengejarku..?"


Lana terdiam cukup lama.


"Tuan, apakah aku memang tidak cukup pantas..?" lirih Lana lagi tanpa memindahkan tatapannya.


Kali ini Arshlan yang terdiam lama. Dan ia belum juga bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab, manakala kalimat Lana selanjutnya telah membungkam mulut Arshlan dengan telak.


"Kalau kelak Tuan akan menemukan wanita yang pantas, baik, dan bisa mencintai Tuan dengan tulus.. Tuan boleh menyuruhku pergi.. dan aku akan pergi.."


.


.


.


Bersambung..


Maaf.. kemarin gak up.. sibuk mulung.. 😅🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2