TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
11. JEJAK MASA LALU


__ADS_3

"The view is fantastic, and also romantic".


Bisikan lembut Arshlan disertai hembusan nafas hangat pria itu menyentuh tengkuk Lana.


Lana mengangguk mengiyakan. Arshlan memang benar, karena pemandangan gondola yang melaju melalui kanal-kanal sempit, dengan rumah-rumah beratap merah bata yang berjejer di sampingnya disertai restoran-restoran lokal unik yang senantiasa mereka jumpai di tiga hari terakhir ini benar-benar merupakan sebuah pemandangan yang luar biasa.


Hadiah Arshlan berupa bulan madu di Venezia dengan bergelimang cinta pun nyaris usai tanpa terasa, namun Lana meyakini bahwa kelak dirinya pasti akan senantiasa merindukan semua suasana khas ditempat ia berpijak saat ini, yang kesemuaannya begitu membekas lekat dalam tiga hari terakhir.


Usai bersusah payah membujuk Arshlan agar mau berhenti dari aktifitas pagi yang begitu panas, siang ini, untuk yang terakhir kalinya Lana dan Arshlan kembali menyusuri keindahan dengan jemari yang bertaut, menyeberangi berbagai bentuk jembatan yang menghubungkan kanal demi kanal, memasuki gang-gang kecil yang cantik, singgah di kafe yang menjual camilan dan es krim, memasuki toko suvenir yang menjual topeng-topeng yang kerap digunakan ketika carnival of venice, terus berjalan hingga mereka tiba di pelataran Piazza San Marco, sebuah lapangan luas yang dikelilingi toko-toko suvenir dan kerajinan kaca.


Arshlan tersenyum bahagia saat menyaksikan keceriaan Lana yang tertawa riang begitu sepasang matanya menangkap sekumpulan burung-burung yang hinggap di pelataran Piazza San Marco, terlebih ketika ada seorang pria yang terlihat merogoh saku celananya dan mengeluarkan segenggam biji-bijian untuk diberikan kepada burung-burung sebagai makanan.


"Apakah kau tidak berkeinginan memberi makan burung-burung itu juga...?"


Dan Arshlan tak memaksa saat melihat kepala gadis itu menggeleng. Langkah kaki Arshlan yang lebar pun tetap setia terayun, terus membuntuti kemana pun sepasang kaki Lana yang melangkah bahkan tak jarang berlari-lari kecil dengan riang.


Arshlan tersenyum dalam hati saat menyadari sesuatu.


Bahwa disaat seperti ini Arshlan merasa seperti tak ada bedanya dirinya sedang menjaga Luiz dan Leo.


Pada kenyataannya Lana memang masih sangat muda, sering bertingkah kekanak-kanakan... namun karena semua itulah Arshlan mencintai wanita yang telah memberikan dirinya makna cinta dalam kehidupan, sekaligus putra kembar yang tampan sebagai buah dari bukti cinta mereka berdua.


"Aku sangat mencintainya... dan akan terus menggenggam tangannya hingga akhir hayatku kelak..."


Tanpa sadar Arshlan telah bergumam lirih, malafalkan ikrar janji dengan sepenuh hati, disertai tatapan yang tak pernah lepas dari sosok Lana.


Sepasang kaki Arshlan terus mengikuti langkah riang gadis itu dengan langkahnya yang panjang... sebelum akhirnya...


"Arsh...? kaukah itu...?"


Arshlan terhenyak mendengar panggilan yang terucap ragu dari balik punggungnya. Suara itu terdengar begitu familiar ditelinganya.


"Kau?"

__ADS_1


Saat Arshlan berbalik, ia telah dikagetkan dengan sempurna begitu menyadari siapa gerangan sosok wanita yang kini telah berdiri tepat dihadapannya.


Dengan tubuhnya yang tinggi semampai dan garis wajah yang tak banyak berubah setelah kira-kira empat tahun tak pernah lagi bersua.


Wanita itu adalah Maura.


Entah alamat apa yang membuat Arshlan begitu kebetulan bertemu wanita itu dihari terakhirnya di Venezia.


"Astaga... Arsh, iya benar... kau memang Arshlan, dan aku nyaris tidak bisa mengenalimu...!"


Arshlan langsung mundur kebelakang dengan sigap manakala Maura hendak menghambur akrab kepelukannya.


"Maura... maaf..." tangan Arshlan terangkat sebagai bentuk penolakannya yang terang-terangan bahwa ia tidak ingin disentuh.


Tubuh Maura mematung mendapati kenyataan itu, seolah baru tersadar akan kenyataan yang kembali menamparnya


Hatinya bahkan seperti dicubit, mengingat bahwa sejak empat tahun yang lalu, bahkan dikesempatan terakhir ia harus berpisah dengan pria itu, Arshlan tetap saja menolak dirinya dengan kukuh.


Maura tertawa kecil, mencoba membuang pandangannya yang hendak berkabut.


Pijar kerinduan terlihat jelas disepasang telaga milik Maura, dan Maura malah tidak berusaha menyembunyikan segenap perasaannya tersebut dihadapan Arshlan.


"Bagaimana kabarmu...?" ucap Arshlan berusaha berbasa-basi, guna menghapus rasa keengganan yang bergelayut disisi hatinya.


"Seperti yang kau lihat... setidaknya aku masih bernafas..."


Arshlan mencoba tertawa kecil demi mengimbangi wajah murung milik Maura. "Kau terlalu mendramatisir suasana. Bukankah selama empat tahun terakhir ini perkembangan butikmu maju pesat...?"


"Kau mengikuti perkembangannya juga yah...? aku kira setelah memberikannya kepadaku, kau sudah tidak peduli sama sekali..."


Arshlan terdiam. Ia tahu bahwa Maura sedang menumpahkan kekecewaannya, karena pada kenyataannya, empat tahun yang lalu setelah butik di Milan resmi berpindah tangan atas nama Maura, Arshlan telah membuat Maura sangat kesulitan meskipun hanya untuk menghubunginya via telepon.


Yah, Arshlan telah menutup semua akses untuk Maura, Siska, Marina, Robi... serta siapapun yang memiliki jejak masa lalu dengan kehidupannya dan Lana.

__ADS_1


Terlebih pasca kecelakaan yang membuat Lana sempat koma beberapa bulan lamanya, Arshlan benar-benar telah menaruh jejak masa lalu mereka berdua jauh diluar roda kehidupan keluarga kecilnya.


Cinta dan kebahagiaan bersama Lana dan si kembar Luiz dan Leo, adalah prioritas salam hidup Arshlan. Bagi Arshlan, tidak ada lagi hal yang lebih penting dari semua itu.


"Oh ya, Arsh.. lalu sedang apa kau disini...?"


Mendengar pertanyaan Maura sontak membuat Arshlan terlonjak, baru menyadari jika ia telah melupakan seseorang yang sangat penting meskipun hanya sesaat.


Refleks kepala Arshlan telah menengok kesana kemari namun sosok yang dicarinya tidak terlihat sejauh matanya memandang.


"Ada apa, Arsh...? apa kau sedang bersama seseorang...?" tanya Maura begitu menyaksikan wajah Arshlan yang kebingungan


"Lana...?! Lanaaaa...?!"


Arshlan telah berteriak memanggil nama Lana berulang-ulang, kali ini dia bahkan tidak peduli lagi dengan kehadiran Maura yang menjadi ikut-ikutan bingung, melihat Arshlan yang berlarian kesana kemari sambil meneriaki nama Lana berkali-kali dengan wajah yang pucat pasi.


"Arsh... tenanglah, pasti Lana berada disekitar sini... kita hanya perlu mencarinya dengan tenang..."


"Lanaaaa...?!"


Arshlan terlihat tidak mengindahkan Maura sama sekali, begitupun dengan respon orang-orang disekitar mereka yang merasa heran dengan kepanikannya.


Hati Arshlan dipenuhi penyesalan saat menyadari karena ia telah bicara dengan Maura, kini ia telah kehilangan jejak istri kecilnya sendiri.


Melihat kepanikan Arshlan yang semakin meningkat membuat Maura nekat menahan lengan Arshlan. "Arsh... tunggu! tenangkan dirimu..."


"Diamlah, Maura...!!" hardik Arshlan keras, membuat Maura tersentak, tak menyangka Arshlan akan meneriaki dirinya dengan kasar didepan umum.


"Ini semua karena dirimu...!!" tuding pria itu dengan wajah geram.


"Arsh..." sepasang mata Maura terlihat semakin bertelaga.


"Dengar baik-baik Maura, jika terjadi sesuatu dengan Lana, aku bersumpah tidak akan mengampunimu...!!"

__ADS_1


...


Next... tapi jangan lupa di Like, coment dlu yah... 🥰


__ADS_2