
Follow ig aq yah. @khalidiakayum
...
"Tidak ada yang salah ... karena mereka hanyalah sepasang kekasih yang saling mencintai ..."
Itu adalah kalimat serupa, yang telah meluncur dari bibir Arshlan untuk yang kesekian kalinya, kali ini pria itu melakukannya sambil mengusap bahu Lana yang sedang terisak lirih.
Sementara Leo dan Victoria yang ikut mendengar kebenaran tersebut memilih diam.
Keduanya bahkan bingung harus berkata apa, karena mereka berdua pun terkejut atas semua kenyataan yang telah dibeberkan daddy Arshlan, terkait dengan hubungan Luiz dan Dasha yang tanpa sepengetahuan mereka ternyata telah terjalin cukup lama.
Lana tahu, Arshlan berkata benar.
Tidak ada yang salah ...
Mereka ...
Luiz dan Dasha ...
Mereka hanyalah sepasang kekasih yang saling mencintai ...!
Tapi kesedihan Lana bukan semata-mata karena hubungan tersebut, melainkan kekecewaannya untuk dirinya sendiri.
Lana merasa gagal tidak bisa menjaga Dasha dengan baik, seperti yang telah dilakukan mendiang Asisten Jo saat menjaga dirinya dulu.
Tidak ... bagaimana mungkin Lana bisa begitu lalai, sehingga tidak menyadari jika putranya sendiri, yang justru telah mengingkari kepercayaan yang ia berikan dalam menjaga amanat atas segala sesuatu yang menyangkut masa depan Dasha.
"Sayang, aku masih sukar mempercayai, bahwa Luiz tega membohongiku sedemikian rupa ..."
Lirih Lana sambil meraih tissue yang disodorkan Victoria.
"Selama ini aku mengenal Luiz putraku, sebagai pria yang sangat bertanggung jawab dalam persoalan apapun. Tapi ternyata ... ternyata ..."
"Lana, sudahlah ... awalnya aku juga berpikir demikian. Aku menyesali semua sikap Luiz yang memilih merahasiakan semua ini sekian lama. Buntut dari ketidak terbukaan Luiz juga telah menyeret orang lain dalam kerumitan. Tapi setelah memikirkan semuanya, pada akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa ketakutan Luiz tidaklah sederhana. Luiz telah dikejar rasa bersalah sekian lama ... lalu di rong-rong oleh keharusan bertanggung jawab atas perbuatannya ... sementara disisi lain ia juga dituntut untuk memikirkan masa depan Dasha sesuai rencana dan harapan kita berdua ..."
Arshlan menarik napasnya sejenak, tatapan matanya tak kunjung berpindah seinchi pun dari wajah Lana yang masih sibuk menyusut air mata penyesalannya.
"Pahamilah keputusan Luiz meskipun sangat salah. Luiz telah berusaha keras untuk mengalah, dan memperbaiki dirinya, namun perasaan cinta bukanlah sebuah perasaan yang mudah untuk dikendalikan."
"Kalau seperti ini, lalu bagaimana dengan Tuan Jody Frederick? Kita bahkan telah bersepakat untuk memberi ruang kepada Luiz dan Florensia agar bisa menjalin hubungan yang lebih serius, Luiz bahkan telah menyetujui semua itu dihadapan Tuan Jody Frederick ..."
"Jangan khawatir. Sebelum berangkat kesini, tanpa sepengetahuan dirimu aku telah menelepon Jody dan bicara panjang lebar dengannya."
"Lalu bagaimana tanggapan Tuan Jody setelah mengetahui bahwa kau tidak bisa menjodohkan Luiz dengan putrinya Florensia ...?" Lana menatap Arshlan dengan raut was-was yang kentara.
Bagaimana tidak was-was?
Rasanya baru kemarin mereka memutuskan keseriusan serta dukungan penuh atas kedekatan Luiz dan Florensia, namun pada akhirnya mereka harus menanggung malu dengan membatalkan kesepakatan yang baru saja terjalin.
Arshlan tersenyum tipis. "Jody bisa memahaminya, dan dia sama sekali tidak merasa keberatan. Pada kenyataanya Jody juga sadar bahwa ia pun tidak bisa memaksakan hubungan Luiz dan Florensia, karena keduanya juga tidak saling mencintai dan masing-masing telah memiliki tambatan hati. Jody tidak ingin lagi memaksa Florensia, karena ia juga takut jika kelak putrinya tidak akan bahagia ..."
Lana terdiam mendengar penuturan Arshlan.
Jauh didalam lubuk hatinya, Lana tidak bisa memungkiri jika dirinya merasa lega saat mendengar Jody Frederick tidak mempermasalahkan hubungan Luiz dan Florensia yang belum apa-apa sudah mengalami kebuntuan.
Namun begitu mengingat kembali bagaimana Luiz putranya yang selalu terlihat sempurna telah melakukan kesalahan yang sangat fatal serta menyembunyikannya hingga lebih dari lima tahun lamanya dari dirinya juga Arshlan ... hati Lana kembali terluka!
"Diatas sana, Asisten Jo pasti kecewa padaku. Aku telah gagal menjaga Dasha, seperti dia menjagaku dulu. Aku juga gagal mendidik Luiz ..."
Arshlan menghela napasnya berat. "Lana, bukan hanya kau saja, melainkan juga aku. Aku merasa gagal ... karena tidak bisa mendidik Luiz dengan baik. Aku merasa gagal ... karena tidak bisa menjaga Dasha. Tapi disisi lain aku malu menyalahkan Luiz, saat menyadari aku bahkan tidak lebih baik dari kedua putraku sendiri ..."
Atas kalimat Lana, bukan hanya Lana saja yang terpekur, melainkan juga Leo, terlebih lagi Arshlan.
Arshlan dan Leo, keduanya seolah ikut tertohok kenyataan, bahwa mereka bahkan pernah melakukan kesalahan yang jauh lebih besar dari yang kesalahan yang telah dilakukan Luiz hari ini.
Luiz boleh saja bersalah, setelah berbuat khilaf pada lima tahun yang lalu, disaat Dasha masih begitu belia.
__ADS_1
Namun meskipun demikian Luiz rela menunggu Dasha hingga dewasa, dan tetap bertanggung jawab menghadapi kenyataan meskipun sempat meragu.
Luiz sangatlah gentleman.
Berbeda dengan Arshlan dan Leo, yang justru melakukan hal yang lebih buruk, yakni tega menyia-nyiakan, menepis segala perhatian, bahkan tak tanggung-tanggung menyakiti hati wanita yang mencintai mereka dengan tulus.
"Sayang, kau bicara apa? Tolong jangan lagi mengingat masa lalu ... aku tidak ingin hatimu sakit setiap kali kau mengingatnya ..." tepis Lana sambil bangkit dari duduknya, langsung memeluk kepala Arshlan yang tertunduk sendu.
Melihat pemandangan mengharukan kedua orang tuanya, terlebih penyesalan Arshlan, membuat Leo semakin tidak bisa membebaskan dirinya dari penyesalan yang sama.
"Daddy berkata benar. Kenyataannya aku juga tak lebih baik dari Luiz, momm. Luiz membutuhkan waktu lima tahun untuk menyiapkan diri demi bisa bertanggung jawab atas kesalahannya kepada Dasha, tapi dalam kurun waktu lima tahun ... aku justru menyakiti hati Florensia tanpa ampun ..."
"Leo, kenapa kau berkata seperti itu..?" pungkas Victoria, saat menyadari Leo kembali mengungkit kisah masa lalu mereka yang penuh liku kesedihan.
"Karena aku belum bisa memaafkan diriku sepenuhnya, Vic ..."
"Tidak ... jangan seperti itu. Aku mohon jangan ..." Victoria beringsut lebih dekat kearah Leo, serta-merta memeluk pria itu dengan penuh rasa haru.
"Maafkan aku, Vic ... ampuni aku ..."
"Lupakan ... karena saat ini, aku bahkan tidak ingat kalau kau pernah berbuat salah. Mari kita jalani hari ini dan hari esok, dengan lebih baik ..."
Leo pun terlihat mengangguk, sambil membalas pelukan Victoria.
Keduanya berpelukan erat, dibawah tatapan Arshlan dan Lana, yang menatap kebahagiaan itu dengan sepasang mata yang berembun.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Luiz baru saja menarik gagang pintu kamar Dasha, guna menutupnya dari luar.
Luiz telah menyuruh Dasha beristirahat terlebih dahulu sekaligus menenangkan diri, sebelum kedua orang tuanya yang saat ini sedang berada dalam perjalanan menuju ranch tiba.
Tekad Luiz telah bulat.
Apapun yang terjadi, Luiz akan mengakui semuanya dihadapan daddy Arshlan dan mommy Lana, perihal hubungannya dengan Dasha, sekaligus keseriusannya untuk bertanggung jawab atas kehidupan dan masa depan Dasha sepenuhnya di masa yang akan datang.
"Aku takut ..."
"Everything will be fine ..."
Akhh ...!
Semoga saja, karena sesungguhnya Luiz pun belum bisa menebak, reaksi seperti apa yang akan ia terima dari kedua orang tuanya, begitu menerima kejujurannya kelak.
Luiz memasuki ruang kerja milik Arshlan, yang juga sering ia gunakan untuk bekerja jika dirinya sedang berada di ranch.
Baru saja Luiz menghempaskan tubuhnya ke atas kursi manakala ponselnya telah berdering nyaring.
Luiz merogoh ponsel tersebut dan matanya memicing saat mendapati nama Leo, saudara kembarnya, berada di permukaan layar ponsel.
Luiz menyentuh icon hijau, guna menerima panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Luiz to the point sambil memejamkan matanya, dan memijatnya perlahan dengan ibu jari dan telunjuk.
"Kau sudah kembali ke ranch?" dari seberang sana Leo malah balik bertanya.
"Hhhmm."
"Daddy dan mommy sudah berangkat setengah jam yang lalu, dan aku berpikir ... sebaiknya aku memang harus meneleponmu diam-diam, sebelum mereka tiba ..."
Sepasang mata Luiz sontak terbuka, begitu mendengar kalimat Leo yang terkesan memberikan sebuah clue untuknya.
"Kau ... apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?" tanya Luiz buru-buru menegakkan tubuhnya yang semula bersandar sepenuhnya di sandaran kursi.
"Mereka sudah mengetahui semuanya ..."
Luiz mematung dengan tenggorokan tercekat.
__ADS_1
Kendatipun Leo belum menjelaskan apa-apa, tapi entah kenapa feeling Luiz langsung bisa menebaknya, jika yang ingin disampaikan oleh saudara kembarnya pastilah perihal dirinya dan Dasha.
"Luiz, jujurlah sebelum mereka bertanya."
Luiz masih betah membisu.
"Aku harap semua akan berjalan dengan lancar setelahnya ..."
Kali ini hembusan napas berat Luiz terdengar gamang.
"Leo ..."
"Hhmm ...?"
"Berikan aku petunjuk, apakah nanti aku bisa dimaafkan dengan mudah ...?"
"Tentu saja. Untuk hal itu, kau tidak perlu merasa pesimis."
Hembusan napas berat Luiz kembali terdengar.
"Aku harus mengakuinya, bahwa saat ini aku sangat gugup ..."
Diluar dugaan, Luiz malah mendengar tawa Leo diujung sana.
"Leo, kau mau aku pukul yah?!" hardikan Luiz terdengar sangat dongkol, namun Leo tak mengindahkannya sama sekali, malah semakin tergelak keras.
Luiz benar-benar kesal mendengar tawa Leo yang tak kunjung usai.
"Luiz ... Luiz ... aku sungguh tak menyangka kau justru menaruh hatimu yang dingin itu untuk Dasha ..."
"Shut up!"
"Sejak dulu kau menganggap Dasha sebagai bocah pengganggu ... sekarang kau malah tergila-gila dengan bocah yang ..."
"Leo, hentikan kataku." pungkas Luiz lagi, nada suaranya terdengar semakin datar bercampur rasa malu yang kentara, namun lagi-lagi bukan Leo namanya kalau begitu mudah menyerah.
"Kau bahkan nekad 'menculiknya' semalaman dan ..."
Tuuuttt ... tuuuttt ... tuuuttt ...
Sambungan telepon itu telah diputus Luiz secara sepihak, saking tak kuasa lagi menerima ejekan Leo untuknya.
"Si al ... bisa-bisanya dia mengejekku disaat otakku sedemikian kacaunya! Apa dia tidak punya empati sedikitpun sebagai seseorang, yang melihat saudara kembarnya sedang diterpa persoalan pelik?!"
Dumel Luiz panjang pendek, sambil menaruh ponselnya keatas meja dengan raut wajah yang super kesal.
Kekesalannya untuk Leo sudah mencapai ubun-ubun, namun disisi lain Luiz juga bersyukur, karena Leo telah memberikan informasi penting untuknya, bahwa ternyata kedua orang tua mereka telah mengetahui semuanya terlebih dahulu ...
Sebelum Luiz berucap jujur ...
...
Bersambung ...
Halo, semua reader Terjerat Cinta Pria Dewasa, dengan berat hati author ingin mengatakan bahwa dalam waktu dekat novel ini akan "TAMAT".
Author sadar sering mengecewakan kalian dengan up yang lelet minta ampun bahkan telat up.
Sedikit berbagi cerita, bahwa novel ini bahkan terselesaikan dengan begitu berat, ditengah real life author yang sangatlah kacau.
Setiap manusia mengalami musibah, dan pasti di uji oleh sang pemilik kehidupan dan semesta. Terkadang author ingin sekali mengadu dan bisa dimengerti, tapi akhirnya author sadar jika harus berusaha profesional, terus menyelesaikan kisah ini hingga akhir, meskipun keteteran karena kehidupan dunia nyata yang begitu pahit.
Pelangi selalu ada setelah hujan. Alhamdulillah sekuat apapun badai, pastinya akan berlalu.
Novel ini adalah bukti ketegaran author, dalam menghadapi cobaan yang maha berat, meskipun didalamnya telah mengecewakan kalian dengan begitu banyak.
Terima kasih telah bersama, berbagi cinta dan dukungan yang begitu berarti. Kalian semua adalah kekuatan disaat author terpuruk.
__ADS_1
Mohon dengan sangat tetap favoritekan novel yang penuh liku ini, dan mohon dukung karya author selanjutnya.
LIKE and SUPPORT-nya selalu ditunggu ... π€