TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 1. Tuan muda yang menawan


__ADS_3

Dua puluh satu tahun telah berlalu ...


"Hai Luiz,"


Luiz terhenyak mendapati sentuhan akrab dikedua bahunya. Saking kagetnya, air mineral dingin yang seharusnya melewati kerongkongannya malah muncrat keluar dari mulutnya, ada juga yang dari hidungnya.


"Astaga, maaf ... maaf ... apa aku telah mengagetkanmu?"


"Tidak, tidak apa-apa ..." Luiz mundur dua langkah, seolah sengaja mengambil jarak aman dengan tubuh Victoria yang nyaris merapat dengan tubuhnya.


Victoria tersenyum mendapati wajah dingin Luiz.


'Pria ini ... sedang terkejut setengah mati saja tapi sikapnya tetap sedingin ini ...'


'Luiz ... kau benar-benar pria berhati beku. Entah siapa kelak yang bisa menyentuh hatimu, dan mendapatkan kehangatan yang berasal dari dirimu ...'


Victoria membathin dalam hati, namun jemarinya yang lentik telah bergerak cepat menyambar beberapa helai tissue yang ada diatas meja, berniat mengusap wajah Luiz yang terciprat air.


"Biar aku saja." Luiz menahan laju tangan Victoria yang terangkat kearah wajahnya hingga terhenti diudara.


Jemari Victoria memang tidak berhasil menyapu wajah Luiz, namun genggaman tangan Luiz telah melekat erat dipergelangan tangan Victoria.


Tangan yang besar milik Luiz tanpa sadar telah meremas kuat pergelangan tangan Victoria yang mungil, membuat Victoria mau tak mau meringis kecil karenanya.


"Maaf,"


Luiz melepaskan genggamannya saat menyadari ia telah menyakiti Victoria tanpa sengaja. Detik berikutnya dengan gerakan secepat kilat, Luiz telah menyambar tissue yang ada diatas meja, guna mengusap wajahnya yang basah.


"Luiz, kapan kau tiba?"


"Tadi pagi."


"Apa semuanya berjalan lancar?"


Luiz mengangkat wajahnya mendapati pertanyaan Victoria yang terdengar penuh perhatian.


Sejenak tatapan keduanya beradu, namun tak berapa lama Luiz telah memalingkan wajahnya tanpa ekspresi berarti.


"Hhhmm ..."


Victoria menarik nafas perlahan mendengar jawaban yang hanya berupa deheman singkat.


"Untuk apa kau kesini?" tanya Luiz sebagai upaya mengalihkan pembicaraan dari situasi yang mulai terasa canggung.


"Oh iya, Tuan Her memintaku datang untuk membawa dokumen yang harus kau tandatangani dengan segera."


Victoria membuka map file yang ada diatas meja, menyodorkannya kehadapan Luiz yang langsung menerimanya.


Untuk beberapa saat lamanya suasana ruang tengah tersebut terasa begitu hening.


Luiz nampak memperhatikan dengan seksama beberapa lembar dokumen yang dikirimkan Uncle Her untuk ia tandatangani, sementara Victoria justru tenggelam dalam keseluruhan wajah tampan Luiz yang begitu kharismatik.

__ADS_1


Bathin Victoria kembali sibuk menelaah sosok maha sempurna yang ada dihadapannya.


Tampan, dingin, dan arrogant.


Muda, menawan, dan calon terkuat penerima tongkat estafet yang akan menduduki jabatan tertinggi pengganti seorang Tuan Arshlan.


Yah, dia Luiz.


Luiz yang sangat rupawan dan tak tersentuh.


Apakah masih ada perpaduan mempesona yang lebih berbahaya dari semua yang kini tersaji dihadapan Victoria saat ini?


Jawabannya sudah pasti tidak. Bahkan Leo, yang notabene saudara kembarnya sendiri, belum sanggup menyamai aura berbahaya seorang Luiz.


Yah, dia sangat mempesona.


Dia ... adalah Luiz, Tuan muda yang menawan.


Dalam sekejap Victoria telah merindukan masa, dimana mereka berdua masih sangat dekat.


Masa, dimana Luiz begitu sering memberikannya perhatian ekstra, memperlakukan dirinya seolah istimewa, meskipun Luiz belum menjanjikan hal berarti dan status mereka masih tak lebih dari sekedar teman biasa.


Namun meskipun demikian tak bisa dipungkiri bahwa Luiz-lah yang telah memberikan Victoria kesempatan sehingga Victoria bisa melenggang masuk keperusahaan milik ayah Luiz tanpa kesulitan berarti pada setahun yang lalu.


Luiz juga yang memberikan Victoria promosi jabatan yang membuat karir Victoria melejit pesat dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.


Terpilih menjadi sekretaris pribadi Tuan Arshlan diantara begitu banyak kandidat yang memiliki pengalaman kerja lebih banyak dari dirinya, telah menjadi sebuah rahasia umum bahwa Victoria mendapatkannya lewat jalur nepotisme.


Luiz adalah putra kebanggaan Tuan Arshlan yang digadang-gadangkan akan menjadi penerus sang ayah, dalam memimpin perusahaan yang yang memiliki ratusan cabang serta anak perusahaan diberbagai daerah, bahkan sampai keluar negeri.


Sementara saudara kembarnya Leo, terlihat tidak terlalu tertarik untuk meneruskan kerajaan bisnis keluarga.


Leo yang supel lebih memilih gemerlap dunia entertainment yang membuat dirinya dikenal diseantero jagat.


Siapa yang tidak mengenal Leo?


Mengawali karirnya didunia model, nama pria itu langsung melejit. Dan saat ditawari menjadi aktor, dalam sekejap pria itu pun dengan mudahnya mensejajarkan dirinya dengan aktor kawakan dengan bayaran selangit.


Intinya semua yang dilakukan Leo dipanggung hiburan akan selalu menghasilkan cuan yang tidak sedikit, meskipun pada kenyataannya Leo telah terlahir dari sebuah keluarga kaya raya yang memiliki kekayaan yang jauh lebih banyak dari yang bisa ia dapatkan didunia entertainment, yang justru menjadi pilihan pria itu.


Leo adalah entertainer sejati, sehingga dipanggung manapun dirinya berdiri, maka panggung itu akan bersinar, menyilaukan semua mata yang memandang.


Semua mata ... tak terkecuali sepasang mata Victoria.


Sejak lama mengidolakan Leo, akhirnya Victoria bisa menyapa langsung sang idola.


Tidak terlalu sulit, karena selain bekerja diperusahaan milik Tuan Arshlan, serta berteman dekat dengan Luiz sang saudara kembar, mustahil Victoria tidak bisa berkesempatan, meski hanya bertegur sapa.


Puncaknya saat ulang tahun Tuan Arshlan yang ke enam puluh tahun, yang menjadi tonggak peralihan kepemimpinan Tuan Arshlan.


Tuan Arshlan telah memilih untuk menepi dari kebisingan duniawi, demi menghabiskan masa tuanya disebuah peternakan yang berada jauh diluar kota bersama sang istri tercinta.

__ADS_1


Pada kesempatan itu, pria yang sering disebut Uncle Her, yang merupakan orang kepercayaan Tuan Arshlan selama puluhan tahun lamanya telah diserahi mandat dan tanggung jawab untuk memimpin sementara perusahaan, sebelum Luiz dinyatakan siap memikul sepenuhnya tanggung jawab tersebut dipundaknya. Luiz memang harus belajar banyak sebelum mengambil alih posisi sang ayah.


Pesta meriah yang dilaksanakan disebuah hotel mewah yang merupakan aset dan hak milik keluarga Tuan Arshlan yang fenomenal itu telah usai.


Tepat disaat Tuan Arshlan dan istrinya Nyonya Lana meninggalkan gedung pesta, lepas midnight, party yang awalnya sangat berkelas itu telah berubah menjadi lantai dansa yang hiruk-pikuk. Gemerlap, dipenuhi lautan manusia yang tumpah ruah.


Begitu banyak artis serta orang penting yang berada disana, dan entah bagaimana awal mulanya Victoria yang sedianya terus berada disisi Luiz, tanpa berpikir dua kali telah menyambut uluran tangan Leo untuk melantai.


Terbuai dengan suasana yang meriah, serta kondisi hati yang baper berat karena bisa memeluk sang idola, membuat Victoria menjadi gelap mata.


Victoria serta-merta tidak menolak saat diam-diam Leo mengajak dirinya kesebuah kamar suite yang luar biasa mewah.


Dengan segenap jiwa raga dan kesadaran penuh, Victoria pun tidak menolak tawaran one night stand bersama Leo, sang pujaan. Malah yang ada menyambutnya dengan suka cita, dipenuhi gai rah yang meluap-luap.


Dalam sekejap, semua khayalan terindah Victoria yang selama ini kerap berangan-angan bisa memeluk Leo semalaman pun terkabul hanya dalam satu malam yang begitu panas, dipenuhi suhu percintaan yang menggelora.


Victoria telah mendapatkan apa yang ia impikan selama ini, namun menjadi sangat menyesal saat menyadari, dikemudian hari, Luiz tidak bisa tersentuh olehnya lagi.


"Kau telah menjadi kekasih Leo, itu artinya, aku tidak bisa berada dekat denganmu." ujar Luiz tanpa beban, seolah tidak pernah merasa kehilangan sama sekali.


"Luiz, maafkan kebodohanku. Tapi hubunganku dengan Leo tidak seistimewa yang kau kira."


"Apapun itu, aku tetap tidak bisa."


"Luiz, pliss ...kenyataannya Leo tidak benar-benar menginginkan aku. Dia hanya bermain-main ..."


"Leo memiliki hak untuk menentukan apa yang ia inginkan. Benar-benar tertarik padamu atau hanya ingin bermain-main. Kau tidak bisa menyalahkan Leo atas keputusannya dalam mengartikan dirimu, karena Leo tidak pernah memaksamu, dan kau juga harus bertanggung jawab atas keputusanmu."


Saat itu, ingin rasanya Victoria memaki.


Mendengar kegigihan Luiz yang membela Leo meskipun sudah jelas-jelas saudara kembarnya itu juga tidak melakukan hal yang benar, sama seperti dirinya. Bedanya, Leo mendapatkan pembelaan Luiz tanpa syarat, sedangkan Victoria tidak sama sekali.


"Baiklah, baiklah, aku mengerti, aku yang salah. Maaf. Tapi Luiz, mengapa kita tidak bisa berteman? hanya berteman ..." pinta Victoria dengan mimik bersungguh-sungguh, bahkan nyaris menangis.


Victoria tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dan karirnya kelak, jika tanpa campur tangan Luiz.


"Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin Leo merasa tidak nyaman jika aku masih saja berteman dekat denganmu."


"Tapi Luiz ..."


"Aku hanya menjaga perasaan Leo. Entah hubungan kalian kedepan akan menjadi seperti apa ... tapi aku tegaskan, bahwa aku tidak ingin berada diantara kalian."


Luiz telah menentukan sikapnya. Dia telah terang-terangan membela Leo.


Tentu saja, karena Leo adalah saudara kembarnya, tidak heran jika Luiz bisa membuang Victoria dengan mudahnya, dan tidak sudi lagi meski hanya sekedar berteman biasa.


...


NEXT,


Jangan lupa, di Like, comment. Support terus yah 🤗

__ADS_1


Lophyuuu all ... 😘


__ADS_2