
Terbalas atau tidak ... kalian pasti tidak pernah tau, bagaimana senangnya aq membaca setiap jejak yang kalian tinggalkan. π€
Lophyuuu puulll my reader, π
...
"Luiz, bagaimana pendapatmu jika kita menggunakan sedikit bantuan publikasi untuk meningkatkan daya jual dipasaran, khusus untuk beberapa produk otomotif terbaru?"
Luiz menatap Her, sosok dengan warna rambut yang keseluruhannya telah memutih sempurna itu, baru saja mengemukakan pendapatnya sambil duduk tenang dengan melipat kedua tangannya diatas meja.
Luiz dan Leo, kerap menyebut pria tua itu dengan sapaan Uncle. Sementara Her, merupakan satu-satunya orang kepercayaan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana yang tersisa, pasca kepergian Asisten Jo kira-kira setahun yang lalu.
"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama, Uncle." jawab Luiz. "Bahwa kita memang membutuhkan semua itu dalam kompetisi dan persaingan bisnis yang semakin ketat dewasa ini ..."
"Kau benar." sela Her ditengah-tengah penjelasan Luiz.
"Kali ini aku berencana untuk tidak tanggung-tanggung dalam melakukannya. Aku sangat yakin, jika berbagai produk baru unggulan milik perusahaan kita akan semakin berjaya dipasaran, jika dibarengi dengan gencarnya promosi tayangan iklan yang ekslusive baik secara offline maupun secara online ..."
Her terlihat kembali manggut-manggut untuk beberapa saat. "Lalu apa rencana awalmu untuk merealisasikan semuanya?"
"Aku ingin mewujudkan semuanya dalam waktu dekat. Uncle pasti tau, bahwa aku tidak suka menunda segala sesuatu, bukan?"
"Dan karena itulah aq sangat menyukai semangatmu." ujar Her seraya mengacungkan jempolnya kearah Luiz yang berada tepat dihadapannya.
Wajah Luiz yang senantiasa terkesan dingin itu kini terlihat sangat serius.
Memang begitulah sikap Luiz, terlebih jika sedang bicara tentang pekerjaan. Dia adalah duplikat asli seorang Tuan Arshlan, sang bos besar yang telah Her abdikan seluruh hidupnya untuk terus mengikutinya dan setia.
Luiz adalah gambaran sempurna seorang Tuan Arshlan dimasa mudanya. Sehingga acap kali menatap Luiz yang seperti ini, membuat Her merasa seolah sedamg kembali kemasa lalu, dimana sang tuan besar terlihat sangat bersinar, saat berusaha keras menggenggam seluruh dunia, menjadikan semuanya berada didalam satu genggaman kekuasaan yang fenomenal.
"Luiz ..."
"Iya, Uncle?"
"Melihatmu seperti ini membuatku merasa sudah waktunya kau menerima tanggung jawabmu secara utuh ..."
Kalimat itu membuat Luiz termanggu.
"Tapi, Uncle ..."
"Kenapa kau selalu menundanya? apa kau tidak kasihan melihat daddymu yang terus menanti kapan kau siap?"
Luiz terpekur lagi, terlebih saat ingatannya telah membawanya pada sosok daddynya yang semakin menua.
Entahlah ...
Sejauh ini Luiz memang terlihat bersemangat saat diberikan tanggung jawab dalam mengurus seluruh aset yang diwariskan daddy Arshlan, namun tak ada yang tau bahwa betapa sering hatinya merasa lelah menghadapi semua tantangan itu seorang diri.
Luiz selalu berharap bahwa Leo, saudara kembarnya itu, mau berubah pikiran dan bersedia membantunya dalam menjalankan semua bisnis yang berasal dari daddy, namun semakin hari Leo malah terlihat semakin menikmati dunia hiburan yang telah dipilihnya.
"Uncle, bukannya aku menolak, tapi aku ... aku selalu merasa tidak bisa melakukannya seorang diri ..."
Tarikan nafas Luiz terdengar sarat dengan kekalutan yang terus memenuhi benaknya.
"Dulu, daddy yang hebat saja memiliki dirimu dan Asisten Jo, tapi saat ini aku justru tidak memiliki siapa-siapa ..."
"Lalu aku dan daddymu kau anggap apa?"
"Tapi, Uncle ..."
__ADS_1
"Mantapkanlah hatimu dalam waktu dekat. Kalau kau ingin membuat daddymu tenang melewati masa tuanya, maka kau harus menerima semua tanggung jawab ini secepatnya."
Luiz tertunduk sejenak. Pikirannya kosong, namun seraut wajah daddy Arshlan yang tiba-tiba melintas seolah menguatkan hatinya untuk kembali menatap wajah tua dihadapannya.
"Beri aku sedikit waktu, Uncle. Aku berjanji akan memutuskannya dalam kurun waktu yang singkat."
Her terlihat menarik nafasnya, sambil menegakkan punggungnya, saat ia bersandar disandaran kursi.
"Baiklah kalau begitu. Aku harap sesegera mungkin kau bisa menerimanya. Tidak ada yang perlu kau risaukan, karena daddymu dan diriku akan terus berada disampingmu."
"Iya, Uncle. Teruslah berada disampingku, seperti dulu uncle menemani daddy..."
"Kau tidak perlu memintanya, Luiz. Aku telah menyerahkan seluruh hidupku ini sejak awal ..."
Meskipun berkepribadian dingin, tapi rasa haru yang terpancar jelas pada sepasang mata Luiz tidak bisa berbohong, saat ia menerima ucapan tulus Her.
"Well ... kembali lagi ke pembahasan awal," pungkas Her memutuskan begitu saja situasi melow yang hendak tercipta, karena tidak ingin melihat Luiz terbawa perasaan lebih lama.
Her sangat menyukai Luiz yang berhati setegar karang, dan Her ingin Luiz selalu seperti itu.
"Aku akan meminta bagian promosi dan pemasaran agar bisa bekerja penuh dalam mengejar target yang telah kau tentukan."
Luiz terlihat mengangguk, namun diwajahnya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Apalagi yang kau pikirkan, Luiz?"
"Aku sedang berpikir bahwa kita membutuhkan sosok fenomenal, yang memiliki passion, agar bisa mewakili keseluruhan emosi serta ambisi yang kuat, dari produk-produk kita ..."
"Memangnya Passion seperti apa yang ingin kau tonjolkan sebagai temanya?"
Luiz berpikir sejenak, sebelum berucap mantap. "Maybe ... dominasi akan sesuatu ...?"
"Luiz, kalau seperti itu yang kau inginkan maka kau tidak perlu repot mencari." imbuh Her dengan sisa tawa disudut bibirnya.
"Maksud, Uncle ...?"
"Kenapa kau malah bingung memikirkannya? apakah kau lupa bahwa kau mempunyai saudara kembar, seorang model sekaligus aktor papan atas, yang dari kriterianya sangatlah sesuai dengan yang saat ini kau inginkan."
Mendengar itu Luiz seolah baru tersadar.
'Astaga ... Uncle Her berkata benar. Dominasi akan sesuatu ... itu sungguh merupakan wujud asli dari seorang Leo, saudara kembarnya sendiri!'
'Mengapa tidak pernah terpikir olehku bahwa Leo adalah jalan keluar yang tepat?'
Luiz membathin, seiring dengan jiwanya yang bergolak seolah semakin bersemangat.
Harus diakui bahwa saat ini popularitas saudara kembarnya itu sangat gila-gilaan, dan memakai jasanya sudah pasti akan membuat apa yang ingin dicapai Luiz bisa terwujud tanpa halangan berarti.
"Uncle, benar. Aku setuju."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh Victoria untuk menghubungi Leo."
"Tidak perlu. Aku yang akan menelponnya langsung."
"Begitu lebih baik. Karena jika berhadapan langsung denganmu, Leo pasti tidak punya alasan untuk menyulitkan siapapun, apalagi menolaknya ..."
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Biasanya jika ada yang ingin memakai jasaku dan memberikan job, mereka harus menghubungi managerku terlebih dahulu, membuat janji temu dan ..."
__ADS_1
"Kau mau aku pukul?"
Leo tertawa keras mendengar nada suara dingin milik Luiz yang langsung memangkas ucapannya tanpa ampun.
Bukannya ciut, seperti biasa Leo malah berniat ingin terus menggoda Luiz. Pria tampan yang tak lain saudara kembar Luiz itu, dengan wajahnya yang terkesan badboy malah belum merasa puas mengerjai Luiz yang seolah tidak memiliki sense of humor sedikitpun dalam hidupnya.
"Luiz, aku ini sedang bicara serius. Meskipun kita saudara kembar sekalipun, kau tidak boleh melanggar profesionalitasku sebagai model serta aktor papan atas yang ..."
"Berhenti bicara omong kosong. Aku tidak mau mendengar ucapan kesombonganmu itu lebih banyak lagi."
"Tapi Luiz ..."
"Kapan kau punya waktu untuk menemuiku?" tukas Luiz to the point, seperti biasa tanpa basa-basi.
Leo yang sedang berada ratusan kilometer dari tempat Luiz, terlihat menghempaskan tubuhnya dengan santai disebuah sofa yang ada diruang tunggu khusus, salah satu studio tempat dirinya sedang rehat sejenak dari sebuah sesi pemotretan pada sebuah majalah ibukota.
"Bukankah saat ini kau yang membutuhkan aku? seharusnya kau juga yang harus datang menemuiku..."
"Tidak. Kau yang harus datang, dan aku akan menunggumu besok siang, diruanganku."
"Wah ... Luiz ... kau benar-benar tidak terbantahkan yah ..." ujar Leo sedikit berdecak mendengar ultimatum yang datar. "Kapan kau bisa mengalah dan bertoleransi dengan orang lain? aku juga kan ingin sekali-kali bisa mengaturmu ..."
"Apa kau bilang? kau ingin mengaturku ...?"
"Hanya sesekali saja ..."
"Boleh. Tapi dalam mimpimu!"
Tawa Leo kembali pecah berderai mendengar hentakan kalimat Luiz yang terdengar mulai kesal dengan jalannya obrolan mereka disore itu.
"Baiklah, besok aku akan datang menemuimu." putus Leo, kali ini nada suaranya terdengar serius.
"Memang harus begitu, kan?"
Leo berdecak kecil, tapi kemudian berucap perlahan. "Luiz ... mmmh, apa ... sekretarismu masih..."
"Victoria bukan sekretarisku. Dia sekretaris Uncle Her." jawab Luiz cepat, seolah tau pasti kemana arah pembicaraan Leo.
Detik berikutnya Luiz telah memutuskan panggilan itu secara sepihak, sementara nun jauh disana, Leo terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Yah, Victoria.
Sepenggal nama itulah yang membuat Leo enggan mendatangi Luiz ke kantornya.
Setelah kejadian malam itu, Victoria sempat menghubunginya diawal-awal. Namun seperti biasa Leo selalu menghindarinya, sama seperti yang selama ini ia lakukan pada setiap wanita.
Bermain-main, dan menghilang. Begitulah ...
Sama halnya dengan Victoria, gadis itu tau persis bahwa itu adalah resiko yang harus ia terima jika nekad memilih terlibat cinta satu malam dengan Leo. Karena jikalau sejak awal ingin memakai hati, sudah pasti Leo tidak akan pernah tertarik dengan Victoria, atau wanita manapun itu.
Bukan rahasia lagi jika Leo bukanlah pria yang menjadikan cinta sebagai sesuatu yang sakral.
Bagi Leo, semua aturan didalam hidupnya sudah jelas. Wanita adalah kebutuhan, dan popularitas adalah segalanya.
Hidup Leo milik semua orang yang menjadi penggemarnya, tidak mungkin dimonopoli oleh seorang wanita saja ...
...
Bersambung ...
__ADS_1