TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 40. Lebih Berhati-Hati


__ADS_3

Double up.


...


Luiz tidak habis pikir, bisa-bisanya Dasha tertawa disaat situasi yang telah begitu menegangkan, bahkan sesuatu yang berada dibawah sana pun telah ikut-ikutan menegang!


"Maaf Tuan, sungguh ... sebenarnya aku sama sekali tidak berniat tertawa, tapi aku ... aku benar-benar gugup ... aku juga tidak tau selanjutnya harus bagaimana, dan darimana aku memulainya ..." menjelaskan panjang lebar dengan wajah merona malu, namun tetap bercampur tawa.


"Keterlaluan ..." desis Luiz, yang tidak bisa lagi menyembunyikan sekesal apa dirinya saat ini. "Dasha, kau sadar tidak, bahwa kau sedang bermain-main dengan bahaya yang seperti apa?" wajah Luiz memerah saking dongkolnya.


Mendengar itu, Dasha menatap Luiz dengan tatapan bingung. Tawanya telah menghilang, berganti dengan keseriusan. "Bahaya? Bahaya apa ...?"


"Sudahlah. Kau tak akan mengerti!" cecar Luiz yang semakin dibuat keki, dengan sebuah kepolosan yang menggemaskan.


"Tapi aku merasa akan baik-baik saja, selama aku bersama Tuan, he ... he ... he ..." sekarang malah terkekeh dengan wajahnya yang tanpa dosa.


Bugh.


Menolak terus-menerus menjadi kesal, Luiz akhirnya memilih menghempaskan tubuhnya keatas ranjang dengan keras.


"Kancingkan piyamamu!" titah Luiz saat menyaksikan Dasha yang hendak beringsut memeluknya.


"Iya ... iya ..."


"Tidurlah, dan jangan coba-coba mengajakku bicara lagi. Kalau kau berani melanggarnya, kau akan tahu sendiri akibatnya!"


"Iya, Tuan ... iya ..."


Lagi-lagi menjawab acuh, namun didalam hati malah mencibir.


'Kenapa dia marah ...? Memangnya aku tidak boleh tertawa ...?'


Selesai mengaitkan seluruh kancing piyama seperti semula, Dasha pun beringsut merebahkan tubuhnya, langsung memeluk tubuh Luiz yang diam tak bergerak.


Kali ini, Dasha benar-benar patuh. Ia telah memejamkan matanya rapat-rapat, tidak lagi berani berulah, dan tidak lagi berusaha mengajak Luiz bicara.


Sementara Luiz yang awalnya sedikit kesulitan mengendalikan sebuah hasrat yang terlanjur menggelora, akhirnya bisa bernafas lega.


Sepertinya Luiz optimis, bahwa ia kembali bisa melewati malam yang penuh tantangan ini, dengan berpegang teguh pada keyakinan mula-mula.


Karena kedepannya, Luiz memang harus bisa mengendalikan dirinya dengan lebih baik lagi, dan terus berusaha agar tidak 'menyentuh' Dasha ... dalam arti yang sebenarnya ...


🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


"Dasha, apa mulutmu tidak sakit? Sejak pagi aku selalu melihatmu senyum-senyum sendiri seperti itu."


Dibawah sebatang pohon akasia yang rindang, Mona telah menghempaskan tubuhnya keatas bangku taman, yang berada tepat disebelah Dasha.


Siang itu cuaca cukup panas, sehingga meskipun sedang berada di jam istirahat, tidak begitu banyak siswa yang berada diluar ruangan seperti mereka berdua.


Namun meskipun demikian, ditengah lapangan basket tetap saja terlihat beberapa remaja pria yang nekad bermain basket dibawah terik matahari yang menyengat, dan salah satu satu dari beberapa remaja pria itu adalah Devon.


"Tentu saja mulutku tidak mungkin merasa sakit, karena saat ini aku sedang merasa sangat senang!"


Mona terlihat mencibir kearah Dasha. "Sudah pasti semua rasa senangmu itu ada hubungannya dengan Tuan Luiz, kan?"


"Ssssstt ..."


Jari telunjuk Dasha telah berada dipermukaan bibir Mona begitu saja, yang kemudian langsung menepis tangan Dasha dengan kesal.


"Mona, jangan sampai kau dan Devon membocorkan rahasia hubunganku dengan Tuan Luiz pada siapapun." bisik Dasha, kepalanya terlihat celingak-celinguk kesana kemari, seolah takut jika ada yang bisa menguping pembicaraan mereka.


"Kau tenang saja, aku dan Devon masih cukup waras, sehingga kami berdua tidak mungkin mengingkari janji kepada Tuan Luiz."


"Hhhh, aku lega mendengarnya ..." ujar Dasha, kembali menghempaskan tubuhnya keatas bangku taman, sambil mengusap dadanya berkali-kali.


"Kakakku telah diterima menjadi karyawan tetap tanpa kesulitan berarti, dan katanya, dia telah ditempatkan pada salah satu divisi yang bergengsi. Sementara ayah Devon dua hari yang lalu kembali mendapatkan promosi jabatan ..."


Mona mengangguk yakin.


"Jadi kalian berdua berpikir, bahwa itu semua karena campur tangan Tuan Luiz?"


Lagi-lagi Mona mengangguk. "Kalau bukan Tuan Luiz, lalu siapa lagi?" kilah Mona.


"Tapi Devon tidak mengatakan apapun kepada ayahnya, dan kau juga tidak mengatakan sesuatu kepada kakakmu, kan?" usut Dasha lagi masih dengan raut curiga.


"Kau tenang saja, Dasha. Kami berdua akan menjaga semua rahasia Tuan Luiz apapun yang terjadi. Devon malah berkata kepadaku, bahwa ia rela setia pada Tuan Luiz-mu itu sampai seumur hidupnya."


Dasha menatap Mona dengan tatapan mata berkaca-kaca. "Mona, aku bahkan tidak tahu masa depanku dengan Tuan Luiz akan seperti apa. Tapi satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan sahabat yang sangat pengertian seperti kau dan Devon ..."


Melihat pemandangan haru diwajah Dasha, refleks Mona telah memeluk bahu sahabatnya itu.


"Asal kau tahu, bahwa aku dan Devon sangat berharap hubungan kalian akan berhasil. Karena semua kebaikan Tuan Luiz, begitu berarti untuk kami berdua. Dasha, terima kasih, ini semua berkat dirimu. Semoga kau pun bisa mendapat kebahagiaanmu yang seutuhnya ..."


Dan keduanya pun berpelukan penuh haru, sebelum akhirnya tertawa bahagia.


"Baiklah, sekarang cepat katakan padaku apa sebabnya kau selalu tersenyum sepanjang hari?" tanya Mona lagi dengan raut wajahnya yang penasaran, begitu pelukan mereka berdua telah terurai.

__ADS_1


"Besok Tuan Luiz akan datang ..." bisik Dasha dengan senyum malu-malu.


"Benarkah ...? Ciee ... cie ..."


Dasha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan rona yang bersemu merah saat menerima godaan Mona.


"Pantas saja wajahmu selalu berseri, rupanya sang pangeran akan segera kembali ..."


"Mona, hentikan. Apa kau sengaja ingin membuatku mati menahan malu?"


Mendengar rengekan itu, tawa Mona telah pecah membahana.


"Heh, Dasha, aku peringatkan padamu, kelak jika ada Tuan Luiz, kau jangan lagi nekad menyelinap ke dalam kamarnya, bisa-bisa hubungan kalian akan ketahuan." nasehat Mona, yang seolah terang-terangan menyindir kenekadan sahabat, yang sedang berada dihadapannya ini.


Dasha tersenyum mendengarnya. Kalimat Mona itu, seolah membuat Dasha kembali mengenang kejadian lucu yang sempat terjadi pada hari terakhir mereka berada di apartemen Luiz pada beberapa hari yang lalu.


Dini hari saat Mona tersentak bangun, Mona baru sadar jika Dasha tidak berada dikamar yang mereka tempati berdua itu.


Meskipun sedikit panik, namun Mona masih berusaha untuk mencari keberadaan Dasha di kamar mandi, ruang tamu, meja makan, dan terakhir ... dapur, namun hasilnya nihil, Mona tidak menemukan Dasha dimana-mana!


Ragu, Mona akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar Devon. Devon yang membuka pintu dengan mata memerah penuh kantuk itu tak kalah kaget mendengar penjelasan Mona tentang sosok Dasha yang tak kunjung ditemukan berada dimanapun.


Alhasil tanpa berpikir panjang, mereka berdua telah berlomba-lomba menaiki tangga menuju kekamar Luiz, tanpa berpikir dua kali!


Panik, bercampur gugup dan tergesa, Devon dan Mona sudah tak lebih dari pasukan yang hendak menyerbu sarang penyamun, mengagetkan Tuan Luiz yang tersentak bangun dengan rasa terkejut yang luar biasa.


"Tuaaannn ... Tuaaann Luiiiizzz ... Dasha hilaaaangg ...!!"


Begitu teriakan Mona yang telah sepenuhnya histeris, berlari tunggang langgang seperti sedang dikejar hantu, dengan Devon yang juga berada disampingnya dengan raut wajah sepucat kapas.


Namun betapa terkejut dan malunya Devon dan Mona manakala melihat Dasha yang ternyata berada didalam kamar Luiz, tertidur nyaman sambil berpelukan, sebelum akhirnya keduanya terlonjak bersamaan akibat serangan Devon dan Mona!


Dasha senyam-senyum saat moment lucu tersebut kembali melintas dibenaknya.


Detik berikutnya ia telah mengerling nakal kearah Mona, sambil berucap dengan nada berbisik ...


"Mona, kau tenang saja, kelak jika aku ingin menyelinap kekamar Tuan Luiz, aku pasti akan melakukannya dengan lebih berhati-hati ..."


"Dasha, kau ..."


Tawa renyah Dasha berderai sempurna, seiring dengan sepasang mata Mona yang seolah hendak keluar dari cangkangnya ...


... NEXT

__ADS_1


__ADS_2