TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 47. Diatas Pangkuan


__ADS_3

"Daddy tidak masalah kalian mau mengundang siapapun, tapi lainkali kalian harus bisa membedakannya. Pesta kali ini bisa dibilang hanyalah pesta keluarga dan kerabat dekat saja, tapi karena kalian berdua telah mengundang teman-teman kalian, akhirnya justru Victoria yang tidak bisa ikut serta ..."


Pesta benar-benar telah usai, manakala Arshlan telah bicara panjang lebar, sekaligus memberi petuah khusus untuk Leo dan Dasha yang tertunduk dalam diam.


Arshlan memang kecewa mendapati bahwa ketidakhadiran menantunya adalah karena adanya awak media yang ikut serta akibat undangan Leo, begitupun dengan kehadiran teman-teman Dasha yang datang karena kehadiran Lisa idola mereka.


Maafkan aku, Tuan, karena aku terlalu senang bisa bertemu Nona Lisa, aku jadi melupakan hal yang sangat penting ..." wajah Dasha terlihat dipenuhi penyesalan, sepasang matanya pun ikut bertelaga.


Melihat pemandangan itu membuat Lana tidak tega melihatnya sehinngga merengkuh bahu Dasha yang berdiri rapuh.


"Sudahlah, Dasha, jangan bersedih. Tapi lain kali kau harus bisa membedakan, dan jangan mengulanginya lagi."


"Iya, Nyonya, aku akan mengingatnya."


Lana mengangguk, mendengar kesungguhan dibalik kalimat lirih Dasha.


"Aku juga minta maaf, Dadd, sungguh aku tidak bermaksud membuat Victoria tidak bisa berbaur di pesta ini, aku malah berpikir dia sedang tidak enak badan sehingga tidak terlihat sepanjang pesta ..."


"Kau ini, kapan kau bisa lebih perhatian kepada istrimu sendiri?"


"Maafkan aku, Dadd," Leo tertunduk lesu.


Sungguh Leo tidak berbohong, dirinya pun bahkan tidak menyadari ketidak hadiran Victoria karena terlalu sibuk berbincang dan bercanda dengan rekan-rekannya hingga di penghujung acara


"Sudahlah, lain kali, kau juga harus lebih peka. Jangan abaikan istrimu lagi, apalagi di moment keluarga seperti ini ..." pungkas Arshlan, yang disambut anggukan kepala oleh Leo.


🌸🌸🌸🌸🌸


'Gadis itu pasti sangat sedih ...'


Diam-diam ekor mata Luiz telah mengawasi langkah lesu Dasha yang sedang mengekori langkah Leo, hendak menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dua.


Leo terlihat melangkah dengan tangan terangkat, sedang memijat ujung pelipisnya, sedangkan Dasha terus tertunduk dalam, menandakan penyesalannya yang juga mendalam.


Sesungguhnya sejak pesta dimulai Luiz pun telah menyadari ketidakhadiran Victoria, namun dirinya enggan bertanya demi menghindari kesalahpahaman.


Luiz harus bisa menjaga perasaan Leo, terlebih lagi tidak ingin membuat cemburu Dasha, kekasih kecilnya.


Pada intinya Luiz tidak ingin terlihat bahwa ia masih memberi perhatian kepada Victoria, meskipun yang ia lakukan hanya sebatas kewajaran.


"Luiz, sebaiknya kau juga beristirahat."


"Iya, Dadd, aku memang harus beristirahat secepatnya karena besok pagi aku akan pergi ke kantor pusat, dan langsung bekerja."


"Kau tidak ingin beristirahat sehari atau dua hari ...?"


Luiz menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dadd. Aku lebih baik bekerja daripada harus beristirahat terlalu lama. Tubuhku sakit kalau terlalu banyak tidur dan tidak bekerja ..."


"Baguslah. Kau memang persis Daddy, pekerja keras!" Arshlan menepuk bahu Luiz dengan bangga.

__ADS_1


"Tentu saja persis dirimu, sayang. Memangnya mau persis siapa lagi ...?"


Selorohan ringan dari Lana itupun akhirnya telah menghasilkan tawa kecil dibibir Arshlan dan Luiz, secara bersamaan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Saat Leo membuka pintu kamarnya, situasi kamar tersebut telah temaram.


Tubuh Victoria yang terbaring menghadap kearah dinding seolah membentuk sebuah Siluet.


Leo membuka stelan jasnya perlahan, melemparnya keatas sofa yang ada didekat jendela begitu saja. Kemudian jemarinya mengendurkan dasi, melemparkannya kembali ke arah yang sama.


Leo berjalan gontai kearah kamar mandi dengan jemari yang juga bergerak, membuka kancing kemejanya satu persatu.


Sejak tadi Leo telah merasa jika kepalanya sedikit pening.


Beberapa hari terakhir ini jadwal Leo sangatlah padat, membuatnya kurang tidur sehingga tubuhnya pun merasa sedikit tidak enakan.


Ditambah lagi dengan efek champagne selama pesta barusan membuat kepala Leo semakin pening saja.


Sementara itu ...


Begitu mendengar bunyi handle pintu yang dibuka dari luar, Victoria yang baru saja menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur dengan serta merta membalikkan tubuhnya menghadap kearah dinding.


'Itu pasti Leo ...'


Dalam hati Victoria bergumam.


Sejak sore Victoria tidak lagi beranjak kemana-mana. Hanya berdiam diri dikamar mengutak-atik ponsel, sampai Victoria merasa bosan sendiri, lalu memutuskan merebahkan tubuhnya keatas ranjang, mencoba mengusir segenap rasa kesedihan yang senantiasa singgah di bilik hati.


Moment keluarga seperti ini sangat jarang terjadi, dan seharusnya menjadi satu-satunya kesempatan untuk Victoria dalam mencari celah, mendapatkan sedikit tempat di hati setiap anggota keluarga yang hebat ini.


Namun apa boleh buat, dengan mudahnya Dasha dan Leo telah menghancurkan semua kesempatan itu tak bersisa.


Didalam rumah ini, Tuan Arshlan menjadi satu-satunya orang yang wellcome dengan kehadirannya, karena Nyonya Lana belum juga bisa menerima kehadirannya, sedangkan Luiz yang dulunya sangat baik, kini telah menjadi orang yang asing bagi dirinya.


Setelah beberapa saat hanya ada keheningan, bunyi pintu kamar mandi yang terbuka telah membuat Victoria semakin berdiam diri tak bereaksi. Berpura-pura tertidur.


"Vic ... kau sudah tidur?" suara Leo terdengar seiring dengan naiknya pria itu keatas ranjang yang sama dengan Victoria.


Hening.


"Vic ..." kali ini tepat dibelakang punggung Victoria, sehingga nafas hangat beraroma pasta gigi yang segar, berkolaborasi unik dengan aroma champagne yang masih tertinggal meskipun samar, menerpa tengkuk Victoria yang meremang.


Leo menghembuskan nafasnya perlahan. "Aku tau kau belum tidur, melainkan sangat marah ..."


Sebelah lengan Leo berusaha menyelusup melewati leher Victoria, agar ia bisa dengan mudah membawa wanita itu kedalam pelukannya.


"I'm so sorry ..." bisik Leo lagi perlahan, meskipun sejak awal, setiap ucapannya tidak ada satupun yang berbalas. "Karena aku terlanjur mengundang teman-temanku ... aku lupa kalau kau ..."

__ADS_1


"Leo, sudahlah. Aku mengantuk, jangan bicara lagi ..." pungkas Victoria tanpa menoleh, namun ternyata kalimatnya cukup ampuh karena pada akhirnya Leo tidak bicara lagi. Hanya memeluk dalam diam.


'Tumben kedua tangannya diam saja. Biasanya kalau sudah seperti ini sudah melanglang buana kesana-kemari ...'


Victoria membathin saat menyadari tangan nakal Leo kali ini seolah tidak memilki kekuatan untuk berpetualangan, selain merengkuh tanpa suara


'Kenapa dia diam saja? Apakah dia tidur ...? Tapi ... masa iya Leo bisa tidur secepat itu ...?'


Perlahan Victoria merasakan tubuhnya dialiri hawa panas.


'Kenapa rasanya gerah sekali? Apa ac-nya mati ...? Kenapa suhu tubuhku ..."


Saat Victoria bergerak sedikit, tangannya telah menyentuh lengan Leo yang melingkar disana.


Hangat.


Menyadari hal itu Victoria refleks berbalik, mendapati wajah kuyu Leo yang berada begitu dekat dengan wajahnya.


"Tubuhmu panas, kau sakit ya?"


Leo menggeleng lesu. "Hanya sedikit tidak enak badan, mungkin karena terlalu lelah ..."


"Aku akan menelpon dokter ..." Victoria bergegas bangkit, namun saat hendak beranjak dari atas tempat tidur, pergelangan tangannya keburu dicekal.


"Tidak perlu."


"Tapi ..."


"Minum sebutir aspirin nanti juga sembuh ..."


"Dalam keadaan mabuk, tidak boleh minum aspirin ..."


"Kalau begitu menelpon dokter pun percuma."


"Tapi ..."


"Kemarilah dan pijat saja kepalaku."


Victoria membisu, terlebih saat tangannya yang berada dalam genggaman Leo perlahan dibawa keatas kepala pria itu, yang kini telah memejamkan matanya.


Meskipun sedikit bimbang akhirnya Victoria pun menuruti keinginan Leo, mengurungkan niatnya yang hendak beranjak.


Perlahan jemari Victoria telah bergerak menelusuri helai demi helai rambut Leo yang hitam dan sedikit bergelombang, berusaha memijat kulit kepala itu dengan hati-hati.


Belum ada beberapa saat melakukannya, Victoria kembali dikejutkan manakala tubuh Leo beringsut mendekat, dan pria itu telah menaruh kepalanya diatas pangkuan Victoria begitu saja, masih dengan sepasang mata yang terpejam ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa di Like, comment, subscribe, beri hadiah, dan Vote yah πŸ€—


__ADS_2