
Yang belum baca karya aq yang lain mampir yuk π€
- Ceo Tampan dan Istri Rahasia
- PASUTRI
Semuanya TAMAT loh ... yuks π
...
"Tuan Leo, bisa tidak aku ikut serta denganmu ke ranch besok pagi?" Victoria berucap sambil bangkit dari ranjang.
Tubuhnya yang polos menempel dengan sengaja saat ia melingkarkan kedua lengannya, guna memeluk punggung Leo yang juga polos dari belakang, usai beberapa ronde percintaan yang dashyat diantara mereka telah usai.
Leo yang duduk ditepian ranjang sambil menyalakan sebatang rokok terlihat langsung menggelengkan kepalanya tanda penolakan.
"Aku tidak mungkin datang kesana bersamamu." pungkas Leo acuh.
"Tapi aku punya alasan untuk datang kesana."
"Kau ini bicara apa, Vic ..." desis Leo tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku memiliki beberapa dokumen dari Tuan Her untuk ditandatangani oleh Tuan Arshlan." kilah Victoria lagi, berharap dengan mengatakan hal itu Leo mau berbaik hati dan mengijinkan dirinya ikut serta.
Sesungguhnya Victoria sangat ingin kembali berkunjung kesana. Victoria sangat suka berada di Ranch milik Tuan Arshlan karena suasananya yang alami, terlebih lagi karena disana ada Luiz.
Yah, Luiz.
Diwaktu yang lalu Victoria pernah dua kali pergi kesana bersama Luiz, tentu saja dalam rangka pekerjaan yang membutuhkan persetujuan langsung dari Tuan Arshlan, yang kebetulan tidak bisa didelegasikan.
Dua kali berkunjung, dan Victoria tidak pernah bertemu Leo disana. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Victoria sangat bahagia menghabiskan weekend yang menyenangkan bersama kedua orang tua Luiz dan Leo.
Dimalam hari mereka semua akan berpesta barbeque dan minum champagne, dan dihari minggu pagi, dirinya dan Luiz akan berkuda melintasi padang rumput yang luas, sambil tak lupa mendatangi sebuah sungai kecil yang indah, yang letaknya berada tepat dikaki bukit.
Masa-masa itu terasa sangat menyenangkan.
Gambaran hubungan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana yang tetap mesra diusia senja juga bak sebuah magnet yang menarik untuk disaksikan, terlebih dengan adanya perbedaan jarak usia hingga dua puluh tahun sesuai cerita Nyonya Lana.
Victoria tidak heran mengapa Luiz dan Leo sangat tampan, itu karena gen Tuan Arshlan yang dominan, ditambah dengan kecantikan Nyonya Lana yang merupakan gambaran sempurna seorang wanita bahagia, yang hidupnya begitu lengkap karena dikelilingi tiga pria tampan yang sudah pasti sangat mencintainya.
__ADS_1
Hari ini, Victoria tau harapannya untuk kembali bersama Luiz, dan menjadi bagian dari kebahagiaan yang pernah ia lewati itu telah semakin menipis. Namun sisi hatinya tidak bisa berbohong.
Victoria sangat menyukai Luiz, pria dingin berkulit pucat seperti ibunya itu.
Kalau saja Victoria tidak membuat kecorobohan sehingga bermain api dengan Leo, tidak menutup kemungkinan hari ini dirinya bisa menggapai hati Luiz yang kala itu telah terang-terangan memperlakukan dirinya dengan istimewa.
Luiz tidak pernah tersentuh oleh siapapun, dan waktu itu Victoria adalah satu-satunya sosok yang bisa menyentuh hati pria itu, sekaligus satu-satunya wanita dalam hidup Luiz yang dingin.
Namun saat ini dimata Luiz, Victoria sudah tak ubahnya udara yang tak terlihat, ditambah lagi dengan kehadiran bocah cilik bernama Dasha yang begitu suka mencari perhatian disetiap saat, membuat Luiz seolah tidak punya waktu meski hanya sekedar menatap Victoria.
Buah dari kebodohan dan naf su sesaat lalu, akhirnya membuat Victoria kehilangan berlian. Hari ini Victoria bahkan merasa masa depannya semakin buruk, terlebih saat menyadari, bahwa lagi-lagi, ia kembali terbangun diatas ranjang Leo.
Yah, Leo. Saudara kembar Luiz yang sejak awal tidak pernah sedikitpun menatapnya dengan secuil rasa sayang, apalagi cinta.
'Victoria, masa depanmu sungguh suram ...'
Victoria membathin, masih dengan jari telunjuk yang terus saja menyusuri punggung Leo seinchi demi seinchi.
"Baiklah Vic, kalau kau memang memiliki kepentingan dengan Daddy, kau boleh ikut. Tapi ingat, kau harus menjaga jarakmu. Aku tidak ingin ada yang curiga dengan hubungan kita yang sebenarnya."
Victoria menelan ludahnya kelu menerima ucapan Leo yang menyakitkan.
Demikianlah jawaban Victoria. Hatinya ngilu saat mengucapkannya, tapi bibirnya tetap tersenyum saat Leo menoleh, dengan tatapan yang tanpa riak.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam benar-benar sudah sangat larut, namun Luiz belum juga bisa memejamkan matanya sedetikpun.
Hatinya sungguh gundah, terlebih saat menyadari ia tidak bisa menghilangkan seraut wajah Dasha yang ketakutan, saat Luiz menemukannya pertama kali dilantai toilet yang dingin dan lembab.
Meskipun tadi Mommy Lana telah mengatakan bahwa kondisi Dasha terlihat membaik, tapi entah kenapa Luiz meragukannya.
Luiz mengetahui dengan persis apa yang telah dialami Dasha, karena Luiz berada disana.
Rasanya mustahil jika semudah itu ingatan yang begitu buruk bisa lekang dari benak, apalagi wujud pria paruh baya itu terlihat sangat jelek dan menakutkan.
Lelah membolak-balikkan badannya diatas ranjang, membuat Luiz akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tidurnya.
Tubuhnya yang selalu tidur dengan bertelan jang dada tengah menyeret langkahnya untuk menyambar kaos yang tergeletak disandaran kursi terlebih dahulu, sebelum kemudian beranjak mendekati pintu kamar.
__ADS_1
Luiz memang telah memutuskan untuk keluar dari kamar. Berniat menyegarkan pikirannya diluar sana, sembari membayangkan tetesan embun malam, dan ia bisa menghirup aroma tanah, daun, serta rerumputan yang segar, berharap sejuknya udara kelak mampu mengikis segala pikirannya yang kacau disertai beban berat dipundaknya.
Sepasang kaki Luiz yang sedang melangkah gontai melintasi ruang tengah, telah terhenti begitu saja ditengah kesunyian.
Sebuah pintu yang terkatup rapat telah menarik perhatian Luiz terlebih dahulu, membuat kakinya bebelok arah dan mendekat kesana, seiring dengan telinganya yang mendengar sayup-sayup suara isak tangis yang tertahan.
'Dasha ...?'
'Itu adalah suara Dasha ...'
'Dasha sedang ... menangis ...?'
Luiz tertegun tepat didepan daun pintu. Dirinya sempat bimbang saat menyadari jarum jam besar yang menempel disalah satu dinding ruangan tempatnya berpijak telah menunjukkan pukul satu dinihari, namun suara isak tangis yang teramat sangat lirih itu membuat jiwa Luiz meronta tak terkendali.
Dengan memberanikan diri, Luiz memutar gagang pintu kamar yang memang tidak terkunci.
Suasana kamar itu sedikit temaram, namun Luiz bisa melihat dengan jelas bagaimana hebatnya punggung mungil Dasha yang turun naik sambil menelungkup diatas bantal.
Jantung Luiz seolah dipompa dengan keras mendapati pemandangan menyesakkan, yang telah membuat seluruh tubuhnya menggigil, tidak bisa lagi menahan keinginan hatinya untuk mendekat.
"Dasha ..."
Panggilan Luiz terdengar sangatlah perlahan, namun tubuh mungil Dasha telah terjingkat begitu mendengar suara berat dari sosok penyelamat hidup serta masa depannya, yang entah kenapa malam ini begitu Dasha rindukan.
Saat berbalik, seluruh rasa was-was yang sempat membuat Dasha meragu jika yang barusan memanggil namanya benar-benar Luiz, langsung menguap begitu saja.
"T-Tuan Luiz ...?!"
Penampakan sosok tinggi besar Luiz yang berada diantara temaram, telah membuat Dasha melompat bangun.
Kemudian, dengan berdiri diatas ranjangnya, kedua tangan mungil Dasha telah melingkari leher Luiz untuk memeluk, dan tangisnya kembali pecah didada Luiz yang masih berdiri mematung, sedikit kaget dengan reaksi Dasha yang begitu spontan.
"Dasha, ada apa? kenapa kau menangis seperti ini?"
"Tuan, aku takut ... aku takut ..."
Luiz menarik nafasnya berat, mendengar kalimat Dasha yang bergetar jelas, diantara isak tangisnya yang tertahan.
Tanpa sadar kedua lengan Luiz ikut melingkari tubuh Dasha yang melekat erat ditubuhnya, sebelah tangannya terangkat guna mengusap punggung yang sesegukan.
__ADS_1
... NEXT