
"Lalu kenapa kalian muncul dari sana?" ujar Lana begitu tawanya sedikit mereda.
"Setelah kacanya pecah, Tuan muda Leo ingin lari bersembunyi, makanya aku mengejarnya, Nyonya ..."
Lana harus percaya, karena semuanya tergambar dengan begitu jelas dari wajah suster Eni yang memerah dan berkeringat, seolah menandakan sekeras apa dia berusaha menaklukkan Leo yang terkenal dengan kelincahannya.
"Astaga, Leo ... sayang ... anak mommy yang baik ..." bujuk Lana seperti biasa dengan kalimat yang manis serta diwarnai senyum, meski setelahnya ia telah sedikit menggelengkan kepalanya untuk mengusir pening yang mendadak menyerang saat menyadari ulah Leo.
Leo yang berada dalam gendongan suster Eni itu terlihat tersenyum lebar, bocah itu seolah tau persis bahwa ia telah berhasil membuat sang Mommy kembali merasa khawatir dan sakit kepala.
"Dimana suster Mia?" tanya Lana lagi saat menyadari seorang suster yang bernama Mia tidak berada diantara mereka.
"Sejak pagi sepertinya suster Mia mengalami masalah gangguan pada pencernaan, Nyonya. Dia terus-menerus bolak-balik toilet sepanjang hari ..." terang suster Eni.
"Kalau sedang tidak enak badan sebaiknya beristirahat, jangan memaksakan diri bekerja." ujar Lana perlahan.
"Nyonya Lana, sebaiknya Nyonya masuk kedalam, biarkan para maid yang akan membereskan semuanya."
Lana mengangguk, mengiyakan kalimat Asisten Jo yang kini telah berdiri tepat disampingnya.
"Baiklah, sekarang ayo kita masuk saja kedalam dan lupakan semuanya. Lagi pula waktu bermain telah usai. Sudah saatnya kalian mandi karena daddy kalian akan tiba dirumah tidak lama lagi." putus Lana sambil berbalik badan, masih sambil memeluk Luiz yang sejak tadi berada dalam gendongannya, sementara suster Eni yang memeluk Leo pun mengikuti Lana dari belakang, dengan langkah yang sigap.
🍄🍄🍄🍄🍄
"Semua kacanya sudah selesai diganti."
Lana yang semula duduk manis tepat didepan meja rias langsung menoleh keasal suara berat milik Arshlan, yang terucap mengiringi langkah tegas pria itu memasuki kamar mereka yang luas.
"Semuanya?" tanya Lana dengan dahi mengerinyit.
__ADS_1
"Hhmm ..."
"Semuanya ...?" ulang Lana lagi seolah meragukan pendengarannya sendiri.
"Iya, semuanya. Memangnya kenapa?"
"Hanya satu kaca yang pecah, lalu kenapa repot-repot mengganti semua kaca jendela?"
"Aku menggantinya dengan kaca yang berkualitas lebih baik dari sebelumnya. Aku benar-benar tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi."
Lana menggeleng dengan raut wajah yang pesimis. "Tidak mungkin tidak terjadi lagi."
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Sayang, kau tau sendiri kan kalau Leo selalu saja melakukan hal yang diluar kendali dan ..."
"Aku tidak bicara tentang apa yang dilakukan Leo, tapi tentang kaca jendelanya." pungkas Arshlan acuh.
"Kedepannya jika Leo kembali menendang bola dengan keras dan mengenai kaca jendela, maka tidak akan ada lagi kejadian kaca yang pecah karena kualitas kaca yang buruk. Itu sangat berbahaya untuk Luiz, Leo, dan kau juga tentunya."
Lana menggelengkan kepalanya berkali-kali saat menyadari ia telah salah memaknai. Ternyata Arshlan sama sekali tidak sedang membahas tentang kenakalan Leo, melainkan kekhawatiran pria itu hanya berfokus pada keselamatan mereka bertiga saja yang telah mengusiknya akibat pecahnya sebuah kaca jendela sore tadi.
Menyadari hal itu rasanya Lana ingin tertawa.
Lagi-lagi Lana harus mengakuinya bahwa seperti inilah sikap asli seorang Tuan Arshlan jika menyangkut orang-orang yang ia sayangi.
Bagi Arshlan sudah jelas, apapun yang terjadi, sampai kapanpun Arshlan tidak akan pernah menyalahkan orang yang ia kasihi.
Lana ... dan tentu saja si kembar.
__ADS_1
Sebaliknya pria itu akan terus berusaha melindungi dengan berbagai cara, memberikan kenyamanan tanpa batas, tidak pernah menganggap setiap kejadian buruk apapun sebagai sebuah kesalahan.
Tidak pernah.
Arshlan benar-benar tidak pernah merasa jika ulah si kembar menyusahkannya atau sekedar mengusiknya.
Sebaliknya Arshlan seolah sangat menikmati moment demi moment ketegangan yang terus terjadi setiap hari, sepanjang waktu, seiring dengan tumbuh kembang si kembar yang terus bertumbuh besar, lengkap dengan semua problematika yang terjadi.
Leo tumbuh menjadi anak yang super aktif, sementara Luiz adalah kebalikannya seratus delapan puluh derajat.
Sikap Luiz sangat dingin dan senantiasa berperilaku tak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Tapi kendati pun demikian, tak sedikitpun Arshlan menganggap semua hal yang menyangkut Luiz dan Leo sebagai perilaku yang bisa membuatnya dirinya was-was.
"Mereka adalah putra kembar kebanggaanku, dan aku adalah Tuan Arshlan. Kalau mereka berbeda dengan anak-anak lainnya itu wajar saja, karena mereka adalah anak-anak yang istimewa ..."
Itu adalah statement Arshlan untuk menenangkan Lana, setiap kali Lana mengutarakan kekhawatiranya sebagai seorang Ibu.
Lana mengakui, yang dikatakan Arshlan tentu saja benar.
Arshlan adalah sosok pria hebat yang punya segalanya, tak heran jika dia bisa memanjakan kedua putranya tanpa batas, sehingga Luiz dan Leo bisa melakukan apapun yang mereka inginkan sesuai kemauan kedua bocah itu.
Memecahkan kaca tidak seberapa, karena daftar panjang rentetan hasil aktifitas si kembar masih sangat banyak untuk dibahas satu-persatu.
Tak jarang Lana merasa khawatir dengan sikap si kembar yang begitu kontras, namun tidak peduli pada apapun, Arshlan justru selalu menganggap semua yang ada didiri kedua putra kembarnya adalah sesuatu yang normal, cenderung hebat.
'Dia benar-benar daddy yang luar biasa ...'
...
__ADS_1
*Triple up wajib di l**ike and support kencang dulu, baru bisa di-next yah* ... 🥰