TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 117. Merona


__ADS_3

Double up loh hari ini ... πŸ€—


Support yang kenceng, jangan lupa di Vote juga πŸ˜€


Cekidooot ... 😘


...


"Ssshh ... awww ... perihhh ..." tanpa sadar Florensia meremas kuat-kuat lengan El, yang sejak tadi terus berdiri tepat disisinya, sedetik pun tak pernah menjauh.


"Tahan sedikit yah, Nona Flo, memang kalau dibersihkan untuk yang pertama kali rasanya agak sedikit perih."


"I-iya dokter, tapi rasanya ... ssshh ..."


Dokter Nia tersenyum. "Maafkan aku, Nona. Tapi aku harus benar-benar memastikan bahwa tidak ada debu dan kotoran yang menempel di luka sebelum di oles salep. Karena meskipun luka ini terbilang kecil dan tak seberapa, tapi tetap saja kalau tidak dibersihkan dengan baik, bisa saja terjadi infeksi di kemudian hari."


Dokter Nia, yang merupakan dokter wanita yang mereka temui di klinik terdekat itu berucap lembut, sambil tangannya terus bergerak guna membersihkan luka lecet yang menghiasi kedua lutut Florensia.


"Dok, apakah dokter yakin kalau lukanya tidak apa-apa?" tanya El kembali memastikan, saat ia melihat Florensia yang kembali meremas lengannya sambil terus meringis menahan perih.


"Tidak perlu khawatir, Tuan El, ini hanya lecet sedikit. Nanti setelah dibersihkan saya akan mengoleskan salep antibiotik, dan akan saya berikan juga obat pereda nyeri yang bisa diminum jika memang merasa diperlukan ..."


Mendengar jawaban ramah dari dokter Nia, El merasa cukup lega. Namun lagi-lagi El kembali prihatin begitu ia menatap wajah Florensia yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Aaaaa ... aduhhh ... aduuhh ..."


"Sssstt ... Flo, tenang yah,"


El refleks merengkuh Florensia yang kembali mengaduh. Berharap dengan pelukannya yang dipenuhi cinta dapat membantu meredakan sakit sekaligus menenangkan wanita itu.


"Bersabarlah ... tahan sedikit lagi ..."


"Tapi ini sakit, El ..." rengek Florensia dengan sepasang mata berembun.


"Iya, sayang, iya ... sabar yah ..." bujuk El lembut seraya mengusap sebelah pipi kemudian rambut halus milik Florensia, sebelum akhirnya kembali membawa wanita itu kedalam pelukannya.


Jantung Florensia sontak berdebar mendengar panggilan 'Sayang' yang diucapkan El tanpa canggung sedikitpun, dan ia juga baru tersadar bahwa saat ini tubuhnya bahkan ikut merasa tenteram saat berada dalam pelukan pria itu seutuhnya.

__ADS_1


Mendadak Florensia jadi sedikit malu dihadapan dokter Nia.


Florensia tidak tahu bahwa sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang merona mendengar perkataan El yang mendayu, serta kelembutan sikap El.


Dokter Nia yang menangani Florensia pun bahkan ikut tersenyum simpul menyaksikan adegan super manis yang sedang terjadi didepan matanya itu.


"Okeee ... selesai ..."


Suara bernada lega dari dokter Nia seolah membuyarkan keheningan yang sempat bertahta beberapa saat, dimana El dan Florensia masih saling berpelukan dalam diam.


Namun meskipun dalam diam, sebenarnya mereka berdua, masing-masing justru sedang sibuk mendengar debar jantung yang iramanya berdetak kencang satu sama lain.


Florensia memberanikan diri mengangkat kepalanya sedikit, guna mengintip kondisi kedua lututnya.


"Dokter, kenapa lukanya tidak diperban saja ...?" tanya Florensia yang kembali bergidik, begitu melihat bekas luka lecet yang menghiasi kedua lututnya yang telah tertutup salep.


Dokter itu tersenyum mendengar pertanyaan polos Florensia.


"Lukanya sengaja tidak diperban, karena luka lecet umumnya dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu beberapa hari. Bahkan dengan membiarkan area kulit tersebut seperti itu, memudahkan lukanya kering dalam semalam."


Florensia terdiam. Ia memilih tidak lagi mengungkapkan rasa tak nyamannya, saat melihat kondisi lututnya sendiri.


El seolah bisa membaca apa yang sedang bercokol dalam benak Florensia, bahwa Florensia memang merasa ngeri melihat penampakan luka yang ada dikedua lututnya, sekalipun luka itu telah dibersihkan dan tidak lagi mengeluarkan darah.


"Tuan El, tolong pastikan bahwa istri anda bisa menghindari aktivitas, serta jenis pakaian yang dapat menyebabkan gesekan pada lututnya." pesan dokter Nia kemudian, sambil menatap El yang langsung mengangguk mengiyakan, berbeda dengan Florensia yang tidak bisa menahan diri untuk mengejanya.


"I-istri ...?"


Dokter Nia yang ada dihadapan mereka pun sedikit terhenyak, kemudian menatap El dan Florensia berganti-ganti seolah ingin memastikan sesuatu.


"Ohh ...? Maaf ... maaf ... aku pikir kalian sudah ..."


"Tidak apa-apa dokter. Untuk saat ini, Nona Florensia memang bukan istriku, tapi lebih tepatnya calon istri ..." ujar El dengan begitu bangganya dan penuh percaya diri, sambil memeluk bahu Florensia yang tersenyum kikuk.


"Oohh ... benarkah? Wah, kalau begitu selamat untuk kalian berdua, semoga secepatnya bisa menuju pelaminan ..." dokter Nia berucap tulus, sambil menatap takjub kearah El dan Florensia berganti-ganti.


Dalam hati dokter Nia tak henti memuji pasangan yang terlihat sangat serasi itu.

__ADS_1


Yang prianya tampan dan penyayang ...


Wanitanya cantik dan manja ...


Sungguh pasangan yang sangat ideal, serasi dan terlihat saling melengkapi.


"El, kau bicara apa?" desis Florensia perlahan dengan wajah yang dipenuhi semburat berwarna merah merona.


Malu, namun Florensia juga tak bisa menyangkal bahwa kalimat El barusan teramat manis dan juga sukses membuat dirinya salting.


"Tidak usah malu, karena membagi kebahagiaan itu termasuk pahala. Bukankah begitu dokter ...?"


Dokter Nia terlihat mengangguk lagi sambil tak henti mengurai senyum, mendapati wajah el yang semakin berseri-seri.


Beda halnya dengan wajah Florensia, yang karena ulah usil El, sukses membuat wajah itu semakin merona ... dan terus merona ...


🌸🌸🌸🌸🌸


Seiring dengan mobil Luiz yang terparkir di tanah yang lapang, saat itu juga Dasha terlihat terhenyak ditempatnya.


Seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, kepala Dasha pun sontak menoleh kearah Luiz yang diam membisu di sampingnya.


"T-Tuan ... apa ... apa arti semua ini?"


Luiz membuang wajahnya kesamping, berusaha tak peduli dengan pertanyaan Dasha.


Namun sikap acuh tak acuh Luiz tersebut tidak serta-merta membuat tekad Dasha memudar, malah sebaliknya.


Dengan keyakinan penuh Dasha keluar dari mobil Luiz dan berlari kecil, mendekat kearah sebuah pondok mungil yang tepat di bagian depannya tertulis sebuah ucapan berhiaskan lampu berkelap-kelip.


'Happy Graduation Day, My Future Wife'.


Luiz ikut beringsut turun dari mobil sambil memijat pelan pelipisnya, begitu ia membaca kalimat indah tersebut.


Luiz memutuskan untuk tidak mendekat, melainkan hanya bersandar di pintu mobil dengan pikiran kalut.


... NEXT

__ADS_1


Sebelum NEXT jangan lupa kasih otor LIKE and Support dulu yah πŸ€—


__ADS_2