TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
18. BLACK IVORY COFFEE


__ADS_3

Saat Arshlan keluar dari kamar mandi ia masih mendapati pemandangan yang sama, dimana Lana masih saja sibuk menatap kagum kearah beberapa lingerie sexy yang menjadi hadiah Marina untuknya tadi sore.


Arshlan berjalan mendekati Lana, kemudian menghempaskan tubuhnya tepat disamping wanita itu.


"Sayang, coba lihat ... bukankah semua model lingerie ini terlihat sangat menarik?" tanya Lana.


Arshlan menatap sejenak beberapa helai lingerie sexy yang sedang ditatap Lana berganti-ganti dengan penuh kekaguman. "Apapun itu semuanya pasti akan terlihat menarik jika kau yang memakainya, sayang."


"Tentu saja, itu karena tubuhku sangat indah, kan? kau saja tergila-gila ..." berucap genit sambil menempalkan sebuah lingerie berwarna merah menyala dengan potongan yang super sexy keatas tubuhnya, sambil bergerak-gerak gemulai dengan maksud menggoda.


Menyaksikan tingkah kenes Lana tak ayal membuat tawa Arshlan pecah berderai begitu saja.


"Kau ini ..." desis Arshlan gemas, sambil mengacak ubun-ubun Lana.


Untuk sejenak keduanya nampak bercanda ringan. Namun apapun topik pembicaraan mereka, pada akhirnya akan selalu bermuara pada hal yang sama, yakni pembahasan tentang hadiah Marina yang seolah tak pernah puas dikagumi oleh Lana.


"Ibu, paling tau apa yang aku mau."


Kali ini Arshlan tidak memberi tanggapan berarti. Ia terlihat diam saja, lebih memilih menyibukkan diri memainkan helai demi helai rambut lana yang tergerai bebas.


"Ibu juga sangat perhatian. Ibu tau kau menyukai kopi, dan ibu bahkan memberikan dirimu hadiah seistimewa itu, khusus untukmu."


Lagi-lagi Arshlan hanya diam. Tidak puas hanya memainkan helaian rambut Lana, kini Arshlan telah menenggelamkan wajahnya keleher Lana yang jenjang, menyesapnya penuh kelembutan.


"Oh iya, sayang, kenapa tadi saat berbicara tentang black ivory coffee, kau malah menyinggung soal kotoran? apa itu berarti proses pembuatannya sama seperti kopi luwak yang merupakan hasil dari proses pencernaan seekor musang?"

__ADS_1


Lagi-lagi, Lana masih saja betah bertanya hal yang sama, sementara Arshlan malah semakin betah memainkan bibir begitupun dengan ujung lidahnya disepanjang permukaan kulit leher Lana yang seputih susu.


Lana menggeliat sejenak mendapati sentuhan Arshlan yang terasa semakin menuntut, namun ia masih saja tidak bisa mengenyahkan rasa penasarannya.


"Mmhh ... sayang, bukankah 7,4 juta rupiah merupakan harga yang cukup mahal untuk satu pound biji kopi ...?"


"Hhhh ..."


Arshlan terdengar membuang nafasnya berat, ia telah menarik dirinya dari aktifitasnya yang sedang menjelajah.


"Lana, kapan kita akan berhenti bicara tentang hadiah ibumu?"


Lana terkekeh mendapati wajah mendamba Arshlan yang kini terkesan dongkol.


"Aku hanya penasaran saja," kilahnya dengan wajah tanpa dosa.


"Apa kau bilang? seekor gajah??"


Lana mendelik, sedangkan Arshlan malah mengangguk mengiyakan, membuat Lana semakin dibuat takjub.


"Pantas saja dipermukaan kemasan ada gambar gajah ditengah logo yang berwarna kuning keemasan. Ternyata memang berasal dari feses seekor gajah yah ..."


"Hhhmm, dan akibat proses fermentasi dan pencampuran protein dalam sistem pencernaan gajah maka rasa pahit dari olahan kopi tersebut akan jauh berkurang." ujar Arshlan kembali menambahkan.


"Jadi saat kau bilang kau tidak terlalu menyukainya, ternyata kau mengatakan yang sebenarnya?"

__ADS_1


"Tentu saja saat itu aku berkata yang sebenarnya. Kau bahkan tau persis bahwa aku memang tidak terlalu menyukai varian kopi seperti itu, lalu apa maksudmu menanyakan hal itu terus-menerus ...?"


Lana meringis kecil. "Aku ... awalnya aku berpikir kalau kau ... kau sengaja mengatakan tidak terlalu suka pemberia ibu karena pada dasarnya kau memang tidak menyukai ibu ..." imbuh Lana saat menyadari bahwa ternyata selera Arshlan memang berbeda, namun ia telah berprasangka lain kepada suaminya sendiri.


Arshlan lebih menyukai kopi hitam yang pekat, lengkap dengan rasa pahit yang khas daripada olahan kopi yang telah berkurang jauh cita rasa aslinya, kendatipun harganya sangatlah mahal.


"Jadi kau pikir aku sengaja mengatakan tidak terlalu suka karena yang memberikannya adalah ibumu?"


"Hhhmm ..." Lana tersenyum malu, salah tingkah sendiri mendapati kepala Arshlan yang menggeleng kearahnya berkali-kali.


"So ... sekarang apalagi?"


Lana mengangkat bahunya. "Tidak ada, selain hanya membayangkan bagaimana seekor gajah harus dipaksa memakan biji kopi untuk membuat para pencinta kopi senang karena bisa mendapatkan cita rasa yang unik ..."


"Itu belum seberapa. Asal kau tau, untuk mendapatkan satu kilogram biji kopi, gajah harus makan 33 kilogram buah kopi terlebih dahulu. Dan karena prosesnya yang tidak bisa dilakukan secara massal itulah, maka harga black ivory coffee menjadi sangat tinggi dipasaran."


Kemudian Arshlan terlihat mengangkat salah satu alisnya saat menatap Lana, yang karena mendengar ulasan panjang lebar darinya sejak tadi, pun kini sedang menatapnya dengan tatapan semakin takjub.


"Bagaimana? sudah puas mendengar alasan mengapa hadiah kopi ibumu untukku bisa menjadi kopi istimewa dan sangat mahal harganya?" ujar Arshlan, yang kemudian tersenyum kecil saat mendapati ekspresi wajah Lana yang menanggapinya dengan mode bengong.


Dan Arshlan merasa semakin gemas sehingga ingin rasanya menggigit bibir yang merah merekah itu, manakala sepenggal kalimat polos terlontar darisana ...


"Wahh.. pantas saja harganya sangat mahal..."


...

__ADS_1


Bersambung ...


Yang mau cepat lanjut bagi vote ... bagi vote ... 😍


__ADS_2