TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
BERTINDAK KONYOL


__ADS_3

Usai bertemu Siska kemudian disusul dengan pembicaraannya dengan Maura, tanpa membuang waktu lebih banyak Arshlan pun pergi menuju bandara.


Siang ini, sesuai kesepakatan dirinya dan Aldo akan bertemu di waiting room. Mereka berdua berencana melakukan perjalanan bisnis dengan menggunakan jet pribadi milik Arshlan, dalam rangka meninjau lokasi tambang nikel diluar kota.


Kemarin, Arshlan telah setuju untuk memberikan dana talangan sekaligus mengambil alih sebagian saham kepemilikannya oleh perusahaan Arshlan.


Arshlan telah memutuskan untuk membantu Aldo, yang pada waktu itu begitu gegabah membeli keseluruhan saham tersebut, tanpa memperhitungkan dengan cermat bahwa kondisi keuangan perusahaannya belum mampu mengcover penuh operasional produksi.


Dan hasilnya bisa ditebak, perusahaan Aldo yang ia bangun dengan susah payah nyaris kolaps, untunglah disaat yang genting Arshlan datang menjadi dewa penyelamat bagi Aldo dan perusahaannya yang nyaris gulung tikar, hanya dengan berbekal syarat yang super mudah, yakni memutuskan hubungan percintaannya dengan Siska, kekasihnya yang baru saja ia pacari.


"Arsh, mengapa kau menyukai Siska..?" tanya Aldo penasaran, sesaat setelah Arshlan membubuhkan tanda tangannya diatas dokumen bermeterai.


Arshlan terlihat melengos. "Cih.. siapa juga yang menyukainya..?"


Aldo terperanjat mendengar sanggahan acuh itu. "La.. lalu kalau tidak suka, untuk apa kau mengejarnya, Arsh..?"


"Karena dia adalah sahabat baik istriku dimasa lalu, aku pun jadi penasaran.."


"Whaatt..?" Aldo tercengang mendengar alasan aneh Arshlan.


"Hanya ingin tau, gadis bernama Siska itu seistimewa apa sehingga Lana begitu mengagungkan persahabatan mereka begitu rupa."


Aldo hanya bisa mengangkat bahu mendengarnya. Aldo bahkan tidak mengerti dengan apa motif Arshlan sehingga mendekati Siska dengan alasan seperti itu, namun Aldo pun tidak mau repot-repot mengurusi atau sekedar mencari tau lebih dalam.


Biarkan saja itu menjadi urusan Arshlan yang akan menilainya sendiri, seperti apa sosok Siska yang sebenarnya, sesuai dengan tujuan awal pria itu.


Siska, dimata Aldo sendiri, memang termasuk tipe gadis yang cukup menarik secara fisik.


Tapi helooww.. wanita menarik dengan fisik yang indah diluar sana jumlahnya sudah cukup banyak, dan pesona Siska adalah pesona yang dimiliki semua kaum hawa pada umumnya.


Tidak istimewa.. tidak berlebihan.. tidak mencolok.. tidak ada sama sekali yang bisa membuat Aldo bergetar.. karena seperti biasa, bagi Aldo semua hubungan dengan wanita hanya akan berakhir diatas ranjang, dan berpisah setelah bosan.

__ADS_1


Pada akhirnya, usai melakukan peninjauan lokasi yang berjalan lancar malamnya mereka pun kembali lagi dengan jet yang sama, dan baru berpisah di terminal kedatangan.


Begitu Arshlan tiba dimobil yang menjemput, Her yang duduk disebelah sopir langsung menginfomasikan agenda kerja Arshlan berikutnya.


Malam ini Arshlan harus menghadiri undangan khusus dari seorang investor asing, yang beberapa hari yang lalu sempat tertunda karena Arshlan yang memilih berdiam diri selama tiga hari di Pulau terpencil miliknya, hanya demi mereguk cinta yang menggelora bersama Lana.


Lana..?!


Mendadak pikiran Arshlan yang tadinya hanya dipenuhi dengan berbagai agenda kerjanya kini tertuju penuh pada sosok gadis yang seolah telah terlupakan olehnya hingga diakhir perputaran hari.


"Her,"


"Iya Tuan..?"


"Bagaimana keadaan rumahku? apa ada sesuatu yang terjadi dengan Lana?" tanya Arshlan sambil merogoh ponselnya yang sampai saat ini lupa ia aktifkan kembali setelah penerbangan tadi usai.


"Tidak ada yang istimewa, Tuan. Sepeninggal Nyonya Marina untuk bekerja tak lama setelah Tuan berangkat tadi pagi, seharian ini Nyonya Lana hanya sibuk merajut.."


"Merajut..?" ulang Arshlan dengan mimik penasaran.


Arshlan tercenung sejenak. "Tapi.. untuk apa Lana belajar merajut..?" ujarnya lagi seolah bertanya pada diri sendiri.


"Sepertinya Nyonya tidak bermaksud apa-apa, Tuan. Nyonya hanya sekedar mencari kegiatan untuk mengisi waktu luang, karena hidup tanpa bersosialisasi dan tanpa media komunikasi, bukankah itu sangat berat dan membosankan..?"


"Sudah, diam!" hardik Arshlan secepat kilat.


Tentu saja Arshlan merasa tersindir dengan kalimat Her yang memang tepat sasaran.


Arshlan pasti tidak tau bahwa Her memang sengaja mengatakan kalimat tersebut sebagai ungkapan tidak setujunya pada sifat sang bos besar yang sangat kaku dan egois dalam memperlakukan Lana.


Arshlan sempat tercenung lama sebelum suara Her terdengar lagi.

__ADS_1


"Oh iya, Tuan, ada satu hal penting, yang Tuan harus ketahui.." ucap Her saat teringat sesuatu yang sudah seharusnya ia laporkan kepada Arshlan.


"Apa itu?"


"Tadi, bertepatan dengan jam makan siang, Ayah dan Ibu Lana telah melakukan pertemuan disalah satu resto yang letaknya tidak seberapa jauh dari kantor pengacara, tempat Nyonya Marina berkerja."


"Gerakan mereka berdua ternyata cukup gesit juga.." gumam Arshlan sambil tersenyum sinis.


"Dugaan Tuan memang benar. Nyonya Marina bahkan masih berhubungan dengan Beno dan Tuan Robi masih tinggal diruko bersama gadis bernama Mona. Dengan kata lain.. Nyonya Marina telah membohongi Lana dengan telak, tentang hubungannya dan Robi dengan pacar mereka masing-masing.." sambung Her lagi.


"Aku tidak kaget mendengarnya." Pungkas Arshlan dengan mimik dongkol, karena tebakannya terbukti benar, bahwa niat awal Marina dan Robi memang hanya sebatas menipu Lana dengan membuat Lana iba sehingga berani meminta uang kepadanya.


Yah.. Lana istrinya yang polos, yang begitu mudahnya ditipu oleh kedua manusia bejat yang selalu saja memakai kedok serta mengatasnamakan bahwa mereka adalah kedua orangtua Lana, sehingga Marina dan Robi seolah mempunyai alasan untuk memuluskan semua aksi licik dan rencana busuk mereka, memeras dirinya lewat Lana demi mendapatkan banyak uang secara cuma-cuma.


Mobil yang ditumpangi Arshlan telah berbelok kesebuah club malam ternama dikota, tempat dimana sang investor mengajak bertemu dan membicarakan bisnis dengan kondisi santai, manakala Arshlan yang sejak tadi membaca laporan lengkap tentang aktifitas Lana seharian tanpa ada yang tersisa dari Asisten Jo diponselnya tiba pada laporan terakhir dari Asisten rumah tangganya tersebut.


Arshlan sedikit terhenyak. "Apa maksudnya dengan laporan Asisten Jo ini..? Kenapa Lana harus tidur dikamar lantai empat lagi..?" Dari suaranya sangat kentara jika Arshlan sedang menahan amarahnya.


Her memilih tidak menjawab, saat menyaksikan Arshlan kembali meneruskan membaca laporan tersebut sampai akhir, yang tentu saja memuat alasan Lana sehingga memilih tidur dikamar yang lain.


'Rindu..? Alasannya karena rindu..? Alasan macam apa itu..?'


Sejenak Arshlan memijat kedua keningnya sekaligus, mencoba menenangkan diri, berusaha keras untuk fokus dengan tujuan awal untuk bertemu klien terlebih dahulu daripada diperbudak perasaan yang tiba-tiba menjadi melow.


"Tuan, katakan saja kalau Tuan ingin kembali kerumah sekarang juga, biar aku yang akan meminta maaf pada Mister John.." Her telah bicara lagi seolah bisa membaca kebimbangan Arshlan, yang terlihat kalut saat mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Lana.


"Tidak. Tidak perlu. Lana sudah sering bertindak konyol seperti ini.." Desis Arshlan malah terlihat sedikit gusar. "Tolong katakan kepada Asisten Jo agar membiarkan apapun yang hendak ia lakukan. Cukup awasi saja, sampai nanti aku pulang.."


...


Bersambung..

__ADS_1


Support author jangan lupa ya..? Agar moodnya gak stuck.. 😀


Loophyuuu all 😘


__ADS_2