TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
PARTNER DANSA


__ADS_3

'Apakah itu Lana..?'


'Benarkah itu Lana..?'


Marina masih berdiri ditempatnya, terus mengawasi kearah yang sama dimana tubuh pria tampan berpostur atletis itu hilang dibalik pintu sambil memeluk pinggang mungil seorang gadis remaja.


Semua orang tau bahwa itu adalah Tuan Arshlan, beberapa menit yang lalu Marina bahkan berada disekitar pria itu, saat bosnya yang seorang pengacara kondang negeri ini sengaja datang mendekat hanya untuk menyapa Tuan Arshlan.


Marina berada ditengah pesta yang sama, terkait dengan salah satu kasus sengketa kepemilikan sebuah lahan milik Tuan Marco yang baru saja menang di pengadilan, Tuan Marco pun mengundang semua personil kantor pengacara tempat Marina bekerja untuk menghadiri pesta di malam ini.


Tampan dengan sorot mata yang tegas. Itu adalah penilaian Marina untuk seorang Tuan Arshlan. Aura arogan khas penguasa bahkan berpendar terang, terpancar dari keseluruhan diri pria itu.


Tuan Arshlan berkali-kali menyebut sedang menunggu istrinya, yang terlihat dari pancaran matanya dipenuhi dengan cinta dan pemujaan.. membuat semua wanita yang mengetahuinya ikut memendam rasa iri hati dan bertanya-tanya, akan siapakah gerangan sosok wanita beruntung yang akhirnya bisa menguasai keseluruhan hati Tuan Arshlan.


"Marina, kau mau kemana..?" Tuan Billy menegur Marina, saat kakinya terayun begitu saja hendak mendekat, disaat semua orang terdiam nyaris membeku dengan tatapan yang mengarah padu satu titik.


Kemana lagi kalau bukan kepada sosok Tuan Arshlan yang hebat, dan istrinya yang ternyata seorang gadis muda belia.


"Gadis itu.. aku mengenalnya.."


"Hentikan."


"Tapi Tuan.. gadis itu.."


"Disana, kobaran api sedang terbakar. Kau jangan coba-coba mendekat. Karena sekali kau menyinggung Tuan Arshlan.. imbasnya bisa membuatku ikut gulung tikar..! apa kau paham..?!" larang Tuan Billy dengan tegas seolah mengingatkan dirinya bahwa pembicaraan alot Tuan Arshlan dengan Tuan Marco yang dikenal sebagai sepasang musuh abadi itu, sebaiknya memang tidak boleh diusik oleh pihak manapun.


Tuan Billy memang sengaja bicara terkesan hiperbola, namun meskipun demikian Marina paham betul apa artinya.


Jadi putriku menikahi pria se-hebat itu..?


Marina sampai harus mencubit lengannya sendiri, untuk memastikan bahwa dirinya benar tidak sedang bermimpi.


Lana.. benar-benar telah menjadi nyonya kaya raya, istri sah seorang Tuan Arshlan yang hebat..!


XXXXX


Begitu langkah mereka keluar dari kemegahan pesta tersebut Lana yang sejak tadi telah menahan rasa ingin taunya, tanpa menunggu lebih lama langsung melontarkan pertanyaan, masih dengan kedua tangan yang bergelayut dilengan Arshlan.


"Tuan, kenapa kita pergi terburu-buru..?"


"Karena aku tidak ingin berada disana semakin lama."


"Tapi kenapa Tuan..?"


"Sudah, jangan bertanya lagi, aku yang seharusnya bertanya kau kemana saja..? datang terlambat dan membuatku menunggu sekian lama..?" Arshlan balik bertanya. Nada suaranya kini terdengar sedikit jengkel begitu mengingat Lana yang telah membuatnya menanti sekian lama didalam sana.


"Kenapa Tuan masih bertanya..? sudah tau penyebabnya karena aku harus mempersiapkan diriku untuk tampil sempurna.." kilah Lana dengan ekspresi polosnya.


"Meskipun begitu kau tidak boleh membuatku menunggu seperti itu. Awas saja kalau kau berani melakukannya lagi..!"


"Tuan.. tolong jangan memarahiku lagi, karena seharian ini aku sungguh menderita. Sudah seharian full telingaku sakit mendengar semua peraturan yang dibuat oleh Asisten Jo..!"


"Nyonya, kendalikan dirimu, kau tidak boleh mengatakan apa yang telah kita lalui seharian ini. Bukankah kita sudah membicarakannya..? bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada Tuan Arshlan..?"


Suara Asisten Jo yang terdengar panik seolah angin lalu, karena pada akhirnya Lana terus mengadukan kekesalan dirinya pada semua pelajaran etika yang diberikan Asisten Jo dan menyerocos sesuka hati, seperti kebiasaan mulut ceriwisnya selama ini, meskipun Arshlan terlihat diam saja tanpa menyurutkan langkahnya.

__ADS_1


"Tidak sampai lima menit berada didalam sana, Tuan sudah mengajakku keluar. Padahal bukan main lelahnya aku belajar berjalan yang anggun, makan dengan menggunakan banyak sendok dan pisau, aku bahkan belajar berdansa dengan susah payah.. dan.."


"Nyonya Lana.. teganya kau mengkhianatiku.."


Suara Asisten Jo yang terdengar lesu pada akhirnya telah menyadarkan Lana, namun semuanya sudah terlambat karena mendengar keluhan terakhir Lana tentang belajar berdansa sepasang mata Arshlan kini telah melotot garang.


Arshlan menghentikan langkahnya tepat didepan lobby, menunggu kedatangan Her dan sopir pribadi yang akan menjemput.


"Apa kau bilang tadi..?! kau belajar berdansa..?!"


Lana menelan ludahnya kelu. "I-iya Tuan.."


"Katakan padaku, siapa yang telah mengajarimu..?!"


"Mmmm.. itu.. itu.. Asisten Jo."


"Lalu siapa yang menjadi partner latihanmu..?!"


Lana menatap ketakutan wajah kaku yang mengeras milik Arshlan.


"Cepat katakan..!!"


"A-Asisten Jo.."


"Matilah aku.."


Asisten Jo telah terduduk lemas nun jauh disana.


"Kurang a-jar Asisten Jo, berani-beraninya dia mengajarimu berdansa. Apa dia telah memegang pinggangmu seperti ini..?!" ujar Arshlan geram sambil meraup kasar pinggang Lana.


"Sh it..!!" Arshlan telah mengumpat keras. "Aku benar-benar harus memotong kedua tangannya..!!"


"Tuan, dengar dulu.."


"Jangan coba-coba membelanya..!!"


"Tuan..!!"


Arshlan terhenyak mendengar pekikan Lana yang disertai keberanian gadis itu menghentak lengannya yang sejak tadi dipeluk erat hingga terlepas.


"Kau..?!" Arshlan melotot marah.


"Asisten Jo tidak menyentuhku! dia hanya mengajariku, dan aku memeluk guling sebagai pengganti Tuan.!"


"A-appa..?! j-jadi.."


Tanpa sadar Arshlan telah menyentuh dadanya, dimana pada detik yang lalu nyaris meledak.


'Demi Tuhan.. kalau terus-menerus mendapat kejutan dari bocah ini, lama-lama aku bisa mati berdiri..!'


Arshlan mengumpat dalam hati, menyadari betapa mudahnya rasa cemburu, membuatnya menjadi pria bodoh yang dipenuhi amarah.. hingga berkali-kali..!


XXXXX


"Tuan.. kau sungguh kejam.."

__ADS_1


Mereka telah berada didalam mobil yang dikemudikan sopir dengan Her yang berada di bangku sebelah, manakala Lana berucap sambil membuang wajahnya keluar jendela.


Melihat itu Arshlan langsung menarik kedua bahu Lana. Membawanya bersandar didadanya, meskipun awalnya Lana sempat mengelak dengan enggan.


"Aku minta maaf. Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak suka milikku disentuh orang lain.." kilah Arshlan perlahan, nyaris berbisik.


"Assisten Jo bahkan mengetahui semua hal yang Tuan suka dan tidak suka dengan begitu baik. Tidak mungkin dia akan melakukan hal aneh yang tidak Tuan sukai. Apa Tuan tidak percaya padanya..?" kilah Lana masih saja kesal.


Yah, Lana kesal. Lana kesal karena Lana merasa Asisten Jo sangat baik padanya, dan begitu loyal kepada Tuan Arshlan. Tapi Tuan Arshlan malah dengan mudah mengatakan ingin memotong kedua tangan pria tua itu.


Arshlan terlihat melengos kecil. "Aku percaya padanya, tapi aku justru belum bisa mempercayai dirimu."


"Apa..?!" Lana tersentak bangkit dengan sepasang mata melotot mengawasi Arshlan dengan lekat, nyaris tak percaya jika Tuan Arshlan justru mencurigai dirinya.


'Apa maksud pria ini..?'


'Apa dia sedang menuduhku berniat memeluk Asisten Jo, yang telah berumur lebih dari setengah abad itu dengan dalih belajar berdansa..?'


Membayangkan itu Lana menjadi semakin kesal sendiri.


"Jadi Tuan justru mencurigai aku yang akan melakukan hal yang diuar kendali..?" tanya Lana lagi dengan kepala menggeleng berkali-kali.


"Tentu saja aku harus mencurigaimu. Kau adalah orang baru dalam kehidupanku, dan anehnya kau juga sudah sangat bebas berkeliaran didalam kehidupanku. Wajar saja kan kalau aku harus waspada..?" berucap acuh tanpa mengindahkan sepasang mata bulat yang nyaris keluar dari cangkangnya.


"Orang baru..?! Tuan, kapan kau sadar sepenuhnya bahwa aku ini adalah istrimu?!"


Melihat sikap ngotot yang diucapkan dengan gaya yang berkacak pinggang itu, mau tak mau membuat Arshlan tidak bisa menyembunyikan tawanya.


Arshlan kembali menarik pergelangan tangan mungil itu agar bisa kembali kedalam pelukannya, sekaligus menenangkannya.


"Baiklah, maafkan aku.. kau memang istriku.."


"Mudah sekali Tuan minta maaf.. setiap kali membuatku sakit hati."


Lagi-lagi Arshlan tertawa, karena meskipun mulut mungil itu sedang mengeluarkan kalimat yang terdengar gusar, namun kedua lengan Lana malah melingkari tubuhnya dengan erat.


Arshlan mencium ubun-ubun gadis itu yang menguar aroma shampoo yang segar. "Lana, apa kau tau..? kau bahkan belum benar-benar mengenal diriku, tapi kau sudah sangat berani mengacau didalamnya.." bisik Arshlan tegas, sanggup membuat Lana mendongak menatapnya.


"Percayalah Tuan, meski Tuan cukup menyebalkan tapi saat ini aku benar-benar sedang belajar memahami diri Tuan.." ujar Lana dengan tatapan polosnya.


Arshlan terdiam, saat menyaksikan sepasang netra yang didalamnya terpancar dengan sangat jelas.


Sebuah kesungguhan..


Beserta tekad yang tidak main-main..


...


Bersambung..


Berikan bunga.. tuangkan kopi..


Sebagai teman, untuk ngetik next bab-nya.. 😀


Thx and Loophyu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2