TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 119. Terasa Utuh


__ADS_3

Haiyy ... aku kembali ... 😍


WARNING ...!!


Bacalah Bab ini dimalam hari ... 😅


...


Bugh.


Entah bagaimana alurnya, tiba-tiba saja kedua tubuh milik Luiz dan Dasha telah ambruk keatas ranjang yang empuk.


Saling bertaut penuh gelora ...


Berbagi segenap rasa ...


Membebaskan perasaan tertekan ...


Sekaligus setiap helai pakaian yang mereka kenakan ...


dan ...


Waktu pun seolah terhenti ...


...


Luiz sadar, bahwa saat ini ia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Tapi meskipun demikian, pria itu juga tahu persis, bahwa seluruh gai rah yang sedang menguasai dirinya bukanlah hanya sebatas naf su sesaat, melainkan wujud dari seluruh perasaan sayang serta ingin memiliki Dasha seutuhnya, yang kadarnya tidak pernah berkurang sejak awal dirinya menginginkan gadis itu sepenuh jiwa dan raga.


'Luiz, tolong hentikan saat ini juga. Karena kalau tidak ... maka semua pintu akan tertutup, dan kau tidak lagi mempunyai kesempatan, untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi Dasha ...'


'Ohh, sh it ...'


'Jangan gila. Sudah berada sejauh ini ...?'


'Bagaimana bisa kau menyuruhnya kembali, bodoh ...?! Enak saja ...!!'


Pertengkaran bathin antara malaikat suci dan iblis penggoda iman kembali terjadi didalam sanubari Luiz.


"T-Tuan ... apakah Tuan yakin dengan semua ini ...?"


Dasha bahkan tak tahu apa yang membuatnya bertanya demikian, meskipun di sisi lain ia juga cemas jika pertanyaannya akan membuat Luiz menarik diri, dan menolaknya kembali seperti yang sudah-sudah.


Tubuh mungil Dasha berada tepat dibawah tubuh Luiz, dan nyaris seluruh permukaan kulit tubuh mereka kini saling bersinggungan.


Luiz telah kehilangan seluruh atasannya, hanya menyisakan celana berbahan stretch. Sementara Dasha telah kehilangan semuanya, hanya menyisakan sepasang underwear.


Luiz mengecup sejenak bibir mungil Dasha yang terlihat membengkak, akibat ganasnya pertauatan bibir mereka yang seolah tak kenal lelah.


"Ada apa? Apakah sekarang justru kau yang tidak yakin untuk melakukannya ...?" bisik Luiz di telinga Dasha, yang langsung memerah mendengarnya.


Dasha menggeleng dengan tengkuk meremang, saat menyadari usai berucap sedemikian nakal, Luiz telah membenamkan wajahnya dibelakang cuping telinga, menyapu seluruh area disekitarnya tanpa tersisa.


Untuk itulah Dasha merasa harus bersusah payah bicara, atau sekedar mengatur jalan napas agar tidak saling berkejaran.


"B-Bukan ... bukan begitu, Tuan ..." tergeragap dan tereng ah.


"Hhhmm ... lalu ...?"


Dasha terdiam bimbang, bingung memilah kalimat yang tepat untuk diucapkan, apalagi diantara hembusan napasnya yang terus memburu.


Seolah tak ingin membuang waktu lebih banyak, Luiz telah membuat gadis itu berada dalam kekuasaan yang sepenuhnya.


Bak seorang tawanan, Dasha telah terpenjara oleh tubuh Luiz yang kekar dan sedang bertelan jang da da, sehingga seluruh pemandangan tubuh yang dipenuhi tonjolan otot itu mampu membuat Dasha ketar-ketir, terbakar oleh keinginan dan rasa penasaran untuk menyentuhnya ... namun disisi lain dirinya merasa malu.


"T-Tuan ... ini ... ini ... mmmhh ..."


Dengan bibirnya Luiz membungkam keresahan Dasha.


"Selama ini kau selalu membuatku gila, dan sekarang kau ingin membuatku berhenti ditengah jalan ...? Hhhmm ...? Tidak bisa ..."


"Aaaww ... sshh ..."


Dasha meringis kecil saat merasakan sakitnya gigitan Luiz di bibir bawahnya yang nyaris kebas.


"T-tidak Tuan, maksudku ... ahhh ... ohhh ..."


Sejujurnya pada sesaat yang lalu, Dasha juga mengakui bahwa dirinya memang ingin Luiz berhenti, semata-mata karena perasaan takut menerima sikap antusias Luiz yang telah benar-benar out of control.


Tidak seperti Luiz yang dikenalnya selama ini, yang selalu menolak untuk menyentuhnya secara berlebih.


Semua sikap Luiz membuatnya merasa cemas. Dasha takut jika nanti pria itu akan kembali menjauhinya dan memberi jarak, setelah ia menyerahkan segalanya.

__ADS_1


Disaat Dasha membathin kalut, disaat yang sama kedua tangan Luiz sibuk mempreteli pengait belakang, dari b r a berenda milik Dasha, seolah tak sabar lagi melihat apa isi di dalamnya.


Begitu berhasil menanggalkan b r a tersebut tanpa keraguan, Luiz membuang benda itu ke lantai begitu saja.


"Tuan Luiz ... j-jangan ... ohhh ..."


Terlambat.


Tanpa mengindahkan usaha Dasha yang ingin mengelak, kedua tangan besar Luiz telah menangkup dua bukit kembar itu secepat kilat, langsung meremasnya dengan tergesa.


Dasha menggelin jang menerima perlakuan tersebut, terlebih saat merasakan sapuan bibir Luiz yang kembali menyusuri sepanjang permukaan da danya yang terbuka ... hingga kepangkal leher.


Sengaja memberi rang sangan yang membuat tubuh tubuh Dasha gemetar.


Luiz tersenyum puas saat berhasil melakukan semua itu.


Sungguh sangat candu ... dan rasanya tidak ada yang berubah. Tiada duanya!


Masih sama seperti lima tahun yang lalu, saat Luiz menyentuh gadis belia itu untuk yang pertama kalinya, dan membuatnya tergila-gila.


Seluruh permukaan kulit Dasha masih sama rasanya, terlalu lembut bak kulit bayi, di permukaan bibir Luiz, begitupun di ujung lidahnya.


Ibarat seorang musafir yang telah sekian lama tersesat di padang gurun maha luas ... yang nyaris mati karena dahaga ...


Kira-kira seperti itulah yang dirasakan oleh Luiz saat ini.


Sirna sudah seluruh keangkuhannya, pendiriannya, ikrar yang terpancang kuat dihatinya ... semuanya lenyap menjadi debu, berganti hawa naf su yang menderu.


"Ohh ... mmhh ... T-Tuan Luiz ... uhhh ..."


Tubuh Dasha tersentak hebat, bak dialiri aliran listrik tegangan tinggi. Manakala Luiz menurunkan kepalanya tepat diatas dua bukit kecil dengan puncaknya yang mungil mengeras, sehingga membuatnya gemas ingin mencicipi.


"Mmmm ... Tuaaan Luizzz ..."


Tubuh Dasha meliuk tak terkendali, saat ujung lidah Luiz bermain diantara kedua puncak yang indah. Mengu lum, menghi sap, bahkan menggigit kecil.


Dasha meremas rambut pria itu kuat-kuat, menekannya lebih dalam agar bisa merasakan sensasi yang tiada duanya.


"Kau suka sayang?" tanya Luiz sambil tertawa kecil, saat ia memutuskan mengangkat wajahnya sejenak dan mendapati wajah Dasha yang memerah dipenuhi gai rah.


Dasha mengangguk malu-malu. "Jangan berhenti, Tuan, aku mau lagi ..." rengeknya manja dan tak sabar, membuat tawa renyah Luiz berderai.


"Mau merasakan yang lebih nikmat dari ini ...?" tanya Luiz seolah sengaja menabur jerat.


"Baiklah sayangku, karena kau yang memintanya ..." bisik Luiz mesra, sambil mengawalinya dengan sebuah luma tan di bibir Dasha.


Tangan kanan Luiz bergerak cepat meloloskan penghalang terakhir dari tubuh Dasha, yang berupa segi tiga kecil berenda. Kemudian Luiz menurunkan tubuhnya kebawah tanpa canggung.


"T-Tuan, apa yang kau ... owhh ..."


Dasha terbelalak, saat merasakan ujung lidah yang bergerak menyapu seluruh inti tubuhnya tak bersisa.


"Aaahh ... mmmhh ... mmhhh ..."


Luiz tersenyum menyadari gadis itu sangat menyukai apa yang sedang ia lakukan.


Tanpa diminta kedua paha Dasha telah begitu pengertian, dengan memberikan Luiz akses tanpa batas agar bisa menginvasi letak surga duniawi yang lembab dan semakin basah.


"Aahh, Tuan ... aku ... aku mau ... owhhh ... aaahhhh Tuaaann ..."


Sebuah penglepasan yang tercapai begitu mudah, untuk yang pertama kalinya.


Indah.


Dasha merasa seluruh tubuhnya luluh lantak, seolah terlempar kedalam gulungan awan nirwana.


Luiz tersenyum tak kalah puas mendapati gadis kecilnya yang merin tih dan menge rang nikmat.


Tanpa membuang waktu Luiz bangkit dari ranjang, berniat membebaskan bagian tubuh bawahnya yang terasa sangat sesak.


Luiz melepaskan celana stretch yang melekat ditubuhnya, begitupun juga dengan boxer yang ia kenakan.


"Oh, astaga ... itu ... itu ..."


Dasha melotot panik saat menyaksikan penampakan horor, sebuah benda mirip jamur namun berukuran raksasa.


Dasha tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui tentang bagian tubuh pria yang kini sedang mengejang sempurna.


Dewasa ini, di semua sekolah menengah atas, proses reproduksi manusia begitu pun hal-hal yang menyangkut *** education telah diajarkan dengan gamblang.


Namun meskipun demikian tetap saja Dasha kaget saat harus menyaksikannya langsung, apalagi seingat Dasha yang ada di gambar saat pelajaran itu berlangsung tidak sebesar apa yang ia saksikan sekarang secara live.


Luiz kembali naik keatas ranjang dengan gai rah yang menggelora, langsung menempatkan tubuhnya keposisi yang tepat.

__ADS_1


"Tuan ..." wajah Dasha memucat begitu merasakan gerbang surga miliknya sedang diincar oleh sebuah jamur raksasa yang telah menegang sempurna.


"Mungkin akan terasa sedikit sakit, tapi aku berjanji bahwa rasa sakitnya hanya sebentar." bujuk Luiz sambil tersenyum, karena ia tahu persis bahwa Dasha perlu ditenangkan.


"Tuan, aku ..."


"Kau percaya padaku, kan?" tuntut Luiz lagi, membuat Dasha tak punya pilihan lain selain mengangguk perlahan.


"Aku selalu mempercayai Tuan ..."


"Anak pintar ..." bisik Luiz sambil mengecup, kemudian mulai menurunkan pinggulnya perlahan.


"Sshhh ... Tuan ..."


"Tidak apa-apa, hanya sakit sebentar ..." bujuk Luiz lagi, sambil menatap lembut sepasang bola mata Dasha yang mulai panik, akibat sebuah benda asing yang berusaha menerobos ke gua sempit miliknya yang dipenuhi pelumas alami.


"Awww, sakiitt ... T-Tuan ..."


Luiz tak mengindahkan remasan kuat di kedua lengannya, saat ia terus menekan kepala sang jamur agar bisa lolos saat menerobos masuk.


'Oh sh it, sempitnya ...'


Luiz membathin keenakan, padahal baru kepala sang jamur yang lolos, belum dengan batangnya yang kekar dan panjang.


"Tuan, sakit ... tolong lepasss ..."


Dasha merintih kesakitan. Air matanya bahkan jatuh saking dirinya tak tahan menahan sakit yang kata Luiz hanya sedikit dan sebentar, kenyataannya rasa sakitnya jauh berlipat ganda.


"Hentikan, Tuan, aku ... aku tidak mau lagi, ini sakit ..."


"Dasha, kendalikan dirimu sayang ..."


"Tidak mau. Hu ... hu ... hu ... Tuan Luiz jahat, Tuan membohongiku ..."


"Aku tidak berbohong, Dasha, percayalah ..."


"Tidak berbohong bagaimana, buktinya yang dibawah sana rasanya sangat perih ..."


"Dasha ..."


"Keluarkan, Tuan, kalau Tuan terus berada didalam sana bisa-bisa aku bakal mati kesakitan ..."


"Tidak akan."


"Tapi ..."


"Aku bilang tidak akan."


"Tapi buktinya ... aaaaaaawww ..."


Dasha beteriak kencang, saat dengan tega Luiz menurunkan seluruh pinggulnya dengan sangat bertenaga, tanpa aba-aba.


Rasa selaput tipis yang terkoyak menyentuh nikmat bagian tubuh Luiz yang kini bersarang utuh dalam tubuh Dasha.


Bukannya Luiz tidak kasihan, tapi Luiz merasa ia harus nekad melakukan secepatnya.


Dengan demikian kesakitan Dasha segera pergi dan berganti rasa yang sesungguhnya, yakni kenikmatan bercinta yang tiada tara.


"Tuaaaann ... ohh, tidak ... tidd ... ddaaak ..."


Sepasang mata Dasha nyaris keluar dari cangkangnya saat mengetahui bahwa selain telah menusuk kuat inti tubuhnya, pria bertubuh kekar itu bahkan telah bergerak naik turun berirama, membuat semua persendian Dasha seolah ingin rontok saat itu juga.


"Tuan k-kau ja ... hat ..."


"Aku mencintaimu, Dasha sayang ..." balas Luiz sambil mengecup dahi Dasha yang terus-menerus mengumpat, sementara tubuh Luiz terus memompa diatasnya tanpa jeda.


"Tuan, ohhh ... ahhh ..."


Luiz tersenyum saat menyaksikan lambat laun wajah serta tubuh Dasha yang awalnya menegang kaku kini mulai mengendur, dan mulai menikmati permainan yang Luiz sajikan.


Untuk beberapa saat lamanya hanya ada suara desa han penuh bira hi yang saling berkejaran, memenuhi seluruh sudut kamar mungil nan minimalis tersebut.


Sebelum akhirnya keduanya ambruk bersimbah peluh, usai sebuah penglepasan yang indah, dashyat, dan terasa utuh.


Masih dalam keadaan ter engah saat Luiz menarik masuk tubuh Dasha kedalam pelukannya.


Dan napas keduanya pun mulai mengendur perlahan ...


...


Bersambung ...


Like and Support jangan lupa yah ... 🤗

__ADS_1


__ADS_2