TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 46. Penggemar


__ADS_3

Meskipun dengan tamu terbatas, namun tidak sedikitpun mengurangi kemeriahan pesta.


Bahkan pesta tersebut semakin terlihat dan terkesan eksklusive serta elegan.


Tadi, saat diawal pesta, secara tiba-tiba Arshlan telah mengambil waktu khusus untuk bicara, pada seluruh khalayak, bahwa pada kesempatan tersebut, secara resmi ia telah menyerahkan tampuk kepemimpinan seluruh perusahaan ketangan Luiz.


Luiz tentu saja merasa kaget dengan semua itu. Tak mengira jika pesta yang setahunya hanya demi menyambut kedatangannya itu telah diboncengi oleh Arshlan yang seolah tak tahan lagi menyerahkan semuanya ke pundak Luiz.


"Akhirnya Daddy merasa lega ..." ujar Arshlan begitu mendapati Luiz yang turun dari podium usai mengucapkan sambutan singkat, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menandakan rasa kagetnya yang belum juga usai, atas keputusan Arshlan.


"Congratulation, my bro ..." Leo menyambut tubuh Luiz terlebih dahulu dengan senyum semringah, membuat Luiz pun membalas pelukan tersebut dengan hangat.


"Ingatlah, aku akan tetap menunggu, moment dimana kau akan datang padaku, dan kita berdua akan menjalankan semua tanggung jawab ini bersama-sama ..." bisik Luiz ditelinga Leo.


"Berikan aku waktu ..." jawab Leo, juga dengan berbisik.


Arshlan telah menepuk kedua punggung putranya itu dengan penuh kebanggaan, sementara Lana berusaha sekuat tenaga menahan rasa haru akibat kebahagiaan yang tak terucap, saat memandangi pemandangan tiga pria kebanggaannya.


Selain Lana, di meja itu pula ada Dasha yang tak henti menatap Luiz penuh kekaguman, sementara Victoria sama sekali tidak terlihat.


Malam itu, Luiz telah disibukkan untuk menerima ucapan selamat dari seluruh petinggi, yang menduduki jabatan resmi, di perusahaan yang kini telah menjadi tanggung jawab Luiz sepenuhnya.


"Private party yang sempurna, kita beruntung bisa jadi bagian bersejarah, yang bisa menyaksikan secara langsung bagaimana seorang Tuan Arshlan, pada akhirnya telah mengalihkan kekuasaannya untuk putranya yakni Tuan Luiz ..."


Leo tersenyum mendengar ocehan seorang sahabat sesama agensi, yang kebetulan juga ikut hadir disana.


Saat ini, Leo sudah bergabung dengan rekan-rekan sesama agensi yang datang karena undangan khusus dari dirinya.


Acara formal memang telah selesai, dan telah beralih ke acara ramah tamah dimana semua tamu telah dipersilahkan untuk mencicipi hidangan makan malam yang tersedia, diiringi lantunan merdu sang vokalis yang berasal dari sebuah band terkenal ibukota.


"Tuan Leo, ternyata kau dan keluarga Arshlan memiliki hubungan kekeluargaan yang erat ..." Lisa terlihat berucap takjub.


Bukan hanya Lisa, tapi semua rekan Leo terlihat sangat terkesima mengetahui hal tersebut.


Lagipula siapa yang tidak mengenal Tuan Arshlan?


Pria itu telah menjadi pengusaha sukses sekian lama, dan membawahi beberapa perusahaan besar yang menghasilkan produk-produk dari Brand ternama yang menguasai pasar baik didalam maupun luar negeri.


Betapa beruntungnya segelintir orang yang bisa menjadi saksi dari moment penting peralihan kekuasaan yang begitu besar itu dari tangan Tuan Arshlan kepada putranya Luiz.

__ADS_1


"Begitulah ..." Leo hanya menjawabnya singkat, sambil tersenyum dan mengangguk kecil.


Sampai detik ini Leo memang masih enggan membagi kisah yang nyata tentang siapa dirinya, dan bahwa dirinya merupakan saudara kembar dari Luiz, yang otomatis juga merupakan pewaris Tuan Arshlan yang sah, meski Leo belum mau menerima tanggung jawab tersebut.


Tidak ada yang mengetahuinya lebih dalam, karena meskipun wajah Luiz dan Leo memiliki selintas kemiripan, namun sangat terlihat pula perbedaan, yang membuat orang lain enggan menaruh kecurigaan yang berlebihan.


Leo dan Luiz



"Tuan ... Tuan Leo ...!" suara panggilan seorang gadis telah mengalihkan perhatian Leo.


Saat Leo menoleh keasal suara, dia telah melihat Dasha dan empat orang temannya tengah mendekatinya dengan wajah yang dipenuhi keceriaan.


"Lisa, itu mereka." ujar Leo sambil menatap Lisa kembali.


Lisa pun ikut menoleh dan menyunggingkan senyum untuk para remaja yang merupakan penggemarnya.


"Hai ... kau pasti yang bernama Dasha, bukan?" sapa Lisa ramah kearah gadis yang terlihat paling dominan.


Dasha menyambut uluran tangan Lisa dengan penuh semangat. "Iya, aku Dasha, dan mereka teman-temanku yang juga sangat mengagumi dirimu ..."


"Aku Mona,"


"Erika,"


"Ben."


"Devon ..."


Keempat remaja itu bergiliran menyambut uluran tangan Lisa yang penuh keramahan.


"Nona Lisa, kami sangat menyukaimu, aktingmu di Love Desire sudah membuat kami susah move on ..." seperti biasa, diantara mereka, selain Dasha, Mona-lah yang akan langsung berkicau.


"Benarkah?"


"Kami berlima bahkan sudah berkali-kali menonton Love Desire, hanya demi melihat aktingmu dan Tuan Leo ..." Dasha telah berucap tak kalah kenes, khas gaya remaja.


"Wah, sepertinya mereka merupakan penggemar berat kalian berdua," manager Lisa nampak berseloroh begitu menyadari betapa bersemangatnya lima remaja yang masing-masing telah siap dengan selembar post card bergambar Leo dan Lisa yang sedang berpose mesra, begitu pun dengan buku agenda berisi koleksi tanda tangan selebriti dan orang-orang terkenal yang pernah mereka temui.

__ADS_1


"Nona Lisa, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu yang sedikit privacy?" tiba-tiba Erika telah maju kedepan dengan wajah penuh permohonan.


"Katakan saja. Kau ingin bertanya apa?"


"Nona, katakanlah dengan jujur, apakah benar kau memiliki hubungan spesial dengan Tuan Leo seperti yang diisukan media akhir-akhir ini ...?" tanya Erika lagi dengan sangat spontan, langsung dihadiahi sikutan kecil Dasha untuknya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu ...?" desis Dasha kearah Erika sambil melotot kecil.


"Tentu saja karena aku penasaran ..." bisik Erika bersikeras.


"Tidak apa-apa ... karena pada dasarnya semua orang selalu menanyakan hal yang sama ..."


Lisa berucap sambil tersenyum, namun nampak sekali wajahnya yang sedikit berkabut saat berucap demikian, sementara disampingnya Leo menggaruk tengkuknya dengan senyum kikuk.


"Untuk sementara ini kami hanya sepasang teman yang sangat akrab ..."


"Sepasang teman yang sangat akrab?" Erika mengulang pernyataan Lisa yang terdengar ambigu.


"Iya, sepasang teman yang sangat akrab. Bahkan dalam waktu dekat, kami berdua juga akan kembali syuting sekuel Love Desire. Iya kan, Tuan Leo ...?"


Leo pun mengangguk, tanda ia telah membenarkan perkataan Lisa.


"Wah ..." kelima remaja itu terlihat begitu takjub. Rona tidak sabar ikut terpancar di wajah mereka.


Sejujurnya, dalam dunia nyata, Lisa telah berkali-kali menyatakan perasaannya kepada Leo, namun pria yang berdiri disampingnya ini pun telah menolaknya berkali-kali.


Tak ada alasan spesifik, hanya sebuah alasan klasik yang terus terucap dari bibir Leo setiap kali menepis hati Lisa, sama seperti ia menepis hati wanita selama beberapa tahun terakhir ini.


'Profesionalitas, dan totalitas.'


Dua kata yang membuat Leo menutup pintu hatinya untuk setiap wanita yang ingin mendekatinya, dengan tujuan menjalin sebuah hubungan yang lebih intens.


Padahal kenyataannya, sejak Leo menikah dengan Victoria, Leo tidak pernah lagi menjalin kisah cinta dengan siapapun, meskipun sejumlah isu dan spekulasi tentang hubungan dirinya dengan beberapa wanita terus berhembus tanpa henti.


"Baiklah, sekarang kemarikan bolpennya, agar aku dan Leo bisa menandatangani semuanya." ujar Lisa lagi seolah sengaja mengalihkan suasana yang mulai terasa canggung.


Mendengar itu serta merta kelima remaja itupun langsung menyambut perkataan Lisa tersebut dengan sangat antusias ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2