TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 110. Sakit Perut


__ADS_3

Follow my ig. @khalidiakayum


Kepoin dan ramaikan yuk, karya terbaru aq yang berjudul :


"NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN".


Baru rilis loh ... Cekidoooott ... πŸ€—



...


Mengambil kesempatan dari wajah Luiz yang berubah memerah, mematung dan mengeras, dengan secepat kilat Dasha melepaskan dirinya dari kekuasaan Luiz.


Dasha bahkan tidak tahu setan apa yang telah membuatnya berani menentang Luiz serta menaruh ancaman untuk pria yang sedingin es itu.


'Mematahkan hati Tuan Luiz ...?'


'Demi Tuhan, Dasha ... apakah kau sedang bercanda ...? Apakah kau tidak sayang nyawamu lagi ...?'


Benak Dasha diliputi kepanikan.


"Kembali ...!" titah Luiz tegas, kearah Dasha yang telah mengambil jarak aman dari dirinya.


Dasha yang panik, sontak merasa perlu memutar otaknya dengan cepat.


'Berpikir Dasha ... berpikir ...'


'Kalau kau tidak bisa berpikir, maka tamatlah riwayatmu hari ini!'


Wajah Dasha terlihat panik, sebelum akhirnya ia memilih mengaduh sambil menekan perutnya.


"Aaaah, aduh ... aduh ... perutku ... aduuuhh ... perutku sakiitt ..."


Luiz bukanlah pria bodoh, sudah pasti Luiz tahu bahwa adegan memegang perut dengan kedua tangan yang sedang dilakonkan Dasha didepan hidungnya saat ini, sesungguhnya hanya merupakan bagian dari akting murahan bocah nakal itu untuk menipunya.


'Berani sekali dia mencoba membohongiku, setelah tadi dia juga telah mengancam hendak mematahkan hatiku ...?'


'Si al ... sekarang saja hatiku sudah hancur berantakan seperti ini ... memangnya dia ingin mematahkan bagian hatiku yang mana lagi ...?!'


Luiz membathin gemas, sambil bangkit dari duduknya, berniat menangkap tubuh mungil Dasha yang terus beringsut mundur mendekati pintu keluar.


"T-Tuan ... aku tidak berbohong, perutku ... perutku benar-benar sedang sakit. Aku harus pergi ..."


"Perutmu tidak sakit, kau hanya sedang berbohong." vonis Luiz tegas, benar-benar tidak sudi memberikan Dasha kesempatan untuk lolos dari dirinya.


"Aku berani bersumpah, aku tidak berbohong ..."


"Benarkah? Okeh, baiklah, kalau begitu ... kau berbohong atau tidak, biarkan dokter John yang akan memutuskannya." ucap Luiz acuh, seraya meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja, berniat menghubungi dokter John, yang merupakan dokter pribadi keluarga mereka.


"Kenapa harus menghubungi dokter John? Perutku sakit bukan karena sakit yang sesungguhnya ... melainkan karena aku ingin buang air besar ...!"


Persetan.

__ADS_1


Dasha bahkan tidak merasa perlu untuk kembali menyaring, apa yang telah diungkapkan oleh mulutnya.


'Biarkan saja mulutku mengucap hal-hal yang memalukan, karena yang terpenting saat ini adalah ... bagaimana caranya agar aku bisa bebas dan meloloskan diri dari hadapan Tuan Luiz, secepatnya ...'


Luiz terhenyak mendengar penjelasan tersebut. Gerak jemarinya yang sedang men-scroll daftar kontak di ponselnya sontak terhenti.


"Kau ... dasar jorok ..." desis Luiz, yang ditanggapi Dasha dengan senyum aneh.


"Aku harus pergi ..."


"Tidak ...!"


"Tuaaannn ... aku benar-benar harus menuntaskannya. Memangnya Tuan mau aku mengeluarkannya disini ...? Ini ... ini sepertinya sudah diujung ..."


Wajah Luiz memerah mendengar kalimat demi kalimat Dasha, yang benar-benar terkesan tak tahu malu.


"Baik ...! Baiklah ...!! Pergilah ... pergi sana ...!!" usir Luiz yang mendadak ngeri sendiri, saat membayangkan jika kalimat Dasha tersebut menjadi kenyataan.


"Aaa ... baiklah, Tuan Luiz, terima kasih ... terima kasih ..."


Tanpa membuang waktu lebih lama, Dasha telah melesat keluar dari ruang kerja Tuan Arshlan yang bak neraka itu secepat peluru.


Langkah Dasha yang berlari tunggang langgang menjauhi daun pintu, bahkan masih bisa tertangkap telinga Luiz.


🌸🌸🌸🌸🌸


Florensia terlihat masih berdiri salah tingkah, membuat El merasa kasihan juga jika terus-menerus menggoda wanita itu.


"Baiklah, Flo, kalau begitu katakan saja. Ada apa gerangan sehingga kau ingin menemuiku ...?" tanya El, kali ini nada suaranya terdengar serius, tidak lagi bercanda dan berniat menggoda Florensia.


Sejujurnya, Florensia juga tidak tahu persis apa yang ingin ia perbuat, sehingga dirinya nekad mendatangi kamar pria dihadapannya ini.


Florensia hanya menuruti perasaan kesal yang terus membuncah, serta bercampur aduk dengan berbagai perasaan-perasaan tak menyenangkan lainnya di kedalaman lubuk hatinya yang telah ditahannya mati-matian sejak pagi tadi, namun gagal.


"Apakah ini masih menyangkut kompetisi showjumping pagi tadi?" tanya El lagi-lagi dengan wajahnya yang tenang.


Florensia memainkan jemarinya yang saling memilin satu sama lain. Terlihat semakin kikuk dimata El yang tersenyum dalam hati.


Tebakan El sangat jitu.


Kedatangan Florensia memang menyangkut kompetisi showjumping pagi tadi, atau lebih tepatnya tentang kedekatan yang terbangun entah sejak kapan antara El dan Dasha, yang telah menyakiti hati Florensia sedemikian rupa, begitu pun juga dengan perasaan Luiz pastinya.


Karena sama seperti Florensia yang merasa geram menyaksikan semua kemesraan yang menjengkelkan itu, kondisi Luiz sudah pasti lebih buruk dari dirinya.


Pria hebat itu bahkan seolah berubah menjadi badut yang mempermalukan dirinya sendiri ditengah arena lompat rintang.


Mendapati Florensia yang masih betah tertegun, kali ini langkah kaki El pun terayun mendekat. Kemudian sebelah tangan El telah memutar handle pintu kamarnya.


"Kita bicara didalam saja." putus El seraya ngeloyor ke dalam tanpa mempedulikan tanggapan Florensia terlebih dahulu.


"T-tunggu ... tunggu sebentar ...!"


El berbalik dengan alis bertaut. "Ada apa lagi?"

__ADS_1


"Aku ... maksudku ... kita bicara diluar saja."


El tersenyum kecil mendapati keengganan Florensia untuk masuk kedalam kamarnya.


"Di ranch ini tidak ada tempat yang paling aman untuk bicara, selain kamarku dan ... kamarmu ..."


"A-apa maksudmu?!" Florensia mendelik keki mendengar kalimat aneh El.


"Jangan berprasangka dulu. Kau pasti belum lupa kan, bahwa disini, tidak ada seorangpun yang tahu bahwa kita telah saling mengenal satu sama lain. Semua orang tahu bahwa kau adalah kekasih Luiz. Kau pasti tidak ingin jika ada yang melihat kau dan aku ..."


Mengambang.


Derap langkah kaki tergesa milik seseorang yang terdengar beradu dengan lantai membuat wajah El dan Florensia menegang bersamaan.


"Ada yang datang ..." desis El.


El bahkan belum sempat melakukan sesuatu manakala Florensia telah menghambur kedalam kamarnya begitu saja dengan wajah super panik.


Saking tergesa-gesanya Florensia yang membanting pintu kamar El, tubuh ramping milik wanita itu kini ikut terhuyung.


"Aaaaa ..."


"Ssssttt ..."


El membungkam lembut mulut mungil yang nyaris menjerit tersebut.


Pinggang Florensia yang berhasil ditangkap El kini mendarat sempurna dalam pelukan, membuat El sontak berdebar akibat sebuah benda bulat kenyal yang tak sengaja menempel di dadanya.


Namun meskipun demikian, tangan kanan El terus menopang seluruh bobot tubuh itu dengan kuat, sedangkan tangan kirinya masih bertengger lembut diatas bibir Florensia yang urung menjerit.


"Tenang saja, aku telah menangkapmu." desis El perlahan dengan bibir yang dipenuhi senyum kemenangan yang tak berlangsung lama. Karena begitu Florensia tersadar dengan apa yang sedang terjadi, wanita itu telah melotot galak dan bahkan menggigit pinggiran telapak tangan El yang menutupi sebagian wajahnya.


"Aissshh ..." El meringis tertahan, saat menyadari sekumpulan gigi Florensia yang menancap di telapak tangannya.


"Rasakan." desis Florensia sambil memberontak, melepaskan diri dari rengkuhan El, yang mengakibatkan tubuhnya menempel lekat tak berjarak dengan tubuh pria itu.


Diam-diam Florensia merasa malu saat menyadari bagaimana salah satu bukit kembar miliknya bahkan telah menggenjet permukaan dada yang keras milik El dengan begitu ketat.


"Florensia, kau sudah gila yah? Kau menggigitku, disaat aku telah bersusah-payah menyelamatkan dirimu ...?" protes El sambil mengibas-ngibaskan tangannya berkali-kali ke udara, seolah sedang berusaha mengusir rasa perih bekas gigitan Florensia yang tak tanggung-tanggung.


Mendengar dumelan itu Florensia menyeringai sinis. "Hanya Tuhan yang tahu apa yang kau sebut dengan bersusah-payah menyelamatkan diriku menurut versimu!" semprot Florensia dongkol.


Florensia bukannya tidak tahu bahwa El memang baru saja menolongnya, tapi bukan berarti ia terlalu bodoh sehingga tidak menyadari modus yang selalu mengiringi setiap tindakan pria itu.


El menggaruk belakang kepalanya, memilih tak meladeni Florensia yang begitu berterus terang saat mencurigai motif terselubung dari pertolongannya barusan, karena pada kenyataannya kali ini Florensia berkata benar.


El memang selalu menyelipkan modus tersembunyi seperti yang dituduhkan wanita itu kepadanya, setiap kali ia memiliki kesempatan untuk berdekatan.


"Baiklah, terserah padamu mau mencurigai diriku seperti apa. Sekarang katakan padaku apa yang kau inginkan, karena jika kau mau protes tentang kompetisi pagi tadi maka semuanya tidak lagi berguna. Aku adalah pemenangnya, karena aku telah mengalahkan dua pria kembar yang hebat itu sekaligus ..." El berucap bangga.


"Kau curang ...!"


... NEXT

__ADS_1


Sebelum NEXT jangan lupa LIKE dan SUPPORT dulu Bab ini yah ... πŸ™


__ADS_2