
Follow ig aq yah. @khalidiakayum
...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, pada akhirnya mobil yang membawa Arshlan, Lana dan Victoria telah memasuki area ranch.
Melihat penampakan mobil SUV tipe sport car coupe milik Luiz yang telah terparkir apik di garasi, semakin menambah keyakinan Arshlan bahwa Luiz memang telah tiba di ranch.
"Panggil Luiz untuk segera menemuiku di ruang kerja." ujar Arshlan yang tidak ingin lagi menunda dalam membereskan persoalan, kepada salah seorang pengawal yang membuka pintu mobil dengan sigap.
"Tapi Tuan Luiz sudah berada di ruang kerja sejak tadi siang, Tuan ..." imbuh sang pengawal kearah Arshlan dengan nada takjim.
"Benarkah?" alis Arshlan terangkat mendengar informasi tersebut.
"Benar, Tuan."
"Kalau begitu aku akan kesana, dan menemui Luiz sekarang juga," ujar Arshlan sambil menatap Lana yang baru saja turun dari mobil yang sama.
"Aku ikut."
"Tidak sekarang Lana ..."
"Pokoknya aku ikut."
Arshlan menarik napasnya menyaksikan betapa keras kepalanya Lana, tapi ia sendiri tahu bahwa jika sudah demikian, artinya ia tak bisa membantah keinginan wanita itu.
"Vic ... pergilah beristirahat lebih dahulu. Mommy akan menemuimu usai bicara dengan Luiz."
Victoria mengangguk mendapati titah Lana, ia tak banyak bicara apalagi membantah, karena ia tahu bahwa kedua mertuanya sedang memikul begitu banyak beban pikiran dikarenakan hubungan Luiz dan Dasha yang sungguh tak tertebak.
Victoria merasa wajar saja jika daddy Arshlan terlebih lagi mommy Lana merasa kesal dengan ulah Luiz.
Kedua mertuanya merasa sangat bersalah, karena telah kecolongan oleh Luiz yang begitu rapi menyimpan semuanya, sehingga dengan sendirinya menaruh Dasha di posisi yang dirugikan sekian lama.
Pada akhirnya, Victoria hanya bisa menyaksikan punggung kedua mertuanya hilang dibalik tembok, sementara ia sendiri memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju kamar Leo.
"Sssstt ... Nona Viiicc ..."
'Egh?'
Langkah Victoria terhenti begitu telinganya menangkap bisikan halus yang memanggil namanya.
Setelah mematung sejenak, Victoria pun menggelengkan kepala.
'Akh, sepertinya aku hanya salah mendengar ...'
Victoria bergumam dalam hati. Ia memutuskan kembali mengayunkan langkah namun lagi-lagi ...
"Nonnaaa ... Nonaa Viiicc ..."
Langkah Victoria kembali terhenti, serta-merta menajamkan pendengarannya, kepala Victoria pun terlihat celingak-celinguk kesana-kemari.
"Nonaaa ...!!"
"Astagaaa ... Dashaaa ...?!" Vic terjingkat ditempat saat menyaksikan tubuh mungil Dasha yang mencoba keluar dengan susah payah, dari bawah kolong mobil tipe jeep yang menjadi salah satu penghuni diantara beberapa koleksi mobil mahal yang memenuhi garasi yang cukup luas itu.
"Kenapa kau bersembunyi disitu, Dasha?!" Victoria mendekati gadis yang nampak cengengesan tanpa dosa, yang dengan acuh menepuk-nepuk beberapa bagian pakaiannya yang sedikit berdebu.
"Nona, aku sangat penasaran dengan kedatangan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana, makanya aku nekad bersembunyi disini untuk menunggu kalian tiba ..." kilahnya ringan.
Victoria menepuk jidatnya perlahan menyadari tingkah konyol gadis yang telah menjadi tambatan hati Luiz, sang pria maha sempurna.
"Kemarilah, ikut aku ke kamarku ..." ajak Victoria sambil menarik lengan Dasha.
"Nona, firasatku mengatakan sesuatu telah terjadi. Apakah itu berarti ..."
"Ssttt, diamlah, dan kita akan bicara nanti, setelah sampai dikamarku ..." ucap Victoria sambil menaruh jari telunjuknya diatas bibir, seolah mengisyaratkan Dasha untuk tidak berisik.
Dasha mengangguk patuh. Ia hanya pasrah saat Victoria menyeretnya keluar dari garasi dan masuk melalui pintu samping, mengambil jalan sedikit memutar untuk sampai ke tempat tujuan, yakni kamar Leo dan Victoria.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Arshlan dan Lana masih setia mematung ditempat.
Seluruh perbendaharaan kata yang awalnya menyesaki benak mereka seolah hilang entah kemana, saat mendapati Luiz yang telah mendahului semuanya lewat pengakuan dan kejujuran tanpa tersisa.
Arshlan yang awalnya berencana memaksa Luiz mengakui perbuatannya hanya bisa membuang napas berat, sementara Lana yang sejak awal berencana hendak mengomel pun hanya bisa menatap Luiz dengan mulut mungilnya yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Dadd ..." panggil Luiz sambil menatap Arshlan yang membisu.
"Momm ..." seperti saat ia menatap Arshlan, Luiz pun disuguhi pemandangan yang sama begitu tatapannya beralih kearah Lana.
Luiz menarik napas sepenuh rongga, seolah berusaha mengisi setiap inchi paru-paru miliknya dengan udara.
Sesaat yang lalu saat Luiz menanti kedatangan Arshlan dan Lana dengan perasaan berkecamuk, ia telah memutuskan untuk menelepon Leo kembali.
Yah, Leo.
Kendati pun selama ini Luiz selalu menganggap bahwa bicara dengan Leo sebagian besar hanya akan membuang energi karena kekonyolan saudara kembarnya yang terlalu akut, namun Luiz justru berpikir sepertinya kali ini ia memang membutuhkan saran dari orang yang otaknya sedikit gesrek, guna menyelamatkan dirinya dari penghakiman kedua orang tuanya.
"Kau harus mencuri start."
Itu adalah kalimat Leo, saat dirinya nekad meminta saran dari pria yang lebih banyak bertindak nyeleneh daripada serius itu.
"Mencuri start?" alis Luiz bertaut.
"Hhhmm."
"Kau pikir aku mau lari marathon?"
"Haiihh ... Luiz, kenapa kau selalu saja berubah menjadi bodoh dalam keadaan seperti ini?"
"Kalau begitu tolong bicaralah dengan jelas, jangan menggunakan kalimat perumpamaan yang hanya bisa menyakiti otakku saja!" dumel Luiz panjang-pendek.
Hembusan napas kesal milik Leo diseberang sana terdengar jelas, namun Luiz mengacuhkannya.
"Maksudku dengan mencuri start, adalah kau harus bicara lebih dahulu, mengakuinya dengan jujur tanpa tersisa, sebelum daddy dan mommy menghakimi dirimu."
Luiz terdiam.
'Bicara lebih dahulu?'
'Mengakuinya dengan jujur?'
'Si al ...!'
Luiz mengumpat dalam hati.
Bagaimana tidak?
"Luiz, kau mendengarku tidak?"
"Apakah ... tidak ada cara lain ...?" Luiz berucap ragu.
Suara decak kesal Leo terdengar jelas di ujung sana. "Sudah seperti ini, kau masih mau berkelit? Ck ... ck ... ck ... Luiz, kau ini benar-benar keras kepala ..."
"Baiklah ...! Baiklah ...!" pungkas Luiz merasa tak lagi memiliki jalan lain. "Katakan semua yang menurutmu harus aku lakukan dan aku akan menuruti semuanya. Bagaimana? Kau puas?"
Mendengar kalimat pasrah Luiz justru tawa meriah Leo yang terdengar, sementara Luiz hanya bisa menggeram jengkel dengan gigi bergemeretak.
"Ha ... ha ... ha ... sulit dipercaya, akhirnya kau membutuhkan aku juga ..." ujar Leo sedemikian usilnya, namun kali ini Luiz hanya bisa mengelus dada.
'Sabar ... sabarlah Luiz ... karena pada kenyataannya kau benar-benar membutuhkan saran gila dari cecunguk ini kalau kau benar-benar ingin selamat ...'
Luiz kembali membathin dengan tangan yang naik-turun diatas dadanya, berusaha menyeimbangkan emosi dan akal sehatnya sekaligus, agar dirinya lebih kuat menghadapi Leo dengan segala tingkah dan sarannya, yang semoga saja manjur dalam menghadapi kekecewaan kedua orang tua mereka kepada dirinya.
"Luiz, kau sungguh terlalu ..."
Setelah hanya diisi keheningan, pada akhirnya suara Lana terdengar menyeruak lirih.
"Bagaimana mungkin kau begitu tega melakukan semua itu kepada Dasha ..."
"Maafkan aku, Momm ..." Luiz tertunduk penuh penyesalan.
"Kenapa kau begitu egois, Luiz? Apa kau tidak memikirkan masa depan Dasha?" kali ini suara Arshlan yang terdengar.
Luiz berusaha mengangkat wajahnya, mencoba menentang sepasang mata Arshlan yang menyorot tajam.
Baik Luiz maupun Leo begitu sering menerima omelan Lana, tapi tidak dengan Arshlan.
Sejak Luiz dan Leo masih kecil, lalu beranjak remaja, kemudian menjadi dewasa ... Arshlan tidak pernah sekalipun menyalahkan Luiz dan Leo, meskipun mereka melakukan kenakalan yang sedemikian besar.
Tapi kali ini ... untuk yang pertama kalinya, Luiz bisa menyaksikan raut kekecewaan itu disepasang mata tua Arshlan, dan semua itu karena dirinya!
"Dadd, maafkan aku. Untuk semua yang terjadi, aku sadar aku tidak bisa lagi mengembalikannya seperti semula. Tapi aku ingin bertanggung jawab, dadd. Aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah aku lakukan ..."
__ADS_1
Luiz berdiri tegak dengan kepala terangkat.
"Momm ... dadd ... ijinkan aku menikahi Dasha sebagai bentuk pertanggungjawabanku kepadanya ..."
"Lalu bagaimana dengan masa depan Dasha, Luiz ...?"
"Aku akan tetap memberikan Dasha kesempatan dalam menggapai masa depannya. Tapi semua keputusan bukan berada ditanganku, melainkan berada di tangan Dasha. Kendatipun menurutku itu adalah hal yang baik, tapi belum tentu Dasha akan menerimanya. Intinya ... aku tidak ingin egois, dan aku juga berharap mommy dan daddy bisa memahami. Please ... biarkan Dasha yang memilih apa yang ia inginkan, bukan memaksakan apa yang kita inginkan ..."
Skakmat.
Mendengar kalimat panjang Luiz, Lana terlihat tercengang, sementara Arshlan sedikit tertunduk.
Seolah tidak ingin mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh Arshlan atas kehidupan Lana di masa lalu, pemikiran Luiz telah menggugah kesadaran Lana terlebih Arshlan.
Tak ada satu pun kata yang salah.
Luiz benar, membiarkan Dasha memilih sendiri jalan menuju masa depannya adalah point yang utama, dan itu sama sekali tidak bisa di intervensi oleh Arshlan, Lana, begitupun Luiz.
"Momm ... dadd ... bagiku, menikah bukanlah penghalang bagi Dasha untuk meraih cita-citanya. Jika Dasha yang meminta, maka aku berjanji akan bersabar. Tapi sebaliknya, jika yang diinginkan Dasha bukanlah seperti apa yang aku pikirkan ... maka aku pun tidak akan pernah memaksanya."
Arshlan menatap Luiz lekat, sebelum kemudian memutuskan untuk beranjak mendekat, dan menepuk bahu Luiz berkali-kali, begitu jarak mereka terjangkau oleh tangannya.
"Mendengarmu mengatakan semua itu, lalu apalagi yang bisa daddy katakan?"
Sedikit kelegaan menyeruak dari celah hati Luiz, saat menyadari dukungan Arshlan yang telah menghangatkan setiap relung sanubarinya.
"Maafkan aku, dadd. Aku telah mengecewakan daddy dengan sikap pengecutku ..."
Arshlan menggelengkan kepalanya. "Asal kau bisa memperbaiki kesalahan dan berani bertanggung jawab, semua itu sudah cukup membuat daddy bangga ..."
Luiz tersenyum semringah, menyadari kalimat Arshlan yang seolah menjadi penyemangat untuknya.
Sesaat kemudian, kepala Luiz menoleh kearah Lana yang masih berdiri ditempatnya, belum bergeming.
Luiz pun memutuskan untuk mendekat, setelah sebelumnya ia mengurai rengkuhan Arshlan dibahunya terlebih dahulu.
"Momm, apakah kesalahanku bisa dimaafkan ...?" tanya Luiz hati-hati, saat menyadari ekspresi wajah Lana yang tak tertebak.
Lana terlihat maju satu langkah guna lebih mendekatkan dirinya dengan Luiz.
Tanpa disangka tangan kanan wanita itu telah terangkat, dan jemarinya yang lentik nampak bertengger tepat ditelinga kiri Luiz yang terkejut bukan main.
Luiz benar-benar tak menyangka jika di usianya yang ke dua puluh tujuh tahun, bisa-bisanya telinganya di jewer oleh sang mommy tanpa ampun, bak seorang bocah.
"Awwwww ... aduhh ... aduhh ... ampuuunn, moommmmm ..." Luiz sontak mengaduh kesakitan.
Lana melotot. "Rasakan, dasar anak nakal ...!!" ujar Lana yang terlihat semakin gemas menjewer telinga Luiz.
"Mooomm, hentikaann ... ampuunn, moommm ..."
"Tidak semudah itu!"
"Momm, awww ... pleaseee ..."
"Lana, hentikan, telinga Luiz bisa putus kalau kau terus menjewernya seperti itu." mau tak mau Arshlan harus turun tangan saat menyaksikan seluruh wajah Luiz yang memerah, akibat dashyatnya jeweran Lana yang belum juga terlepas.
"Aku harus menghukumnya, atas semua kesalahannya, yang belum apa-apa telah memperlakukan Dasha seperti itu. Haiiih ... bisa-bisanya kau membawa gadis kecilku keatas bukit di malam hari, dan memulangkannya keesokan hari? Luiz, aku tidak akan melepaskanmu ...!"
"Ampunn, mooommm ... asshh ..."
"Lana, lepaskan ..."
"Tidak."
"Aku bilang lepaskan."
"Huhhhh ...!!"
Bibir Lana mencebik.
Namun tak urung, meskipun dengan sangat terpaksa ia telah menghentikan aksi brutalnya ke telinga Luiz, begitu mendapati peringatan Arshlan yang terdengar semakin serius.
Sementara Luiz buru-buru mengambil jarak aman dari jangkauan Lana, masih sambil mengusap telinga kirinya yang memerah sempurna ...
...
Bersambung ...
__ADS_1
LIKE and SUPPORT-nya selalu ditunggu ... π€