TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
DIANTARA KERINDUAN


__ADS_3

Diam-diam Marina melirik kecil kearah Lana yang duduk ditepian ranjang miliknya. Gadis itu sedang duduk tenang dua kedua jari yang sibuk merajut pintalan benang.


Kalau dilihat gerak-geriknya sepertinya Lana baru saja mempelajari hal tersebut. Itu terbukti dari betapa seringnya ia menatap sebuah buku yang berjudul 'Panduan Merajut Untuk Pemula'.


Baru dua hari tinggal dirumah megah ini, sudah banyak hal yang membuat Marina tercengang.


Memangnya sejak kapan Lana, putrinya yang pemberontak itu tertarik dengan aktifitas merajut seperti saat ini..?


Bukankah selama ini gadis itu hanya hobi keluyuran tak tau rimbanya dengan sahabatnya bernama Siska, gadis liar yang telah menjadi kiblat Lana sekian lama..?


Dan jika Lana berada dirumah, bukankah Lana hanya gemar mengurung diri dikamar sambil menyetel musik house yang kencang..?


Seumur hidupnya, Marina tidak pernah melihat Lana melakukan hal yang berguna, apalagi sampai merajut benang seperi saat ini..!


Sifat Lana pun telah berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat.


"Tadi siang ayahmu menemui Ibu di kantor."


Marina memutuskan membuka suara guna memecah keheningan, saat menyadari Lana tak kunjung bicara, terus sibuk dengan aktifitasnya.


"Ayahmu ingin menemuimu, tapi sepertinya dia sangat malu."


Kali ini Lana terlihat mengangkat wajahnya. Kedua tangannya yang masih memegang jarum dan benang wol ia letakkan diatas pangkuan.


"Kenapa Ayah harus merasa malu..? Ayah bisa datang kapan saja kalau ayah mau bertemu denganku."


"Sudah Ibu katakan tapi mungkin Ayahmu butuh waktu untuk menata hati agar bisa melihatmu dengan percaya diri. Lana, Ayahmu sangat malu karena ia tidak datang untuk menjadi wali dipernikahanmu.."


"Bu, katakan pada Ayah, aku sungguh sudah melupakan semua itu.."


Marina mengangguk. "Sudah Ibu katakan. Begitupun juga tentang uang lima milyar. Ibu sudah mengatakan semuanya kepada Ayahmu."


"Aku harap Ayah senang mendengarnya. Maaf Bu, aku hanya bisa membantu dengan jalan seperti itu. Tuan Arshlan ingin uangnya diberikan dua minggu kemudian.."


"Tidak apa-apa, Lana. Tidak perlu memaksa Tuan Arshlan terlalu keras. Asalkan suamimu mau memberikan uangnya, Ayah dan Ibu pasti akan sabar menunggu. Lagipula hanya menunggu dua minggu kan.." wajah Marina terlihat berseri-seri saat membayangkan bisa mendapat setengah bagian dari uang pemberian Lana untuk berlibur dengan Beno keluar negeri.


Yah.. Beno, pria berondong yang diam-diam masih menjadi kekasih Marina, telah menyebut Paris sebagai tujuan utama misi awal dalam rangka menghabiskan uang yang kelak akan Tuan Arshlan berikan.


Sementara Mona, kekasih Robi, mantan suaminya, telah berhasil merayu Robi untuk mengunjungi Korea, bermimpi bisa mengunjungi Bighit Entertainment guna menemui para personil BTS yang merupakan idola gadis itu.


"Oh ya Lana, kenapa Tuan Arshlan belum pulang juga..?" tanya Marina lagi saat menyadari jarum jam dinding yang telah menunjukkan nyaris pukul sembilan malam.


Apa yang diucapkan pria itu tadi pagi ternyata benar, karena Tuan Arshlan benar-benar tidak pulang saat makan siang, juga melewatkan jam makan malam, sehingga tadi Marina hanya makan malam berdua dengan Lana saja.


"Belum, Bu.." Lana nampak membereskan semua peralatan merajut kedalam keranjang rotan berukuran sedang, yang menjadi wadah dari peralatan merajut miliknya.

__ADS_1


"Apa Tuan Arshlan selalu pulang larut malam..?" tanya Marina lagi penuh rasa ingin tau yang besar.


"Pulang larut malam, dan terkadang tidak pulang sama sekali.." jawab Lana jujur masih sibuk mengatur isi dalam wadah rotan satu persatu.


"Kau.. memangnya kau tidak penasaran dengan semua yang dilakukan suamimu diluar sana..?"


"Sejujurnya aku penasaran. Tapi mungkin masih lebih baik jika aku tidak mengetahui apa-apa.."


"Lana.. kau ini.. apa kau benar-benar menyukai Tuan Arshlan..?"


Lana tersenyum gamang. "Tidak hanya menyukai, tapi aku sungguh-sungguh mencintai Tuan.."


"Kalau begitu mata hatimu sudah tertutup cinta..! kau bahkan tidak keberatan hidup seperti tawanan. Apa kau yakin Tuan Arshlan juga mencintaimu sebesar rasa cintamu?"


Kalimat terakhir Marina mampu menghentikan sejenak gerak Lana yang telah bangkit dengan keranjang rotan ditangan.


Lana telah menatap Marina dengan lekat, dengan tatapan yang sulit diartikan apa yang sedang bercokol dikedalamannya.


"Mungkin tidak.. atau.. belum.."


Marina terhenyak, tak menyangka jika jawaban Lana adalah seperti itu. Sangat jujur.


Padahal Marina telah mengira Lana akan menjawabnya dengan angkuh demi memamerkan diri bahwa dia adalah gadis beruntung yang dipilih Tuan Arshlan menjadi istrinya yang sah, diantara para wanita yang berlomba-lomba mendapatkan posisi tersebut.


"Lana, maaf kalau Ibu lancang. Tapi Ibu harus mengingatkanmu tentang satu hal, bahwa sebaiknya mulai sekarang kau harus menyiapkan dirimu.."


"Lana, sekali lagi maaf.. Ibu memang tidak tau, motif apa yang melatarbelakangi Tuan Arshlan sehingga nekad menikahimu. Bukannya Ibu meremehkanmu, Lana.. tapi pada kenyataannya diluar sana ada begitu banyak wanita yang mengejar cinta Tuan Arshlan, dan ada begitu banyak wanita yang juga pernah bersama dengan Tuan Arshlan. Lalu kenapa dia harus memilihmu..? pasti ada sesuatu yang membuatnya tertantang..!"


'Mungkinkah karena aku terus mengejarnya, tapi tidak pernah mau memberikan sesuatu yang kuanggap paling berharga..?'


Lana membathin sendu, namun mulutnya senantiasa terkunci.


"Pasti ada alasan yang membuat Tuan Arshlan nekad memilihmu, Lana. Karena itulah tolong dengarkan saran Ibu. Sebelum Tuan Arshlan benar-benar bosan padamu, mintalah sesuatu yang berguna untuk masa depanmu. Jangan melakukan hal yang bodoh, dengan hanya duduk diam, dan terus menunggunya sambil merajut benang..!" sindir Marina, terang-terangan melirik keranjang rotan yang ada dalam genggaman Lana.


"Ibu, ini sudah larut, sebaiknya aku kembali kekamar. Ibu juga harus beristirahat karena besok pagi Ibu juga harus bekerja, bukan..?" pungkas Lana seraya menahan sakit di ulu hatinya akibat rentetan kalimat Marina yang seolah menikam jantungnya. "Selamat malam, Ibu.."


Lirih Lana menunduk takjim, ia bergegas pamit dan melangkah meninggalkan kamar tamu yang ditempati Marina, memilih meniti anak tangga untuk menuju lantai dua dengan langkah gontai.


Lana hanya tersenyum sekilas saat menyaksikan sosok Asisten Jo berdiri tak jauh dari sana, menghadap penuh kearah pintu kamar Marina tempat dimana Lana keluar dari sana.


XXXXX


'Wanita mana yang tidak ingin dicintai sepenuh hati, oleh orang yang dia cintai..?'


Lana pun demikian.

__ADS_1


Awalnya ia begitu optimis dan tekadnya menyala-nyala, bahwa ia bisa mendapatkan hati Tuan Arshlan dengan mudah, asalkan dia memiliki cinta yang tulus, sabar tak berujung, dan bisa menyenangkan pria itu.


Tapi semakin hari keyakinan Lana seolah semakin aus, meskipun Lana terus berusaha mendapatkan tempat dihati Tuan Arshlan, pada kenyataannya pria itu hanya baik disaat mereka bersama dan bermesraan.


Selebihnya.. Tuan Arshlan seolah tak tertarik dengan apapun tentang dirinya, apalagi merindukannya..!


'Apakah karena aku benar-benar tidak sederajat dengan Tuan..?'


'Apakah sebagai istrinya aku benar-benar tidak berguna dan bisa membuat Tuan Arshlan bangga..?'


'Aku bahkan sudah memberikan diriku seutuhnya, tapi sepertinya semua itu belum cukup layak..'


'Ataukah karena aku kurang bersabar.. kurang berusaha..'


'Tapi setelah melewati semua ini, apakah ada jaminannya jika suatu saat aku tidak akan disingkirkan..?'


Lana terus bermonolog dalam hati.


Usai menaruh keranjang rotan berisi peralatan merajut keatas meja, Lana duduk terpekur, disebuah sofa empuk yang ada didalam kamar yang maha luas benuansa dark yang kental.


Nyaris semua furniture dan dekor kamar itu berwarna hitam misterius, yang berpadu dengan sedikit warna putih atau abu-abu yang keduanya bahkan tidak dominan.


Suasana kamar itu seolah sangat mencerminkan sisi gelap seorang Tuan Arshlan yang sesungguhnya.


"Tuan, aku rindu.." Lirih Lana penuh kerinduan, sambil mengusap sebulir crystal disudut matanya.


Lana membungkuk guna meraih sebuah pola sederhana dari syal yang mulai terbentuk dibagian ujungnya.


Lumayan.


Karena dalam sehari Lana telah berhasil membuat langkah awal pada rajutannya, meskipun baru tadi siang Asisten Jo membawakan semua peralatan merajut yang ia minta, guna mengisi waktu luang yang kerap terbuang sia-sia.


"Aku tidak boleh lemah dan aku akan menahan semua rasa sakit ini. Agar kelak jika Tuan tidak menginginkan aku lagi seperti kata Ibu.. aku juga harus rela jika Tuan akan memintaku pergi.."


Lana telah mengikrarkan tekadnya, dengan jemari yang kembali menari bersama jarum dan benang. Ekspresi wajahnya terlihat sendu.


Sementara malam semakin larut..


Dan keheningan terus memeluk hati Lana yang sunyi..


Diantara kerinduan..


Juga ketidakpastian hari esok..


...

__ADS_1


Bersambung..


Lophyuuu all... 😘


__ADS_2