TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
MENUNGGUMU


__ADS_3

Malam mulai larut ketika Lana keluar dari kamar tamu. Ia nyaris terjingkat ketika mendapati sosok Asisten Jo berdiri tegak tak jauh dari sana, seolah sengaja menunggunya keluar dari kamar tersebut.


"Astaga, Asisten Jo, kau mengagetkanku..!" Lana yang nyaris memekik terlihat mengelus dadanya perlahan.


"Maaf kalau kehadiranku mengejutkan, Nyonya." pungkas Asisten Jo dengan wajah yang datar, tak ubahnya dengan ekspresi Tuan Arshlan.


'Sepertinya orang-orang yang berada disekitar pria itupun memiliki raut wajah yang sama. Semuanya datar dan minim ekspresi.. persis seperti majikannya..!'


Lana membathin seraya mengawasi sosok Asisten Jo yang masih berada ditempatnya.


"Asisten Jo, apa Tuan Arshlan belum kembali?" tanya Lana yang entah untuk yang kesekian kalinya seharian ini, namun Asisten Jo tetap menjawabnya dengan sabar dan sopan.


"Belum, Nyonya."


Mendengar jawaban yang sama itu wajah Lana kembali murung.


"Nyonya sebaiknya beristirahat saja, Tuan sudah mengatakan tidak perlu menunggu.."


"Seharusnya Tuan Arshlan mengatakannya langsung kepadaku, bukan kepadamu." sungut Lana sambil menatap jutek kearah Asisten Jo yang diam saja, lagi-lagi tanpa ekspresi berarti menerima kemanjaan Lana yang seolah seperti seorang gadis yang sedang jealous padanya.


Lana telah melangkahkah kakinya, tapi bukannya menuju kamar malah kearah ruang tamu. Mendapati hal itu Asisten Jo langsung membuntuti langkah Lana dengan wajah panik.


"Nyonya.. Nyonya Lana mau kemana..?"


"Tidak kemana-mana.." ujar Lana acuh sambil menghempaskan tubuhnya diatas sofa yang mahal.


"Tapi Tuan Arshlan menyuruh Nyonya untuk beristirahat secepatnya.."


"Aku tidak percaya Tuan Arshlan mengatakan seperti itu." tepis Lana cuek.


"Nyonya aku tidak mungkin berbohong. Tuan Arshlan telah mengatakannya dengan jelas di telpon bahwa Nyonya harus.."


"Kalau begitu suruh dia untuk bicara langsung kepadaku..! kenapa dia tidak mengatakannya langsung..? kenapa dia terus saja bicara denganmu..?" ujar Lana keras kepala.


"Nyonya, kau bahkan tahu bahwa aku tidak mungkin menyuruh seorang Tuan Arshlan apalagi mengaturnya.." ujar Asisten Jo dengan nada suara rendah.


Mendengar itu Lana diam saja. Ia bukannya tidak kasihan dengan Asisten Jo tapi bagaimana mungkin hatinya tidak kesal setelah diacuhkan seharian..?


'Apa Tuan Arshlan tidak merindukan diriku sedikit pun? padahal seharian ini saja aku merasa hampir mati menahan rindu pada pria tua itu..!'


"Nyonya Lana, tolong jangan seperti ini.. bisa-bisa aku di.."

__ADS_1


"Aku belum mengantuk." pungkas Lana masih dengan intonasi suaranya yang sejak awal. Acuh tak acuh. Pemandangan seraut wajah panik milik Asisten Jo bahkan membuat Lana tertawa terpingkal-pingkal. "Asisten Jo, duduklah.." ujar Lana lagi begitu tawanya mereda.


"Tidak Nyonya.."


Penolakan Asisten Jo yang sopan membuat Lana terdiam sejenak sebelum akhirnya ia kembali mengangkat wajahnya.


"Asisten Jo, aku hanya ingin bicara sebentar dengan seseorang. Aku tidak tau harus bicara dengan siapa. Kalau aku bicara seorang diri aku takut menjadi gila.. untuk itulah aku butuh dirimu, duduklah disana.." kini kalimat Lana terdengar serius namun terucap tenang. Tidak ada lagi nada acuh, ucapan seenaknya, serta sikap kekanak-kanakan yang tadi sempat mewarnai sikapnya diawal pembicaraan.


Melihat keseriusan sang Nyonya majikan cukup menbuat Asisten Jo mengalah, setelah terlebih dahulu membuang nafasnya yang berat.


"Baiklah, aku siap mendengarkan semua unek-unek Nyonya, tapi jangan suruh aku duduk. Aku akan berdiri saja." ujar Asisten Jo kemudian.


Mau tak mau Lana pun mengangguk menyetujuinya.


Untuk sejenak suasana diantara mereka diruang tamu itu hanya diisi dengan keheningan, membuat Asisten Jo merasa seolah sedang berada diruang persidangan.


"Asisten Jo.." panggil Lana perlahan.


"Iya, Nyonya..?"


"Bolehkah aku bertanya..?"


"Asisten Jo, mengapa kau sangat ngotot menyuruhku beristirahat sejak tadi..?" tanya Lana memulai interogasinya.


"Karena itu adalah titah Tuan Arshlan, Nyonya."


"Apakah Tuan benar-benar akan pulang malam ini, atau dia hanya sedang memberi harapan palsu..?"


Kali ini Asisten Jo terdiam. Sesungguhnya dalam hati Asisten Jo pun ragu apa majikannya itu akan pulang karena ia sendiri pun merasa bahwa sepertinya Tuan Arshlan tidak akan kembali malam ini.


"Tidak perlu dijawab jika kau tidak yakin." pungkas Lana lagi seolah tau persis keresahan yang sedang bercokol dibenak Asisten Jo.


"Kau pasti telah melaporkannya secara menyeluruh tanpa ada yang terlewat, bukan..?" tanya Lana lagi sambil mengerling sedikit.


"Maksud Nyonya..?" alis Asisten Jo terlihat sedikit bertaut.


"Tentang Ibuku. Kau pasti telah mengatakannya kan..? tidak mungkin saat ini Tuan Arshlan tidak tau bahwa Ibuku datang menemuiku tadi pagi, dan dia terus berada di rumah ini sepanjang hari, bahkan kini menginap dirumah ini.." lirih Lana lagi.


Pada kenyataannya, Marina memang telah berhasil memaksa Lana sehingga mengijinkan dirinya menginap disana untuk beberapa hari.


Mendengar itu Asisten Jo pun mengangguk. Percuma juga dirinya menyembunyikan semuanya karena sepertinya Nyonya Lana sendiri sudah tau bahwa ia memang memiliki kewajiban untuk melaporkan hal sekecil apapun yang terjadi dirumah yang megah ini kepada Tuan Arshlan tanpa terkecuali.

__ADS_1


"Asisten Jo, katakan padaku sejujurnya.. apakah aku telah melakukan kesalahan dengan memberikan Ibuku kesempatan..?"


Untuk sesaat Asisten Jo terdiam, sengaja memikirkan sejenak kalimat seperti apa yang harus ia ucapkan sebagai jawaban dari pertanyaan Lana yang cukup sulit untuknya, namun ia memilih mengucapkan hal meskipun terkesan sedikit diplomatis.


"Nyonya Lana, aku tidak bisa memutuskan apa yang telah Nyonya lakukan itu salah atau benar, tapi yang bisa aku katakan saat ini adalah aku membenarkan semua kalimat Nyonya, bahwa memang benar Tuan Arshlan telah mengetahui semua yang terjadi di rumah ini sejak tadi pagi tanpa terkecuali, tapi Tuan Arshlan tidak mengatakan apa-apa. Tidak marah.. tidak menyalahkan.. tapi tidak juga membenarkan.."


Lana terdiam lagi.


"Baiklah, satu pertanyaan terakhir, mohon jawablah dengan jujur karena aku yakin kau pasti mengetahuinya.."


"Pertanyaan apa, Nyonya..?"


"Bahwa Tuan tidak sedang berada diluar kota seperti yang kau katakan sejak tadi siang, dan Tuan Arshlan hanya sedang berusaha menghindar dari diriku sepanjang hari. Aku bahkan merasa.. dia tidak akan kembali kerumah malam ini."


Kali ini tenggorokan Asisten Jo benar-benar telah tercekat saat mengetahui Lana bahkan bisa menebak dengan jitu semuanya hingga ke akar-akanya.


"Tidak perlu dijawab, karena sejak awal aku sudah bisa menebak jawabannya." ujar Lana sambil tersenyum kecut, kemudian dengan santai ia bersandar diatas sofa panjang yang ia duduki, seolah sedang mencari posisi ter-nyaman. "Aku akan tidur disini." pungkasnya memutuskan begitu saja.


"Egh..?"


"Aku akan menunggu disini, sampai Tuan Arshlan pulang."


Dalam sekejap sikap keras kepala Lana telah membuat sepasang mata Asisten Jo membeliak lebar.


XXXXX


'Pemandangan apa ini..?'


Arshlan mengerinyitkan alisnya mendapati pemandangan Lana yang tertidur lelap, hanya dengan bersandar nyaman disalah satu sofa yang ada diruang tamu.


"Asisten Jo, apa kau sudah gila..?! kenapa kau biarkan Lana tidur di sofa seperti itu..?? punggungnya bisa sakit..!!" Arshlan telah berteriak seperti orang gila diponselnya, begitu panggilannya direspon.


"Maaf, Tuan.. aku sudah berusaha melarang, tapi Nyonya tetap ngotot tidur disana, untuk menunggu Tuan pulang.."


...


Bersambung..


Manaaaa.. 🤪


Lophyuuu all, my kesayangan lope-lope.. 😘

__ADS_1


__ADS_2