TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 45. Selalu Salah


__ADS_3

"Aku jawab disini saja yah ...


Kalian ada yang mikir kenapa karakter Lana berubah?


Jadi kalau kita kilas balik sifat Lana, dulunya dia sangat naif, polos, dan mudah mempercayai kebaikan orang lain. Kenapa karakter Lana sekarang jadi agak menyebalkan, ya karena berkaca dari masa lalu, sekarang Lana tidak bisa mempercayai orang dengan mudah, apalagi pada awalnya sikap Victoria sendiri pun tidak begitu baik. Wajar jika Lana lebih berhati-hati, menyangkut kebahagiaan dan masa depan Luiz dan Leo.


So ...?


Nikmati saja yah ... dan percayakan semuanya kepada author, untuk setiap alurnya ... πŸ€—


Cekidooottt ... 😍


...


"Mommy ..." panggilan lirih Victoria bukan hanya membuat Lana menoleh melainkan juga Dasha.


"Ada apa, Vic?" tanya Lana, kesibukannya mengecek beberapa macam dessert yang baru saja didatangkan oleh pihak catering telah teralih begitu saja ke wajah Victoria yang telah menatapnya dengan tatapan sedikit gelisah.


Victoria melirik sebentar kearah Dasha yang sedang asik mencicipi sebuah kue kering dari dalam toples, sebelum kembali mengalihkan wajahnya kearah Lana.


"Mommy, aku ... sepertinya aku tidak bisa ikut serta pada pesta nanti malam ..." ujar Victoria dengan sedikit salah tingkah.


Alis Lana sontak bertaut mendengarnya. "Apa maksudmu, Vic ...?"


"Maksudku ... sebaiknya aku dikamar saja, Momm."


Kali ini konsentrasi Lana semakin tertuju pada Victoria seorang. "Tapi apa alasannya kau ingin dikamar saja? Kau tidak suka dengan kedatangan Luiz atau ..."


"Tidak, tidak, Momm, bukan seperti itu ..." pungkas Victoria secepat kilat, mencegah Lana salah mengerti dengan maksud ucapannya.


"Nona Vic, acara nanti malam kan sangat penting untuk Tuan Luiz, tapi kenapa kau malah tidak ingin hadir ...?" selorohan cuek Dasha membuat Victoria ingin sekali mencubit pipi gadis yang masih saja asik mengunyah kue kering itu.


"Kau tidak usah ikut campur, anak kecil." ujar Victoria tidak bisa memendam kekesalannya atas campur tangan Dasha yang begitu enteng menyanggah pembicaraan dirinya dengan Lana, sang ibu mertua.


"Vic, kenapa kau marah? Kau sendiri tahu bahwa dia masih kecil, lalu untuk apa kau menanggapinya?"


"Maaf, Momm." Victoria telah berucap lirih, sambil menekan rasa kesal didalam hati, terlebih saat ujung matanya malah menangkap juluran lidah dari Dasha yang sengaja mengejeknya.


"Sekarang katakan saja apa alasanmu, sehingga kau memilih berdiam diri dikamar disaat moment penting keluarga? Apakah kau sedang sakit?"


Victoria menggeleng perlahan.


"Lalu?"


"Anu, Momm ... aku mendengar Leo akan mengajak beberapa orang teman agensinya untuk datang. Karena itu aku tiba-tiba berpikir bahwa, apakah keberadaanku nanti tidak akan berpengaruh pada reputasi Leo yang selama ini..."


Mengambang, tapi lewat raut wajah Lana, Victoria yakin bahwa mertuanya itu telah paham dengan apa yang ia maksudkan.


Lana memang sedikit terhenyak mendengar penuturan Victoria. Ia bahkan baru menyadari bahwa ia telah melupakan hal penting tersebut, jika Victoria tidak mengingatkannya.


Keberadaan Victoria sebagai istri Leo memang tidak ada yang mengetahuinya, hanya segelintir orang yang benar-benar dekat, termasuk para maid dan pengawal.


Tentu saja orang-orang yang mengetahui status Leo itu sudah bisa dipastikan tidak akan membocorkan rahasia tersebut kepada siapapun, apalagi ke awak media.

__ADS_1


Kemarin, karena permintaan Dasha yang menginginkan tanda tangan seorang artis muda pendatang baru bernama Lisa, Leo telah nekad mengundang Lisa dan beberapa rekan agensinya dalam pesta sederhana yang akan dilaksanakan nanti malam, dan hal itu nyaris luput dari perhatian Lana.


Victoria benar, kalau ingin semuanya berjalan sebagaimana mestinya, maka wanita itu memang tidak perlu hadir disana.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Nona, Vic, tunggu sebentar ..."


Victoria menghentikan langkahnya yang hendak menaiki anak tangga.


Saat ia menoleh, ia telah melihat Dasha berlari kecil menghampirinya. Seperti biasa, gadis itu seolah selalu memiliki kekuatan ektra, yang mampu membuatnya terus-menerus ceria sepanjang hari.


"Ada apa?" tanya Victoria dengan kalimat datar, begitu pun dengan mimik wajahnya.


"Aku minta maaf." ungkap Dasha to the point.


"Maaf? Tumben, ada angin apa tiba-tiba kau ingin minta maaf kepadaku?'


Dasha menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


Sejak kecil Dasha telah terbiasa mengerjai Victoria setiap kali memiliki kesempatan, tapi semua itu juga dikarenakan sikap Victoria sendiri yang memang menyebalkan.


Sesungguhnya akhir-akhir ini Dasha menjadi sedikit lebih iba dengan nasib Victoria.


Meskipun lima tahun telah berlalu tapi hubungan Leo dan Victoria tak kunjung membaik.


Leo masih begitu sering digosipkan berpacaran dengan banyak wanita, sementara Victoria telah menjadi seekor kelinci yang jinak.


Wanita angkuh itu seolah tidak pernah peduli dan sepertinya tidak pernah merasa sakit meskipun sangat terlihat bahwa Leo benar-benar tidak pernah menganggapnya selama ini.


Namun, terlepas dari sikapnya yang angkuh, Victoria selalu saja bisa bersikap santun saat bicara dengan Tuan Arshlan, maupun menghadapi Nyonya Lana.


"Nona Vic, kau mau menganggapnya atau tidak, tapi ijinkan aku meminta maaf, karena dirikulah yang menyebabkan kau tidak bisa hadir pada pesta nanti malam."


"Bukankah kau seharusnya senang?"


"Hah?!"


Dasha sontak terbelalak, menyadari niat tulusnya telah ditanggapi dengan kalimat super ketus seperti itu.


"Sudahlah, lagipula aku juga tidak butuh permintaaan maafmu. Sekarang kau pasti senang kan? Kau bebas bersenang-senang dan menguasai perhatian semua orang." tukas Victoria sambil menatap keki kearah Dasha.


"Wah ... Nona Vic, padahal aku kan sudah bilang bahwa aku benar-benar minta maaf ..."


"Dan aku juga benar-benar sudah bilang bahwa aku tidak butuh permintaan maaf dari bocah sepertimu!"


Melihat itu Dasha yang awalnya terlihat bicara dengan sopan kini mulai terpancing akhirnya berdiri berkacak pinggang dihadapan Victoria yang juga berdiri acuh memeluk dada.


"Kau ini ... kapan kau akan berubah menjadi orang yang tidak menyebalkan?" ujar Dasha.


"Kapan? Cih, tanyakan pertanyaan itu kepada dirimu. Kau pikir kau tidak menyebalkan?!" desis Victoria.


"Tapi kau yang lebih menyebalkan!"

__ADS_1


"Tidak, kau!"


"Kau yang paling menyebalkan ...!!" tuding Dasha dengan sengit.


"Kau ..."


"Astaga, ada apa ini?"


Leo yang baru saja tiba dari teras samping telah memergoki perdebatan sengit yang terjadi didepan anak tangga, antara Victoria dan Dasha.


"Kalian ini kenapa ...?"


"Dia yang lebih dulu!"


"Dia yang lebih dulu!"


Baik Victoria maupun Dasha telah memekikkan kalimat serupa, membuat Leo tersentak kaget.


"Astaga kalian ini ..."


"Tuan Leo, kata Nona Victoria aku menyebalkan ..." Dasha telah mengadu lebih dahulu.


"Bukankah kau yang mengatakan kalimat itu kepadaku lebih dahulu ...?" balas Victoria.


"Kau yang lebih dahulu ..."


"Tidak. Kau ..."


"Hentikan!!" dengan terpaksa Leo harus bicara dengan nada yang tinggi, untuk melerai dua wanita yang saling melotot satu sama lain, tidak mau mengalah.


Victoria dan Dasha sontak terdiam.


Leo menarik nafasnya berat, menghembuskannya dengan sekali hentakan.


Detik berikutnya tatapannya telah mengarah ke Dasha terlebih dahulu.


"Dasha, pergilah ke teras samping, Mommy sedang menunggumu."


Dengan tanpa kata serta bibir yang naik dua centi, Dasha telah berbalik meninggalkan Leo dan Victoria begitu saja.


"Dan kau ... kenapa kau selalu bertengkar dengannya? Kau tidak malu bertengkar dengan bocah seperti Dasha?"


"Iya, tentu saja ... karena dalam situasi apapun aku selalu menjadi satu-satunya orang yang salah ..." Victoria telah berucap demikian sambil membalikkan tubuhnya begitu saja, menaiki tangga manual tanpa menoleh.


"Victoria, kau ..."


Mengambang.


Leo tidak lagi berniat meneruskan kalimatnya, manakala punggung Victoria terlihat semakin menjauh, seiring langkahnya yang terus menaiki anak tangga satu persatu ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Vote plis πŸ₯°


__ADS_2