
Double up.
...
Yang terjadi adalah ...
Sesaat setelah Luiz membawa Dasha ke bukit ini untuk yang pertama kalinya, dan membuat gadis itu terpukau atas semua keindahan yang ada ditempat ini, saat itu pula Luiz telah merancang sesuatu yang spektakuler.
Sesuai janjinya, Luiz telah memerintahkan pengacara pribadinya agar diam-diam memindahkan aset yang menyangkut bukit ini atas nama Dasha, kemudian Luiz pun memulai proyek pembangunan pondok kecil di puncak bukit sebagai hadiah kelulusan yang istimewa.
Semuanya telah terealisasi dengan sempurna sesuai dengan rancangan yang Luiz inginkan, sebelum akhirnya pembicaraan Luiz dengan daddy Arshlan pada beberapa saat yang lalu telah membuat Luiz mengubah seluruh skenario hidupnya bersama Dasha dalam sekejap mata.
Mendadak Luiz tersadar bahwa semua obsesinya untuk memiliki gadis itu merupakan sebuah keegoisan besar.
Luiz tak ubahnya sosok egois, yang hendak merampok masa remaja sekaligus masa depan Dasha begitu saja.
Hal itulah yang menjadi penyebab utama mengapa Luiz nekad melakonkan peran bersama Florensia, sebagai alasan untuk menolak Dasha yang kerap menuntut janji manis yang terlanjur ia umbar.
Tidak hanya sampai disitu saja, bahkan sejak beberapa hari yang lalu, Luiz yang telah kehilangan semangat untuk merajut asa bersama Dasha dengan berat hati telah memerintahkan asistennya, untuk menghentikan seluruh kegiatan para pekerja yang membenahi tempat ini.
Si alnya Luiz malah lupa menanyakan sejauh mana proses perkembangan orang-orang itu dalam melakukan pekerjaan mereka.
Sehingga saat ini bukan hanya Dasha yang terkejut, melainkan Luiz pun juga berada dalam kondisi kaget setengah mati, mendapati kenyataan bahwa proyek yang seharusnya menjadi kejutan manis untuk Dasha, ternyata tanpa sepengetahuan Luiz telah rampung seratus persen.
Luiz mengangkat wajahnya, dan nafasnya tercekat saat menyadari Dasha yang semula berdiri tegak tepat didepan ucapan selamat untuk kelulusan yang berhiaskan kerlip lampu itu, kini malah berbalik dan mengayunkan langkah kakinya menuju kearah Luiz dengan penuh keyakinan.
Dasha berdiri tepat dihadapan Luiz, dan dari bibirnya sebuah senyum terulas indah.
Wajah Dasha yang sejak tadi judes dan cemberut kini terlihat bersinar secerah mentari di pagi hari.
"Jadi semua ini untukku ...?" tanya gadis itu dengan sinar matanya yang ibarat kejora.
Luiz membuang wajahnya. "Apa?" tanyanya berpura-pura bodoh.
"Semuanya. Pondok kecil yang indah ... ucapan selamat kelulusan ..."
Terlihat sekali kebahagiaan dalam ucapan Dasha, membuat Luiz yang melihatnya ikut tergugu.
"My Future Wife, itu aku kan ...?" tanya Dasha lagi-lagi penuh percaya diri.
Luiz menggeleng. "Jangan ge-er. Kau tahu sendiri bahwa calon istriku itu Florensia, bukan dirimu ..."
"Tapi ucapan kelulusan itu ..."
"Itu juga untuk Florensia." sanggah Luiz cepat tanpa berpikir dua kali, sambil menatap wajah Dasha dengan raut wajahnya yang kesal.
Dasha mencibir. "Nona Florensia bahkan telah lulus sekolah sejak lama, sebelum mengenal Tuan ..."
"Memangnya kenapa? Tidak boleh kalau aku ingin memberikan Florensia ucapan selamatnya sekarang?" jawab Luiz tetap keras kepala, meskipun ia sendiri menyadari bahwa ia sedang melontarkan sanggahan yang aneh.
"Bukan tidak boleh, tapi tidak masuk diakal."
Luiz melengos.
"Terserah Tuan Luiz mau mengatakan apa, yang jelas aku yakin bahwa bukit ini milikku ... pondok kecil itu hadiahku ... dan ucapan yang manis itu ditujukan untukku ..."
Kemudian tanpa mempedulikan Luiz, gadis itu telah berbalik dan kembali melenggang acuh kearah pondok mungil yang terlihat begitu asri dan artistik, karena dikelilingi taman buatan yang sangat indah.
"Egh? D-Dasha ... kau mau kemana ...?"
Teriakan Luiz seolah angin lalu, karena pada kenyataannya gadis itu nekad terus melenggang jauh, hendak memasuki pondok yang Luiz sendiri belum pernah memasukinya.
"Da mn ..."
Desis Luiz kemudian, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul Dasha, yang tidak mengindahkan panggilannya sama sekali.
πΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Dasha merasa semua yang ia temui saat ini sangatlah indah.
Bak berada di negeri impian, dan seolah tak henti dibuat takjub sejak awal bahkan sampai detik ini.
Seperti penampilan luarnya yang menawan, di dalam pondok mungil itu ternyata tetap mengusung konsep yang sama, yakni simple dan praktis.
Ruang depan yang mungil berisikan sebuah sofa mini, dapur super minimalis namun lengkap dengan segala peralatannya, dan sebuah kamar tidur yang nyaman dilengkapi toilet, meskipun lagi-lagi berukuran sangat minimalis.
"Tuan Luiz, bagaimana kalau malam ini kita menginap disini saja ...?"
Usul Dasha sambil melemparkan tubuhnya keatas ranjang berukuran sedang, namun tentu saja sangat empuk dan nyaman.
Mendengar sekaligus melihat tingkah polah Dasha membuat Luiz melotot.
"Jangan aneh-aneh."
Dasha bangkit dari atas ranjang dengan rambutnya yang terburai.
Sepertinya jepitan rambutnya terlepas saat tadi ia melemparkan tubuhnya begitu saja keatas ranjang.
"Ayo kita pulang." ajak Luiz, buru-buru menghindari tatapan matanya dari pemandangan yang seolah menggoda jiwa.
Dasha melangkah mendekati Luiz, memposisikan dirinya begitu dekat, nyaris merapat, membuat Luiz kesusahan bernafas dan menelan ludahnya sendiri.
"Aku tidak mau pulang. Aku mau tidur disini." tantang Dasha tak berkedip mengawasi wajah Luiz, yang kini sedang mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Kalau begitu kau saja yang tidur disini, karena aku akan tetap pulang ke-ranch."
Jemari Dasha dengan sigap menangkap pergelangan tangan Luiz, mencegah pria itu membalikkan tubuh tinggi tegapnya untuk berlalu.
"Dasha, lepaskan ..."
Mengambang.
Untuk sesaat, sepasang mata Luiz melotot kaget saat merasakan sesuatu yang sangat lembut, sedang menyentuh sebelah pipinya.
Semuanya berada semakin dekat, teramat sangat dekat, karena Dasha bahkan dengan nekad berjinjit hanya demi meraih wajah pria itu, guna mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk semua hal manis yang telah Luiz lakukan tanpa sepengetahuan dirinya, meskipun pria itu kini sedang menyangkal mati-matian dan tidak mau mengakui.
"Sudah aku katakan bahwa semua ini bukan untukmu ..." pungkas Luiz, lagi-lagi berusaha mengembalikan keangkuhannya yang mulai goyah ke tempat semula.
Mendengar itu Dasha tersenyum. "Benarkah?"
"Tentu saja ...!"
"Tapi aku tidak percaya."
"Aku melakukan semua ini untuk calon istriku ... Florensia."
"Baiklah ..."
"Berhenti menaruh harapan terlalu tinggi ..."
"Hemmm ..."
"Aku tidak menyukaimu lagi."
"Tidak apa-apa ..."
"Aku ... aku ..."
"Aku mencintaimu, Tuan Luiz ... dan aku akan terus mencintaimu ..."
Wajah Luiz memerah mendengar ungkapan cinta sederhana, yang sukses menggetarkan sanubarinya.
"Tapi aku tidak ...!" bantah Luiz, kali ini lebih mirip penyangkalan seorang bocah, namun sayangnya semua itu tak lagi bisa menggoyahkan kepercayaan hati Dasha.
"Hemmm ..."
__ADS_1
"Aku sangat menyukai Florensia!"
"Hemmm ..."
"Aku ... juga sangat mencintainya ..."
"Hemmm ..."
"Dasha, kau ..."
Luiz seolah telah kehilangan semua perbendaharaan kata, namun yang ada saat ini Dasha tidak hanya sekedar berjinjit, melainkan kedua lengannya telah terkalung di leher Luiz dengan erat.
Terus menyimak penyangkalan demi penyangkalan Luiz yang semakin melemah.
Luiz terpaku saat menyadari kedekatan mereka yang telah begitu rapat.
Wajah yang merona malu-malu ...
Sepasang mata ibarat telaga teduh ...
dan belahan bibir, yang Luiz tahu persis rasanya sangatlah candu ...
Luiz menelan ludahnya kelu bercampur putus asa.
Sesat.
Otak Luiz telah tersesat dengan mudah, manakala Luiz telah menundukkan wajahnya, guna menjemput semua rasa yang siang dan malam selalu terbayang dalam benaknya yang liar.
Manis ...
Luiz langsung mencicipinya, mengu lumnya dengan lembut.
Seperti biasa kedua jemari Luiz pun langsung aktif tak bisa berdiam, gesit bergerilya seolah memiliki nyawa dan tujuan masing-masing.
'Luiz kendalikan dirimu ...'
'Diam saja kau ... breng sekkkk ...!!"
Luiz bahkan bisa mendengar suara bathinnya yang sedang bertengkar riuh didalam sana, namun kali ini ia tak lagi punya waktu untuk mendengarkan.
Luiz merasa dirinya sudah terlalu lama memendam segenap rasa.
Cinta yang menggebu ...
Sakitnya rindu ...
Juga sesaknya cemburu ...!
Bugh.
Entah bagaimana alurnya, tiba-tiba saja kedua tubuh milik Luiz dan Dasha telah ambruk keatas ranjang yang empuk.
Saling bertaut penuh gelora ...
Berbagi segenap rasa ...
Membebaskan perasaan tertekan ...
Sekaligus setiap helai pakaian yang mereka kenakan ...
dan ...
...
Bersambung ...
Lanjutannya ntar yah, otor lagi puasa π Eeeyyyyaaa ... π€£
__ADS_1
Bubaaarrrrr ...!! Bubaaarrrr ...!! π€ͺ