TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
MENDINGINKAN BARA


__ADS_3

Arshlan baru saja terbangun dari tidur lelapnya, dan dalam sekejap ia telah tersentak duduk saat menyadari ia tidak lagi sedang memeluk tubuh Lana melainkan sebuah guling yang empuk.


"Lana ...!"


"Selamat pagi ..."


Arshlan yang terduduk diatas ranjang menjadi semakin kikuk manakala tatapannya tertuju disatu titik.


Di sana, tak seberapa jauh dari ranjang Lana berdiri menatapnya sambil tersenyum manis. Tubuh gadis itu terbalut dress selutut berwarna salem, dengan rambut terurai. Wajahnya dipenuhi keceriaan.


"Jam berapa ini ...?" desis Arshlan bertanya seolah pada diri sendiri. "Aku harus pergi kekantor secepatnya, ada meeting penting pagi ini ..." begitu ia tersadar setelah terpaku berjenak-jenak lamanya, tanpa menunggu lebih lama Arshlan telah beringsut turun dari ranjang.


"Tuan ..." panggil Lana perlahan, namun seolah diacuhkan begitu saja.


Bukk ...!


Terlambat, pria itu telah masuk kedalam kamar mandi dan menghempaskan pintunya dari dalam, mampu membuat senyum diwajah Lana menguap sudah.


Lana menarik nafas sejenak menyadari sikap Arshlan yang dingin, sebelum akhirnya memutuskan untuk merapikan tempat tidur yang berantakan.


Selesai dengan urusan merapikan tempat tidur, Lana pun menyiapkan satu stel pakaian Arshlan dan menaruhnya diatas ranjang yang telah rapi, sebelum akhirnya memilih duduk ditepi ranjang, menunggu Arshlan keluar dari kamar mandi dengan sabar.


Sekitar setengah jam telah berlalu saat Arshlan keluar dari balik pintu yang sama, hanya berbalut handuk dipinggangnya.


Tubuh kekarnya yang menawan terlihat lembab dan menggoda jiwa.


"Aku sudah menyiapkan pakaian Tuan disini," ujar Lana memutus pergerakan pria itu yang sedang berjalan acuh kearah wadrobe.


Tanpa kata Arshlan telah mengubah haluan langkahnya, ia tidak mengajukan protes atas pilihan outfit yang telah dipilih Lana, hanya berusaha memakainya dalam diam.


"Biar aku saja ..." sejak tadi menahan diri tidak turun tangan dan hanya menyaksikan tindak-tanduk Arshlan, akhirnya Lana tak tahan lagi.


Lana telah memutuskan untuk mengambil alih prosesi pengancingan kancing kemeja Arshlan yang kelihatannya lumayan merepotkan pria itu.


"Lana tidak usah. Aku bisa sendi ..."


"Ssssttt ... jangan protes. Karena aku akan tetap melakukannya ..." ujar Lana keras kepala sambil terus mengancingkan satu persatu kancing kemeja Arshlan, sengaja berlama-lama dengan posisi tubuh yang saling menempel hangat satu sama lain.


"Tuan, kau sedang marah padaku yah ...?" bisik Lana sambil melirik kecil.


Arshlan menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku marah padamu sepagi ini?"


"Lalu kenapa sikap Tuan dingin sekali ...?"


"Aku sedang banyak pekerjaan." tepis Arshlan sambil membuang pandangannya.


Lana telah selesai membuat semua kancing kemeja Arshlan terpasang sempurna, karena itulah ia nekad berjinjit pelan sambil menarik leher Arshlan kebawah, memudahkan dirinya memberikan kecupan diatas bibir Arshlan yang dingin.

__ADS_1


"Tuan, aku minta maaf ..." lirihnya setelah berhasil mengecup.


"Maaf? Maaf kenapa?"


"Aku telah lancang membawa ibuku masuk kedalam rumah tanpa persetujuan langsung dari Tuan terlebih dahulu.."


Arshlan melengos tanpa kata. Sejujurnya Arshlan memang merasa kesal dengan keputusan Lana, namun ia berusaha menahan amarahnya.


Arshlan memang tidak boleh marah terlebih dahulu, karena jika sekarang ia marah, maka sama saja itu artinya dia telah melanggar tekad dan kesepakatan hatinya sendiri.


"Kata ibu, dia tidak akan lama. Hanya menunggu gajinya stabil di bulan depan, agar ibu bisa mencari rumah sederhana yang dikontrakkan.."


"Terserah padamu."


"Tapi Tuan ..."


"Kau sudah memutuskannya tanpa menunggu pendapatku, memangnya aku bisa apalagi?"


"Tuan, kenapa sepertinya Tuan tidak suka ...?"


"Lana, aku memang tidak suka, tapi abaikan saja. Karena dia Ibumu, kau pasti akan menggunakan segala cara untuk membela ..."


Lana terdiam mendengar kalimat yang terkesan masa bodoh itu.


"Sudahlah, tidak perlu membicarakan hal ini lagi." tepis Arshlan.


"Ada satu hal lagi yang harus aku bicakan dengan Tuan. Ini ... ini lebih penting dari sebelumnya ..."


"Uang. Bisakah Tuan meminjamkan uang kepada Ayah dan Ibu ...? Mereka ..."


"Berapa ...?" pungkas Arshlan lagi-lagi menyela perkataan Lana yang belum selesai.


"S-seratus juta rupiah.."


Alis Arshlan terangkat mendengarnya.


"Sudah kuduga." ujar Arshlan lagi sambil menyeringai, sementara Lana tertunduk dalam.


XXXXX


"Lana, apakah kau sama sekali tidak menaruh curiga jika mereka sedang memanfaatkanmu?"


"Tuan ..."


"Kau pikir seratus juta rupiah itu sedikit ...?!"


"Aku tahu jumlah itu sangat banyak. Tapi Tuan, bukankah Tuan sangat kaya ...?" Lana berucap dengan mimik yang super polos.

__ADS_1


"Tentu saja. Jumlah uang seratus juta rupiah bukan apa-apa buatku, tapi itu juga bukan berarti aku bisa membuang sekoper uang ditengah lautan biru ...!" ujar Arshlan dongkol saat mengibaratkan kalimatnya sebagai suatu tindakan yang sia-sia.


"Mereka orang tuaku ..."


"Orang tua? Kalau memang demikian, lalu kemana mereka selama ini ...? Mereka bahkan tidak peduli saat ada seorang pria datang melamarmu, malah sibuk meminta uang lima puluh juta rupiah. Cihh ...!!"


"Tuan, tolong maafkanlah semua masa lalu yang menyangkut diriku. Karena Tuan menyukainya atau tidak ... semua itu merupakan bagian dari kehidupanku yang tidak bisa aku ubah kenyataannya."


"Kata siapa tidak bisa? Kau bisa mengubah kenyataannya, tapi kau selalu melemahkan hatimu! Lana, apakah kau tau? Sikapmu yang lemah itu adalah satu-satunya sikap yang paling tidak bisa aku terima ...! Aku paling benci dengan seseorang yang kerap terpuruk pada lubang yang sama, tak peduli jika orang itu orang tuaku sekalipun ...!!"


"Tuan ..." Lana berusaha kembali mendekati Arshlan, namun tubuh kekar itu malah mundur selangkah dan menghindar.


"Hentikan." ujar Arshlan mendorong tubuh Lana agar menjauh. "Lana, saat ini aku sedang kesal. Aku sungguh bisa melemparmu keluar jendela saat aku tidak bisa lagi mengendalikan kemarahan dan ... hmmmpphh ..."


Seperti biasa bukannya ciut Lana malah menempel ke tubuh Arshlan begitu saja, langsung mengu lum bibir pria itu yang awalnya sedang menumpahkan segenap amarah yang sedang berkobar.


Luma tan bibir Lana seolah air sejuk yang sanggup mendinginkan bara di hati Arshlan dengan mudah, yang akhirnya mau membalas sentuhan Lana dengan lebih menuntut.


"Tuan, aku rindu ..." bisik Lana disela-sela cumbuan yang memanas.


"Hhhmmm ..."


"Aku rindu saat-saat kita di pulau ..."


Rayuan Lana sungguh mendayu, tangannya ikut bergerilya meraba seluruh permukaan tubuh Arshlan yang akhirnya harus menelan ludahnya dengan susah payah karena rasa yang semakin menggelora.


"Aku mau berada dibawah Tuan ... lalu diatas ... lalu ..."


Mengambang, karena Arshlan telah membungkam seluruh kalimat provokasi yang seolah sengaja Lana ucapkan agar Arshlan semakin bergairah.


'Astaga gadis ini ... istri kecilku ... bagaimana mungkin aku bisa menolak dan menghindar dari jerat rayuannya yang begitu nakal dan menggai rahkan ini ...?'


Otak Arshlan begitu frustasi, namun tak bisa lagi mengontrol keinginannya untuk mendekati ranjang seraya melucuti dress berwarna salem yang melekat ditubuh Lana.


"Aku milikmu, Tuan ..."


"Sentuhlah aku ..."


"Aku mencintai Tuan ..."


Ucapan-ucapan nakal terus mengalir dari tubuh yang sedang Arshlan rasakan setiap inchinya.


Kemudian pagi itu telah diwarnai oleh suara-suara percintaan yang indah, yang memenuhi setiap sudut kamar, yang hanya dengan mendengar irama rintihan diiringi derit suara ranjang ... maka setiap orang bisa meremang gelisah ...


...


Bersambung..

__ADS_1


Follow my Ig. 🤗 @khalidiakayum


Jangan lupa di support, Lophyuuu all.. 😘


__ADS_2