
Luiz baru saja tiba di ruangannya, bahkan ia belum sempat melakukan pekerjaan apapun manakala ponselnya telah berbunyi nyaring.
"Daddy ...?" alis Luiz bertaut saat menyadari siapa gerangan yang meneleponnya, yang tak lain adalah daddynya sendiri.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Luiz pun langsung menggeser icon berwarna hijau di permukaan layar ponsel, guna menerima panggilan tersebut.
"Halo, dadd?" sapa Luiz sambil mendudukkan dirinya di kursi Ceo.
"Halo Luiz? Kau sedang berada dimana?" Arshlan yang berada di seberang sana, langsung melontarkan pertanyaan yang membuat kedua alis Luiz serentak bertaut.
"Aku baru saja tiba di ruanganku, dadd, ada apa?"
Suara tarikan nafas berat milik Arshlan terdengar begitu jelas dari seberang.
"Luiz, jadi kau benar-benar tidak mengetahuinya?" ujar Arshlan kemudian.
"Tentang apa, dadd? Aku ... aku tak mengerti ..."
"Astaga Luiz, daddy sungguh tidak menyangka, bagaimana mungkin kau tidak tahu bahwa Jody Frederick sedang berada di negara ini?"
'Jody Frederick ...?'
'Benarkah ...?'
Luiz serentak menepuk dahinya begitu saja, begitu ia tersadar akan arah kalimat Arshlan.
Yah. Jody Frederick. Dia adalah kolega bisnis daddy Arshlan, yang tak lain merupakan ayah dari Florensia, wanita yang diharapkan kedua orang tuanya untuk menjadi menantu di keluarga Arshlan.
"Jadi kau benar-benar tidak mengetahuinya?"
"Tidak, dadd ..."
"Luiz, kau ini bagaimana? Bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa seharian kemarin kau bersama Florensia? Bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya?"
"Florensia tidak mengatakan apa-apa, dadd, mungkin ... dia lupa ..." Luiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dalam hati Luiz pun menyesali, kenapa Florensia bisa begitu ceroboh sehingga lupa memberitahukan dirinya perihal kedatangan ayahnya.
'Dasar Florensia ... mengapa hal sepenting ini tidak ia katakan kepadaku sejak kemarin?'
'Huhh, dia hanya sibuk menarik perhatian El dan membuat El cemburu, sehingga lupa mengatakan perihal kedatangan ayahnya!'
Luiz merenggut kesal, menyadari keteledoran Florensia akibat kebucinan wanita itu kepada sosok El.
"Daddy sungguh tidak percaya kenapa kalian berdua lupa membicarakan hal se-penting ini ..." di seberang sana, Arshlan telah menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Maaf, dadd ..."
"Tuan Jody Frederick tiba semalam lewat pernerbangan terakhir. Saat ini ia berada di Hotel Mercy. Maksud kedatangannya adalah untuk menemui seorang investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan miliknya."
Luiz manggut-manggut mendengar clue dari Arshlan, perihal maksud kedatangan Tuan Jody Frederick ke negara ini.
"Baiklah, sekarang sebaiknya aku akan menelepon Florensia terlebih dahulu untuk menanyakan tentang ..."
"Jody Frederick menginap di salah satu kamar presidential suite Hotel Mercy. Pergilah kesana, dan sampaikan permohonan maaf daddy secara langsung. Jangan lupa sampaikan juga undangan daddy untuk Tuan Jody Frederick dan Florensia, pada pesta barbeque di ranch sebentar malam." titah Arshlan kepada Luiz.
"Baiklah, dadd. Kalau begitu aku akan pergi kesana sekarang juga." pungkas Luiz, yang disambut oleh tarikan nafas lega milik Arshlan, dari seberang sana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Kita akan pergi kemana?"
Victoria bertanya saat menyadari arah yang diambil Leo, berbeda jalur dengan jalan biasa yang menuju rumah keluarga Arshlan.
"Ranch."
Alis Victoria semakin bertaut nyata mendengar jawaban singkat itu. "Bukankah mommy Lana ingin kita ke rumahmu dulu?"
"Rencananya telah berubah. Mommy dan Daddy menyuruhku untuk menunggu mereka di ranch saja, karena nantinya mereka juga akan segera menyusul kesana. Jadi kita tidak perlu menempuh rute yang panjang dan memutar kesana kemari." pungkas Leo panjang lebar.
__ADS_1
Saat bicara, Leo hanya menatap Victoria sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus mengawasi jalanan yang tidak terlalu padat.
"Apakah ada acara khusus sehingga kita pergi ke ranch hari ini, meskipun belum weekend?"
Leo terlihat mengangkat bahunya acuh. "Entahlah, sepertinya mereka ingin menjamu seorang kolega bisnis dengan pesta barbeque."
Kemudian suasana didalam mobil kembali hening, saat keduanya tidak lagi bicara.
Leo dan Victoria.
"Apakah kau baik-baik saja?" suara Leo memecah keheningan, ia kembali menoleh ke wajah Victoria, seolah ingin memastikan sesuatu, meskipun tentu saja Leo tidak bisa melakukannya terus-menerus karena dirinya sedang menyetir.
"Hhmm ..."
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
Leo menoleh lagi, ekspresi wajahnya malah terlihat sebaliknya, tidak yakin.
"Aku pemilik tubuhku, tentu saja aku yang paling tahu apa yang aku rasakan ..." jawab Victoria dengan sedikit diplomatis.
Mendengar jawaban penuh percaya diri itu membuat Leo malah membalasnya dengan mencibir.
Bukan apa-apa, karena jawaban Victoria yang selalu mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa serta baik-baik saja, sudah terlalu sering didengar telinga Leo.
Victoria selau seperti itu.
Wanita itu tidak pernah mengadukan apapun tentang apa yang dirinya alami, baik kepada Leo, maupun kepada siapa saja.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Luiz, maafkan aku. Aku sungguh lupa memberitahukan kedatangan ayahku. Semuanya juga tidak terencana sebelumnya karena keberangkatan ayah juga mendadak ..."
"Florensia, di kemudian hari tolong jangan pernah terjadi lagi hal seperti ini. Selagi kau belum bisa meyakinkan ayahmu untuk menolak hubungan denganku, maka keteledoranmu ini bisa membuat daddyku bisa mencurigai hubungan fake diantara kita."
Florensia terlihat tertunduk lesu disamping Luiz.
Wajar saja jika Luiz kesal, karena pria itu bahkan telah begitu tidak sabar untuk menunggu sandiwara mereka berakhir, namun sayang ... semua kenyataan yang ada dihadapan Florensia membuat Florensia semakin tidak bisa menentukan langkahnya.
Kendatipun Florensia telah menerima kebaikan hati El, namun pria itu ternyata sudah memiliki seseorang yang ia sukai, dan itu bukanlah Florensia.
Pintu lift dihadapan mereka telah terbuka, beriringan Luiz dan Florensia melangkah masuk ke dalam, menuju lantai lima belas, dimana sebagian besar jejeran kamar presidential suite milik hotel Mercy berada disana, yang dua diantaranya masing-masing ditempati oleh Florensia dan ayahnya.
"Luiz ..." panggil Florensia, mengurai keheningan didalam lift tersebut.
"Ada apa lagi?"
"Mmm ... bagaimana kalau kita setujui saja perjodohan kita ini ...?" tanya Florensia, namun kalimat yang terucap santai dari bibirnya malah menuai reaksi luar biasa dari Luiz yang langsung terhenyak dan melotot tajam.
"Florensia, kau ini bicara apa? Kau sudah gila yah?!" sentak Luiz kesal bukan main.
Namun, mendapati kemarahan Luiz, bukannya gentar Florensia malah tertawa kecil.
"Aku merasa tidak memiliki harapan dengan El, jadi apa salahnya kita mencoba?"
"Tidak. Siapa kau? Enak saja kau memutuskan masa depanku seperti itu ...!"
Florensia terhenyak mendapati penolakan Luiz yang tak tanggung-tanggung tersebut.
"Luiz, kau keterlaluan. Memangnya aku seburuk itu? Apa perlu kau menolakku sekasar itu? Aku kan hanya bercanda!"
"Bercandamu tidak lucu!"
Mendengar itu Florensia terlihat mencebik, namun senyum usilnya kembali menyeruak saat ia malah merasa semakin bersemangat menggoda Luiz.
"Luiz, bagaimana rasanya berpacaran dengan seorang bocah?" jemarinya yang nakal menowel lengan Luiz tanpa canggung.
__ADS_1
Luiz diam saja, berusaha keras tidak menanggapi keusilan Florensia meskipun ia tak mampu menyembunyikan wajahnya yang memerah, karena perasaan malu yang mendera.
Sejujurnya, menyinggung perasaan cintanya untuk Dasha adalah satu-satunya kelemahan Luiz saat ini.
Saking sensitifnya, hal itu selalu berhasil membuat kepercayaan diri Luiz menguap dalam sekejap.
Ting.
Pintu lift yang otomatis terbuka membuat Luiz langsung mengayunkan langkahnya keluar, meninggalkan Florensia begitu saja yang pada akhirnya buru-buru mensejajari langkah lebar Luiz.
"Luiz ..."
"Apalagi?"
"Jawablah pertanyaanku,"
"Tidak."
"Kau sengaja ingin membuatku mati penasaran yah?"
Luiz menggeram kesal, namun tak sedikitpun mengendurkan langkahnya, membuat Florensia menjadi semakin gemas hingga nekad menarik lengan pria bertubuh tinggi kekar tersebut, agar mau membagi perhatian untuknya meskipun hanya sekejap.
"Come on, Luiz, jawab dulu pertanyaanku ..."
Tubuh tinggi Luiz tertarik kebelakang, membuat tubuh ramping Florensia refleks membenturnya sehingga membuat Florensia limbung.
"Aaaaa ...!"
"Florensia kau ..."
Dengan sigap Luiz berusaha meraih tubuh Florensia yang terhuyung kebelakang, namun dengan gerakan yang tak kalah cepat, sebuah lengan kekar telah menghalangi niat Luiz untuk meraih tubuh Florensia.
Bugh.
Tubuh Florensia mendarat mulus dalam pelukan pria dengan aroma yang mengingatkan Florensia akan seseorang yang ...
"El ...?"
Luiz
El dan Florensia
El tersenyum miring saat Florensia telah mengenalinya.
"Maaf, karena aku telah merusak adegan manisnya ..."
Mendengar kalimat bernada sarkas tersebut membuat Florensia tersadar. Detik berikutnya ia telah menjauhkan tubuhnya dari dalam pelukan El dengan gestur tubuh yang rikuh.
"El, kenapa kau ada disini?"
"Ingin menemuimu."
"T-tapi ..."
"Tidak kusangka bisa kembali bertemu Tuan Luiz disini ..." ucap El kearah Luiz. Bibirnya berhias senyum, namun senyum yang terkesan dingin.
"Senang melihatmu juga, Tuan El. Aku pun tidak menyangka, karena kita terlalu sering bertemu tanpa direncanakan ..." balas Luiz berbasa-basi, sambil tak lupa menyunggingkan senyum terbaiknya.
Sementara itu, diantara mereka, Florensia berdiri disana dengan wajah tercengang, sebelum akhirnya memilih menyentuh lengan Luiz.
"Luiz, jangan membuang waktu, karena ayahku sudah menunggu ..." ucapnya sambil menunduk, menghindari tatapan tajam El yang seolah ingin menelan Florensia hidup-hidup!
...
Bersambung ...
__ADS_1