
"Aaaa.. T-Tuan.. s-sebentar.." Lana memekik tertahan saat Arshlan menekan bagian tubuhnya yang menegang itu kedalam.
"Hold on, baby.." ujar Arshlan sambil menyeringai. Ia terus menekan, sedikitpun tak terusik dengan wajah Lana yang pucat pasi.
"T-Tuaannn.. hentikaaann.. sakiitt.. ini sakiitt.. Tuaaan.." Lana menjerit, pinggulnya menghentak panik, membuat Arshlan memutuskan menangkap pinggul yang sedang bergerak liar itu dengan kedua tangannya, menekannya dengan kuat keatas ranjang.
"Ssssakiit.. T-Tuann tunggu.. tungguuu sebentarr... awww.."
"Ohhh sh it.. ini sempit sekali sayang.." Arshlan malah melenguh nikmat, wajahnya memerah penuh bira hi, rahangnya mengeras, dan tatapannya menggelap saat menatap Lana yang saat ini bukan hanya mengerang namun telah menangis dan menjerit keras.
Kedua tangan Lana terlihat menjambak permukaan bed cover sekuat tenaga.
"Tuaaann.. tolong hentikan.. aku tidak bercanda.. huhu.. ini sakiitt.. sakiiitt sekali Tuaaannn.."
Arshlan membalas permohonan itu dengan tersenyum devil.
Melihat pemberontakan tubuh mungil yang baginya tak ada artinya itu, malah semakin membuat hasrat Arshlan menggelepar liar.
"Tahan sedikit sayangku.. sakitnya tidak akan lama.." bukannya berhenti, Arshlan malah menekannya lagi dengan lebih bertenaga, hingga kepala jamur raksasa itu masuk sempurna kedalam lubang mungil yang membuatnya merem melek keenakan.
"Aaaa aduhh.. sakitt.. sakiittt.."
Lagi-lagi Lana menjerit, begitu merasakan perih yang luar biasa, karena Arshlan terus memaksa masuk meskipun sudah jelas-jelas celah miliknya begitu kecil dan sempit.
Sementara Arshlan yang malah merasakan hal yang sebaliknya malah semakin menggila, ia memaju mundurkan pinggulnya guna membuat kepala jamur raksasa itu timbul tenggelam dibibir gua, seiring dengan pekik kesakitan Lana yang semakin keras.
"Tuannn.. hentikan.. rasanya aku bisa matii.. huhu.. aaaaaa... Tuann.. aaaaa.."
Dua kepalan tangan Lana memukul dada bidang yang dipenuhi bulu kasar disepanjang permukaannya hingga keperutnya dengan ruas yang keras, namun penolakannya yang gigih tidak serta-merta membuat Arshlan menghentikan tekadnya untuk menembus lorong sempit yang luar biasa nikmat itu.
"Lana sayang.. kau sangat nikmat.." ujar Arshlan dengan suara berat, sambil menangkap dua kepalan tangan itu, menaruhnya keatas kepala Lana yang memberontak berurai air mata.
Tubuh gadis itu bergetar hebat, menahan rasa perih yang tak terkira seiring dengan Arshlan yang ikut menurunkan tubuhnya, begitupun dengan pinggulnya.
"Aaaaaaa.. mmhh..!!"
Pekik kesakitan panjang Lana terdengar memecah malam seiring bunyi selaput yang terkoyak paksa dibawah sana.
Sementara batang jamur raksasa milik Arshlan yang besar dan panjang itu telah melesak utuh kedalam, menembus lapisan mahkota Lana.. terus sampai kedalam.
Untuk sesaat Lana merasakan tubuh dan jiwanya ikut terlempar ke neraka. Rintihan beserta tangis Lana tenggelam manakala Arshlan telah menyumbat bibirnya dengan lembut.
"Maafkan aku sayang.." ucap Arshlan sambil menatap wajah yang dipenuhi air mata.
"Tuan, kau.. kau jahat.." suara Lana bergetar, bibirnya pun bergetar, seluruh tubuhnya yang berada dibawah tubuh Arshlan ikut bergetar.
"Maaf, sayang, aku tidak bisa menahan diri karena kau sangat indah.." lenguh Arshlan dengan wajah dipenuhi gai rah yang membara.
Arshlan akhirnya memilih menjeda nafsunya sejenak, meskipun enggan memisahkan diri. Tubuh mereka masih menyatu seolah saling membelit, membuat Arshlan diam-diam kelojotan menahan naf su saat merasakan sensasi yang luar biasa itu, dimana seluruh batang kejan tanan miliknya terpenjara dilorong yang licin namun super sempit, yang kini seolah dipijat dan dicengkeram kuat oleh otot-otot tubuh milik Lana.
"Tuan, maaf karena aku mengecewakanmu.." Lana menangis lagi, namun Arshlan malah tersenyum sambil membelai gadis itu, kali ini dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kau tidak mengecewakanku, malah sebaliknya.. aku adalah pria yang beruntung." ucap Arshlan jujur seraya mengecup bibir yang ranum.
"Tapi kenapa Tuan tega menyakitiku..?" suara Lana terdengar serak, diantara rasa perih yang ia rasakan.
Arshlan menggeleng sambil tersenyum. "Percayalah sayang, sakitnya hanya sebentar. Setelah itu kau pasti akan menyukainya.."
"Tuan tidak berbohong kan..?"
"Tentu saja tidak." Arshlan menyentuh dagu gadis itu, berusaha meyakinkan Lana agar mau meneruskan permainan yang sedang terjeda. "Apa aku telah membuatmu sangat kesakitan..?" tanya Arshlan perlahan.
Sungguh baru kali ini Arshlan merasa cukup sabar saat mencoba bercin ta, karena biasanya, semakin para wanita melolong kesakitan, maka Arshlan akan semakin beringas, terus menggempur wanita itu tanpa ampun hingga pada akhirnya ia akan mendengar rengekan para wanita itu untuk memintanya semakin menghentak brutal.
"Itu karena milik Tuan terlalu besar. Tuan.. boleh tidak ukurannya itu dikecilkan sedikit..?"
Arshlan tergelak mendengar permintaan polos Lana. Namun karena ia tertawa, tubuhnya yang ikut berguncang membuat Lana kembali meringis kesakitan.
"Tuan liat sendiri kan.. dibawah sana sangat sesak, sakit sekali Tuan.." rengek Lana dengan wajah memelas.
"Nanti juga kau akan menyukainya.." ujar Arshlan lagi-lagi tersenyum, sambil mulai mengangkat tubuhnya lagi.
Melihat pergerakan Arshlan yang hendak memulai aktifitas yang menyakitkan itu kembali membuat Lana beringsut panik.
"Bagaimana kalau aku tidak suka? bagaimana kalau rasanya semakin sakit? Tuaaann.. bagaimana kalau setelah ini aku matiii... aaaahhh.. ssshhh.."
Lana mendesis ngilu, karena Arshlan yang tidak mengindahkan semua kalimat protesnya malah telah mengangkat pinggulnya, menarik keluar batang jamur yang awalnya terbenam itu hingga ke pangkal.
"Kau tidak akan kenapa-napa setelah semua ini.. selain kau akan semakin mencintaiku.." ucap Arshlan penuh keyakinan.
"Tidak mungkin..! Tidak! aku benci Tuan..! aku benci..!!" Lana berucap panik, begitu melihat rahang Arshlan yang mulai mengeras. Ia mencoba menghalangi niat Arshlan yang ingin kembali menguasainya dengan memukul dada Arshlan berkali-kali.
Sepasang mata Lana yang indah nyaris keluar dari cangkangnya, dan saat mengerjap bulir bening jatuh dikedua sudut matanya. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang tiada tara, namun jerit kesakitannya telah dibungkam Arshlan dengan tanpa iba.
Untuk beberapa saat Lana merasa jiwanya hendak ditarik paksa dari tubuhnya, nafasnya seolah terhenti.
Lana bahkan telah berpikir bahwa pria yang berada diatas tubuhnya sekarang pasti sedang benar-benar berniat membunuhnya malam ini dengan sebuah penyiksaan tanpa ampun yang tidak bisa ia uraikan dengan kalimat apapun.
Lana mulai menyerah.. namun anehnya, seiring waktu berlalu bukannya sebuah kematian yang datang menjemput.. karena yang ada lambat laun Lana mulai menemukan titik kenikmatan diantara rasa sakit yang mulai berkamuflase dengan begitu unik.
Irama percintaan yang menderu pun terdengar memenuhi malam, menjadi symphony yang merdu saat berkolaborasi dengan suara binatang malam.. serta debur ombak yang memecah..
"Akhh.. akhh.. akhh.."
Arshlan tersenyum saat menyaksikan wajah Lana yang mulai dipenuhi kabut bira hi, membuatnya semakin cepat memompa tubuh gadis yang mengge liat cantik dibawahnya.
"Ahh.. Tuaaann.. teruss.. mmmhh...." desa han Lana terdengar semakin liar, seolah sebelumnya tak pernah menge rang kesakitan, membuat pergerakan Arshlan semakin kasar tak terkendali.
"Yesss babyy.. uhh.. uhh.." Arshlan mendengus kasar, gerakannya semakin kuat mengobrak-abrik gua sempit yang mulai beradaptasi dengan jamur raksasa miliknya yang berukuran super jumbo.
"Tuaann.. akkh.. aku.. aku.. ohh.."
Bersamaan dengan tubuh Lana yang ikut mengimbangi hentakannya yang kuat, Arshlan juga mulai merasakan pertahanan dirinya yang hendak ambrol.
__ADS_1
Ini adalah durasi tercepat bagi Arshlan, namun kali ini pria itu tidak ingin menahannya lebih lama, yang ada Arshlan justru memacu tubuh Lana semakin kuat, semakin cepat, hanya demi mengejar pelepasan bersama gadis itu.
"Tuuuaannn... aaahh.."
"Ohh, Lanaaa.. aaakkh.."
Mereka menge rang bersama, sambil melepaskan cai ran kepuasan.
Arshlan menekan tubuhnya dalam-dalam, hingga batang kejan tanannya terbenam penuh, sedangkan ujungnya terasa menyodok rahim Lana dengan kuat.
Tubuh kekar Arshlan ambruk diatas tubuh Lana, dan keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka menyatu sempurna, seperti bagian tubuh mereka dibawah sana yang masih bertaut erat, setelah sama-sama berkedut keras.
"Oh sh it.. Lana.. kau sungguh nikmat sayang.." bisik Arshlan begitu intim ditelinga Lana.
"Tuan.. kau sangat hebat.. aku mencintaimu, Tuan.." Lana mendekap erat tubuh lembab Arshlan yang berada diatasnya.
Setelah semua hal mendebarkan yang barusan terlewat Lana benar-benar merasa kebahagiaannya semakin terasa lengkap bersama pria itu.
"Aku kan sudah mengatakannya sejak awal, bahwa setelah ini kau akan sangat mencintaiku.." ucap Arshlan lagi penuh percaya diri. Arshlan telah mengangkat tubuhnya lagi, menatap Lana dengan tatapan yang hangat. Senyum pria itu terlihat menyeringai aneh.
"Tuan.. kau.." mengambang. Lana menggigit bibirnya sejenak. "Tidak.. tidak mungkin.. Tuan jangan mulai lagi.. aku masih.. masih.. ahh.. ahh.. ahh.."
Kalimat Lana sontak terjeda, berganti dengan lenguhan begitu Arshlan telah menggoyangkan pinggulnya lagi.
"Aku tidak bisa berhenti.." bisik Arshlan sambil mengangkat kedua kaki Lana dan menaruhnya keatas bahu, langsung memompa dengan kecepatan full.
"Aawww..!!" Lana menjerit menyadari posisi percintaan yang mulai melenceng dari konvensional, namun sensasinya seolah meningkat.
Arshlan tersenyum menyadari Lana yang mulai terbiasa menerimanya, bahkan dengan posisi yang mulai ekstrim, membuat Arshlan tidak sabar untuk kedepannya semakin bereksperimen dengan gaya yang lain, yang lebih gila lagi.
Kali ini Arshlan benar-benar mengakuinya, bahwa bercinta dengan gadis belia yang enerjik seperti Lana rasanya sungguh luar biasa.. tiada duanya..!
"Tuann.. terusshh... shh.. mmhh.."
Eran ngan menggoda itu kembali terdengar dari bibir mungil, yang terus mewarnai malam yang begitu indah. Bergelimang cinta yang menggebu, yang seolah tak pernah selesai.
Yah.. tak pernah selesai..
Karena setiap kali mereka usai, mereka akan terus mengulangnya.
Lagi dan lagi..
Hingga cahaya mentari muncul diufuk timur..
Dan mereka masih bersimbah peluh..
...
Bersambung..
Jempol lentik, comment panas,
__ADS_1
Bunga cantik.. kopi hangat.. 😍
Favoritekan novel ini.. vote jangan dilupa.. 😘