
Double up.
...
Victoria sempat tertegun menerima kalimat Leo yang terucap ringan.
Luar biasa, bisa-bisanya Leo bisa begitu tenang saat mengatakan, bahwa ia tidak tahan dengan kehadiran Victoria, serta sedikit paranoid jika awak media mengetahui kenyataan tentang status hubungan diantara mereka berdua.
'Hhhh ...!'
'Apakah aku sememalukan itu untuk diakui ...?'
Victoria membathin dalam diam.
Mungkin jika semua penghinaan ini terjadi pada wanita lain, Victoria meyakini, bahwa tidak semua wanita bisa menerimanya!
Tapi untunglah, sejak awal Victoria terlanjur bersumpah bahwa ia tidak akan pernah membuat dirinya dikalahkan dengan mudah, tak peduli jika Leo akan melakukan segala cara untuk menyakiti hatinya.
Hati Victoria telah berubah menjadi batu, saking begitu seringnya merasakan sakit.
Seolah mati rasa, bahkan mungkin lebih!
"Di florist tempatku bekerja, semua teman-temanku sangat menyukaimu." ucap Victoria lirih, perlahan namun pasti sebelah tangannya menarik ujung handuk yang terburai, membawanya menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang.
"Benarkah ...?" Leo yang berada disampingnya mengangkat alis.
"Hhhmm, setiap hari, mereka selalu memutar acara infotainment hanya demi mengikuti perkembangan berita tentang dirimu."
Mendengar itu Leo tertawa. "Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak akan menceritakan kenyataan tentang hubungan kita dengan seenaknya, kan?"
Victoria tersenyum kecut. "Kau jangan khawatir, aku bahkan tidak pernah sekalipun berniat menyebut namamu, dihadapan siapapun."
"Katakan saja, kau pasti bangga bukan? Saat menyadari bahwa semua orang sangat suka membicarakan diriku ...?"
"Untuk apa aku ikut-ikutan merasa bangga, dengan semua pemberitaan tentang hubunganmu dengan Lisa?"
"Wah, ternyata kau juga mendengar semuanya ..." kali ini Leo terlihat menyeringai.
"Leo, katakan padaku apakah kau memang sangat menyukai Lisa?"
Tidak disangka, mendengar pertanyaan Victoria, Leo ,malah tergelak. "Victoria, kau ini sangat lucu. Apa maksudmu dengan bertanya seperti itu?"
Victoria membisu sejenak, sebelum kemudian berucap lirih. "Sepertinya Lisa gadis yang baik, wajar saja jika pada akhirnya kau pun tertarik padanya. Dia juga masih sangat muda dan ..."
__ADS_1
"Jika aku benar-benar menyukainya, apakah kali ini kau akan menyerah ...?"
Victoria tertegun mendapati pertanyaan balik dari Leo untuk dirinya.
"Seharusnya diantara kita tidak perlu sesulit ini. Karena aku bisa saja tidak menyukai siapapun, sementara kau adalah sebaliknya. Sepertinya kau bisa dengan mudah menyukai siapapun, tapi kau tidak lagi membuka dirimu, malah sibuk mengikuti keegoisanmu."
"A-apa maksudmu?"
Leo menyeringai. "Mustahil kalau kau masih menanyakannya. Kau tau persis apa maksudku, lalu untuk apa lagi membuang waktu dan bertanya?"
Victoria menggeleng dengan wajah putus asa. "Jangan bilang kalau saat ini, lagi-lagi kau menuduhku menyukai Luiz."
"Sayang sekali, tapi begitulah kenyataannya ..."
"Itu tidak benar!"
Sanggahan refleks Victoria telah mengundang sebuah cibiran dengan mudahnya.
"Baiklah, kalau begitu coba saja tatap mataku sekarang, dan katakan dengan penuh keyakinan, bahwa kau tidak pernah sekalipun, menaruh hati kepada saudara kembarku, Luiz."
Victoria terdiam lama.
"Kenapa diam? Tidak berani, kan?"
"Leo, kau sudah gila!" umpat Victoria dengan wajahnya yang merah padam, berusaha beringsut turun dari atas ranjang sambil mendekap handuk didada.
"Mau kemana?"
Pergelangan tangan Victoria telah dicekal pria itu dengan begitu kuatnya.
"Bukan urusanmu!"
Victoria mencoba menghentakkan tangannya guna melepaskan diri dari cekalan tangan Leo, namun yang ada, cekalan tangan dipergelangan tangannya malah semakin terasa kuat.
"Lepaskan ...!" ujar Victoria sambil melotot, yang malah dibalas dengan pelototan yang sama oleh Leo.
"Jangan mimpi!"
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hanya dengan gerakan yang sedikit menghentak, tubuh Victoria yang terbalut handuk mini berwarna putih itu telah kembali keposisi mula-mula.
Terlentang, dengan handuk yang kembali terburai tak beraturan, membuat tubuh polos milik Victoria, seluruhnya telah terekspos tak bersisa.
__ADS_1
"Tidak semudah itu melarikan diri dariku, kelinci kecil ..." ucap Leo dengan wajahnya yang menyeringai, seolah sedang dipenuhi aura gelap dan menyesatkan.
Tanpa membuang waktu lebih lama, kepala Leo telah tertunduk diantara kedua belahan yang kenyal, kemudian dari sanalah ia mulai berpetualangan.
Diantara kedua bukit kembar dikiri dan dikanan, yang telah ia telusuri dengan sangat terperinci, satu persatu, secara berganti-ganti, berkolaborasi sangat baik dengan kedua jemari yang super duper aktif.
Victoria yang awalnya sempat memberikan perlawanan kecil akhirnya kembali terkulai pasrah.
Leo bukanlah lawannya yang seimbang. Victoria sadar betul bahwa tenaganya yang tidak seberapa, sudah pasti kalah jauh dengan pria bertubuh tinggi kekar, yang kini dengan seenaknya tengah menguasai setiap jengkal tubuh Victoria tanpa bersisa.
"Ahh ... sshh ..." sebuah desa han tak mampu lagi tertahan lebih lama.
Tubuh Victoria bahkan telah menggelin jang sempurna, manakala Leo telah menaruh kepalanya diatas perut Victoria yang datar, kemudian bergerak perlahan namun pasti menuju kebawah sana ... terus kebawah ... kesebuah pusat tempat dimana keindahan semesta alam pun bermuara disana.
"Mmmmhh ..."
Lagi-lagi, lengu han kenikmatan kembali menyeruak dari bibir mungil Victoria, manakala ia mulai merasakan, betapa hebatnya sensasi yang ia rasakan saat Leo mulai menikmati dan mencicipi hangatnya daging empuk miliknya yang lengkap dengan aromanya yang khas.
Victoria bahkan tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Saat ini kedua tangannya telah terbenam dalam lebatnya rambut Leo yang berada dibawah sana, dan menjambaknya!
"Leo, oohhh ..." Victoria menjerit tertahan, dengan pinggul yang mulai bergerak liar, membuat Leo harus menahan kedua paha dengan kedua tangannya, agar tetap membuka lebar gerbang surgawi.
Tidak peduli dengan pemberontakan kecil yang dilakukan Victoria, Leo tetap meneruskan permainannya disetiap inchi daging lembut itu tanpa jeda.
Ia terus melahapnya, menjilat dan memainkan ujung lidahnya dengan gerakan yang cepat, tidak berniat menghentikan kegilaannya sebelum telinganya mendengar pekik tertahan Victoria yang begitu merdu mendayu.
"Ohh, Leooo ..."
Tubuh Victoria terkulai lemas, seiring dengan mengalirnya cai ran hangat diantara lembah yang lembab.
Leo kembali menunduk ketempat yang sama, dan dengan mulutnya, tanpa ragu ia menikmati jejak kepuasan Victoria itu tanpa bersisa, membuat Victoria lagi-lagi menggelin jang, diantara rasa ngilu yang menyenangkan.
Usai menikmati hidangan pembuka yang menggugah selera, Leo pun tidak ingin berlama-lama.
Ia duduk diantara paha Victoria yang terbuka, mengarahkan batang jamur raksasa miliknya tepat dimulut gua yang baru saja ia bersihkan dengan lembut, kemudian mulai menekannya dengan bertenaga, terus menekan, agar keseluruhan jamur miliknya bisa dilahap sempurna oleh gua keramat milik Victoria.
Detik berikutnya suhu dikamar yang luas itupun temperaturnya semakin lama semakin meningkat.
Tidak hanya sekedar hangat, melainkan panas.
Irama-irama percintaan yang dashyat telah berpadu indah dengan deru nafas yang memburu, era ngan yang menggoda, bahkan jerit tertahan.
Kemesraan tersebut terus berlangsung, dengan tubuh yang tetap bertaut mesra ... satu sama lain ...
__ADS_1
... NEXT