TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 95. Tidak Memiliki Keinginan


__ADS_3

Terima kasih sudah dicariin ... πŸ€—



Hai gaiiissss, hari ini aku TRIPLE UP loh.


Jangan lupa dukungannya yah, LIKE, COMENT, & bagi VOTE yang banyak yah ... πŸ€—


Happy Reading ... 😘


...


"Flo, ayah perhatikan sejak tadi kau lebih banyak diam dan termenung. Ada masalah apa sebenarnya?"


Florensia menoleh kesamping, dimana Jody Frederick terlihat duduk tenang sambil menatap Florensia yang berada dibelakang kemudi dengan penuh perhatian.


"Tidak apa-apa, Yah," geleng Florensia, sengaja tersenyum guna menepis rasa ingin tahu sang ayah yang tergambar jelas diwajah tua itu.


"Apakah ada hubungannya dengan keputusanmu untuk Luiz ...?"


"Tidak, Yah ... everything is fine. Aku sudah memberitahukan keputusanku kepada Luiz dan dia menerimanya ..."


"Lalu kenapa wajahmu murung ...?"


Hening. Florensia tidak tahu harus menjawab apa, bahkan ia sendiri bingung dengan warna hatinya.


"Pasti karena pria itu kan ..." imbuh Jody Frederick dengan naa suara yang sedikit kesal.


Florensia terdiam, bahkan saat tangan Jody Frederick terangkat mengusap kepala putrinya itu Florensia tetap membisu.


Pemandangan itu telah membuat hati Jody Frederick mencelos. Ia bisa memahami mengapa putrinya bisa menyukai Lionel Winata dengan sebegitu dalam, karena sesungguhnya Jody Frederick telah mengetahui semua hal tentang pria itu.


Lionel Winata, adalah pebisnis muda yang cukup sukses di usianya. Ayah dan ibunya juga merupakan pengusaha sukses, dan pria itu berasal dari keluarga yang baik.


Dalam keseharian, kepribadian El pun sangat menarik. Baik, sopan, dan sosok yang sayang keluarga. Memiliki adik perempuan yang begitu dekat dengannya, serta tidak memiliki rekam jejak yang aneh sejak usia muda hingga sekarang diusianya yang sudah kepala tiga.


Pria yang baik, idaman semua mertua ... termasuk dirinya. Meskipun semua rasa simpati Jody Frederick menguap dalam sekejap, hanya karena mengetahui bahwa selama lima tahun terakhir, pria itu tidak bisa membalas perhatian putri kesayangannya Florensia, menolaknya mentah-mentah.


"Ayah, ijinkan aku mendekati Florensia dan menjaganya. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakannya dan tidak akan pernah menyakiti hati Florensia lagi ..."


Kalimat serupa telah diterima Jody Frederick entah untuk yang kesekian kalinya, dari mulut El langsung, namun sekalipun Jody Frederick tidak pernah menanggapinya.


Florensia memang tidak pernah mengetahui bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, secara diam-diam, tidak pernah sekalipun El absen mendatangi Jody Frederick.


El benar-benar bertindak sebagai pria sejati, terus mendatanginya langsung tanpa gentar, tak peduli setiap usahanya telah mengalami penolakan entah untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Benar-benar pria keras kepala dan bertekad baja, namun karena itu pula lah diam-diam Jody Frederick menyukainya.


Kalau saja El tidak pernah melukai hati Florensia sekian lama ... sungguh El merupakan sosok yang tepat di mata Jody Frederick, yang bisa ia percayakan dapat menggenggam jemari Florensia, serta menyerahkan seluruh tanggung jawab akan masa depan Florensia.


Yah ... Florensia, putri tunggal kesayangannya.


Mungkin dimata semua orang, putrinya adalah gadis yang sempurna dan bahagia. Punya segalanya, dan bebas melakukan apa saja.


Pada kenyataannya Jody Frederick tahu persis, bahwa putrinya hanyalah seorang gadis manja yang tidak memiliki kelebihan apapun ... selain limpahan kasih sayang darinya.


El bahkan telah mengatakannya dengan jujur, bahwa alasan pria itu sehingga terus menolak kehadiran Florensia dan tidak menyukainya, sama sekali bukan karena putrinya buruk, tapi karena El begitu terpaku untuk mencari seorang gadis mandiri yang berpikiran dewasa, bukan seperti Florensia yang manja dan hanya tau bermain-main, berbelanja, jalan-jalan, dan menghabiskan uang.


Cinta yang datang begitu terlambat, yang baru disadari El, manakala kenyataan bahwa dirinya akan segera kehilangan Florensia telah berada di pelupuk matanya, tepat disaat El mengetahui, bahwa Florensia hendak membuka hatinya untuk pria lain.


Sekalipun El telah mengakui kesalahannya yang tidak bisa melihat ketulusan cinta Florensia, dibalik semua kekurangan putrinya, namun tindakan El terlanjur melukai hati Florensia, begitu pun juga dengan dirinya.


Jody Frederick pun menyadari bahwa semua yang terjadi tak lepas dari kesalahannya.


Dirinyalah yang terlalu memanjakan Florensia sebagai putri kecilnya ...


Lupa bahwa waktu telah mengantarkan Florensia sehingga tumbuh menjadi seorang gadis dewasa ...


Yang mengenal cinta ...


"Ini bukan karena El, Ayah. Aku hanya merasa gugup harus bertemu dengan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana untuk yang pertama kalinya ..." jawab Florensia lirih, setelah keheningan yang cukup panjang.


Jody Frederick tahu putrinya berbohong, namun pria itu tak memaksakan diri untuk mendesak Florensia agar mengatakan yang sebenarnya, lebih memberikan waktu bagi Florensia untuk menyendiri dan menenangkan hati.


Meskipun hanya dalam hati, Florensia memang tak kuasa menampik jika saat ini benaknya sedang diliputi dengan berbagai hal yang berkecamuk.


Tebakan ayahnya tak meleset sama sekali, bahwa saat ini ia sedang memikirkan perasaannya untuk El dan memikirkan kembali keputusannya untuk Luiz.


Sesaat setelah ia menerima telepon dari Luiz tadi, sejak saat itulah bathin Florensia tak kunjung tenang.


Mendadak pembicaraan panjang yang diselingi dengan beberapa perdebatan kecil dengan Luiz kembali terngiang-ngiang di benak Florensia ...


🌸🌸🌸🌸🌸


Pov ...


"Sudah kuduga, kau pasti tidak sabar untuk segera menelepon, karena isi pesanku padamu kan?" itu adalah kalimat pertama Florensia, yang terucap dengan nada sedikit congkak, begitu ia menerima telepon dari Luiz.


Hempasan nafas berat milik Luiz terdengar jelas diseberang sana.


"Kau benar, ini memang tentang keseluruhan isi pesanmu, yang kau katakan telah menjadi keputusanmu."

__ADS_1


Suara tawa remeh Florensia seketika terdengar menyapu gendang telinga Luiz. Membuat Luiz semakin dongkol dibuatnya.


Dimata Luiz, Florensia bahkan jauh lebih kenak-kanakan dari Dasha yang notabene jauh lebih muda secara umur.


Pola pikir dan kedewasaan Florensia tidak ada apa-apanya. Sehingga terkadang Luiz merasa sangat geram, namun berbalik arah saat menyadari bahwa ia marah sekalipun tidak akan berguna. Hanya sia-sia!


"Aku telah mengatakan semua hal yang ingin aku katakan. Lalu apalagi yang ingin kau tegaskan ...?" jawab Florensia masih acuh tak acuh.


Meskipun kekanak-kanakan, namun sikap Florensia yang menyebalkan terasa wajar, mengingat sejauh ini ia merasa diatas angin, karena selalu berhasil mengintimidasi Luiz agar pria itu selalu tunduk pada keinginannya.


Florensia sungguh tak menyangka, jika hanya dengan memegang sebuah kartu as dari Luiz, ia telah mampu membuat pria berkuasa itu tak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah mengikuti alur permainan konyol yang ia mainkan.


"Anggaplah saat ini aku sedang memberikan kau kesempatan terakhir."


"Apa maksudmu?" alis Florensia bertaut.


"Florensia, tolong pikirkan kembali dengan sebaik-baiknya apa yang sebenarnya kau inginkan, dan ambillah sebuah keputusan yang sekiranya tidak akan pernah kau sesali dimasa yang akan datang ..."


Mendengar kalimat aneh itu alis Florensia semakin bersinggungan nyata.


Sesungguhnya Florensia juga tidak tahu persis apa yang dimaksud Luiz saat ini, namun yang jelas setidaknya ia paham ... bahwa sesuatu telah terjadi.


Yah ... sesuatu, sesuatu yang telah membuat Luiz mengambil sebuah keputusan besar, yang sepertinya jauh lebih nekad dari keputusaan nekadnya sendiri.


"Luiz, kau ini sedang bicara apa ...?" Florensia mulai was-was, namun tetap saja ia gengsi untuk menurunkan standar keegoisannya, meskipun sedikit saja.


"Aku sedang bicara tentang apa yang kau inginkan."


"Kenapa kau bertanya apa yang aku inginkan? Memangnya kau tidak memiliki keinginan sendiri? Sesuatu yang kau ingin ..."


"Tidak lagi."


Florensia terhenyak mendengarnya jawaban super duper singkat itu.


"Lalu bagaimana dengan Dasha ..."


"Tentang Dasha, itu adalah urusanku. Lagipula sejak awal kau juga tidak pernah memikirkannya, bukan? Kau hanya memikirkan keegoisanmu sendiri untuk membalas dendam pada pria yang sudah jelas-jelas menolakmu serta menyakiti hatimu sekian lama. Selama ini, kau tidak pernah sedikitpun memahami posisiku, saat aku harus bersusah payah menjaga hubunganku sendiri ..."


Florensia terdiam.


Sejujurnya kalimat Luiz seolah sebuah tamparan keras untuknya, karena dengan begitu jelas memperlihatkan keegoisannya sebagai sesama wanita ...


... NEXT


Sebelum NEXT, jangan lupa di LIKE yah ... πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2