
Aku awali hari ini dengan menebar kebaikan, lewat visual Tuan Luiz dan Dasha β€οΈ
Semoga imajinasiku ini, sesuai dengan yang kalian harapkan ...π
...
Jika saja Luiz tau sebesar apa kekecewaan Dasha kepadanya.
Tapi Luiz tetaplah Luiz. Pria berumur dua puluh enam tahun, yang pada kenyataannya sangat minim pengalaman tentang bagaimana caranya memahami hati wanita.
Memang benar, bermesraan dan bercinta bukan lagi merupakan hal yang baru untuk Luiz, namun semua itu sangatlah berbeda.
Menghadapi wanita yang sedang ngambek, harus membujuk, harus merayu, harus memahami ...
Oh, damn ...!
Semua perasaan-perasaan aneh yang membludak serta bercampur aduk tak karuan dihatinya saat ini, benar-benar merupakan pengalaman yang baru untuk Luiz.
Luiz yang bingung saat harus berusaha merangkai kata yang tepat akhirnya nekad menatap Dasha, yang masih berada disampingnya, namun tetap membuang wajahnya keluar jendela.
"Dasha," bisik Luiz perlahan.
Luiz yakin Dasha bisa mendengarnya, tapi gadis itu malah bersikukuh membuang muka dan terus saja mengacuhkan Luiz.
"Dasha ..." berbisik lagi.
Dasha menggerakkan bahunya, menjauhi jemari Luiz yang berusaha meraihnya.
Luiz menarik nafasnya berat.
'Memangnya salahku sudah sebesar apa? sampai-sampai aku diabaikan seperti ini ...?'
Bathin Luiz semakin bingung, saat menyadari keheningan yang terus bertahta sejak nyaris sepuluh menit yang lalu, terhitung sejak mobil yang dikendarai Devon melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan malam yang dipadati kendaraan.
Sementara dibangku depan, Devon dan Mona juga sepertinya tidak berkeinginan untuk mengurai keheningan, dan terduduk canggung.
'Berpikir, luiz ... berpikirlah ...!'
Luiz berusaha memutar otak, tentang bagaimana caranya agar ia bisa secepatnya mengembalikan keceriaan Dasha seperti semula, manakala Luiz telah teringat sesuatu, tepat disaat perutnya berbunyi karena belum diisi sejak sore tadi.
"Devon, Mona, bagaimana kalau kita memesan beberapa bucket besar ayam goreng dan french fries di xxx, agar kita bisa makan sepuasnya di apartemenku?" tanya Luiz sambil menyebut sebuah restoran cepat saji sejuta umat, yang sepertinya merupakan tempat favorite dari Dasha dan teman-temannya.
Kali ini Luiz sangat yakin, ia tidak mungkin salah.
Minggu kemarin Luiz bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana lahapnya Dasha menghabiskan semua jenis menu fast food dari restoran cepat saji yang sama.
"Boleh, Tuan, itu memang merupakan makanan favorite kami ..." Devon langsung menanggapi positif tawaran Luiz.
__ADS_1
"Wah, luar biasa, bagaimana Tuan Luiz bisa menebak bahwa kami semua sangat menyukai ayam goreng dari xxx ...?" tanya Mona berucap dengan ekspresi riang, saat membayangkan bagaimana renyahnya kulit ayam crispy yang menjadi ciri khas menu di restoran tersebut.
Mendengar itu Luiz menanggapinya dengan tawa perlahan.
"Tentu saja aku mengetahui semua hal yang kalian sukai, apalagi jika itu disukai oleh Dasha ..."
Terdengar sedikit gombal, tapi anehnya Luiz cukup senang, bisa mengucapkan kalimat menggelikkan yang se-receh itu.
Luiz pun tersenyum menang sambil mengerling kearah Dasha.
Kebetulan sekali, gadis itu juga sedang mengerling kearah Luiz dengan bibirnya yang tak lupa mencibir pedas.
Melihat pemandangan yang menggemaskan itu, Luiz tidak bisa lagi menahan diri lebih lama, untuk merapatkan dirinya kearah Dasha.
Entah keberanian yang datang darimana, yang membuat Luiz dengan secepat kilat meraup kedua bahu itu sekaligus, dan membawanya merapat kedalam pelukannya.
Yah ... tindakan ... bukan lagi sekedar kata-kata!
Sepertinya untuk bagian ini, Luiz selalu bisa berubah menjadi orang yang paling ahli dan sangat pakar.
"Ssstt ..."
Dasha melotot saat percobaan pemberontakannya telah dipatahkan Luiz dengan mudah, terlebih saat pria itu telah membawa tubuh mungil Dasha semakin masuk kedalam pelukan, sementara mulutnya yang hendak melontarkan kalimat protes telah dibungkam oleh jemari Luiz, yang ditaruh pria itu dengan begitu lembut, tepat diatas bibirnya.
Luiz memainkan matanya, seolah memberi isyarat kepada Dasha agar tidak mencoba melakukan pergerakan dan perkataan, yang bisa saja mengusik Devon dan Mona.
Dasha terpaku, irama denyut jantungnya pun terdengar begitu gaduh manakala ia mulai menyadari jika ternyata jarak wajah Luiz semakin lama terasa semakin mendekat, seolah sedang mengikis jarak diantara mereka ... seinchi demi seinchi.
"Bisakah aku dimaafkan ...?" bisik Luiz singkat, teramat sangat perlahan.
Bisikan Luiz terasa begitu dekat ditelinga Dasha, menandakan kekhawatiran pria itu, jika yang ia lakukan akan ketahuan, dan apapun yang ia ucapkan akan terdengar, oleh Devon dan Mona yang duduk bersisian didepan sana.
Dasha membisu, namun pada akhirnya kepalanya mengangguk perlahan dalam pelukan Luiz yang menenangkan, yang seolah mampu mengikis semua rasa kesal yang mula-mula begitu dominan.
Jemari Luiz merayap dan menyentuh utuh jemari Dasha dengan perlahan, meremasnya lembut. Tatapan mata mereka pun bertaut satu sama lain, seolah sebuah medan magnet yang saling tarik-menarik.
Lambat laun potongan-potongan puzzle ingatan tentang kejadian lima tahun yang lalu, seolah terputar kembali didalam benak mereka masing-masing.
Saat Luiz merengkuh tubuh mungil Dasha dengan kedua tangannya yang kuat seperti saat ini, lalu menyapukan permukaan bibirnya di pundak gadis itu dengan teramat sangat lembut.
Kemudian perlahan namun pasti, Luiz telah mengganti setiap targetnya dengan konsisten.
Di ceruk leher milik Dasha ... kemudian di pelipis ... lalu di pucuk hidung ... di dahi ... pada dua kelopak mata yang terpejam ...
Semuanya!
Semuanya telah tersentuh bibir Luiz dengan sempurna, seolah pria itu sedang berusaha mengabsennya satu persatu, dan yang terakhir pada ...
"Maaf, Tuan Luiz, aku baru saja mengingat sesuatu ..." suara Devon yang berasal dari belakang kemudi telah mengurai ingatan Luiz dan Dasha sekaligus.
__ADS_1
"Oh, ya ...? Apa itu?" ujar Luiz mengangkat wajahnya serentak, mencoba berucap wajar.
Bibir Luiz tersenyum dalam diam saat menangkap wajah Dasha yang memerah dalam temaram.
"Tuan, sebaiknya kita tidak memesan makanan yang terlalu banyak. Masih ada begitu banyak cemilan yang dibeli Asisten Todd dan semuanya ada dibagasi mobil ..."
"Tidak apa-apa. Kulkas di apartemenku masih cukup lapang untuk menaruh semua makanan yang tersisa." ujar Luiz lagi.
"Baiklah kalau begitu." Devon mengangguk patuh, terus melajukan mobil Luiz yang sedang ia kemudikan, agar tetap mengarah ke tujuan awal.
Kemudian hening lagi.
Luiz yang seolah tidak lagi ingin menyia-nyiakan kesempatan, kembali mengambil jemari Dasha, lagi-lagi meremasnya lembut.
Luiz merasa sangat senang, karena kali ini Dasha tidak lagi mencoba menolaknya, melainkan tersenyum malu-malu dan memilih menyembunyikan wajahnya yang merona kedalam dada Luiz.
Dasha merasa sangat malu, meskipun sangat bahagia.
Jangankan meremas lembut jemari, karena selama ini, bagi Dasha hanya Luiz seorang, pria satu-satunya yang ia ijinkan untuk menyentuh semua yang ada didirinya.
Dasha merasa bangga, karena telah menjaga semuanya untuk Luiz, meskipun disaat yang bersamaan merasa kecewa, karena Luiz, tidak melakukan hal yang sama.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Devon, kau yakin tidak ada yang aneh dari hubungan Dasha dan Tuan Luiz ...?"
Mona menyikut kecil lengan Devon, yang berjalan tepat disisinya, sambil menenteng sebuah tas yang berisikan sebagian makanan yang hampir memenuhi bagasi mobil Luiz.
Devon tidak menjawabnya, namun manakala Mona nyaris memutar kepalanya kebelakang untuk mengawasi Luiz dan Dasha yang berjarak sedikit jauh dibelakang mereka, Devon dengan nekad merengkuh bahu itu, menahannya agar tidak menoleh.
"Egh, D-Devon ... kau ... kau ... ini k-kenapa ..."
"Jangan ge-er. Aku sedang mencegahmu, untuk tidak ikut campur urusan Tuan Luiz. Bukan sengaja bermaksud memelukmu, dan membuatmu baper!"
Mendengar kalimat cuek Devon, membuat wajah Mona merah padam.
"Siapa juga yang ge-er?!" semprot Mona galak, sambil menepis kasar sebelah tangan Devon yang terus merengkuh bahunya sambil berjalan. "Dan ingat baik-baik, aku bukanlah gadis yang baperan!"
"Aduhh ...!"
Devon mengaduh sambil melotot tajam kearah Mona, yang dengan sengaja menginjak kakinya kuat-kuat, untuk meluapkan rasa kesal.
"Rasakan!!"
...
Bersambung ...
(Sedang menambah tenaga untuk bisa Crazy Up. Mohon di support yah ...π₯°)
__ADS_1