
Lima tahun telah berlalu ...
...
"Apa ...?! P-pertukaran pelajar ...?! Tidak ... tidak ..."
Luiz yang awalnya sedang duduk anteng dikursi kebesarannya terlonjak begitu saja.
Hanya dalam hitungan detik Luiz telah mondar-mandir beberapa kali diruang kerjanya seperti sebuah setrikaan, sementara diujung sana Mommy Lana nyaris kehabisan nafasnya saat harus mengomeli Luiz panjang pendek, karena menanggapi penolakan spontan Luiz yang terus-menerus tanpa henti.
"Momm, bulan depan aku sudah akan kembali kerumah. Lalu untuk apa lagi Mommy mengirim Dasha kesini?"
Suara hentakan nafas kesal milik Lana bahkan telah terdengar jelas ditelinga Luiz.
"Luiz, kenapa kau tidak mngerti juga? bukan Mommy yang ingin mengirim Dasha kesana, tapi sekolahnya!" ujar Lana geregetan sendiri.
"Iya, Momm, aku mengerti, tapi kenapa harus ketempat ini? memangnya sekolah mereka tidak punya negara lain untuk mengirim Dasha dan melakukan pertukaran pelajar disana?"
"Luiz ...!!" pekik Lana semakin tak sabar. "Tolong hentikan semua omong kosongmu, sebelum tensi Mommy kembali naik tak terkendali ...!! Kau ini bicara apa?! Bagaimana mungkin kau protes dengan sebuah program yang ada disekolah?!"
Langkah Luiz yang mondar-mandir pun terhenti saat mendengar pekik suara wanita yang paling ia cintai itu, telah sampai pada titik oktaf tertinggi.
Yah, saat ini Lana tidak tanggung-tanggung lagi, karena ia bahkan telah mengerahkan seluruh urat yang telah menonjol sempurna dilehernya, guna meneriaki Luiz saking gemasnya.
"Luiz, Mommy kan sudah menjelaskannya sejak awal, kalau kau tidak bisa menerima Dasha di apartemenmu tidak apa-apa. Dasha bisa tinggal di asrama yang telah disediakan oleh pihak sekolah!"
Luiz membisu menerima kalimat Lana yang terucap dingin. Kemudian wanita itu menambahkannya lagi ...
"Tapi saat Dasha berada disana selama sebulan penuh, apa iya kau sebegitu sibuknya, sampai-sampai kau tidak bisa menengok Dasha sama sekali?!"
"Tentu saja. Tentu saja aku sangat sibuk, Momm. Aku ... aku tidak punya waktu ..."
"Baiklah kalau memang demikian, Mommy tidak bisa lagi memaksamu ...!"
"Momm ..."
Klik.
Lana telah mengakhiri pembicaraan yang tidak menemui kata sepakat itu secara sepihak.
"Mommy? Hallo ..? Mommy ...?! Oh, astagaaaa ...!!"
Seperti kebiasaan sang Mommy Luiz sudah hafal hingga diluar kepala, bahwa saat ini wanita itu pasti sangat kesal kepadanya.
Usaha menelpon balik pun akan percuma karena sudah pasti tidak akan pernah direspon lagi.
Luiz menaruh ponselnya keatas meja, sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya yang lunglai begitu saja keatas kursi kebesarannya, kali ini sambil memijat pelipisnya yang sejak awal pembicaraan telah menegang sempurna.
Otak Luiz benar-benar dipenuhi beban yang berat, gundah gulana.
__ADS_1
Sejenak sepasang mata Luiz telah mengawasi kalender yang berada diatas mejanya, seolah kembali memastikan deretan angka yang ada disana sambil lagi-lagi menghitung hari yang tersisa dari tanggal yang telah ia lingkari dengan tinta berwarna merah menyala.
Yah ... waktu berlalu sangat cepat!
Tak terasa lima tahun nyaris berlalu, dan Luiz kini hanya memiliki waktu kurang dari sebulan untuk kembali kedunia nyata, menemui kenyataan!
Yah, lima tahun ...!
Luiz memang telah melarikan diri dan bersembunyi selama itu dari segala dosa, tanggung jawab, dan berbagai persoalan yang tertinggal tanpa penyelesaian.
Memilih mengasingkan diri sekian lama, menolak kembali apalagi mengakui kesalahan.
Yah, LIma tahun yang lalu, Luiz bahkan masih mengingatnya dengan jelas.
Bagaimana pada malam itu, saat Luiz nyaris kehilangan pengendalian dirinya seutuhnya, beruntung Luiz tersadar dari kekhilafannya di injury time.
Sungguh breng sek!
Luiz mengusap wajahnya lagi berkali-kali.
Program pertukaran pelajar yang ada disekolah Dasha, dalam dua hari kedepan akan mengantarkan Dasha ketempat ini.
Bisa dibayangkan bagaimana paniknya Luiz?
Memikirkan waktu yang tinggal sebulan saja saat ia benar-benar harus kembali, sudah membuat Luiz merasa panik setengah mati, kini persoalan semakin ruwet karena sisa waktu yang awalnya sebulan malah tersisa dua hari!
Oh my ... Luiz benar-benar belum siap menghadapi semua ini!
Lima tahun yang lalu Luiz yang melarikan diri dari dalam kamar Dasha telah menemui kenyataan yang tak kalah gila, dimana suara desa han, era ngan , serta nafas yang saling memburu milik dua orang yang sedang bercum bu penuh naf su terdengar sahut menyahut dari dalam kamar tamu yang ditempati Victoria.
Luiz tahu jika Leo pasti berada didalam sana, sedang memadu asmara yang menggelora bersama Victoria, wanita pertama yang berhasil mencuri hatinya.
Si al ...!
Disaat nafas Luiz sendiri sedang memburu, karena kesullitan menguasai dirinya sendiri, Luiz masih harus mendengar suara jeritan yang dipenuhi bira hi dari dalam sana!
Malam itu, setelah melewati kekalutan yang menyesakkan dada begitupun dengan pikiran, dalam sekejap Luiz telah memantapkan hatinya begitu saja.
Luiz nekad mengetuk pintu kamar Daddy dan Mommy, yang untungnya masih terjaga, dan malam itu juga Luiz telah mengambil keputusan besar yang telah membuat kedua orangtuanya tercengang.
"Aku yang akan pergi, bukan Daddy."
Saat itu Arshlan bahkan telah menatap Luiz dengan mulut terbuka. "Luiz ... apa yang terjadi?" tanya Arshlan sambil mengawasi wajah Luiz yang tenang, namun Arshlan malah mencurigai ketenangan berlebihan diwajah putranya itu.
"Tidak ada, Dadd. Aku hanya berpikir, dengan umur Daddy saat ini, bagaimana aku bisa membiarkan Daddy pergi, dan memikul tanggung jawab yang sudah seharusnya aku emban ..."
Arshlan mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali, seraya mengusap janggutnya yang semuanya telah memutih.
Sejujurnya Arshlan sangat lega mendengarnya, karena pada akhirnya Luiz mau juga menerima tanggung jawab untuk memikul tanggung jawab perusahaan sepenuhnya.
__ADS_1
Meskipun tidak bisa dipungkiri jika sebagai seorang ayah, jauh didalam lubuk hati Arshlan ia juga penasaran dan bertanya-tanya tentang hal apa saja yang telah mempengaruhi keputusan Luiz, hingga memutuskannya secepat itu.
Memang semuanya terlalu cepat, sangat tergesa dan mendadak, namun Arshlan tidak bisa mengendurkan tekad dan keputusan Luiz hanya dengan satu pertimbangan saja ... bahwa memang sudah waktunya ...!
Malam itu, Luiz keluar dari kamar kedua orang tuanya dengan jiwa yang berserakan.
Hanya daddy dan mommy yang melepas kepergiannya dimalam itu juga, yang memilih pulang, dan berkendara seorang diri demi mengejar penerbangan pertama di pagi hari.
Luiz bahkan tidak tahu apakah keputusannya telah tepat?
Entahlah ...
Yang terpenting adalah keputusannya yang terkesan buru-buru itu telah didukung penuh oleh Daddy begitu juga dengan Mommy, walau keduanya pun terlihat berat saat harus melepas Luiz.
Luiz, telah memutuskan untuk pergi secepatnya, dan menjauh sejauh-jauhnya.
Yang dalam artian sebenarnya adalah pergi dan menjauh dari kehidupan Dasha. Karena kalau Luiz tidak melakukannya saat itu juga, Luiz bahkan tidak bisa membayangkan apa lagi yang kelak bisa ia lakukan terhadap diri Dasha.
Dalam lima tahun, tentu saja banyak hal yang telah berubah.
Hanya selang beberapa bulan setelah kepergian Luiz, sebuah insiden telah terjadi. Lewat Mommy, Luiz mengetahui bahwa Victoria telah hamil dan meminta pertanggungjawaban Leo.
Saat itu karir Leo sedang bersinar terang, sehingga setitik saja gosip yang beredar, bisa berdampak besar dengan image Leo dimata publik.
Pada akhirnya, dengan terpaksa Leo bersedia bertanggungjawab, dan menikahi Victoria. Mereka menikah diam-diam karena harus menyembunyikan status Leo dihadapan penggemar.
Setelah menikah, tak lama berselang Luiz telah mendengar kabar bahwa Victoria telah mengalami pendarahan hebat dan mengalami keguguran.
Sepertinya, kondisi rumah tangga Victoria dan Leo tidak mengalami keharmonisan.
Entahlah ...
Luiz sebenarnya lelah setiap kali mendengar Lana memberitahukan semua hal yang terjadi silih berganti, apalagi jika sudah menyangkut ... Dasha.
"Sepertinya Dasha bahkan lebih sering menangis karena merindukanmu daripada Mommy ..."
Itu kalimat Lana diawal kepergian Luiz, yang memang telah pergi malam itu juga, meninggalkan Dasha tanpa pamit.
Dan cerita tentang Dasha terus mengalir tanpa henti, disetiap pembicaraan Lana setiap kali menelpon Luiz.
"Besok ulang tahun Dasha yang ke enam belas tahun. Luiz, telponlah Dasha. Dia pasti senang kalau kau mau menelponnya dan mengucapkan selamat ulang tahun ..."
Itu adalah kalimat Lana kira-kira dua minggu yang lalu.
Saat itu luiz tidak mengatakan apa-apa, dan besoknya Luiz juga tidak menelpon seperti permintaan Lana.
"Enam belas tahun ...?"
Luiz menghembuskan nafasnya, menyadari bahwa waktu telah begitu cepat berlalu ...
__ADS_1
...
Bersambung ...