TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 20. Jiwa yang Marah


__ADS_3

Double up, mohon support yang kencang yah ... author ingin menaikkan level novel ini di awal bulan ... πŸ™


...


Ujung mata Luiz seolah tak bisa berhenti menatap gerak-gerik Dasha, yang terlihat sangat khusyuk didepan makanan cepat saji yang di delivery oleh Luiz, dari sebuah restoran fast food sejuta umat.


Semua menu makanan itu tentu saja merupakan hasil request dari Dasha sendiri, yang sesaat lalu tengah mengeluh untuk meminta Luiz membelikan makanan, karena dirinya yang tadi pagi tidak sempat sarapan.


"Dasha, kalau kau sering memakan makanan cepat saji seperti ini, bisa-bisa tubuhmu berubah menjadi gemuk." ujar Luiz mengingatkan, saat menyaksikan bagaimana bersemangatnya Dasha melahap semua makanan yang tinggi kalori tersebut.


Lagipula Luiz tidak habis pikir, apa enaknya memakan potongan ayam dan kentang goreng yang hanya dicocol sambal kemasan?


"Buktinya aku tidak gemuk," kilah Dasha acuh, sambil membuka mulutnya lebar-lebar pada satu suapan besar nasi yang terlihat sangat penuh.


Melihat pemandangan itu Luiz bahkan sempat bergidik ngeri.


"Tenang saja, Tuan. Aku dan teman-temanku sudah terbiasa memakannya. Nyaris setiap weekend, kami pergi bersama untuk menonton film di bioskop, dan pulangnya kami semua selalu sepakat untuk makan di restoran cepat saji ..."


Alis Luiz bertaut mendengar cerita panjang lebar Dasha tentang kesehariannya.


"Teman-teman? Sejak kapan kau punya teman?" usut Luiz spontan.


Dasha terlihat meneguk minuman bersoda langsung dari kalengnya. "Sejak kelas tujuh aku mulai punya banyak teman, dan jumlah teman-temanku terus bertambah meskipun hanya ada beberapa yang benar-benar dekat."


"Benar-benar dekat?" Luiz kembali mengulang kalimat Dasha. "Apa maksudmu dengan benar-benar dekat?"


Satu suapan terakhir karena pada akhirnya semua makanan gadis itu telah tandas, hanya menyisakan tulang-belulang ayam diatasnya.


"Erika, Mona, Devon, dan Ben. Kami berlima sangatlah dekat. Sayang sekali Erika dan Ben tidak bisa ikut program ini karena mereka berdua tidak lulus seleksi ..."


"Devon ...? Ben ...? Apakah mereka pria ...?"


Dasha spontan mengangguk. "Dari namanya saja sudah terlihat bahwa mereka adalah pria."


Kali ini Dasha terlihat membersihkan bekas makanan sekaligus kaleng soft drink miliknya yang telah tandas.


"Kau berteman dengan dua orang pria?!"


Suara Luiz yang terdengar naik satu oktaf membuat Dasha menatap Luiz dengan tatapan bingung.


"Tuan Luiz, ada apa? Kenapa Tuan terlihat marah ...?"


"Bagaimana aku tidak marah? Sekarang kau punya dua teman pria sekaligus dan ..."


"Tuuuaaannn, aku bukan hanya punya dua teman pria tapi banyak. Sekolahku adalah sekolah umum. Jumlah murid pria dan wanita didalamnya tentu saja saling berimbang."


Luiz terhenyak mendengar penjelasan Dasha yang terdengar lugas.


'Aku tidak percaya ini ...!'


'Lima tahun yang lalu aku telah memasukkan Dasha kesekolah khusus wanita, agar aku bisa lebih mudah mengawasinya.'


'Lalu bagaimana mungkin Mommy dan Daddy justru membiarkan Dasha masuk kesekolah umum, disaat Dasha mulai beranjak dewasa ...?!'


Bathin Luiz telah gagal meredam kekesalannya, yang telanjur meluap.


"Tuan Luiz, terimakasih atas traktiranmu, tapi sepertinya aku harus pergi."


"Pergi? Pergi kemana?" alis Luiz terangkat lagi.


"Hari ini kan weekend. Aku dan teman-temanku akan menghabiskan weekend kali ini dengan pergi ke taman hiburan yang ada dipusat kota."


Dasha bangkit setelah selesai membereskan meja. Ia bergerak lincah dengan membawa semuanya kedalam tempat sampah yang ada didekat pintu dapur, kemudian mencuci bersih tangannya di wastafel.

__ADS_1


Semua gerak tubuhnya tak ada satu pun yang lolos dari tatapan Luiz.


Dasha pasti tidak tau, jika didalam otak Luiz kini sedang dipenuhi berbagai pro dan kontra.


'Apa-apaan ini?'


'Memangnya sejak kapan Dasha terbiasa pergi dengan seorang pria ...?'


'Yah, meskipun kenyataannya mereka pergi berbarengan, tidak hanya berdua saja ...'


Dasha kembali duduk dihadapan Luiz sambil mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi berada disaku.


Detik berikutnya gadis itu telah tenggelam dalam obrolan grup chat ... sehingga melupakan Luiz yang sedang menguliti dirinya dengan tatapan tajam.


'Si al ... susah payah aku menjadi casanova hanya untuk menghilangkan wajah mungilnya sejak lima tahun yang lalu, namun dalam sekejap hatiku kembali terusik dengan gadis yang sama ... yang naasnya usianya belum juga benar-benar dewasa untukku ...!'


Didalam hati Luiz mengumpat panjang pendek.


'Enam belas tahun, dan gadis ini sungguh cantik ...!'


Luiz memegang tengkuknya yang mendadak kebas.


'Oh, Luiz, tolong ingatkan dirimu lebih keras lagi, bahwa kau tidak boleh mencoba menyentuhnya ...!!'


Luiz telah mengusap wajahnya dengan jiwa yang kalut, kemudian memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan.


Sekarang pundaknya bahkan ikut-ikutan merasa tegang, hanya dengan melihat keceriaan Dasha saat saling berbalas chat didalam grup.


"Kau tidak boleh pergi dengan sembarangan orang. Itu berbahaya." pungkas Luiz pada akhirnya, tak sanggup lagi untuk terus berdiam diri, menyadari Dasha yang hendak pergi ke taman hiburan bersama teman-temanya.


"Mereka bukan sembarang orang, melainkan teman-temanku. Aku sudah sangat sering pergi bersama mereka."


Tepat disaat yang sama ponsel Dasha telah berdering, sepasang mata bulat milik gadis itu langsung berbinar saat mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Devon ...?"


"Aaahh, kalian berdua sudah berada dibawah yah? baiklah ... baiklah ... tunggulah aku, karena aku akan segera turun ..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Luiz telah mengomel panjang pendek.


Tidak hanya itu, Luiz bahkan merasa nafasnya ngos-ngosan karena dirinya yang selama ini terkenal irit bicara, tidak terbiasa berbicara panjang lebar seperti yang telah ia lakukan barusan.


Diseberang sana, Lana yang telah menerima dumelan tersebut seolah tidak terpengaruh.


"Momm, kenapa Mommy diam saja? Apakah Mommy tidak khawatir sama sekali jika ... jika ..."


"Luiz ... Luiz ... astaga luiz ... aku tidak menyangka sama sekali bahwa untuk yang pertama kalinya, aku bisa bersyukur, karena bukan kau yang menjaga Dasha selama lima tahun terakhir ini ..."


Luiz terhenyak mendengar reaksi yang jauh dari perkiraannya itu. "A-apa maksud Mommy berkata seperti itu?"


"Dasha bisa menjadi anak yang kuper karena kau akan melarangnya untuk melakukan ini dan itu, dan kau juga pasti akan terus membatasi pergaulannya. Kau ... pasti juga akan melarangnya berteman dengan siapapun!"


"Momm, tapi Dasha berteman dengan pria juga. Apa Mommy tidak tau bagaimana bahaya seorang pria ...?" tukas Luiz.


"Mana mungkin Mommy tidak tahu? Nyaris seumur hidup, Mommy telah hidup bersama seorang Tuan Arshlan. Kalian pasti pernah mendengar sepak terjang daddy kalian, bukan? Dia adalah pria paling berbahaya diatas muka bumi ini. Lalu sekarang, lihatlah bagaimana sikap kalian. Leo, dan kau juga bahkan telah berlaku sama. Kalian terus bermain wanita tanpa henti. Dan Mommy hanya bisa berharap, kelak hidupmu tidak akan seperti Leo, yang harus berakhir dengan wanita seperti itu ..."


Luiz termanggu mendapati kalimat sinis Lana yang terucap panjang lebar, seolah merupakan curahan hati yang sengaja ingin diungkapkan agar bisa sedikit melegakan jiwa yang marah, meskipun yang ada, Luiz justru merasa tidak nyaman saat Lana mulai membahasnya.


"Momm, wanita seperti itu? Wanita seperti apa, Mom? Kenapa Mommy mengatakan hal buruk seperti itu kepada Victoria ...?"


"Nah ... nah ... lihatlah. Sekarang kau bahkan telah membelanya mati-matian dihadapan Mommy."

__ADS_1


Luiz terdiam lagi.


Selama ini, Luiz selalu menghindar dari pembahasan tentang Victoria.


Luiz pun enggan terhubung dengan wanita, yang notabene telah menjadi istri saudara kembarnya itu.


Hati Luiz telah lama sembuh, bahkan jauh sebelum Luiz pergi. Namun pada kenyataannya, Luiz harus bisa menjaga perasaan Leo, terlepas dari seburuk apapun hubungan diantara Leo dan Victoria.


Luiz benar-benar tidak pernah berminat, untuk berada diantara hubungan pelik keduanya ...


🌸🌸🌸🌸🌸


Saat Lana menaruh ponselnya, ia begitu terkejut saat menyadari bahwa Arshlan telah memperhatikannya dari bingkai pintu, entah sejak kapan.


"Sayang, kau mengagetkan aku." ujar Lana kikuk, menyadari tatapan Arshlan yang tertuju penuh padanya.


"Apakah itu Luiz?" tanya Arshlan sambil masuk kedalam kamar.


Lana mengangguk. "Iya."


"Apakah Luiz telah bertemu Dasha?"


"Akh ... iya, iya, Dasha datang ke apartemen Luiz tadi pagi." lagi-lagi menjawab kikuk, merasa was-was dalam hati, bertanya-tanya apakah Arshlan telah mendengar kalimatnya saat ia membahas tentang ...


"Lana ..." panggil Arshlan perlahan, membuat Lana yang awalnya berpura-pura sibuk membereskan meja rias miliknya, dengan terpaksa harus kembali menatap penuh kearah suaminya itu.


Arshlan nampak mendekat, menyentuh ujung jemari yang berada diatas permukaan meja, menggenggamnya dengan lembut.


"Sayang, kapan kau akan menyadari, dan merubah hatimu? Setiap orang bisa berubah, tak terkecuali Victoria. Tapi semua usaha itu tidak akan pernah menemui keberhasilan, jika kau terus saja menutup hatimu ..."


"Itu cukup sepadan. Dia telah membuat aku kehilangan putraku selama hampir lima tahun ini." kalimat Lana bergetar saat mengucapkannya.


Hati Lana sangat pedih.


Selama lima tahun, Lana kehilangan Luiz. Luiz bahkan tidak pernah kembali, meski hanya untuk dirinya dan Arshlan.


Hati Luiz sesakit itu, lalu bagaimana bisa Lana menerima kehadiran Victoria dengan tangan terbuka?


Wanita itu bahkan tidak mengindahkan titahnya, dimalam yang sama dengan kepergian Luiz!


"Sayang, kau sendiri kenapa? Kenapa kau menentang Leo, disaat Leo ingin berpisah?"


"Karena aku tidak menyukai perpisahan. Sepasang suami istri, sudah seharusnya saling menjaga, menyelaraskan segala yang tidak sejalan, bukan malah menghancurkan ikatan ..."


"Leo tidak mungkin bahagia dengan Victoria."


"Karena Leo seperti dirimu. Tidak pernah mau berusaha untuk mencoba membuka pintu hatinya."


"Saat ini, Leo sudah memiliki kekasih,"


"Memangnya kapan Leo berhenti mempunyai kekasih?" pungkas Arshlan lagi, begitu enteng.


Lana menggelengkan kepalanya, seolah ingin meyakinkan Arshlan. "Kali ini berbeda. Leo benar-benar menyukai wanita itu. Dia telah mengatakannya kepadaku bahwa dia ingin membangun hubungan yang serius."


"Percayalah, dia hanya mencari alasan, untuk melarikan diri dari Victoria." ujar Arshlan lagi bersikukuh. "Lana, tolong hentikan semua ini." ucap Arshlan kemudian dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Tapi, sayang ..."


"Katakan kepada Leo. Aku tidak akan mengijinkan kedua putraku menghancurkan rumah tangganya sendiri. Entah itu Leo, begitupun dengan Luiz kelak. Itu sudah menjadi keputusanku."


"Lalu bagaimana kalau Victoria yang meminta untuk berpisah?" tantang Lana kemudian.


"Kalau memang demikian, mungkin ... aku bisa mempertimbangkannya. Tapi aku tidak mengijinkan Leo, meminta hal yang serupa ..."

__ADS_1


...


Bersambung


__ADS_2