TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 15. Belum Berakhir


__ADS_3

Kira-kira diawali dari satu jam yang lalu, begitu Arshlan kembali dari kamarnya, pria itu telah mendekati kedua putranya yang duduk santai sambil menyesap champagne.


Arshlan duduk diantara kedua putra kebanggaannya dan mereka bertiga mulai terlibat pembicaraan yang ringan.


Namun kira-kira setengah jam yang lalu pembicaraan itu mulai berubah serius, manakala Arshlan dan Luiz mulai bicara panjang lebar tentang banyak hal.


Tentang berbagai prospek bisnis dimasa mendatang, laju pertumbuhan ekonomi, bahkan sampai pada perkembangan suhu politik saat ini.


Seperti biasa, Arshlan terlihat sangat betah jika sedang berbicara dengan Luiz. Mereka berdua memang memiliki banyak kesamaan tentang pandangan hidup begitupun dengan pola berpikir.


Bukan berarti Arshlan membedakan antara Luiz dan Leo, karena Leo sendiri pun terlihat tidak begitu tertarik dengan pembicaraan Arshlan dan Luiz.


Untuk itulah pria tampan berkulit eksotis ini memilih pamit dan beranjak lebih dulu, sambil tak sadar ia telah melontarkan sebuah pertanyaan basa-basi.


"Kemana Victoria? Sepertinya aku tidak lagi melihat sosoknya ..."


"Tadi Victoria pamit kepada mommy kalau dia akan beristirahat lebih dahulu."


Lana yang tiba-tiba muncul dari pintu samping telah menjawab pertanyaan Leo dengan senyum lembutnya yang khas.


"Oh, yah? Benarkah?"


Meskipun sedikit heran, tapi Leo pun tak kunjung menanyakannya kembali.


"Momm, aku juga akan beristirahat. Besok pagi aku harus kembali, karena siangnya aku memiliki jadwal pemotretan dan syuting, non stop hingga malam hari." ucap Leo sambil mendaratkan kecupan singkat dikedua pipi Lana.


"Itu lebih baik, sayang. Pergilah berisitirahat." pungkas Lana sambil mengusap lengan kekar Leo sebelum membiarkan Leo beranjak masuk kedalam, diiringi tatapannya hingga menghilang dibalik dinding pembatas.


Perlahan Lana pun mendekati dua sosok yang masih terlibat pembicaraan serius.


"Sayang, ini sudah larut malam, besok pagi Luiz harus kembali bekerja, dan kau juga harus beristirahat untuk kesehatanmu sendiri ..."


Hanya dengan satu kalimat, namun Arshlan dan Luiz telah menghentikan obrolan mereka begitu saja.


"Sepertinya kita memang harus berhenti, Luiz." Arshlan tersenyum sambil melirik Lana.


Sejam yang lalu istrinya itu telah menaikkan bibirnya dua centi saat Arshlan mengemukakan sikapnya untuk tidak ikut campur lebih dalam, mengenai persoalan keberadaan Victoria yang berada diantara kedua putranya.


Lagipula Luiz telah menjaga jarak terang-terangan, dan Leo tidak pernah memakai hatinya untuk setiap teman wanitanya, tak terkecuali Victoria.


Arshlan hanya merasa terlalu berlebihan, jika hari ini ia harus turun tangan menasehati Luiz dan Leo tentang hal yang sama, sementara Lana yang selalu mengkhawatirkan semua hal, lagi-lagi tidak sependapat dengan dirinya.


"Aku tidak mau punya menantu seperti Victoria!"


"Masa depan tidak ada yang tahu, sayang ..."


"Aku tidak akan pernah menerimanya, jika itu terjadi disuatu saat. Kedua putraku berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik."


"Sayang ..."


"Tidak, sayang. Sampai detik ini, aku tidak pernah memiliki standar khusus, ingin memiliki menantu yang seperti apa. Yang aku inginkan hanyalah seorang wanita yang mau mencintai putraku seorang dengan tulus, bukan mencintai keduanya, seperti yang dilakukan Victoria!"


Arshlan pastinya harus menyerah. Karena Lana yang seperti ini, sudah pasti bukan tandingannya lagi.


Wanita mungil itu, seumur hidupnya telah dimanja oleh ketiga pria yang sangat mencintainya. Wajar saja jika saat ini Lana menjadi sangat keras kepala.


"Astaga sayang, kenapa kalian membiarkan Dasha tertidur disini ...?" Lana telah memekik perlahan saat melihat tubuh Dasha yang terkulai pulas diatas ayunan.


Arshlan dan Luiz sama-sama bangkit guna menatap kesatu titik yang dimaksud Lana.


Benar saja, disana, diatas ayunan yang sedikit bergoyang karena tertiup semilir angin malam, gadis cilik itu tertidur dengan begitu pulas.


"Biar aku yang akan membangunkannya."


"Jangan, Luiz." larangan Arshlan telah menahan laju pergerakan Luiz. "Tidurnya sangat lelap, jangan bangunkan."


"Tapi, Dadd ..."

__ADS_1


"Bawalah Dasha kekamarnya ..."


"Iya Luiz, bawa saja Dasha kekamar. Jangan bangunkan." kali ini suara Lana yang menyeruak.


Meskipun sedikit kesal, tapi Luiz juga tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya.


Mau tidak mau akhirnya Luiz mendekati tubuh Dasha yang tergolek diatas ayunan, dan mulai mengangkatnya, membopongnya dengan perlahan kedalam pelukan.


"Hati-hati, Luiz. Ingat, jangan membangunkannya ..." lagi-lagi Lana berbisik ditelinga Luiz, yang hanya bisa mengangguk, mengiyakan tanpa kata.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sejauh ini keberadaan Victoria tidak terlalu mengusik pikiran Leo.


Selain aktifitas sebagai Friend With Benefit yang membuat mereka bercinta diatas ranjang dengan hebat, selebihnya tak ada satupun yang bisa membuat Leo berpaling kearah gadis itu.


Sesungguhnya Victoria adalah gadis yang lumayan cantik, enerjik dan cukup smart. Kepercayaan diri Victoria juga cukup tinggi, sebagai salah satu point penambah pesona.


Tapi sayangnya, gadis dengan spec bidadari seperti Victoria, dimata Leo bukanlah hal yang langka, terlebih lagi karena Leo berkecimpung didunia entertainment atau dunia hiburan.


Diluar sana Leo bahkan terlalu sering menemukan wanita yang serupa, bahkan banyak yang lebih diatas dari pesona Victoria, meskipun dimata Leo, semuanya tak ada yang istimewa.


Karena saat seorang wanita berada diatas ranjangnya, maka siapapun dia, rasanya akan terasa sama saja.


Malam ini, Leo telah berpamitan lebih dahulu untuk masuk kekamarnya dan beristirahat, meninggalkan Daddy Arshlan dan Luiz yang seperti biasa merupakan pasangan ngobrol yang sangat serasi.


Besok pagi usai sarapan, Leo harus sudah kembali kekota.


Weekend yang singkat telah berakhir, waktunya mengurus karir dan pekerjaan yang telah menanti.


Langkah Leo terhenti saat tak sengaja melintasi sebuah kamar tamu.


Victoria pasti berada didalam sana.


Entah kenapa gadis itu begitu cepat memisahkan dirinya malam ini, tidak seperti biasanya.


"Apakah dia sedang tidak enak badan?" pertanyaan itu melintas begitu saja di benak Leo, membuat Leo memutuskan untuk mendekati daun pintu tersebut dan mengetuknya perlahan.


Menyadari ketukannya pada daun pintu tersebut tidak direspon membuat Leo hendak mengurungkan niatnya untuk memastikan keadaan Victoria.


Leo nyaris membalikkan tubuhnya, namun urung ketika bunyi handle pintu yang terbuka menyapa gendang telinganya.


Seraut wajah bare face milik Victoria muncul tepat dibingkai pintu. Terlihat natural tanpa polesan seperti yang biasanya Leo lihat selama ini.


"Tuan Leo ...?"


Victoria nampak terkejut mendapati sosok Leo yang berada tepat dihadapannya.


"Tuan Leo, ada apa?"


Leo menggaruk tengkuknya sejenak. "Mmm ... aku ... aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja?"


Victoria tersenyum kecil mendapati perhatian kecil Leo untuknya, namun entah mengapa Leo justru menangkap kilatan sendu disepasang mata wanita itu.


"Tidak apa-apa, Tuan. Keadaanku baik."


"Tapi kau menghilang begitu saja."


"Aku telah berpamitan kepada Nyonya Lana. Sengaja tidak mengusik, karena Tuan terlihat sedang terlibat pembicaraan serius dengan Tuan Arshlan. Aku tidak enak menyela ..."


Leo manggut-manggut sesaat, bingung harus mengatakan apa lagi.


Sejauh ini dirinya dan Victoria jarang bicara, hanya sibuk bercinta. Jadi terasa sangat canggung saat harus berhadapan tanpa melakukan hal yang berbau kemesraan.


Leo kembali mengangkat wajahnya, lagi-lagi mendapati wajah polos Victoria yang tanpa polesan. Saat ini wajah Victoria terkesan jauh lebih muda, daripada saat berada dalam sapuan make up yang menawan.


"Aku merindukanmu ..."

__ADS_1


Leo bahkan tidak sadar begitu mulutnya telah mengucapkan kalimat itu begitu saja.


Victoria yang ada dihadapannya pun ikut terkejut mendengar ucapan yang tercetus ringan itu. Sontak kepalanya menggeleng.


Victoria telah menolak Leo meskipun sangat menginginkannya.


Lagipula bagaimana mungkin ia bisa menerima Leo, disaat mereka sedang berada satu atap dengan kedua orang tua pria itu, terlebih dengan kondisi hati Victoria yang hancur lebur setelah menerima penolakan Nyonya Lana yang terang-terangan atas dirinya.


Namun belum juga Victoria memikirkan cara mengusir Leo dari bingkai pintu kamarnya, tubuhnya lebih dulu terdorong pelan kedalam kamarnya.


Leo dengan nekad telah meringsek masuk kedalam kamar Victoria, dan menutup pintu tersebut dengan gerakan cepat.


"Aku sedikit mabuk karena champagne, mungkin itu juga yang menyebabkan diriku sangat berhasrat malam ini ..." bisik Leo, tanpa membuang waktu tangannya langsung menarik ujung tali piyama tidur milik Victoria.


"Tuan Leo ... tapi ini ... kita sedang berada di ..."


"Sssstt, kita akan melakukannya dengan lebih kalem, agar tidak menimbulkan suara yang berlebihan." bisik Leo lagi, enggan mundur dari hasrat yang telah menggebu-gebu.


Bugh.


"Aww ..."


Leo mendorong tubuh Victoria hingga jatuh terlentang diatas ranjang yang empuk, membuat Victoria memekik tertahan.


"Ssssttt ..." Leo menyusul tubuh Victoria keatas ranjang yang sama, usai melempar T-Shirt miliknya kesudut kamar.


Victoria hanya bisa pasrah saat pria kekar itu menarik lepas piyama tidurnya, membuangnya kesudut kamar tempat ia melemparkan T-Shirt tadi.


Dengan gerakan yang juga tergesa, sepasang b r a dan segi tiga mungil milik Victoria pun ditanggalkan dengan secepat kilat.


"Tuaaann ... ahhh ..." sebuah desa han penuh kenikmatan meluncur tanpa terbendung dari bibir Victoria, manakala kedua buah padat miliknya telah dikecup dan dipermainkan dengan penuh, masing-masing oleh ujung lidah, juga jari-jemari tangan Leo yang besar.


Tubuh Victoria tak berhenti tersentak saat Leo menjilat dua pucuk yang mengeras itu berganti-ganti, tak lupa menggigit kecil, sementara kedua tangannya yang lebar memerah bongkahan kembar milik Victoria yang berukuran besar dan padat, terus bermain disana seolah tak pernah puas.


Semakin lama tempo permainan pun semakin meningkat.


Victoria menggigit pundak Leo saat pria itu berusaha menurunkan pinggulnya, guna membenamkan jamur raksasa yang telah menegak sempurna. Keras dan berurat kokoh.


"Tuaann ... mmh ... " Victoria menggelin jang begitu batang jamur itu terbenam perlahan, terasa sangat utuh dan begitu penuh.


"Oh Vic ... rasanya nikmat sekali ... uhh ... uhh ..." Leo mendengus keenakan saat merasakan bagaimana nikmatnya cengkeraman gua keramat milik Victoria yang memeluk batang kejantanannya dengan begitu ketat.


Rasanya masih tetap nikmat, meskipun ini adalah kali kesekian jamur raksasa milik Leo menyusuri lorong kenikmatan milik Victoria, setelah Leo berhasil mengoyaknya dimalam pertama saat mereka melakukannya.


Rintihan lirih serta era ngan tertahan terus terdengar dari mulut Victoria, setiap kali Leo memompa tubuh se xy itu tanpa jeda.


"Tuan, owhh ... akhh ..." kepala Victoria terlempar kekiri dan kekanan, menandakan sebuah semburan hebat yang sedang mendobrak dinding-dinding rahimnya yang basah.


Leo tersenyum puas melihat Victoria yang terkulai lemas dengan tubuh yang bersimbah peluh seperti dirinya.


"Ini belum berakhir, Vic ... bahkan belum ada setengah perjalanan ..." bisik Leo sambil memaksa tubuh lemah Victoria untuk bangkit dan berbalik memunggunginya.


"Tuan Leo, kau sangat hebat, tapi tolong jangan berlama-lama dikamarku karena ... awww ... ohh ..."


Ucapan Victoria telah berganti desa han yang tanpa henti, saat Leo telah membenamkan kembali jamur raksasa miliknya kelorong yang sama.


"Jangan menyuruhku berhenti, Vic, karena itu adalah sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan saat ini ...!" kecam Leo sambil mematri pinggul Victoria dengan tegas, memaksa tubuh wanita itu untuk menerima hujaman demi hujaman, yang semakin keras dan kasar.


"Uhhh ... uhh ..."


Leo terus memacu dan menggila, mengabaikan jerit tertahan Victoria yang dengan terpaksa harus menggigit ujung bantal, jika tidak ingin suaranya yang dipenuhi bira hi itu ... terdengar sampai keluar kamarnya ...


...


Bersambung ...


Kalau tidak ada kopi, mawar pun bisa πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2