TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 67. Pembuktian


__ADS_3

"Ssstt ... Tuan, Tuan Luiz ...!"


Luiz yang berjalan gontai dengan pikiran kalut hendak menuju kamarnya itu dikejutkan oleh suara berbisik yang memanggil namanya.


"Dasha ...?" sepasang mata Luiz nyaris keluar dari cangkangnya begitu melihat sosok Dasha yang terlihat sedang mengintip dari celah pintu kamarnya.


Menyadari hal tersebut Luiz buru-buru masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.


"Sedang apa kau di kamarku?" ucap Luiz dengan nada yang masih berbisik, namun yang ia dapati adalah senyum usil Dasha yang menyeruak dari sela-sela bibir.


"Masih bertanya? Tentu saja karena aku ingin menemui pacarku." jawab gadis itu dengan gayanya yang kenes.


Luiz memijat alisnya sejenak. Pikirannya yang kalut akibat pembicaraan barusan dengan kedua orang tuanya, kini bertambah dua kali lipat rasanya.


"Tuan Luiz kenapa? Apakah telah terjadi sesuatu?"


Dasha tahu persis bahwa Luiz baru saja kembali dari ruang kerja Tuan Arshlan. Meskipun tidak tahu pembicaraan apa yang terjadi didalam sana, namun firasat Dasha mengatakan, bahwa sepertinya hal itu bukanlah sebuah pembicaraan yang bagus jika menilik raut wajah Luiz saat ini.


Luiz menggeleng cepat. "Tidak ada yang seperti itu." tepisnya, kemudian ia telah menatap Dasha lekat. "Kembalilah ke kamarmu. Hari sudah larut."


Dasha sontak menaikkan bibirnya dua centi. "Tidak mau."


"Kau ...?"


"Aku akan tidur disini malam ini ..." seloroh Dasha lagi dengan begitu ringan.


"Dasha, tolong jangan bercanda ..."


"Siapa yang bercanda?"


Luiz membuang nafasnya perlahan, terlebih saat menyaksikan tubuh mungil Dasha yang bergerak enteng kearah ranjang milik Luiz yang berukuran besar, dan naik keatasnya tanpa canggung.


Luiz memburu gadis itu dan berdiri ditepi ranjang, dimana Dasha telah berbaring dan menaruh kepalanya dibantal, sambil tersenyum menggoda kearah Luiz.


'Oh, my ... cobaan apa lagi ini ...?'


Luiz membathin kalut.


"Dasha, kenapa kau keras kepala seperti ini? Kalau ketahuan bagaimana?"


"Hhmm," dengan cuek mengangkat kedua bahu, namun keukeuh tak beranjak sedikitpun.


Gadis itu terus saja membiarkan Luiz menelan ludah oleh pemandangan tubuh belia yang terbalut piyama tidur berwarna navy, lengkap dengan rambut halus yang meriap diatas bantal.


Sungguh menggoda iman siapa pun pria normal yang melihatnya.


Melihat itu Luiz yang hanya berdiri mematung ditepi ranjang membuat Dasha berinisiatif untuk bangun, namun tak kunjung turun dari atas ranjang.


Dengan bertumpu pada kedua dengkul, Dasha beringsut guna mengalungkan kedua lengannya di leher Luiz yang masih setia mematung.


"Tuan, menjelang ujian akhir, sekolah tidak tidak lagi memperbolehkan siswa-siswinya untuk keluar asrama lagi, serta tidak diijinkan memegang ponsel. Jadi selama sebulan penuh, aku tidak bisa bertemu dan berkomunikasi dengan Tuan ..."


Luiz terhenyak mendengarnya, terlebih saat menyaksikan raut kesedihan yang mendalam diwajah Dasha.


"Tuan ... Tuan sudah berjanji begitu aku selesai ujian akhir, Tuan akan mengajakku menikah. Tuan, tolong jangan mengingkari janji Tuan. Aku akan belajar sungguh-sungguh agar kelak aku bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, sehingga aku bisa membuat Tuan bangga denganku ..."


Luiz terus mematung, hanya menatap lekat seraut wajah Dasha yang berada begitu dekat dengan wajahnya.


Pikirannya sedang berkecamuk riuh, dengan berbagai perkara yang harus ia dengar pada malam ini.

__ADS_1


Disisi lain ada keinginan mommy yang bertekad keras menjodohkan dirinya dengan seorang kolega bisnis daddy ... disisi lain juga Luiz harus menerima kenyataan untuk berpisah selama satu bulan penuh dengan gadis yang berada tepat dihadapannya ini.


Dalam kebimbangan, Luiz telah merasakan sekujur tubuh Dasha kini telah menempel sempurna dengan tubuhnya.


"Tuan, semua ini sangat berat, karena aku pasti akan merindukan Tuan ..."


Luiz menelan ludahnya. Tengkuknya meremang saat merasakan hembusan nafas Dasha yang hangat telah membelai permukaan kulit lehernya.


"Aku pasti akan merindukanmu juga." pungkas Luiz, semakin kesulitan mengendalikan dirinya.


Dua buah tekanan yang berasal dari bulatan padat namun kenyal terasa nikmat di dadanya yang bidang, seolah ingin memberitahukan Luiz, bahwa gadis yang mendekapnya saat ini benar-benar sedang berada di fase yang mulai beranjak dewasa, hendak menjelma menjadi seorang gadis rupawan.


"Tuan aku mencintaimu ..." entah mendapat keberanian darimana yang membuat Dasha nekad menyentuhkan bibirnya ke rahang tegas milik Luiz, kemudian menyusurinya dengan lembut.


Sudah sejak lama Dasha ingin melakukan semua keinginan yang berseliweran nakal dibenaknya, namun setiap kali ingin memulai, Luiz sudah terlebih dahulu menjaga jarak.


Semua itu membuat Dasha mau tak mau menjadi penasaran, sekaligus rendah diri.


Pria yang saat ini berada dalam pelukan Dasha bisa memperlakukan semua wanita yang pernah bersamanya dengan begitu intim, tapi menolak saat harus menyentuh dirinya.


'Apakah Tuan Luiz masih saja menyimpan trauma dengan diriku, dikarenakan peristiwa lima tahun yang lalu ...?'


'Apakah semua perasaan yang Tuan Luiz ucapkan, adalah benar-benar rasa cinta ...?'


'Atau kah hanya sekedar pelampiasan rasa bersalah, karena Tuan Luiz pernah berbuat tak senonoh, disaat usiaku bahkan belum remaja?'


Pertanyaan yang sama kembali menyeruak dalam benak Dasha, membuat Dasha selalu ingin membuat pembuktian.


Malam ini, memang Dasha telah bertekad untuk mendapatkan jawabannya. Akan perasaan Luiz terhadap dirinya.


"Dasha jangan seperti ini ..." dengan sikap risih, Luiz berusaha mengurai pelukan Dasha ditubuhnya. Ingin menghindar seperti biasanya.


Sungguh Luiz mulai merasa tidak nyaman, saat menyadari Dasha seolah sengaja ingin memancing dirinya, untuk melakukan hal yang gila.


"Dasha, aku harus mengatakannya berapa kali agar kau berhenti meragukan diriku?"


Saat berucap demikian, nafas Luiz mulai terdengar memburu.


"Mendengarnya seribu kali pun, tak akan bisa membuatku puas." Dasha menaruh wajah mungilnya di atas bahu Luiz, menatap wajah pria itu dari sana dengan sepasang mata yang dipenuhi cinta.


"Aku mencintaimu ..." ujar Luiz pada akhirnya.


"Katakan lagi ..."


"Aku mencintaimu ..."


"Lagi ..."


Luiz melotot, membuat derai tawa kecil milik Dasha menyeruak renyah.


"Kau sedang mempermainkan aku yah?" ujar Luiz sedikit kesal, terlebih saat menyaksikan Dasha yang menahan diri dengan susah, agar tawanya tidak meledak.


"Ppfff ... tidak, Tuan ... tidak ... aku ... sejujurnya aku hanya sangat suka mendengarnya ... hi ... hi ... hi ..."


Kembali terkikik geli, membuat rasa kesal Luiz semakin terpancing.


"Berani-beraninya kau mengerjaiku."


Tanpa berpikir panjang Luiz mendorong bahu Dasha hingga menyentuh permukaan ranjang, dan tubuh kekarnya ikut menyusul disana.

__ADS_1


"Tuan ... hmmpph ..."


Seluruh perbendaharaan kata milik Dasha telah terperangkap, oleh karena Luiz telah menyumbat mulut mungil yang semerah cherry itu dengan mulutnya yang rakus.


Detik berikutnya, yang terdengar kemudian hanyalah suara-suara kecipak yang berasal dari pertukaran saliva kedua insan yang sedang dimabuk asmara.


Luiz seolah tenggelam dalam indahnya penyatuan, lupa jika sesaat yang lalu otaknya telah dipenuhi beban yang berat.


Bibirnya terus mengecap dan mengu lum, seolah terus berusaha untuk mendapatkan yang lebih ... dan lebih lagi ...


Namun demikian, meskipun lidah Luiz bergerak lincah didalam rongga mulut Dasha yang menyambutnya dengan luapan has rat yang sama, sehingga tanpa sadar bagian tubuh mereka yang lain seolah ikut meminta dijamah dengan kehangatan yang sama pula, secara tiba-tiba Luiz seolah dikejutkan oleh sesuatu yang telah melemparkan dirinya ke alam kesadaran.


Sepasang mata Luiz terbuka, dan pria itu telah menarik dirinya begitu saja dari segala hal yang melenakan.


"Tuan ...?"


"Kembalilah ke kamarmu." ucap Luiz dengan intonasi dingin. Luiz bahkan telah mundur dua langkah dari awal tempatnya berpijak.


Mulut mungil Dasha sedikit terbuka, bingung bercampur kesal. "Tuan, aku ..."


"Sudah aku bilang kembali, kembalilah ke kamarmu."


"Tapi Tuan ..."


"Keluar."


Wajah Dasha merah padam menerima ketegasan Luiz, lewat kalimatnya yang terucap sedingin salju.


Perlahan Dasha beranjak dari ranjang Luiz tanpa kata, dan dia pun keluar dari sana tanpa menoleh lagi.


🌸🌸🌸🌸🌸


Bugh.


"Aawww ...!"


"Maaf ... maafkan aku ..." refleks El telah membantu berdiri, gadis yang tadi tak sengaja ia tabrak tepat didepan toilet sebuah cafe.


Namun begitu menyadari siapa gerangan sosok yang telah ia bantu berdiri itu, secara mendadak, El pun menjadi sangat terkejut.


"Florensia?"


"El ...?"


Dua insan itu masing-masing telah terpaku ditempat yang sama, dengan wajah yang sama-sama terkesima.


"Kau ... a-apa yang kau lakukan ditempat ini?"


El menyeringai sinis menerima pertanyaan Florensia yang terucap dengan wajah bingung.


"He-eh, bukankah seharusnya aku yang harus bertanya demikian? Kau ... sedang apa kau disini? Tidak puas kah kau membuntuti diriku selama ini sehingga sekarang kau juga nekad ..."


"Cih, apa-apaan ini, El? Demi Tuhan, jangan bilang bahwa sekarang kau sedang menuduhku membuntuti dirimu!" sepasang mata Florensia terlihat membeliak lebar.


"Aku tidak menuduh, tapi pada kenyataannya selama ini kau memang semenyebalkan itu!"


Mendengar kalimat balasan El yang begitu dingin nan ketus itu, wajah Florensia pun langsung memerah.


Karena malu ... yang bercampur luapan amarah ...

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2