TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 58. Penasaran


__ADS_3

Victoria baru saja menghempaskan tubuhnya keatas kursi, hendak memulai pekerjaannya merangkai bunga manakala bunyi ponselnya telah mengusik keheningan.


"Mommy Lana?"


Kedua alis Victoria saling bertaut satu sama lain saat mendapati nama sang ibu mertua tertera jelas di layar ponselnya, sedang melakukan panggilan.


Untuk sejenak Victoria tidak langsung menerima panggilan tersebut, melainkan sibuk menata debar jantungnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk menggeser icon hijau tanda terima, diujung dering ponselnya.


"H-halo, Momm ...?" sedikit terbata.


Moment seperti ini adalah moment yang langka. Victoria bahkan lupa kapan terakhir kali ibu mertuanya menelpon dirinya secara langsung.


Sepertinya sudah lama sekali, itupun saat sang mertua meminta untuk melepaskan putranya dari ikatan pernikahan.


"Victoria ..." suara Lana terdengar diseberang.


"I-iya Momm, ada apa?"


"Mmm, begini, Vic, Mommy hanya ingin memastikan. Malam nanti ... bisakah kau datang ke rumah?"


"Malam nanti?"


"Iya, Vic, kalau kau punya waktu senggang, datanglah selepas pulang kerja, dan menginaplah di rumah meskipun hanya semalam ..."


Victoria terdiam. Masih merasa bingung dan nyaris tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, manakala suara Lana yang meskipun terdengar masih sedikit canggung, namun kali ini terasa begitu lembut menyapa gendang telinga Victoria, tak seperti biasanya.


"Vic ...? Kau masih disitu kan?"


"I-iya, Momm ..." lagi-lagi tergeragap.


"Vic, apakah kau mendengar permintaan yang Mommy utarakan barusan?"


"Iya, Momm, aku mendengarnya. Aku ... aku pasti akan datang setelah jam kerjaku usai. Tapi jika aku boleh tahu, apakah ada perayaan atau sesuatu yang ..."


"Hanya makan malam biasa, dan karena Daddy Arshlan juga ingin melihatmu. Kau tidak pernah memberi kabar usai acara Luiz kemarin, dan Daddy berpikir kau masih merasa sedih karena semua itu."


Tanpa sadar kepala Victoria menggeleng, meskipun ia tahu bahwa Lana tidak mungkin bisa melihatnya.


"Tidak, Momm, tidak seperti itu. Maafkan aku yang tidak memberi kabar sehingga Mommy dan Daddy menjadi khawatir ..." lirih Victoria benar-benar diliputi penyesalan, saat menyadari bahwa tak terasa seminggu telah berlalu, dan ia telah begitu sibuk memikirkan dirinya sendiri hingga lupa memberi kabar yang mengakibatkan Daddy Arshlan khawatir.


Diam-diam Victoria merasa sangat terharu, saat menyadari bahwa sejak awal ayah mertuanya telah menjadi satu-satunya orang yang tidak pernah sedikitpun tidak berada dipihaknya.


Pria tua itu selalu menempatkan dukungannya untuk Victoria, selaku menantu dalam keluarga mereka.


"Baiklah, kalau begitu datanglah nanti malam, karena Mommy dan Daddy akan menunggumu."


"Iya, Momm, aku pasti akan datang."


Dan pembicaraan itu, usai sudah ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Luna, siapa dia?"


Luna tidak langsung menjawab, namun tetap setia menatap El yang sedang berada dibelakang kemudi sambil senyam-senyum sendiri.


Demi apa?

__ADS_1


Saat ini Luna merasa bahwa dirinya merasa begitu senang, karena bisa menikmati wajah tampan El yang terlihat sekali rasa penasarannya.


Tadi, saat masih berada di Florist, Luna memang telah mencurigai tindak-tanduk El yang tak lepas mengawasi kaca pembatas ruangan miliknya, dimana diluar ruangan, sahabatnya Victoria terlihat duduk tenang sambil merangkai bunga.


"Luna," tegur El lagi, saking tak sabarnya karena pertanyaannya tidak digubris sama sekali.


"Hhmm ..."


El mengalihkan tatapannya sesaat guna menatap Luna, sebelum kembali fokus menatap jalanan yang ada dihadapannya. "Kau mendengarku tidak sih?"


Luna tersenyum lagi. "Iya, El, aku mendengarmu." kilahnya kalem.


El, adalah kakak Luna satu-satunya. Sejak kecil banyak yang menganggap mereka saudara kembar, karena pada kenyataannya, jarak umur mereka pun hanya terpaut satu tahun.


"Kau bilang kau mendengarku, lalu kenapa kau hanya diam saja sambil tersenyum aneh seperti itu?" El terdengar berucap dengan nada gemas kearah Luna.


"Aku sangat senang, karena pada akhirnya aku bisa melihat pemandangan yang mahal seperti ini."


"Pemandangan mahal? Pemandangan apa maksudmu?"


"Dirimu."


Alis El semakin bertaut bingung. Meskipun El telah berusaha fokus menatap jalanan, namun tetap saja ekor matanya kerap mencuri pandang kearah Luna, yang duduk tenang tepat disebelahnya, sedang tersenyum penuh kemenangan.


"Akhirnya, seorang Lionel Winata, bisa juga tercuri perhatiannya oleh seorang wanita ..."


El mendelik mendengar godaan Luna yang terang-terangan. "Kau ini bicara apa? Jadi selama ini kau berpikir bahwa aku tidak tertarik pada wanita?"


"Jangan salahkan aku. Kau sendiri yang tidak pernah memperlihatkan ketertarikanmu pada seorang wanita secara berlebihan. Hal antusias seperti ini ... aku tidak pernah melihatnya,"


"Kau ini usil sekali ..." desis El tidak bisa menyembunyikan rasa malunya dihadapan adik kandungnya itu. "So ... siapa dia?" tanyanya lagi, kali ini lebih serius, semakin terang-terangan.


"Victoria?" ulang El seolah pada dirinya sendiri. "Luna, apakah dia sudah punya kekasih?" berucap lagi dengan nada to the point.


Luna terlihat mengedikkan bahunya. "Kalau itu aku belum tahu pasti ..."


"Kau ini bagaimana, Luna? Tadi kau bilang Victoria adalah temanmu. Tapi dia sudah punya kekasih atau belum, kau bahkan tidak tahu ..." El terlihat bersungut.


"El, Victoria adalah teman lamaku waktu kuliah dulu. Dua bulan yang lalu, aku tak sengaja bertemu dengannya kembali disebuah minimarket, kemudian kami telah bertukar nomor kontak satu sama lain, dan mulai berkomunikasi lagi sejak saat itu."


"Lalu bagaimana ceritanya dia bisa bekerja di Florist milikmu?" tanya El lagi, semakin penasaran dengan latar belakang wanita cantik yang lumayan mencuri perhatiannya.


"Waktu itu aku mengeluhkan tentang kekurangan karyawan, terlebih untuk posisi dekorator bunga, dan Vic langsung menawarkan dirinya. Hanya se-simple itu."


El menyimak penjelasan Luna tanpa menyela. Hatinya sangat ingin tahu tentang banyak hal, namun apa daya, sepertinya jawaban Luna pun tidak begitu memuaskan dirinya.


Luna memang benar, ia adalah tipe pria yang tidak mudah tertarik dengan lawan jenis, kecuali jika wanita itu benar-benar istimewa ... seperti Victoria.


Mungkin itulah yang juga merupakan salah satu penyebabnya, mengapa diumurnya yang tahun ini telah menginjak tiga puluh tahun, El belum juga menemukan wanita yang bisa membuat hatinya terpaut begitu rupa.


She is so different ...!


Of course ...!


El tidak bisa langsung memutuskan bahwa hatinya telah terpaut oleh seorang Victoria.


Maybe ... semua itu terlalu cepat.

__ADS_1


Tapi satu hal yang El yakini, bahwa ada sesuatu yang istimewa dari diri seorang Victoria, yang seolah mengusiknya bathinnya.


Seperti sebuah kerapuhan yang terbalut kekuatan, ibarat sebuah medan magnet yang tidak terlihat, namun bisa menarik sepotong besi.


Entahlah ...


Yang jelas kehadiran wanita itu, cukup telak dalam mencuri atensinya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Victoria baru kembali dari toilet ketika Feni baru saja selesai berbicara dengan seseorang via telepon kantor.


Seperti biasa, perutnya yang terasa tidak nyaman, terus-menerus membuatnya seolah ingin memuntahkan sesuatu dari dalam sana, namun anehnya tidak ada yang keluar.


Untunglah semua rasa tidak menyenangkan itu hanya datang dan pergi, tidak sampai mempengaruhi aktifitasnya hingga berlarut-larut.


"Siapa, Fen ...?" tanya Victoria kearah Feni yang saat ini sedang menulis sesuatu ke buku orderan. "Pesanan lagi?"


Feni mengangguk seraya menaruh kembali bolpen tersebut kedalam buku album berukuran panjang, ibarat sebuah pembatas buku.


"Hanya sebuah buket bunga hidup, dengan konsep romantis untuk seseorang yang special."


"Kalau begitu beri aku waktu sebentar untuk merangkainya, agar bisa ikut pengantaran pertama kalian ..."


"Tidak perlu, Rin. Katanya tak lama lagi dia akan datang untuk mengambilnya langsung."


"Benarkah? Kalau begitu aku harus merangkainya sekarang."


"Hhmm ..."


Victoria pun langsung bergerak cepat, menyiapkan materi yang akan digunakan sesuai keinginan pemesan, yang meliputi materi pembungkus, materi pengikat, serta materi florist itu sendiri.


Sedangkan Feni juga sibuk membereskan tas selempang miliknya karena rencananya ia akan ikut Doni untuk mengantar beberapa pesanan bunga sekaligus.


"Fen, kita berangkat sekarang." Doni muncul dari pintu depan usai mengangkut semua pesanan kedalam mobil box.


"Ok, Don ..." balas Feni kearah Doni yang kemudian langsung menghilang lagi dari bingkai pintu.


"Vic, aku pergi dulu yah. Kau tidak apa-apa kan sendirian disini?"


"Pergilah, aku tidak apa-apa."


"Yakin?"


"Yakinlah,"


Victoria telah berucap, namun ia sendiri bicara dengan tangan dan konsentrasi yang sebagian besar tertuju pada aktifitasnya sekarang yang sedang memotong dan merapikan beberapa tangkai mawar segar dengan teliti.


"Lagipula Bos Luna akan segera kembali. Tadi ia hanya pamit sebentar untuk menemani kakaknya mengurus sesuatu." imbuh Victoria lagi, kali ini ia telah menatap Feni dengan pandangan meyakinkan, seolah tahu persis bahwa sahabatnya itu sedang mengkhawatirkan dirinya yang hendak ditinggal sendirian.


"Baiklah kalau begitu." Feni menghembuskan nafasnya. "Vic, ingatlah baik-baik bahwa kau jangan telat makan siang. Akhir-akhir ini aku melihat lambungmu sering bermasalah."


"I know. Kau jangan khawatir, karena aku akan mengingatnya. Terima kasih yah, Fen ..."


Feni pun mengangguk, membalas senyum Victoria untuknya, sebelum akhirnya benar-benar berlalu dari hadapan Victoria, saat mengingat Doni yang telah menunggunya sejak tadi.


... NEXT

__ADS_1


Tapi jangan lupa di support dulu yah kesayangankuuu ... 😘


__ADS_2