TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
DEMI SEBUAH PELUKAN


__ADS_3

Hari ini cukup melelahkan, dan Arshlan baru saja tiba dirumah pukul sebelas malam.


Sesampainya dikamar Arshlan langsung melempar jasnya keatas sofa, dan ia langsung berjalan menuju kamar mandi sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.


Arshlan sangat menikmati saat ia mengguyur tubuhnya dibawah shower yang mengucurkan air hangat, seolah ingin melepaskan segala kepenatan yang melekat ditubuhnya, setelah aktifitas padatnya seharian full. Membiarkan tubuhnya tenggelam dalam sensasi rasa hangat dari kucuran air yang menyegarkan.


Beberapa saat kemudian Arshlan telah keluar dengan balutan bathrobe, sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Namun begitu tatapannya mengarah keatas ranjang berukuran king size mendadak Arshlan seolah teringat sesuatu, yang seolah terlupakan.


Arshlan meraih remote untuk melihat rekaman di layar cctv kamarnya, dan alisnya bertaut saat melihat Lana telah keluar dari kamarnya sejak shubuh dengan wajah meringis menekan perutnya.


"Ada apa dengannya..? apa dia sedang kebelet buang air besar..?" Arshlan bergumam. Tapi begitu ia menekan tombol pause dan memperbesar tangkapan layar, Arshlan malah menemukan wajah Lana yang meringis seolah sedang kesakitan.


Arshlan menekan lagi remote controlnya, mempercepat dan mengantinya dengan bagian tangkapan kamera cctv yang lain, dimana Arshlan telah menemukan cuplikan adegan dimana Lana sedang bicara sesaat dengan Asisten Jo sebelum ia berjalan menaiki tangga satu persatu dengan langkah tertatih-tatih.


Arshlan kembali mengganti tampilan layarnya ke bagian cctv yang ada dilantai empat dimana kamar Lana berada. Sesaat kemudian air mukanya berubah ketika menyaksikan Lana meringkuk kesakitan diatas ranjang hingga malam ini, dengan kondisi kamar yang gelap gulita.


Detik berikutnya Arshlan melempar remote tersebut keatas kasur, dan dengan secepat kilat ia keluar dari kamar.


"Asisten Jo..!! Asisten Jooo..!!" teriak Arshlan, dengan langkah yang terus terayun kearah lift.


"Ada apa Tuan..?" Asisten Jo muncul dari arah ruang tengah dengan langkah tergesa.


"Apa saja tugasmu seharian ini? kenapa kau tidak tau jika Lana sedang kesakitan dikamarnya..?!" hardik Arshlan geram sambil masuk kedalam lift diikuti oleh Asisten Jo.


"Tadi siang aku sudah menelpon dokter Fredy untuk memeriksakan kondisi Nyonya Lana, Tuan."


"Lalu apa katanya?"


"Kata dokter Fredy tidak apa-apa, karena itu hanya kram perut biasa.. "


"Si alan Fredy! aku telah melihat Lana kesakitan sepanjang hari, dan ia bilang itu hanya kram perut biasa..?! apa kau dan dia mau aku rumahkan sekalian detik ini juga..?! dasar tidak berguna..!!" umpat Arshlan dengan amarah gila-gilaan.


"Maaf Tuan.."


Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, membuat umpatan yang ingin keluar dari mulut Arshlan terjeda karena pria itu memilih keluar dari lift secepatnya, dan melesat kearah pintu kamar Lana yang berada diujung lorong.


XXXXX


Saat pintu terbentang, suasana kamar Lana dalam keadaan gelap gulita. Hanya cahaya rembulan yang membias dari arah jendela yang dibiarkan terbuka.. membuat hembusan angin malam masuk dengan leluasa dari arah luar.


Klik.


Arshlan telah menyalakan tombol stop kontak yang ada didinding, membuat kamar itu dalam sekejap berubah menjadi terang benderang.


Sepasang mata Arshlan membeliak melihat tubuh mungil Lana masih meringkuk diatas ranjang dengan mata terpejam.


Bergegas Arshlan mendekati ranjang, mendudukan dirinya disana sambil menempelkan punggung tangannya kedahi Lana.


Tidak terasa apa-apa. Suhu badan Lana terasa normal, tidak hangat layaknya orang sakit.


"Asisten Jo, apakah aku yang salah..? kenapa dia tidak terlihat sedang sakit..?" tanya Arshlan dengan raut bingung.


"Kan aku sudah bilang, Tuan. Menurut dokter Fredy, Nyonya Lana hanya mengalami kram perut biasa.."


"Aku masih belum yakin. Atau jangan-jangan justru tanganku yang bermasalah..? kenapa aku tidak bisa merasakan apa-apa yah..?"


Arshlan malah mengangkat telapak tangannya dan memperhatikan secara seksama.


Detik berikutnya ia malah menempelkan punggung tangannya ke dahinya sendiri seperti orang bodoh, tapi anehnya ia malah lebih yakin karena setelah melakukan hal itu ternyata suhu tubuhnya terasa sama dengan suhu tubuh Lana.


Asisten Jo diam saja memperhatikan tindak-tanduk absurd majikannya, sambil dalam hati terus bergumam keheranan, karena baru kali ini ia melihat majikannya bertingkah bodoh seperti sekarang, dihadapan gadis yang bahkan umurnya hanya separuh umur Tuan Arshlan.


"Sebaiknya aku memastikannya juga, Tuan, agar Tuan lebih yakin.."


Plak..!


Telapak tangan Asisten Jo yang hendak menyentuh dahi Lana mendadak ditampar dengan kuat.

__ADS_1


"Mau apa kau?"


"Tuan, aku hanya ingin memastikan.."


"Apa kau berniat menyentuhnya? beraninya kau mencoba menyentuh istriku.. apa kedua tanganmu itu mau aku potong..?!"


Asisten Jo sontak mengkerut mendapati Arshlan yang melotot garang. "Maaf Tuan.. aku hanya ingin memastikannya untukmu.."


"Alasan saja..!" pungkas Arshlan keki. "Awas saja kalau kau mencoba menyentuhnya lagi..!"


"Tidak akan Tuan. Saya berjanji.." ucap Asisten Jo bersungguh-sungguh. Ia memilih mundur selangkah demi mengamankan nyawanya sendiri dari kemarahan Tuan Arshlan.


Meskipun masih kesal namun akhirnya Arshlan mengalihkan lagi perhatiannya pada gadis yang tertidur lelap tanpa terusik sedikitpun dengan kegaduhannya dan Asisten Jo barusan.


"Lana.." panggil Arshlan perlahan.


Hening.


"Lanaa..!" kali ini dengan suara lebih keras, sambil menepuk pipi Lana perlahan.


Tetap hening.


"Asisten Jo, kenapa dia tidur seperti orang mati begini sih..? apakah dia pingsan..?" akhirnya mau tak mau Arshlan kembali menatap Asisten Jo untuk meminta pendapat.


"Tidak, Tuan, Nyonya Lana hanya tertidur lelap, mungkin karena meminum obat itu.." Asisten Jo menunjuk keatas nakas, dimana obat anti nyeri yang diresepkan dokter Fredy tergolek disana. "Menurut dokter Fredy, obat tersebut mempunyai efek samping yang akan membuat orang yang mengkonsumsinya akan terus merasa mengantuk sepanjang hari, namun obat itu sangat mujarab untuk menghilangkan nyeri.."


Arshlan terdiam sejenak. Sebelum akhirnya ia memutuskan bangkit dari duduknya, dan mengangkat tubuh Lana yang terkulai.. ala-ala bridal style.


"Aku akan membawanya kekamarku saja.." putus Arshlan sambil berjalan keluar.


Melihat itu Asisten Jo berjalan cepat mendahului, sehingga bisa dengan sigap menekan tombol lift terlebih dahulu, mengingat kedua tangan Arshlan sedang menopang penuh tubuh Lana.


Lift itupun bergerak turun kembali, membawa tiga buah tubuh sekaligus, sebelum akhirnya kembali berhenti dilantai dasar, tempat kamar yang super luas milik Arshlan berada.


Arshlan keluar dari sana sementara didepan langkahnya sosok Asisten Jo bergerak dengan gesit, membukakan pintu kamar Arshlan dengan sigap, juga membantu Arshlan untuk menutupnya kembali begitu memastikan Arshlan telah masuk kedalam kamar, dengan Lana yang masih berada dalam pelukannya.


Tepat ketika Arshlan menaruh tubuh Lana diatas ranjangnya, Arshlan yang hendak menarik tubuhnya mendadak terhenyak, karena tubuhnya seolah tertahan sesuatu.


Arshlan kembali mencoba mengangkat tubuhnya lagi, tapi tubuhnya kembali tertahan sesuatu.


'Apa ini..?'


Tatapan Arshlan menyusuri kebawah, dan ia terkejut saat menyadari dua jemari Lana terlihat mencengkram kuat bathrobe yang ia kenakan, namun anehnya wajah gadis itu masih seperti semula.


Diam dan terpejam dengan tenang, tapi kenapa kedua jemarinya malah sedang mencengkeram dengan kuat..?


"Lana, apa saat ini kau sedang bercanda..?" ujar Arshlan dengan suara yang dalam, tepat diatas wajah Lana.


Sedetik..


Dua detik..


Tiga detik..


"Ihiikk.."


Arshlan melotot mendengar Lana yang terkikik tertahan.


"Kau.."


"Maaf Tuan.. hi.. hi.. hi.."


Lana tak tahan lagi.


Sejak tadi menahan tawa dengan memasang ekspresi wajah mode batu, saking kerasnya ia berusaha agar dapat terus berada dalam pelukan Tuan Arshlan.


Namun saat Tuan Arshlan ingin melepaskan diri.. mendadak secara refleks Lana menjadi tidak rela pria itu menjauh.

__ADS_1


Lana nekad mencengkeram bathrobe demi menahan tubuh kekar Tuan Arshlan, agar terus berada didekatnya.


"Tuan, maaf.. aku nekad mengerjai Tuan, karena aku masih ingin dipeluk.." dengan wajah merajuk, kedua tangan Lana kini terkalung indah dileher Arshlan.


'Manis..'


Arshlan bergumam dalam hati, begitu sepasang mata mereka berdua sama-sama terkunci dengan jarak yang begitu dekat.


'Sungguh sikap yang sangat manis..'


Arshlan bergumam lagi. Mulai mabuk dengan aura Lana yang genit.


'Beginikah rasanya berdekatan dengan gadis belia..? rasanya aku menemukan diriku menjadi dua puluh tahun lebih muda. Terus berdebar seperti perasaan seorang pemuda..'


Sesaat Arshlan merasa sangat malu, mendapati dirinya yang seolah terbawa arus dari aura keremajaan Lana, lewat tindakan usilnya yang rela membohonginya sedemikian rupa, hanya demi sebuah pelukan.


'Ini gila. Dan lebih gila lagi.. karena aku menyukai semua tindakan kekanak-kanakan ini..!'


"Perutmu.. masih sakit?" tanya Arshlan saat teringat tujuan awalnya yang nekad membopong Lana kedalam kamarnya.


Lana menggeleng sambil tersenyum. "Tidak lagi.."


"Kenapa membiarkan kamarmu gelap gulita..?"


"Aku ketiduran sejak sore.."


"Sejak kapan sebenarnya kau terbangun..?"


Lana tertawa kecil, memperlihatkan sederet giginya yang rapi dan putih. "Tepat disaat Tuan mengangkat tubuhku dan memelukku.."


"Lalu kenapa berbohong seperti itu..?"


"Maaf.."


"Apakah berbohong seperti itu membuat hatimu senang..?" tanya Arshlan lagi, sambil menyibak beberapa anak rambut milik Lana yang menutupi wajahnya.


Lana menggeleng, seraya menatap Arshlan dengan tatapan memelas. "Aku hanya ingin merasakan dipeluk seperti itu. Ala-ala bridal style. Tuaaann.. jangan marah.. bukankah itu sangat romantis..?" berucap tersipu dengan senyum yang malu-malu meong.


Arshlan melengos. "Otakmu ini.. kenapa selalu dipenuhi kehaluan seperti itu..?!" ujar Arshlan sambil mengangkat tubuhnya, namun gagal karena kedua lengan yang terkalung dilehernya terasa begitu kuat.


"Kau..?!" Arshlan melotot kesal. Detik berikutnya ia kembali mengangkat tubuhnya dengan kekuatan dua kali lipat dari semula.. tapi lagi-lagi tubuhnya tidak bergerak.


Kali ini bukan hanya tangan Lana yang terkalung kuat dilehernya, kedua kaki gadis itu pun dengan nekad telah membelit pinggul Arshlan.


"Hi.. hi.. hi.."


Suara tawa usil Lana terdengar seolah dipenuhi kemenangan, membuat Arshlan menggeram kesal.


"Lana, lepaskan.." titah Arshlan dengan wajah dingin.


"Tuan akan aku bebaskan, tapi sebelumnya Tuan harus merayuku dulu.."


Arshlan menggelengkan kepalanya berkali-kali menghadapi sikap nekad Lana, namun demi membuat dirinya terbebas secepatnya, akhirnya Arshlan lagi-lagi mengalah, dan menjatuhkan bibirnya tepat diatas bibir Lana.


Arshlan telah menghadiahi Lana dengan sebuah ciu man yang panjang dan hangat, yang membuat gadis super usil itu menepati janjinya untuk mengendurkan lengannya.. serta membebaskan belitan kedua kaki di pinggulnya..


Namun yang ada kini justru Arshlan yang mengungkung tubuh mungil Lana.


Sepenuhnya..


Dalam kekuasaannya..


Tidak ingin menyudahinya dengan mudah..


...


Bersambung..

__ADS_1


Support jangan lupa yah.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2